
Empat hari dirawat di rumah sakit Nina akhirnya diijinkan pulang, akan tetapi sang bayi masih dalam perawatan rumah sakit, Pratiwi juga masih berada di Semarang untuk menenani Nina di rumahnya.
"Nin, kamu gak apa-apa tinggal di rumah ini?" tanya Pratiwi, dia khawatir Nina akan trauma dengan tragedi yang menimpanya bersama Ronald.
"Ini hadiah Ronald untukku Ma, kalaupun dijual orang juga gak bakalan mau beli mengingat kejadian itu," balas Nina.
"Mah, aku ingin ke makam Ronald mah," ucap Nina.
"Kamu belum sehat, tunggu sampai jahitanmu kering dulu," ucap Pratiwi.
"Nina nggak sabar pingin ke sana," rengek Nina.
"Nanti kalau kamu sudah bener-bener pulih pergilah, jangan membahayakan diri sendiri, ingat anakmu masih kecil. Oh ya apa ASI mu sudah keluar?" tanya Pratiwi.
"Belum Mah, Nina sudah minum obat pelancar tapi belum keluar juga," balas Nina.
"Mungkin karna kamu stress, jadi ASI mu nggak keluar, pikiran juga mempengaruhi produksi ASI," sambung Pratiwi.
Pratiwi menasehati Nina cara merawat dan mengurus bayi, walaupun nanti akan ada asisten yang membantunya, sebagai ibu dia harus lebih banyak bersama anaknya, Nina mendengarkan dengan seksama nasehat dari mamanya.
********
Malam pertama tidur di rumah setelah kejadian yang menimpanya membuat Nina susah memejamkan matanya, malam itu Nina tidur ditemani mamanya, karna gelisah dan tidak bisa tidur Nina bangkit dan keluar dari kamar.
Dia mendapati Erick sedang duduk di ruang keluarga menonton tv tanpa suara, melihat Nina datang Erick langsung menyapa.
"Belum tidur?" tanya Erick, Nina menggeleng pelan.
"Aku mau mengambil minum," jawab Nina.
"Duduklah biar ku ambilkan," Erick bergegas bangun dan pergi mengambil minum memberikan pada Nina.
Nina menerima dan meminumnya perlahan, dia memperhatikan Erick yang terlihat acak-acakan.
"Kamu juga kenapa belum tidur?" tanya Nina.
"Aku nggak bisa tidur, jadi aku nonton tv aja," saut Erick.
"Tidurlah, sudah beberapa hari ini kamu kurang tidur, nanti kamu sakit," ucap Nina lirih.
Erick menatap wajah Nina yang masih terlihat pucat, dia tersenyum melihat ketegaran wanita yang sangat dicintainya, Nina menunduk menghindari tatapan mata Erick.
"Kamu juga istirahat biar cepat pulih," balas Erick.
__ADS_1
Nina kembali masuk ke kamarnya dan berbaring di samping mamanya yang sudah terlelap dalam mimpinya.
******
Nina diantar Erick pergi kontrol ke rumah sakit memeriksakan luka jahitannya dan sekaligus melihat anaknya, walaupun masih belum bisa menggendong dia cukup senang melihat perkembangan anaknya yang terlihat semakin montok dan menggemaskan.
"Rick setelah ini aku mau ke Jakarta dulu mumpung anakku belum dibawa pulang, aku mau ke makam Ronald dan menyelesaikan beberapa urusan," ucap Nina saat sudah berada di rumahnya.
"Ku antarin ya, aku nggak mau kalau kamu sendirian nanti ada apa-apa di jalan," ucap Erick.
"Apa kata orang nanti, suamiku baru meninggal aku sudah jalan sama laki-laki lain," sambung Nina.
"Ini tugasku dan Ronald yang menitipkanmu padaku, toh kita tidak melakukan apa-apa," kilah Erick.
"Aku hanya di pesawat saja sendirian, kalau sampai di Jakarta di jemput sopir," sambung Nina ngotot.
"Nin, aku tak mau hal buruk terjadi kepadamu, Ronald yang laki-laki saja diculik, apa lagi kamu kondisimu masih lemah begini, aku nggak peduli apa omongan orang, kalau perlu aku akan menikahimu biar orang tidak menganggapmu buruk!!" ucap Erick berapi-api.
Tangan Nina melayang ke pipi Erick dengan sangat keras, Erick memegang pipinya yang memerah bekas tamparan tangan Nina, dia tercekat melihat kilatan amarah di mata Nina.
"Kuburan suamiku belum kering kamu sudah bicara seperti itu, kamu pikir aku wanita apa, pergi!!," Nina masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
Erick tertegun menyesali ucapannya, dia juga tak menyangka akan bicara begitu pada Nina, walaupun dia sangat ingin menikahi wanita itu, namun dia ingin menikah karna Nina memang benar-benar mencintainya seperti dulu.
"Nin, maafkan aku," Erick berdiri di depan pintu kamar Nina.
Erick pulang larut malam agar tak bertemu dengan Nina, dia merasa tidak enak hati karna ucapannya siang tadi.
