
Malam ini suasana di kamar Nina terasa sangat berbeda, Dian juga merasakan hal yang sama, tidak seperti malam-malam lain saat dia tidur di rumah Nina.
Karena sudah malam dan sangat mengantuk Dian tak menghiraukan apa yang dirasakannya. Dian tidur bersama dengan Nina seranjang berdua.
Dian mulai terlelap dalam tidurnya, tidurnya sangat gelisah berkali-kali Dian membolak-balikkan badannya.
Dian bermimpi seperti berada di sebuah hutan, ada sepasang mata merah menyala sedang mengawasinya. Dian sendirian kala itu, dia merasa bingung kenapa bisa sampai berada di tempat seperti ini.
Terdengar langkah kaki berjalan di belakangnya, Dian mulai menggigil ketakutan kakinya gemetar keringat dingin bercucuran.
Perlahan Dian menoleh kebelakang, ada sesosok manusia tinggi besar berambut ikal panjang, mulutnya menyeringai dan taringnya keluar disela-sela bibirnya matanya merah menyala. Dian ingin berteriak tapi suaranya seolah hilang begitu saja.
"Huaa... ha... ha...!" sosok itu mengeluarkan suara tawa yang sangat menyeramkan.
Dian menggigil ketakutan, sosok itu semakin mendekati Dian dan hendak meremas tubuh Dian yang terlihat begitu mungil di hadapan mahluk itu.
"Acchhh...!"
Dian terbangun dari tidurnya, nafasnya tersengal dia sangat ketakutan. Tidak pernah seumur-umur bermimpi seseram itu.
Dian melihat Nina begitu pulas tidur disampingnya. Dian ingin membangunkan Nina tapi merasa segan, diapun kembali memaksa matanya agar bisa kembali terpejam, tapi bayangan takut akan mimpi itu datang lagi membuatnya tetap terjaga hingga pagi.
Sementara Nina di dalam tidurnya juga sedang bermimpi, dia melihat Rekso sedang duduk tak menghiraukannya.
"Er...!!" Nina memanggil Rekso yang seolah tak peduli ada dirinya disana.
"Kamu kenapa sih?" tanya Nina lagi.
Rekso terlihat murung tak seramah biasanya. Biasanya dia selalu mesra dan ramah pada Nina, kali ini dia seolah sedang marah dan mendiamkan Nina.
"Kamu kenapa sih, diem aja dari tadi. Ditanyain juga gak mau jawab,"
Nina duduk di samping Rekso, mencoba mengajaknya berbicara.
"Apa manusia itu membuatmu bahagia?" tanya Rekso.
"Manusia siapa, kamu ngomongin apa sih, kamu ini selalu penuh dengan teka-teki,"
__ADS_1
"Manusia yang sekarang menjadi pacarmu,"
"Kenapa harus pakai kalimat manusia, gak nyaman banget di dengar, manusia itu punya nama Er dia Erick,"
"Huft namanya sama lagi dengan namaku," dengus Rekso kesal.
"Ya bedalah dia Erick kamu Rekso, sama dari mana coba?"
"Sama-sama kamu panggil Er kan?"
"Hah... cuma soal itu kamu ngambek sama aku?"
"Bukan cuma itu saja, apa artinya aku bagimu bukankah aku selalu menyenangkanmu di bandingkan manusia lemah itu?"
"Erick dia bernama Erick bukan manusia itu!" Nina mulai kesal.
"Aku tidak suka menyebut namanya, bahkan saat kau menyebutnya dengan bibirmu, itu juga tidak nyaman di telingaku,"
"Er... aku tidak mengerti dengan hubungan kita ini, kau hanya hadir di dalam mimpiku saja, bagaimana aku bisa menjalani hubungan seperti itu,"
"Jadi kamu mau sebuah raga yang lemah,"
"Bukannya kamu sudah bahagia bersama denganku selama ini,"
"Aku bahagia tapi saat aku terbangun bahagia itu tiba-tiba sirna, apa aku harus tidur selamanya biar aku merasakan bahagia. Kupikir kamu hanyalah hayalanku yang terbawa dalam mimpiku," ucap Nina lagi.
"Aku mencintaimu Nina, kamu hanya milikku tidak ada yang bisa mencintaimu seperti cintaku padamu. Tidak ada yang bisa membahagiankanmu seperti aku membahagiakanmu!"
