Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Membuka lembaran baru


__ADS_3

Marcel tidak lagi datang ke kantor Maya, dia sudah lelah menjadi cecunguknya yang tidak pernah dihargai keberadaannya. Marcel berniat mencari pekerjaan lain yang lebih menghargai skill dan kemampuannya.


Fatih sudah bersiap pindah ke Australia negara yang dari dulu ingin dia kunjungi, beberapa teman sekolahnya banyak yang kuliah disana, dan Fatih ingin memulai hidup baru melupakan masa lalu dan juga Nina.


Saat berkemas Fatih menukan kartu nama yang Marcel berikan padanya, diapun menghubungi Marcel mengucapkan salam perpisahan pada dia.


"Hai Marcel ini gue Fatih, sorry kelakuan gue kemarin sama lo, gue mau bilang kalau gue mau pergi dari kota ini," ucap Fatih disambungan telpon.


"Bro gue juga minta maaf ya, eh ada kabar bagus buat kamu, kemarin Maya ngaku sama gue kalau Fatan bukan anak kandung lo," Marcel menceritakan tentang keributannya bersama Maya kemarin.


"Benarkah, kamu yakin?" Fatih tidak percaya apa yang dia dengar dari Marcel.


"Iya kemarin aku ribut sama dia, dan aku memilih keluar dari pekerjaan. Aku gak tahan lagi sama dia Bro, kupikir Fatan itu anakku tapi dia juga tak mengakui itu anak siapa, tapi jelas ku dengar dia bilang kalau Fatan bukan anakmu," Marcel kembali menegaskan apa yang sudah dia dengar.


"Oh syukurlah aku lega, meskipun nasi sudah menjadi bubur. Aku tak akan bisa lagi membuat istriku kembali kepadaku. Hei Bro antar CVmu ke kantor papaku, kamu bisa menggantikan pekerjaanku, bilang saja kamu temanku. Ini sebagai ucapan trimakasihku dan permohonan maafku atas sikapku kemarin," Fatih ingin memberi Marcel pekerjaan dia yakin Marcel sangat butuh pekerjaan sekarang.


"Kamu serius Fat? wah aku senang sekali, baik akan kusiapkan besok aku langsung ke kantor papamu. Tanks ya semoga kamu sukses disana," Marcel sangat senang mendengar kabar bahagia ini, akhirnya dia akan bekerja lagi.


***************


Fatih menemui keluarga Nina sebelum pergi sekalian mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal di kamar Nina.


"Mah Pah Fatih minta maaf atas perbuatan Fatih selama ini, sampaikan juga pada Nina kalau dia mengabari mama. Fatih mau ke Australi mencoba peruntungan disana, seandainya Nina mau membuka hatinya buat Fatih saya akan menunggu, tapi kalau Nina sudah tidak memberi ruang untuk Fatih saya sudah mengiklaskan, semoga Nina menemukan kebahagiaan disana," Fatih menunduk.


Papa Nina menepuk pundak Fatih mencoba memberikan ketenangan pada mantan menantunya, mama Nina juga hanya bisa menahan tangis mengingat hubungan anaknya yang berakhir seperti ini.


"Jaga dirimu di Australi ya, buat papamu bangga jangan salah jalan lagi. Kamu anak Tomi satu-satunya Om tau bagaimana rasanya," papa Nina menasehati Fatih.

__ADS_1


"Om Tante saya mau ambil barang-barang saya di kamar Nina," pamit Fatih sebelum dia masuk ke kamar Nina.


Orang tua Nina mengangguk dan memberi ijin pada Fatih, diapun melangkahkan kakinya ke kamar Nina, kamar yang dulu tempat dia dan Nina saling memadu kasih. Dia duduk di ranjang dan meraba bantal dimana Nina dulu sering tidur, kenangan indah mereka saat bersama masih membekas diingatannya.


Fatih bangkit dan mengambil koper mulai mengemasi barang-barangnya dia juga memasukkan foto yang ada dimeja, foto dia bersama Nina saat masih saling menyinta. Fatih cepat-cepat keluar dari kamar Nina sebelum dadanya terasa semakin sesak, dan langsung pulang kerumahnya.


"Pah besok Fatih berangkat, oh ya ada teman Fatih namanya Marcel akan melamar dia bisa menggantikan pekerjaan Fatih di kantor. Papa jaga diri ya jangan mikirin Fatih lagi," Fatih mendekati papanya yang duduk sendiri di ruang keluarga.


"Kamu sudah benar-benar yakin mau tinggal di Australi?" Tomi sebenarnya berat melepaskan anaknya.


