Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Inikah rasanya cinta


__ADS_3

Erick pulang ke kos setelah mengantar Nina ke rumahnya, hal yang sama terjadi motornya terasa berat tidak bertenaga, padahal tadi waktu membawa Nina tidak seberat ini. Apa motor ini sudah rusak atau gimana Erick menggerutu dalam hati.


"Gue heran sama ini motor, padahal juga bukan motor tua berasa kayak pakai motor butut. Untung pas bawa Nina lo gak ngadat kayak tadi, malu-maluin aja, kalau kamu kayak gini terus gue ganti sama mobil lo," Erick mengomeli motornya saat parkir di kosannya.


Bruukkkk !!!!


"Anjj... Astagfirullah... sial amat sih hidup gue."


Erick terjatuh lagi tanpa sebab. Dia cepat-cepat bangun takut ada yang melihat pasti nanti jadi bahan tertawaan orang pikirnya.


**********************


Nina di rumahnya sedang bercengkrama dengan orang tuanya di ruang keluarga. Wajah sumringah Nina berbeda dari biasanya, mama Nina memperhatikan raut wajah anaknya yang merona bahagia.


"Ciieeee yang habis ngedate..." goda mama Nina pada anaknya.


"Apaan sih Mah, kayak gak pernah aja Mamah pacaran jaman muda."


"Papa nggak larang kamu pacaran Nina, tapi tolong jangan kebablasan kamu anak Papa satu-satunya." papa Nina mulai angkat bicara.


"Yah Papa, emang Nina mau ngapain sih Pah?"


"Ya kamu tahu lah gaya pacaran anak jaman sekarang, pacaran udah kayak suami istri. Belum tentu dia bakal jadi suamimu juga kan, kalau kamu udah kelewat batas yang rugi nanti kamu bukan dia."


"Iya Pah Nina tahu, tenang aja Pah nanti Nina buatin cucu buat Papa."


"Ninaaa!!!" Papa Nina melotot.


"Udah... udah... bisa nggak sih gak usah pakai otot kalau ngomong," mama Nina menengahi.


"Bercanda Pah," Nina berusaha merayu Papanya.


"Papa lagi ngomong serius, Papa cuma gak mau kamu nyesel kalau sampai terjadi apa-apa."


"Iya Pah, Nina juga gak akan lakuin itu sama Erick. Erick itu agamis orangnya kadang Nina malu kalau di ingetin suruh sholat."


"Wah bagus itu, berarti Erick menantu idaman Mama banget," mama Nina menyahut.


"Hmm syukurlah kalau begitu."


Papa Nina merasa lega mendengar tentang Erick dari Nina, sebagai orang tua dia tidak ingin anaknya sampai salah jalan dan salah pilih pacar.


"Nina mau ke kamar dulu ya Mah, Pah."


Nina meninggalkan papa mamanya masuk ke dalam kamarnya. Dia teringat dengan Erick dan mau menghubungi Erick. Nina mengambil hand phonenya dan mulai menghubungi Erick pakai video call.

__ADS_1


"Hai..."


Erick menjawab telpon Nina, dia hanya mengenakan celana pendek tanpa memakai baju. Nina yang melihat itu langsung membuang muka dari layar hand phonenya.


"Pakai bajulah, gak enak di lihat tau!" Nina malu melihat Erick tidak memakai baju.


"Ok Sorry bentar nyari kaos dulu." Erick segera memakai kaos agar Nina merasa nyaman.


"Sudah Bos, lihat sini dong masak gue lihatin tembok." kata Erick.


Nina mengintip ke layar hand phonenya takut Erick masih gak memakai baju.


"Nah gitu dong, kalau gitu kan jadi enak ngobrolnya, kamu lagi sibuk ya?"


"Nggak, ini lagi bikin materi untuk kerjaanku besok. Kamu belum ngantuk?"


"Belum. Makanya mau gangguin kamu dulu he he."


"Udah sholat Sayang?" tanya Erick.


"Mmm belum."


"Kamu punya mukena kan? jangan-jangan gak punya ini."


"Punya lah masa gak punya, mau ku ambilin mukenanya biar kamu percaya?!"


"Mmm ok, aku akan sholat mulai besok."


"Sekarang! ngapain besok ini masih ada waktu buat isya, cepet sono ambil wudhu." Erick sedikit memaksa.


