Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Di Singapura


__ADS_3

Sudah dua minggu Ronald berada di Singapura, tapi dia belum menghubungi Nina dan mengabari kalau dia juga berada di negara ini.


Pulang dari kantor Ronald sengaja jalan-jalan di dekat apartemennya di daerah Tampines, dia mencari makan di food street sebelum kembali ke apartemennya.


"Ronald!!" suara wanita yang tidak asing memanggil nama Ronald.


"Hai Nina, kamu di sini?" Ronald terkejut bertemu dengan Nina dan berubah jadi bahagia.


"Kamu kog gak bilang kalau ada di sini?" Nina langsung duduk di depan Ronald.


"Mmm sorry aku langsung kerja jadi gak sempat untuk ngabarin kamu," Ronald terpaksa berbohong, padahal dia belum siap untuk bertemu dengan Nina.


"Kerja?" Nina heran.


"Ya, aku dapat kerja selama enam bulan di sini, dan baru dua minggu berada di Singapur," terang Ronald.


"Kerja?" Nina masih tak percaya.


"Iya kenapa sih, kamu seperti nggak percaya?"


"Ya masa bos kerja sih, aneh," Nina masih heran.


"Ya ini kan kerja sambil belajar makanya cuma enam bulan aja aku di sini,"


"Terus kamu tinggal di mana?" tanya Nina.


"Di sini juga di blok 182, kalau kamu di mana?" Ronald balik bertanya pada Nina.


"Serius di 182, kog bisa sama sih?" Nina juga tinggal di blok yang sama.


Ronald tidak tahu kalau Nina juga tinggal di situ, semua ini karna campur tangan Wijaya Kesuma dan juga Hendra papa Nina, mereka sengaja mengatur agar anak mereka berdekatan selama di Singapura.


"Kamu di situ juga," Ronald tak kalah terkejut dengan Nina.


Nina mengangguk dan tersenyum, dia senang setelah tau Ronald tinggal di tempat yang sama dengannya, setidaknya dia bisa mampir buat ngobrol menghabiskan kejenuhan.


Ronald memesankan Nina makan, mereka berdua akhirnya makan malam bersama, setelah makan mereka pulang ke apartemen bersama.


"Mampir dulu di apartemenku, kamu belum ngantuk kan?" ajak Nina setelah sampai di depan apartemennya.


"Hmm kamu tinggal sendiri ya?" tanya Ronald.

__ADS_1


"Iya aku sendiri, malas mau sharing sama teman takut nggak cocok, lagian aku ke sini kan dulu buat bertapa ha ha," Nina berkelakar.


Ronald setuju dan akhirnya dia mampir ke apartemen Nina, Ronald memilih duduk di balcony. Nina ke dapur membuatkan kopi buat Ronald.


"Ngopi dulu ya, aku mau mandi sebentar saja badanku lengket semua," setelah meletakkan kopi, Nina berlalu ke kamar mandi.


Ronald menikmat pemandangan kota Singapura dari balcony apartemen milik Nina, sesekali dia meminum kopi buatan Nina. Ternyata enak juga kalau punya pendamping, pulang kerja ada yang diajak ngobrol bikinin kopi, Ronald tersenyum sendiri.


Nina sudah selesai mandi dia memakai kimono satin berwarna merah hati, dan duduk bersama Ronald di balcony. Ronald yang sedang melamun terkejut melihat Nina, baru pertama kali Ronald melihat Nina berpakaian baju tidur seperti ini, hati Ronald tiba-tiba berdesir.


"Enak juga di sini ya Nin," cepat-cepat Ronald berdiri dan mengalihkan pandangannya dari tubuh Nina.


"Ya aku suka duduk di sini sampai ngantuk, maklum aja hidup sendirian jadi gak ada teman ngobrol, paling video callan sama Ratih kalau malam."


Nina meminum kopinya dan berdiri di samping Ronald yang sedang berdiri menikmati pemandangan jalan Tampines. Bau parfum Nina menusuk hidung Ronald, bau itu sangat menggoda kelelakiannya.


"Ternyata aku masih normal," tanpa sadar Ronald bergumam.


"Apa?' Nina yang kurang jelas mendengar ucapan Ronald langsung bertanya.


"Oh ... apa, ini aku suka melihat pemandangan jalan dari sini," ucap Ronald berbohong.


"Aku juga suka di sini, semua bersih penduduknya tertib cuma biaya hidup tinggi ya, tapi orang kita hebat ya, banyak yang beli apartemen di sini lo," ucap Nina.


