
Siang itu dirumah Nina, Dian yang semalam kurang tidur terlihat sangat lesu. Mereka menghabiskan hari minggu dengan menonton drama korea di rumah saja.
"Kamu lesu amat, lagi sakit?" tanya Nina.
"Gue kurang tidur Nin,"
"Ah tumben ada apa lagi, ada masalah sama keluarga lo?"
"Nggak juga, semalam gue mimpi dikejar mahluk mengerikan terus kebangun gak bisa tidur lagi."
"Hmm masak sih, mungkin ada yang lewat pas kita bakar-bakar semalam ya, jadi kebawa mimpi."
"Mungkin saja, ah... semoga cuma sekali itu mimpi seram takut gue Nin."
Nina dan Dian tidak lagi membahas soal mimpi, mereka sedang terhanyut dalam drama korea yang mereka tonton, kadang nangis kadang ketawa terbawa cerita.
************
Di kosan Erick dia sedang menyiapkan tugas untuk pekerjaannya, saat ini Erick sudah mulai bekerja sebagai tutor online part time, Erick tak mau terlalu membebani kedua orang tuanya dikampung.
Apalagi sekarang Erick sudah punya pacar, dia tidak mau saat mengajak Nina jalan-jalan bersamanya dia tidak punya uang. Saat ini begitu banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan tanpa harus bertatap muka, Erick tidak menyiakan kesempatan ini.
"Rick lagi ngapain?" pesan masuk dari Adit.
Karna masih sibuk Erick tidak memperhatikan hand phonenya.
tut...
tut...
tut...
"Ya Dit ada apa?" jawab Erick.
"Lagi ngapain, lagi dikos apa lagi jalan-jalan sama Nina?" tanya Adit.
"Gue di kos, lagi ada kerjaan. Ada apa?"
"Ya udeh gue ke kosan lo, ada makanan gak?"
"Ada ini mie doang, ya namanya anak kos lu tanya makanan lagi, di kate warung apa."
"Ya udah kalau gak ada gue bawain, lu beli gorengan yak," pinta Adit.
"Oce Bro..., kopi nggak sekalian?" tanya Erick.
"Ya iyalah habis makan ngopi kita he he."
"Ok siap!"
Erick bergegas membeli gorengan yang mangkal di ujung gang tempat kosnya. Setelah itu dia membuatkan kopi se teko untuk Adit. Tak berapa lama Adit datang dengan motornya dan membawa nasi bungkus.
"Nih nasi padang," Adit menyerahkan nasi bungkus yang dia bawa pada Erick.
__ADS_1
"Wih mantap nih, bisa tahan sampai malem kalau makan nasi padang."
Mereka berdua menikmati makan di kos sambil bercerita tentang pekerjaan baru Erick.
"Syukurlah kamu punya kerjaan sampingan Rick," ucap Adit.
"Ya dari pada waktu gue habis gitu-gitu aja gak bermanfaat," balas Erick.
"Iya aku juga mau nyoba ikutin jejak lo Rick, mayan buat belanjain martabak kalau ngapel ke rumah Ratih ha ha."
Erick dan Adit ngobrol sampai sore, Adit lebih suka kalau hari libur main di kosan Erick tempatnya sepi nyaman juga buat istirahat, kalau udah sore baru dia pulang kerumahnya.
**********
Mama Nina dan papanya baru tiba di rumah, Dian dan Nina yang sedang menikmati tahu isi buatan bibik di teras rumah menyambut dan membantu membawakan barang bawaan mama Nina.
"Eh Dian tidur disini rupanya?" sapa mama Nina.
"Iya Tan, kemarin malam udah malem jadi Dian tidur sini sekalian nemanin Nina," saut Dian.
"Nggak apa-apa anggap aja di rumah sendiri, Tante senang kalau Nina ada temannya. Tante masuk dulu ya, oh ya itu ada oleh-oleh nanti kalau pulang bawa buat mamamu yah."
"Trimakasih Tante."
Dian kembali duduk di teras bersama Nina.
"Nanti tidur sini lagi kan?" tanya Nina.
