
Sejak menjadi pacar Erick hal positif pada Nina adalah dia sudah mulai melakukan ibadah sholat lima waktu. Bahkan saat di kampus pun Nina menyempatkan diri untuk sholat, awalnya Ratih, Eka dan Dian agak heran melihat perubahan Nina, lama-lama mereka juga ikutan kalau Nina sholat.
"Lu masih Nina yang dulu kan?" tanya Eka saat sedang berkumpul di kampus.
"Ya masih lah emang aku udah berubah ya sekarang?" Nina balik bertanya.
"Nggak juga sih, lo tetep gokil kog, gue senang kamu sama Erick jadi seperti ini. Berarti kita nggak salah jodohin elu sama Erick." ucap Ratih.
"Mmm ya trimakasih udah paksain gue pacaran sama dia, biarpun kami hari-hari berantem terus ha ha."
Gaya pacaran Nina dengan Erick memang beda, mereka kebanyakan berdiskusi dan berdebat soal hidup soal kuliah soal politik, pokoknya gak ada romantisnya deh, tapi Erick selalu menggiring Nina untuk selalu beribadah, kalau soal itu Nina sudah gak bisa berdebat lagi dengan Erick.
"Jadi apa yang lo rasain sama Erick sekarang Nin?" tanya Dian.
"Apa ya, gue gak ngerti perasaan gue sama dia tapi gue senang kalau berdebat sama dia. Dia itu selalu ada saja jawaban untuk melawan gue." terang Nina.
"Berarti kamu udah cinta beneran sama Erick, yeee!!" Ratih melonjak girang. Nina tersipu malu.
******************
Nina tidak mendapat kabar dari Erick, dia mencoba menghubungi hand phonenya juga gak aktif, tumben Erick seperti ini. Nina mencoba menghubungi Adit menanyakan tentang Erick yang tidak ada kabar berita.
"Dit, Erick kemana sih kog gak ada kabar, hand phonenya gak bisa dihubungi lagi." tanya Nina.
"Iya gue juga udah nyari dia, nanti aku cek ke kosannya ya."
"Kabarin ya Dit." Nina mulai cemas.
"Ok Nin, kamu tenang aja nanti ku kabarin."
Adit mendatangi tempat kos Erick dan tetangganya juga tidak ada yang mengetahui keberadaannya.
"Kamu dimana Rick?" Adit membathin.
Kemana mau mencari Erick, mau menghubungi keluarganya Adit tidak tahu harus kemana. Adit terduduk di depan kamar Erick, ada rasa cemas di hatinya tentang sahabatnya itu.
"Nin Erick gak ada di kosnya, tetangganya juga gak tahu dia dimana." Adit mengabari Nina.
"Hah... kenapa dia jadi begini sih, apa dia marah sama aku?" Nina mulai sedih.
"Sabar Nin, kita akan cari info tentang Erick, semoga saja dia pulang kampung karna urusan penting, dan belum bisa ngabarin kita." Adit menghibur Nina.
Nina menangis di kamarnya, baru kali ini dia menangis karna seorang laki-laki. Dia tidak mengerti apa salahnya sampai Erick tiba-tiba seperti ini.
__ADS_1
*************
Ke esokan harinya Nina masih termenung sendiri memikirkan Erick yang tidak ada kabar berita.
tut
tut
tut
Nina meloncat kaget menerima telpon dari Erick.
"Rick kamu dimana sih udah tiga hari gak ada kabar, kamu jahat!" Nina langsung memberondong pertanyaan pada Erick.
"Hallo apa ini dengan Nina?" ternyata orang lain yang sedang menelpon menggunakan hand phone Erick.
"Hah... i-iya ini Nina, Ini bukan Erick?" Nina bingung karna bukan suara Erick.
"Kami dari rumah sakit, kebetulan ada pasien kecelakaan tunggal tanpa identitas hanya hand phone ini yang ada disakunya. Bisakah anda mengkonfirmasi siapakah korban ini, karna nomer anda yang sering dihubungi oleh nomer hand phone ini."
"A.. apa? maksudnya bagaimana?"
