Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Kembali terluka


__ADS_3

"Maaf Pak, Bapak suaminya pasien yang luka tembak ya?" tanya petugas rumah sakit pada Erick yang sedang menangisi jasad Ronald.


"Hah ..., i --iya Sus," jawab Erick gugup, dia mengusap air matanya.


"Begini Pak, pasien terlalu banyak mengeluarkan darah, bisa mengakibatkan kesehatan bayi di kandungannya terancam, dokter memutuskan untuk segera dilakukan operasi, tapi kami menunggu persetujuan anda selaku suaminya," terang suster pada Erick.


"Hah ..., tolong selamatkan ibu dan bayinya Suster, tolong lakukan yang terbaik buat mereka, aku mohon Suster!!" Erick memohon sambil menangis tersedu.


"Bapak harus tanda tangan dulu," ucap Suster.


"Baik, di mana?" sambung Erick.


"Sebentar lagi ada suster yang mengantar berkasnya ya Pak," terang suster itu sambil melangkah pergi.


Erick mengikuti langkah kaki suster itu menuju tempat Nina dirawat, dia benar-benar bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Dia takut kehilangan Nina dan juga bayinya.


"Rick ..., Erick!!!" suara Dayat memanggil.


Erick menoleh terlihat Dayat dan Eka setengah berlari mendekatinya, Erick memeluk Dayat dan menangis menceritakan tentang Ronald dan keadaan Nina.


"Ya Allah, kenapa bisa begini," ucap Dayat.


Dayat menenangkan Erick, mereka saling membagi tugas, Erick mengurus Nina sedang Dayat mengurus jenazah Ronald, dia juga mengabari orang tua Nina di Jakarta.


Setelah Erick menandatangani surat pernyataan, Nina dibawa ke ruang operasi, Erick menunggu di depan kamar operasi dengan perasaan cemas, takut, campur aduk menjadi satu. Dia tidak pernah merasa takut kehilangan seperti ini, setelah kepergian Ronald, Erick merasa tidak sanggup kalau harus kehilangan Nina juga.


Terdengar suara tangisan lemah seorang bayi dari dalam kamar operasi, Erick merasa lega mendengar tangisan bayi Nina, tapi dia masih harus menunggu lama tanpa kabar dari tenaga medis yang menangani Nina. Resah dan gelisah kembali melanda pikiran Erick.


Beberapa saat berlalu pintu ruang operasi terbuka, dua orang perawat mendorong tubuh Nina yang belum sadar memindahkan ke ruang perawatan, diikuti seorang perawat yang membawa bayi mungil dalam inkubator yang juga di pindahkan ke ruang perawatan bayi.


Erick mengikuti sang bayi sambil mengamatinya dengan perasaan haru dan bahagia, layaknya seorang ayah yang melihat anaknya terlahir ke dunia, matanya berkaca-kaca memandang wajah mungil yang mirip dengan Ronald.


"Bapak temani Ibu dulu ya, bayinya belum boleh di gendong, nanti bisa dilihat dari luar," ucap suster yang membawa bayi Nina.


Setelah bayi Nina dibawa masuk ke ruang perawatan khusus bayi, Erick berlarian kecil menuju tempat Nina dirawat. Erick memandangi wajah Nina yang terlihat tenang dengan mata terpejam. Andai bisa bertukar tempat ingin rasanya dia yang menggantikan posisi Nina, dia tak sanggup melihat Nina hidup dalam penderitaan.


Erick duduk di sebelah Nina dengan mata berkaca-kaca, suara langkah kaki memasuki ruangan, mbah Darmi datang bersama ayah Dayat, wajah renta itu terlihat sangat sedih menyaksikan cucunya berbaring lemah tak berdaya.


"Bagaimana cucuku Rick?" tanya mbah Darmi pada Erick dengan suara pelan.


"Nina belum sadar Mbah, dan putranya masih di raung inkubator," ucap Erick.


"Keluarga Ronald meminta agar jasad Ronald di kebumikan di Jakarta, jadi malam ini Ronald di berangkatkan ke sana," ucap mbah Darmi.


"Bagaimana dengan Nina nanti Mbah?" tanya Erick.