"Wah asik tuh, emang kamu udah ada calonnya?" tanya Nina penasaran.


"Ada tapi orangnya masih kuliah, kayaknya nunggu dia lulus dulu yah itupun kalau dia mau," jawab Ronald.


"Wah gercep dong, ajakin dia nikah. Kan bisa sambil kuliah," sambung Nina.


"Nah itu masalahnya, aku pernah ajakin dia menikah tapi di tolak," mata Ronald menerawang jauh.


"Masa cowok keren kaya kamu cewek gak mau sih?" Nina heran.


"Nyatanya dia nggak mau, gimana sih agar cewek itu bisa suka sama aku Nin, kamu kan cewek kasih tau dong," tanya Ronald.


"Ya mungkin kalian harus saling mengenal satu sama lain, kamu coba memahami dia, biasanya perempuan itu suka sama laki-laki yang gigih menunjukkan kalau dia benar-benar mencintai wanita itu," ucap Nina sambil menyeruput kopi di tangannya.


"Kalau kamu sukanya yang bagaimana?" Ronald mulai memancing Nina.


"A-aku ..." Nina tiba-tiba gugup.

__ADS_1


"Iya kamu, kamu sukanya pria yang bagaimana?" Ronald menatap wajah Nina


Kali ini dia memberanikan diri mendekatkan wajahnya, hingga nafasnya menyentuh kulit wajah Nina. Nina tiba-tiba salah tingkah saat Ronald menatapnya seperti ini.


"Sepertinya udah malam, kamu gak pulang," Nina mencoba menghindari tatapan mata Ronald.


Ronald melihat jam tangannya, dan memang benar tidak terasa malam semakin larut. Diapun berpamitan pulang ke apartemennya. Nina mengantar Ronald sampai ke pintu, Dan melambaikan tangannya saat Ronald pergi.


Nina memasuki kamarnya dan si Rekso sudah nangkring manis di atas ranjang tidurnya, membuat Nina terkejut dengan ke hadiran pacar dunia malamnya.


"Kamu ngagetin aja!" ucap Nina melotot pada Rekso.


"Hmm dicuekin lagi dah, ngapain sih manusia itu pakai acara nyusul kamu ke sini?" memasang wajah sewot.


"Siapa, Ronald?" tanya Nina.


"Ya yang tadi ke sini itu, nyebelin banget," muka Rekso langsung manyun.


"Ah kamu ini cemburuan amat sih jadi orang, ya biarin kenapa aku seneng jadinya aku punya temen satu daerah," balas Nina.


"Aku bukan temen ya?" tanya Rekso.


"Kamu itu halusinasiku, yang hadir hanya saat aku kesepian, aku menciptakan dirimu dalam anganku, kamu ada tapi tidak ada Err ..." Ucap Nina lirih.


Nina membaringkan tubuhnya di ranjang lalu memejamkan matanya, dia tak perduli dengan Rekso yang berada di ranjang yang sama dengannya. Rekso memandangi wajah Nina yang terlelap dengan tenang, dia tak mau menganggu kekasihnya malam ini.


"Tidurlah Sayang, aku akan menjagamu," Rekso mencium lembut kening Nina.


********


Ronald di apartemennya sedang gelisah, dia masih memikirkan tentang Nina. Terbayang di pelupuk matanya lekuk tubuh Nina dari balik piyama tidurnya.


"Ternyata aku normal," dia bergumam sendiri, dia senang karna apa yang di bilang Bastian tentangnya salah.


Besok hari libur Ronald berencana akan mengajak Nina jalan-jalan keliling Singapura, sudah dua minggu di sini dia belum kemana-mana. Ronald mengambil hand phonenya dan mengirim pesan pada Nina.


"Nin besok jalan yuk, kamu kan udah lama di sini, jadi kamu yang jadi guide nya ya?" pesan terkirim, tapi Nina tak membalas karna dia sudah tertidur.


Ronald menunggu balasan dari Nina sampai ketiduran, diapun terlelap dalam mimpinya. Dia bermimpi sedang bersama dengan Nina menikmati indahnya Singapura, namun Nina menghilang begitu saja, dia sudah mencarinya kemana-mana tapi tak dia temukan.


Ronald memangil-manggil nama Nina hingga terbangun Dari tidurnya, dia merasa lega karna ternyata cuma mimpi, Ronald kembali melanjutkan tidurnya.

__ADS_1


*********


__ADS_2