
Hari ini pertama kali Nina memulai harinya di kantor milik Ronald suaminya, semua karyawan menyambutnya dengan ramah, Nina memang sering datang ke kantor Ronald hampir setiap hari dia datang saat Ronald masih sehat dan ketika hubungannya dengan Ronald belum memanas.
Nina memasuki ruangannya di sana sudah ada Frans yang mulai memeriksa laporan
pekerjaan selama Ronald sakit, Nina menyapa Frans pria itu langsung berdiri saat melihat Nina masuk ke ruangan.
"Selamat pagi," sapa Nina pada Frans.
"Pagi Bu," jawab Frans dengan penuh hormat.
"Adakah yang perlu aku ketahui Frans?" tanya Nina.
"Saya baru mulai memeriksa laporan Bu, belum ada yang mau saya laporkan hari ini mungkin besok baru saya laporan sama Ibu," jawab Frans.
"Ok, aku lihat jadwal dulu nanti kalau nggak ada yang penting jam 11 aku mau pergi ke resto sebentar dan setelah itu aku langsung menjenguk suamiku, kuharap ada kabar baik dari rumah sakit," ucap Nina.
Nina menelpon asisten dia meminta jadwal acara untuknya hari ini, setelah memastikan jadwal hari ini kosong Nina lalu menghubungi Erick di Semarang, semenjak pulang ke Jakarta dia bahkan belum mengabari keluarganya di sana.
"Hai Nin, ada kabar apa, bagaimana Ronald?" tanya Erick saat Nina menelponnya.
"Maaf aku baru ngasih kabar sekarang, kemarin sepulang dari Semarang aku langsung dirawat, dan soal Ronald tolong bantu doa ya Rick, dia saat ini sedang koma karna kecelakaan," ucap Nina lirih.
"Innalillahi wa innaillaihi rajiun, jadi Ronald koma, terus kamu gak apa-apa kan Nin, katanya kamu dirawat?" Erick langsung mencemaskan keadaan Nina.
"Aku ..., aku sedang hamil Rick," ucap Nina dengan suara bergetar.
"Ha -- hamil," Erick terbata mendengar kabar kalau Nina sedang hamil.
"Iya aku hamil, ini sudah sangat kami nantikan sejak lama, tapi sayangnya Ronald tidak tahu kalau aku saat ini hamil," Nina mendesah hatinya terasa sangat perih.
"Semoga Ronald kembali sadar ya Nin, berdoalah pada Allah mintalah kesembuhan dari-Nya," ucap Erick dia mencoba menguatkan hati Nina.
"Trimakasih Rick, kamu sudah menjadi temanku selama ini," ucap Nina pelan.
"Maafkan atas segala kesalahanku ya Nin," tiba-tiba Erick terbawa suasana.
"Hmm salah apa? kamu gak pernah salah kog Rick," balas Nina.
"Mungkin dulu aku pernah melukai hatimu," sambung Erick.
"Rick ..., apa kamu?" Nina tak dapat berkata-kata, dia merasa kalau Erick sudah mengingat masa lalunya.
"Aku tidak tahu Nin, aku merasa kalau dulu pernah menyakitimu," sambung Erick.
"Hanya itu?" tanya Nina kecewa, rupanya Erick tidak ingat masa lalunya.
__ADS_1
"Ya hanya itu, kamu jaga diri ya aku mau ngajar dulu," pamit Erick, sesungguhnya dadanya terasa sangat sesak saat berbicara tentang masa lalunya bersama Nina.
Nina terdiam dia mencoba menerka-nerka di dalam hatinya, apa pria itu sudah mulai mengingat masa lalunya, Nina penasaran dan mencoba menghubungi Eka dia mau menanyakan soal ini.
"Ka, apa Erick mengenalimu?" tanya Nina saat telponnya telah tersambung dengan Eka.
"Nggak dia masih tidak mengenaliku, ada apa ya Nin?" tiba-tiba Eka penasaran dengan pertanyaan Nina.
"Tadi saat aku bicara sama dia di telpon, tiba-tiba dia minta maaf padaku, dia seperti ingat sesuatu Ka," terang Nina.
"Aku tuh sebenarnya pingin mukul kepala Erick sama kuali, biar dia inget gitu lo kesel aku," suara Eka terdengar benar-benar kesal.
"Jangan, iya kalau bikin dia inget, lah kalau mati kamu yang bakalan masuk penjara," sambung Nina.
"Kamu kog sanggup sih ketemu sama dia lagi, kalau aku dah ku usir dia malas kalau ingat masa lalu yang menyakitkan," ucap Eka lagi.
"Ya masa laluku sama dia memang pahit, tapi kan dia begitu karna dia bener-bener sedang amnesia, lagian aku juga sudah menikah, aku fokus pada keluargaku yang sekarang, Ka tolong urus resto ya, aku sedang hamil dan Ronald saat ini lagi koma," ucap Nina memohon.
"Apa, Ronald koma? ya ampun Nin kog gini lagi sih Nin kisah hidupmu," Eka rasanya pingin nangis guling-guling mendengar cerita dari Nina.
"Entahlah Ka, aku belum juga lulus dari ujian kehidupanku semoga setelah ini aku bisa bahagia," ucap Nina lirih.
"Nin, aku jadi ragu mau menikah aku takut, kamu aja yang berduit begini lah apalagi aku yang pas-pasan aku jadi takut Nin," balas Eka.