Dian masih merinding kalau mengingat mimpinya tadi malam.
"Ah elo aneh-aneh aja, itu kan kebetulan aja mimpi kayak gitu. Dulu juga gak mimpi serem kan waktu lu tidur sama gue."
"Ya nggak sih baru kali ini, tapi seremnya itu gue takut."
"Oke deh nanti biar di antar pak dhe aja pulangnya, sekalian orangnya arah pulang."
"Trimakasih Nin."
***************
Pak dhe Tomo supir Nina sudah bersiap mau pulang, Nina meminta tolong agar sekalian mengantar Dian.
"Pak dhe udah mau pulang?" tanya Nina.
"Iya Mbak."
"Bareng sama Dian ya Pak Dhe," pinta Nina.
"Boleh Mbak."
"Ya udah tunggu bentar ya Pak dhe, Nina bilang sama Dian dulu."
"Baik Mbak, Pak dhe tunggu di depan ya."
__ADS_1
"Trimakasih ya Pak dhe."
Nina memberitahu Dian yang sedang bersiap di kamar Nina.
"Dian Pak dhe udah nunggu di depan, oh ya kue dari mamah jangan lupa dibawa ya. Salam sama mamamu,"
"Ok Sob, tanks ya. Mamamu mana?" tanya Dian yang tidak melihat orang tua Nina.
"Paling lagi istirahat, udah nanti aku yang pamitin sama mamah."
"Ok Nin, tanks aku balik dulu ya," pamit Dian.
Nina mengantar Dian sampai di teras, setelah pak dhe dan Dian pergi Nina menutup kembali pintu pagar rumahnya. Dan dia kembali ke kamarnya.
Di perjalanan Dian mengajak Pak dhe berbicara, sudah beberapa kali pergi diantar pak dhe tapi Dian tidak pernah berbincang dengan sopir Nina.
"Pak dhe ini nanti kuenya pak dhe bawa pulang satu ya, ini kebanyakan buat Dian sama mama," ucap Dian.
"Jangan Mbak, saya sendirian di kos gak ada yang makan juga nanti," tolak pak dhe.
"Lo pak dhe sendirian to, kirain ada keluarga disini,"
"Nggak ada Mbak Dian, Pak dhe disini sendirian. Keluarga pak dhe ya orang tua Mbak Nina sudah pak dhe anggap keluarga."
"Oh Pak dhe gak punya istri?" tanya Dian penasaran.
"Dulu ada Mbak, istri saya pamit ke jakarta tapi tidak pernah ada kabar, pak dhe nyusul kesini gak ketemu. Untung pak dhe ketemu pak Hendra, jadi pak dhe ikut pak Hendra sampai sekarang." terang pak dhe mengisahkan masa lalunya.
"Oh maaf ya Pak dhe, Dian nggak tahu soal itu," Dian jadi merasa tak enak hati.
"Nggak apa-apa Mbak Dian."
"Nasib Pak dhe kebalikan dari mamah saya Pak dhe." Dian jadi teringat mamanya.
"Kenapa dengan mama Mbak Dian?" tanya pak dhe jadi penasaran.
"Ya Mama juga seperti itu di tinggal sama Papa kawin lagi," Dian jadi sedih.
"Sabar Mbak Dian, semoga kelak mamanya Mbak Dian lebih baik lagi hidupnya. Mungkin ini cara Allah mau memberi kita yang terbaik," pak dhe berusaha menghibur Dian.
"Seandainya orang sebaik Pak dhe bisa bertemu dengan mamanya Dian. Dian berharap mama menikah lagi dengan pria yang baik."
Mobil yang membawa Dian sudah tiba di kantor mamanya Nina, tempat Dian tinggal bersama mamanya sekarang.
"Trimakasih Pak dhe, gak turun dulu ngopi sebentar," tawar Dian pada pak dhe.
"Udah malam Mbak, nanti ketahuan ibuk nggak enak. Saya pulang dulu ya Mbak."
"Ok Pak dhe."
Dian turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam ruko. Mama Dian juga sudah menunggu kedatangannya.
***************
__ADS_1