Kaki Nina langsung gemetar dadanya tiba-tiba terasa sesak. Nina tersungkur dan jatuh pingsan di kamarnya. Mama Nina berlari ke kamar Nina setelah mendengar sesuatu terjatuh.
Kegaduhanpun terjadi di rumah Nina, papa Nina panik melihat anaknya pingsan, dia langsung mengangkat Nina ke atas ranjang.
"Nina kenapa Mah?!" tanya papa Nina.
"Mama gak tahu Pah, Mama dengar ada yang jatuh makanya mama kesini dan Nina sudah seperti itu."
Mama Nina mengolesi Nina dengan minyak kayu putih agar Nina sadar, papa Nina panik berjalan mondar-mandir di kamar Nina. Melihat hand phone Nina di lantai papa Nina mengambil dan mengecek hand phone anaknya. Panggilan terakhir dari Erick, papa Nina langsung menghubungi nomor Erick.
"Hallo Erick, apa yang kamu lakukan sama anakku!!" papa Nina sudah emosi.
"Maaf pak ini bukan Erick, kami dari rumah sakit ingin mengkonfirmasi pasien yang tidak ada tanda pengenal, kebetulan hanya hand phone ini yang kami temukan." terang orang yang memegang hand phone Erick.
"Hah... jadi Erick kecelakaan maksudnya?!" papa Nina ikut shock dan terduduk.
"Kami belum pasti apakah korban bernama Erick, kalau bisa ada perwakilan yang datang kesini untuk mengidentifikasi korban."
"Oh baik, kami akan kesana dimana rumah sakitnya?"
Papa Nina mematikan hand phone setelah mendapatkan alamat rumah sakit yang di duga merawat Erick. Mama Nina masih bingung dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi.
__ADS_1
"Ada apa Pah, Nina kenapa?"
"Sepertinya Nina shock dengar kabar Erick Mah, Erick kecelakaan sekarang ada di rumah sakit. Kita harus kesana melihatnya,"
"Ya udah Pah, Papa telpon aja teman Nina biar ke rumah sakit, kita tunggu Nina sadar dulu Pah."
Sementara Nina dalam pingsannya bertemu dengan Rekso, Nina sedang sedih duduk sendirian. Rekso datang mendekatinya dan menghapus air mata Nina.
"Kenapa kamu sedih begitu, nanti hilang cantikmu ada aku disini jangan kamu menangis lagi."
Rekso memeluk Nina membuat Nina semakin menangis tersedu dalam pelukannya
"Kenapa harus begini, apa aku tidak boleh bahagia hiks..." Nina terus terisak.
"Jangan menangis, hentikan tangisanmu aku tak sanggup melihat kesedihanmu." bisik Rekso.
"Erick Err...!!!" Nina tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Kenapa dengan manusia itu, dia menyakitimu. Sudah ku bilang dia itu manusia lemah hanya akan membuat hidupmu sedih dan sengsara. Aku yang akan membahagiakanmu aku yang akan menjagamu, bukan dia." Rekso mulai berapi-api.
"Ninaa... Ninaa!!!"
Tiba-tiba suara Erick memanggil Nina, Nina melepaskan pelukan Rekso dan mencari suara Erick.
"Eriiiick... Erick kamu dimana? Erriicckkk !!!"
Nina berteriak memanggil nama Erick, mama Nina yang menunggui Nina langsung menepuk pipi anaknya agar sadar.
"Nin... Nin bangun Nin, bangun Sayang."
Mama Nina mulai menangis, air matanya membasahi wajah Nina membuat Nina perlahan membuka matanya.
"Mah... Nina kenapa?" tanya Nina melihat mamanya menangisinya.
"Kamu sudah sadar Nak, syukurlah." mama Nina langsung mengusap air matanya.
"Mah Erick Mah." Nina teringat dengan Erick.
"Sudah, kamu tenang dulu. Papa dan teman-temanmu sedang mengurus Erick, kita tunggu kabar dari mereka ya."
Nina terisak dipelukan mamanya, dia takut hal buruk terjadi pada Erick. Apa yang terjadi dengan Erick sebenarnya, beribu pertanyaan terus berputar di kepala Nina.
***********************
__ADS_1