"Aku tidak mengerti dengan semua ini Er,"
"Bukankah kita sudah saling menyatu, kau sudah membuka pintu itu buatku,"
Rekso menatap Nina dengan tajam, mata yang biasa begitu teduh saat memandang Nina kini terlihat garang penuh amarah.
Rekso mencium Nina dengan kasar, tak ada kelembutan seperti biasanya. Nina membalas ciuman Rekso agar pria itu tidak marah lagi kepadanya. Akan tetapi cumbuan Rekso semakin kasar padanya.
"Jangan kasar padaku atau aku akan meninggalkanmu dan tidak mau bertemu denganmu lagi Rekso," Nina mengancam.
__ADS_1
Rekso memegang erat pergelangan tangan Nina, hingga Nina merasa kesakitan. Nina tersentak dan terbangun dari tidurnya. Di lihatnya Dian yang terlelap disampingnya, terlihat juga sedang gelisah tidurnya, apa dia juga bermimpi buruk Nina membathin.
************
Entah kenapa saat perjalanan pulang ke kosannya motor Erick terasa begitu berat, seperti membawa beban yang sangat besar. Erick berusaha memperlaju motornya tapi motornya serasa tidak bertenaga.
Perjalanan pulang serasa begitu panjang dan sangat lama, hingga akhirnya diapun tiba di kosannya. Setelah memarkir dan mengunci motornya, Erick berjalan gontai menuju kamarnya.
Brukk...
Erick jatuh tersungkur dilihatnya sekelilingnya, dia merasa ada yang nyangkut di kakinya hingga dia terjatuh, tidak ada apa-apa lantai yang di lewatinya juga rata tidak ada yang bisa membuatnya terjatuh, tapi aneh dia bisa terjatuh tanpa sebab.
Erick bangkit dan kembali berjalan menuju kamarnya, setelah mencuci kaki dan mukanya diapun bersiap akan menutup pintu kamarnya.
Brakkk...!!
Erick meloncat saking terkejutnya saat pintu kamarnya tertutup sendiri, seperti ada yang membantingnya, Erick membuka pintu dan melongok keluar kamar tidak ada siapa-siapa bahkan angin juga tidak begitu kencang.
Erick mengunci pintu kamarnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia mau mengirim pesan sama Nina, tapi hari sudah malam pasti Nina juga sudah tidur dirumahnya.
Erick terlelap dalam tidurnya terbuai ke alam mimpi. Erick hampir tak bisa bernafas saat ada mahluk tinggi besar mencekik lehernya, mahluk itu matanya melotot merah penuh amarah. Erick berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman tangan mahluk itu.
Mahluk itu menyeringai mengeluarkan taringnya, dia mendekatkan wajahnya kewajah Erick hembusan nafas mahluk itu terasa panas di wajah Erick, mahluk itu seolah sedang mengancam Erick.
"Jangan ganggu milikku," mahluk itu bersuara, suaranya menggelegar memekakkan telinga yang mendengarnya.
Erick terus meronta mencoba melepaskan dirinya, dia membaca surat-surat alquran yang diingatnya. Tenaga mahluk itu sangat kuat membuat Erick kesulitan bergerak. Semakin Erick meronta cengkraman tangannya semakin kuat di lehernya.
"Huaa... ha... ha... kamu bukan tandinganku!"
Mahluk itu tertawa mengejek pada Erick, Erick terus melafalkan ayat-ayat qur'an yang dia ingat. Hingga perlahan wujud mahluk itu memudar berubah menjadi asap hitam yang menggulung-gulung dan menghilang terbawa angin.
Erick terbangun dari mimpinya dia terbatuk-batuk, nafasnya tersengal lehernya terasa nyeri seperti ada yang baru saja mencekiknya, mimpinya seolah nyata terjadi padanya.
Erick bangun dan mengambil wudhu kemudian membaca doa lalu melanjutkan kembali tidurnya. Dia terbangun saat kumandang adzan di beberapa masjid sekitarnya mulai bersahutan.
Erick termangu di ranjang memikirkan mimpinya yang seram, baru kali ini sejak tinggal di kosan ini mendapat mimpi buruk. Erick kemudian pergi mandi dan menunaikan ibadah sholat shubuh.
__ADS_1
***************