"Ich kamu bawel deh..., lebih parah dari emak gue." Nina sewot.


"Bukan untuk aku, itu untuk kamu sendiri cepetan aku tunggu nanti ku telpon lagi ya."


"Nggak usah di matiin hand phonenya, kalau kamu nggak percaya lu liat ye gue lagi sholat."


Nina menyandarkan hpnya pada buku tanpa mematikan panggilan video callnya. Dia sengaja melakukan itu agar Erick melihat kalau dia bisa sholat. Setelah mengambil wudhu Nina langsung melakukan sholat isya.


Erick memandang wajah Nina yang menggunakan mukena, Nina terlihat semakin cantik saat memakai mukena berwarna kuning gading. Erick tersenyum melihat Nina melakukan gerakan sholat sampai selesai.


"Puas lo!" ucap Nina selesai sholat.


"Jangan dilepas dulu mukenanya, kamu terlihat sangat cantik kayak gitu."


"Nggombalnya mulai lagi deh!" Nina tersipu malu.

__ADS_1


"Aku nggak nggombal kamu memang sangat cantik."


Nina memandang wajahnya sendiri di layar hand phonenya dan tersenyum, dalam hati dia memuji dirinya sendiri, bener juga kata Erick dia merasa cantik dibalut dengan mukena.


Entah kenapa awalnya dulu Erick itu sangat menyebalkan menurut Nina, candaannya terasa begitu garing dan sangat membosankan. Tapi semakin kesini dia semakin menyenangkan.


"Apa aku mulai jatuh cinta sama dia." Nina berbicara dalam hati.


"Kamu senyum-senyum aja, gue ganteng ya?"


"Oh god! kamu habis kesambet apaan sih muji diri sendiri." Nina sewot.


"Ya buktinya kamu sampai senyum-senyum aneh gitu dari tadi."


"Nggak usah ge er, bukan senyumin wajah kamu, gue lagi inget bagaimana awal kita kenalan dulu." terang Nina.


"Iya karna gue ganteng lo jadi terpesona sama gue kan ha ha." Erick semakin menggoda Nina.


"Lo tu nyebelin tau dari dulu, makanya gue heran bisa jadian sama elo."


"Justru yang nyebelin gini bikin ngangenin tau, lo gak berantem sama gue sehari pasti lo kangen." balas Erick.


Nina tertawa benar juga apa yang Erick katakan, sehari tanpa berdebat sama dia hidupnya terasa hambar, tapi Nina masih belum bisa mengatakan pada Erick kalau dia cinta sama Erick. Nina terlalu malu untuk bilang itu sama Erick.


"Mulai besok sholatnya full ya Sayang. Nanti kubeliin mukena travel yang bisa dibawa kemana-mana."


"Harus ya?" tanya Nina.


"Ini wajib lo Sayang, bukan karna aku tapi itu perintah langsung dari Allah." terang Erick.


"Ya aku kan masih belajar Rick."


"Ya pokoknya harus dilakukan setiap hari lima waktu, nanti aku ingetin terus. Kamu gak marah kan kalau aku bawel sama kamu soal ini."


"Trimakasih udah diingetin, hmmm aku udah ngantuk Rick , aku mau tidur dulu ya sampai ketemu besok di kampus."


"Ok Sayang, met bobok jangan lupa mimpiin aku hi hi."


Nina menutup panggilan video callnya pada Erick, setelah melipat dan menyimpan mukena diapun membaringkan dirinya di ranjang tak lupa dia memasang alarm untuk bangun sholat subuh. Dan sebentar saja Nina sudah terlena dalam mimpinya.


Erick melanjutkan pekerjaannya sebelum beranjak tidur. Dia senang Nina sudah semakin terbuka kepadanya, Nina memang judes dari awal mereka berkenalan, sikap judes Nina itu lah yang bikin Erick menyukai Nina.


Prankkkk!!!


Erick tersentak mendengar ada sesuatu seperti kaca pecah. Dia membuka pintu dan mencari dari mana arah suara tadi. Tapi tidak ada siapa-siapa di luar. Diapun kembali menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


Sepertinya ada yang marah karna gak bisa mendatangi Nina dalam mimpinya.


***********************


__ADS_2