"Mungkin kamu yang bisa menjelaskan pada Nina, orang tua Nina juga menunggu Ronald dikebumikan baru bisa datang ke sini," ucap mbah Darmi lirih.


Erick menatap wajah Nina dengan iba, dia tidak bisa membayangkan kalau Nina sadar dan menanyakan tentang Ronald, bagaimana cara menyampaikan pada Nina tentang semua ini.


********


Nina menggerakkan tangannya, dia merasa dingin di sekujur tubuhnya, dan mati rasa di bagian perut dan punggungnya, perlahan dia membuka ke dua matanya, rasa silau dan membayang, matanya masih terasa berat dan mengantuk, tubuhnya terasa ringan bagai kapas.

__ADS_1


"Hai ...," sapa Erick lembut.


Nina mengerjapkan matanya, wajah Erick terlihat samar dan berangsur menjadi sangat jelas, Nina mencoba berbicara namun hanya bisa tersenyum lemas, Erick membelai lembut kepala Nina, membuat wanita itu merasa nyaman.


"Tidurlah jika kamu masih merasa lelah, aku akan menjagamu di sini," ucap Erick.


Nina kembali memejamkan matanya, efek obat bius masih begitu kuat menguasai kesadarannya, diapun kembali terbuai dalam mimpinya.


"Sayang tunggu aku!!" panggil Nina pada Ronald yang berjalan cepat di depannya.


Semakin Nina kejar bayangan Ronald semakin menjauh, Nina berusaha meraih tangan Ronald tapi sangat susah untuk menggapainya, dan saat dia berhasil meraih tangan Ronald dia sangat terkejut karna itu bukanlah Ronald.


"Err ..., kamu!!" Nina melepaskan genggaman tangannya.


"Sudah lama sekali Nina, apa kamu merindukanku?" Rekso tersenyum menatap wajah Nina penuh rasa rindu.


"Pergiii!!!" bentak Nina pada Rekso, namun mahluk itu tak bergeming.


"Nin ..., Nina ..., Nina ...!!" suara Rekso perlahan berubah menjadi suara Erick.


Nina terperanjat dan tersadar dari mimpinya, dia melihat Erick berada di sampingnya dengan tatapan cemas.


"Rick ...," panggil Nina lirih.


"Kamu mimpi buruk?" tanya Erick.


"Aku kenapa Rick?" Nina mulai menyadari keadaannya.


"Ba -- bayiku mana?" Nina meraba perutnya yang terasa kosong.


"Ada di ruang bayi, kamu tenang dulu ya dia kuat dan sehat kog," terang Erick.


"Ron -- Ronald bagaimana Rick?" Nina mulai teringat pada Ronald suaminya.


"Kamu tenang ya, istirahat dulu," ucap Erick, dia bingung bagaimana menjelaskan pada Nina.


"Rick ... katakan padaku di mana Ronald," Nina mulai menangis.


"Ronald ... Ronald sudah pergi Nin, dia ...," Erick tak sanggup berkata lagi dia pun menangis.


Nina menangis pilu, Erick menggenggam tangannya mencoba memberi kekuatan pada wanita yang paling di cintai dalam hidupnya.


"Kenapa Tuhan tidak adil padaku Rick, kenapa!!!" Nina setengah berteriak.


Erick memeluk Nina dan membiarkan wanita itu menangis di dadanya, Nina meraung sedih, kecewa, pilu semua menjadi satu, rasanya dia sudah tidak ingin lagi hidup jika hanya mengenyam penderitaan di dalam hidupnya.


"Aku ingin mati saja Rick, aku lelah dengan semua ini, aku bosan hidup seperti ini," tangis Nina semakin pilu.


"Istighfar, kamu gak boleh menyerah Nin, Ronald pasti tak mau melihatmu seperti ini, ada anakmu yang harus kamu jaga dan butuh kasih sayangmu, bangkitlah mana Nina yang ku kenal dulu," ucap Erick.


Nina mendorong tubuh Erick yang memeluknya, dia teringat bagaimana dulu dia juga pernah terluka karnanya, pernah menangis hingga hampir gila.


"Apa kamu tahu apa yang kurasakan, penderitaan yang pernah ku alami, apa kamu tahu Rick, bagaimana aku harus berkali-kali bangkit dari lukaku, apa kamu tahu!!!" bentak Nina.