**********
Pagi itu Nina sudah bersiap akan berangkat ke Jakarta, dia sangat ingin mendatangi makam suaminya, sebelum berangkat Nina sudah mengabari pak Tomo supir keluarganya untuk menjemputnya di bandara.
"Kamu jadi pergi?" tanya Erick, melihat Nina membawa koper kecil.
Nina tak menjawab pertanyaan Erick, hatinya masih kesal dengan ucapan Erick tadi malam. Erick menunggu Nina bersiap, saat Nina keluar dia menawarkan diri untuk mengantarkan ke bandara.
"Sudah siap, ayo ku antar ke bandara?" Erick mengambil koper Nina dan memasukkan dalam mobil.
Nina masuk ke dalam mobil tanpa berbicara dia tetap diam hingga mereka tiba di bandara. Erick membantu Nina membawakan koper hingga ke pintu masuk ruang check in.
"Hati-hati ya," ucap Erick sambil menyerahkan koper Nina.
Nina tetap diam tak menyahut, dia meninggalkan Erick yang menatap kepergiannya dengan hati ragu dan was-was. Erick kembali pulang ke rumah, dia mengirim pesan pada Pratiwi kalau Nina sudah berangkat ke Jakarta.
__ADS_1
Setibanya di Jakarta Nina meminta pak Tomo supirnya untuk langsung membawanya ke makam Ronald. Pak Tomo menemani Nina hingga ke pusara suaminya.
Nina duduk di samping makam Ronald dengan perasaan duka yang mendalam, ingin rasanya saat itu dia berteriak tapi dia hanya mampu terisak, pak Tomo memandangi majikannya dengan perasaan luka.
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu, maafkan aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu, semoga kamu tenang di sana, aku berjanji akan merawat anak kita dengan baik, trimakasih sudah memberiku kebahagiaan selama kita bersama," Nina memejamkan matanya dan mengirimkan doa.
Dia melangkahkan kakinya meninggalkan makam Ronald dan melanjutkan ke rumah mertuanya, dia ingin meminta maaf pada ke dua orang tua Ronald.
Mama Ronald menangis saat Nina datang ke rumahnya, rasa dukanya masih teramat dalam, Nina pun tak kuasa menahan sedihnya dan ikut menangis bersama mertuanya.
"Bagaimana cucuku?" tanya mama Ronald sambil terisak.
"Masih di rawat Mah, makanya Nina sempatin ke sini, sekalian Nina mau membawa asisten di rumah untuk pindah ke semarang," ucap Nina.
"Nin, Ronald sudah tiada mama dan papa tidak melarang andai nanti kamu menemukan pengganti Ronald, yang penting jangan putuskan hubungan cucuku dengan kami," ucap mertua Nina sambil terisak.
"Mama bicara apa, Nina belum berfikir ke sana Ma," Nina mulai gusar mendengar ucapan mertuanya.
"Sebelum Ronald meninggal dia mengirimkan surat pada mama dan papa, dia berpesan kalau dia tidak ada, dia ingin kamu menikah dan melanjutkan hidupmu," sambung mertua Nina.
"Cukup Mah, Nina mohon jangan bicarakan hal itu," Nina kembali terisak, hatinya bagai di sayat-sayat.
Nina mohon diri dan pergi ke rumahnya dia ingin melihat rumah dan mengemasi barang-barangnya membawa ke rumah mamanya.
Asisten Nina menyambut kedatangan Nina dengan menangis, mereka ikut merasa kehilangan atas kepergian Ronald yang sangat tidak disangka.
Nina mengutarakan Niatnya untuk membawa salah satu dari mereka pindah ke Semarang untuk mengurus bayinya saat keluar dari rumah sakit, dan Nunik bersedia mengikuti Nina ke Semarang.
Nina dibantu asistennya mengemasi baju-baju milik Ronald yang akan dia hibahkan pada Adit, serta surat-surat penting milik Ronald dia kembalikan pada keluarga Ronald, Nina hanya mengambil foto kenangan saat masih bersama, agar kelak anaknya melihat seperti apa wajah papanya.
Nina pulang ke rumah orang tuanya setelah semua selesai. Dia menenangkan diri sebelum kembali ke Semarang, Ratih menemaninya selama dia berada di Jakarta, sedangkan Dian sudah menghitung hari menunggu waktunya melahirkan.
"Nin kapan pulang?" tanya Erick saat menghubungi Nina.
"Nanti ku kabarin," jawab Nina datar.
"Bayimu sudah boleh di bawa pulang, aku menunggumu datang untuk menjemputnya," sambung Erick.
"Hah ... benarkah anakku sudah boleh di bawa pulang Rick?" Nina hampir melompat saking senangnya.
"Pulanglah, mari kita jemput Ronald junior pulang," ajak Erick penuh harap.
"Kalau gitu, aku pesan tiket dulu nanti jemput aku ya," pinta Nina.
__ADS_1
Nina mengabari keluarganya tentang kepulangan anaknya, dia pun dengan cepat memesan tiket untuk kepulangannya ke Semarang, dia ingin segera memeluk buah hatinya yang sudah lama dia rindukan.
*******