"Jangan begitu, dosa kalau nggak nikah," ucap Nina.
Nina mengakhiri obrolannya bersama Eka, dia mengambil tasnya dan bergegas menuju restonya, sudah lama dia tidak berkunjung kesana. Nina berpamitan pada Frans dan juga pada asisten sebelum dia meninggalkan kantornya.
********
Nina memasuki resto dan langsung menuju kantor yang ada di lantai dua, beberapa karyawan menyapanya saat dia datang, Ratih yang sedang menghadap komputer tak menyadari kedatangan sahabatnya.
"Siang Ibu," sapa Nina, Ratih terkejut dan langsung menoleh ke arah suara.
"Hah, Nina!!" Ratih langsung berdiri dan memeluk Nina, sudah lama mereka tidak bertemu.
"Sibuk?" tanya Nina.
"Ya biasa ngecek laporan, kamu apa kabar aku baru denger dari Adit soal Ronald, dia baru cerita tadi pagi sama aku," sambung Ratih.
"Hmm ya begitulah, terus kamu kapan merid?" tanya Nina mengalihkan pembicaraan tentang Ronald.
"Nah ini kebetulan kamu datang, minggu ini aku ijab, kamu datang ya sekalian aku syukuran rumahku yang baru," ucap Ratih.
"Wah beneran, aku ikut senang mendengarnya, aku pasti datang kirim aja alamatnya lewat WA ya, oh ya aku pernah janji mau nyumbang katering kalau kamu menikah, nanti kirim tagihannya padaku ya," sambung Nina.
__ADS_1
"Wah trimakasih ya Nin, aku hanya bisa mendoakanmu agar semua masalahmu ini cepat selesai," Ratih kembali memeluk Nina, dia sangat terharu melihat ketegaran hati sahabatnya.
"Oh ya setelah kamu menikah kita ke Semarang yuk, kasihan Eka sendirian opening cabang kita yang di sana. Sekalian aja kalian honeymoon, banyak tempat bagus lo di sana," ajak Nina pada Ratih.
"Wah ide bagus Nin, ok nanti aku bicara sama Adit soal ini," Ratih senang membayangkan honeymoon di Semarang.
"Nanti kabarin aku ya, biar ku belikan tiket jadi kita berangkatnya sama-sama dari sini," sambung Nina.
"Ok Sayang, nanti malam ku kabarin," balas Ratih dengan senyum mengembang.
Setelah puas berbincang dengan Ratih, Nina minta antar pak Tomo ke rumah sakit untuk menjenguk suaminya, dia ingin menyapa Ronald meskipun pria itu tidak mendengar semua ucapannya.
Nina memasuki ruang perawatan suaminya, seorang suster tengah berada di ruangan itu baru saja selesai memeriksa keadaan Ronald, dia tersenyum dan menyapa saat Nina masuk ke ruangan itu.
"Hai Sayang, aku datang lagi," Nina mengecup lembut pipi suaminya.
"Kamu tahu tidak minggu depan Ratih mau menikah, setelah Ratih menikah resto yang semarang mau opening, aku ijin ke sana dua hari ya Sayang," ucap Nina.
Nina berbicara sendiri seolah dia sedang berbincang dengan Ronald, dia terus bercerita tentang kantornya, kehamilannya dan semua yang sudah dia alami, setelah puas berbicara di samping tubuh Ronald, Nina berpamitan tak lupa dia mengecup pipi suaminya sebelum melangkah pergi, selalu begitu setiap hari dia tak pernah merasa bosan untuk mengunjungi suaminya yang terbaring koma, tanpa tahu pasti kapan pria itu kembali membuka matanya.
*******
Nina pergi ke dokter kandungan hari ini jadwal dia memeriksakan kandungannya, setelah mendaftar dia pun mengantre menunggu gilirannya untuk di periksa.
"Nina!!" sapa seorang wanita yang suaranya sangat Nina kenal.
"Dian, kamu ngapain di sini?" tanya Nina pada Dian.
"Aku mau perikaa kehamilan," jawab Dina sambil memeluk tubuh Nina.
"Kamu hamil?" tanya Nina dia memandangi perut Dian yang masih rata.
"Hmm, iya aku udah telat tiga minggu ini mau memastikan saja kalau pakai test pack sih sudah positif," jawab Dian tersipu malu.
"Wah selamat ya Dian, Fatihnya mana?" tanya Nina sambil celingukan mencari Fatih.
"Tadi aku turun duluan, dia lagi nyari parkir," ucap Dian.
"Ibu Nina!!" suara Suster memanggil nama Nina.
"Eh aku masuk dulu ya, namaku sudah di panggil," Nina bergegas memasuki ruangan dokter kandungan.
Setelah berbincang sebentar Nina melakukan USG untuk melihat kondisi janinnya, Nina bahagia saat dokter itu menyatakan janinnya sehat dan berkembang dengan bagus, selesai periksa Nina keluar untuk menebus resep.
Nina kembali bertemu denga Dian, kali ini sudah ada Fatih bersamanya, mereka kembali melanjutkan obrolan mereka yang tertunda, Dian hampir berteriak saat mengetahui Nina juga sedang hamil, demikian juga Fatih dia ikt senang mendengar kabar ini.
__ADS_1
*********