__ADS_1


Erick menangkupkan ke dua tangannya, memohon maaf pada Nina, dia tau betapa Nina mengalami masa-masa yang berat sendirian.


"Maafkan aku jika aku pernah membuatmu terluka Nina, hukumlah aku semaumu jika itu membuatmu kembali bahagia, aku ... aku ingin menebus semua lukamu," Erick menangis terduduk.


Nina memalingkan wajahnya tak mau melihat wajah Erick, hatinya sakit dan terluka. Ke duanya terdiam dengan pikirannya masing-masing hingga suster datang untuk memeriksa Nina.


"Selamat siang," sapa suster itu pada Nina.


"Siang Suster, apa saya bisa melihat anak saya?" tanya Nina.


"Bisa, nanti biar suami Ibu yang antar, tapi hanya bisa lihat dari luar dulu ya, obatnya jangan lupa diminum ya Bu," ucap suster.


"Suami?" Nina menatap benci pada Erick.


"Nanti pakai kursi roda ya Pak kalau mau melihat bayinya," ucap suster pada Erick, Erick hanya mengangguk.


Suster itu berlalu meninggalkan Nina dan Erick, suasana kembali hening hingga datang perawat mengantarkan makanan untuk Nina, sepeninggal perawat itu Erick berdiri dan mengambil makanan itu dan mendekati Nina.


"Makanlah setelah itu minum obatmu." Erick mencoba menyuapi Nina.


Nina melirik makanan di tangan Erick dan melengos menolak, Erick menarik nafasnya pelan, dia sedih melihat Nina membencinya.


"Kamu harus minum obatnya nanti bekas operasimu sakit," rayu Erick.


"Aku gak doyan bubur," ucap Nina sewot.


"Ya kan baru operasi harus makan yang lembut dulu, nanti kalau sudah pulang dari sini apapun yang kamu mau, aku akan carikan," ucap Erick.


Nina mengambil sendok dan makanan dari tangan Erick, dia tak mau disuap seperti bayi, setelah tiga suapan dia berhenti dan meminta obat untuk di minum.


"Antarkan aku pada anakku," ucap Nina ketus.


Erick mengangguk dan keluar mencarikan kursi roda, dia kembali membawa kursi roda dan mendekati Nina yang hendak turun dari ranjangnya.


"Pelan-pelan, biar ku bantuin," ucap Erick menangkap tubuh Nina yang terhuyung.


Nina hanya pasrah ternyata tubuhnya masih sangat lemah, Erick menggendong dan mendudukkannya di kursi roda, lalu mengambil kantong infus dan meletakkan pada kaitan di kursi roda, dia mendorong Nina menuju ruang bayi melihat buah hatinya.


"Kita hanya bisa lihat dari sini, yuk kubantu berdiri," ucap Erick mengulurkan tangannya.


Nina meraih tangan Erick, Erick membantu Nina berdiri dan bersandar di tubuh Erick, dia melihat putranya dari balik kaca, bayi mungil itu sedang terlap dalam tidurnya, mata Nina kembali berberkaca-kaca.


"Yuk kita ke kamar, kamu harus istirahat dulu, nanti aku minta suster ambilkan fotonya biar kamu bisa melihatnya dengan puas," ucap Erick, sambil membantu Nina duduk kembali di kursi rodanya.


Mereka kembali ke kamar, Erick mengangkat tubuh Nina ke atas ranjang dan membiarkan Nina beristirahat.


"Aku pulang dulu sebentar ya, mau mandi dan makan dari semalam aku belum ganti baju," pamit Erick, Nina tak menjawab dia hanya melirik kepergian Erick.


Hati Nina kembali kosong dan hampa, di saat seperti ini dia sangat membutuhkan Ronald di sisinya namun lagi-lagi dia harus menelan pil pahit kenyataan, ditinggal pergi disaat dia butuh sandaran kini malah Erick yang berada di sisinya.


'Kenapa seperti ini Tuhan, rencana apa lagi yang Engkau rancang untukku, berikan aku kekuatan untuk membesarkan anakku seorang diri,' Nina berbicara dalam hati, dia mencoba tegar demi anaknya dia tak mau terpuruk dan depresi lagi.


******

__ADS_1


__ADS_2