"Iya Pa, Fatih ingin mandiri Pa dan melupakan semua ini. Pah jika papa menemukan pengganti mama Fatih iklas, Fatih yakin mama juga sama sepemikiran dengan Fatih." Fatih menggenggam tangan papanya.


"Ah kamu umur segini mau cari apa lagi?" Tomi tak menyangka anaknya menyuruhnya menikah lagi.


"Papa perlu teman yang selalu ada buat Papa, Fatih tidak selamanya disisi Papa,"


"Nggak usah pikiri Papa, melihat kamu bahagia saja papa udah seneng."


"Kita ketemu sekarang," Fatih berbicara di telpon.


Dia memacu mobilnya menuju sebuah apartemen, yang sebenarnya sangat malas dia datangi, tapi dia harus menyelesaikan semua ini sebelum pergi.


"Ada apa Sayang, kamu merindukanku?" Maya tersenyum melihat Fatih datang menemuinya.


"Maya cukup jangan merendahkan dirimu menjadi seorang wanita, itu malah menjijikkan. Aku akan pergi dari sini, kehadiranmu sudah memporak-porandakan kehidupanku, aku sudah tahu kalau Fatan sebenarnya bukan anakku. Maya sayang sekali wanita cantik dan berduit sepertimu harus merendahkan dirinya seperti ini,"


Maya terbelalak mendengar ucapan Fatih, dari mana dia tahu Fatan bukan anaknya.

__ADS_1


"Apa maksudmu, kamu mau lari tanggung jawab!!" teriak Maya.


"Kamu mau aku test DNA ulang, ok aku akan lakukan lagi, tapi tidak di negara ini dan jika benar kamu sudah memanipulasi hasil yang kemarin siap-siap saja aku miskinkan kamu!!" Fatih kali ini tidak main-main lagi.


Maya nyalinya ciut, dia tidak berani menatap Fatih yang terlihat begitu emosi. Fatan keluar mendekati Maya membuat Fatih memelankan suaranya agar anak itu tidak ketakutan suaranya yang sedang marah. Maya membelai kepala anaknya hatinya tiba-tiba pilu.


"Kalau kamu Sayang sama anakmu bukan seperti ini caranya, kamu hanya memikirkan egomu sendiri. Kamu bahkan buta dengan orang yang benar-benar mencintaimu. Sadarlah sebelum semuanya hilang dari genggamanmu. Aku akan pergi dari negara ini jadi kamu tak perlu mencariku lagi,"


Fatih langsung melangkah meninggalkan apartemen Maya, dia lega bisa menyampaikan rasa kesal di hatinya, setidaknya Maya tidak akan mengganggunya lagi dikemudian hari.


Sepeninggal Fatih Maya menangis, dia menangisi dirinya sendiri sudah pupus harapannya untuk bersama dengan Fatih. Berkali-kali dia menghubungi Marcel namun Marcel juga mengacuhkannya, Marcel benar-benar marah kepadanya.


**************


Fatih berangkat ke Australi dari Jakarta ke Singapura baru lanjut ke Sydney, dia sudah memesan tempat tinggal sementara melalui apilkasi travel saat masih di jakarta. Dia juga sudah mengirimkan CV lamaran melalui email, dan tinggal menunggu hasil dan panggilan kerja anggap saja sebelum bekerja dia menikmati liburan di Sydney.


Fatih menginjakkan kakinya di kota Sydney saat ini sedang musim panas, udara yang hangat tidak membuat Fatih susah beradaptasi disini, dia memilih tempat tinggal yang dekat dengan stasiun memudahkan dia pergi kemanapun, walaupun dia punya duit saat ini dia ingin belajar berhemat dan berusaha sendiri.


Fatih merajut kembali kehidupannya disini, disini tidak akan ada lagi orang-orang dari masa lalunya yang akan mengusik ketenangannya.


****************


note :


Hai para readers novel ku terkasih trimakasih selalu hadir disini, buat like komen juga votenya trimakasih yang tak terhingga saya ucapkan.


Author usahakan up tiap hari ya, saat ini Author lagi nyambi revisi novel satunya karna lagi proses review kontrak, jadi waktunya di bagi buat novel yang lain.

__ADS_1


Buat yang udah komen biasanya saya like atau saya komen balik, kalau Author lagi ngeblank biasanya suka baca komen-komen kalian percayalah itu salah satu penyemangat untuk Author.


Author juga masih terus belajar memperbaiki cara penulisan, jadi krisan juga boleh kog. Terakhir dari saya selalu jaga kesehatan ya 😘


__ADS_2