
"Pagi..., aku udah di depan ya," pesan masuk dari Fatih.
"Ok," balas Nina.
Nina bergegas turun dari kamarnya, menuju ruang makan meminum susunya dan membungkus sand wich buatan mamanya, mamanya yang melihat itu jadi heran.
"Nggak dimakan dulu?" tanya mama Nina.
"Udah ditungguin temen Mah."
"Siapa?" tanya mamanya heran
"Fatih."
"Fatih, siapa lagi ini kog Mamah baru dengar nama itu?"
"Ya ampun Mah, kan kemarin Nina cerita sopir grab yang ternyata tetangga kita, Nina jalan dulu ya. Daahh!"
Nina mencium pipi mamanya dan beranjak keluar, mamanya hanya bengong di meja makan melihat Nina berlalu pergi. Nina tersenyum pada Fatih yang sengaja membuka kaca mobilnya.
"Depan ya, jangan duduk di belakang kayak penumpang," ucap Fatih.
"Siap Bos!"
Nina membuka pintu mobil dan duduk di samping Fatih. Fatih menginjak gas mobilnya dan melaju perlahan. Nina mengeluarkan sand wich yang dia bawa dan menyerahkan pada Fatih.
"Aku udah makan," tolak Fatih.
"Oh please jangan nolak, ini aku bawa dua jadi buat kamu satu,"
Nina menyuapkan roti sand wich ke mulut Fatih, akhirnya Fatih menerima dan memakannya. Nina juga memakan sand wich bagiannya. Sesekali Fatih melirik pada Nina, gadis ini cukup lucu dan asik diajak bicara.
Sementara Nina dia lebih menghindari untuk bertatapan mata dengan Fatih, Nina berteman dengan Fatih karna Fatih tidak tau kisahnya dengan Erick, berbicara dengan Fatih terasa begitu lepas, berbeda dengan saat bersama teman-temannya mereka seperti takut membuat Nina sedih. Nina merasa mereka terlalu mengasihani Nina, dan itu membuatnya sangat tidak nyaman.
Sesampainya di kampus Nina turun dari mobil bersama Fatih, dan mereka berjalan beriringan memasuki kampus.
"Sampai ketemu saat pulang ya," ucap Fatih.
"Kamu gak narik hari ini?"
"Mmm kan udah dapat penumpang langganan. Bye!" Fatih masuk ke dalam kelasnya meninggalkan Nina.
Nina sesaat termangu melihat Fatih masuk ke kelasnya, kemudian diapun berjalan menuju ruang kelasnya sendiri.
**************
Nina tidak menceritakan tentang Fatih pada teman-temannya, bahkan saat berpapasan dengan Fatih waktu istirahat Nina juga biasa saja sehingga Ratih yang bersamanya tidak menyadari temannya saat itu sudah mempunyai teman baru.
Nina hanya malas dengan kekepoan teman-temannya saat tau Nina dekat dengan pria lain. Pasti akan banyak pertanyaan yang mereka tanyakan, padahal Nina cuma berteman biasa saja dengan Fatih.
Fatih sebenarnya adalah anak pengusaha, dia juga sering bergonta-ganti pacar karna cepat merasa bosan, pertemuannya dengan Nina yang tak sengaja membuatnya tertarik, Nina sangat cuek dan bahkan hampir tidak mau melihat wajahnya. Nina wanita yang penuh dengan misteri membuat Fatih penasaran kepadanya.
"Aku pulang duluan ya, bye!" pamit Nina pada Ratih.
__ADS_1
"Ok," balas Ratih.
Nina bergegas ke parkiran dan menuju ke mobil Fatih, ternyata Fatih sudah menunggunya di dalam mobil. Nina masuk ke dalam mobil Fatih dan mereka pergi meninggalkan kampus.
Fatih membelokkan mobilnya ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar mobilnya, Nina menyodorkan uang sebagai ganti ongkos kemarin saat dia diantar pulang oleh Fatih. Fatih tersenyum ternyata Nina tipe cewek yang suka menepati janjinya. Sekarang giliran Fatih yang akan mengajak Nina makan.
Mobil Fatih memasuki restoran cepat saji, membuat Nina bertanya-tanya untuk apa Fatih membawanya ke tempat ini.
"Mau ngapain?" tanya Nina.
"Ya mau makanlah, kesini masa mau nonton film sih," jawab Fatih.
"Oh kamu lagi laper rupanya?"
"Aku mau traktir kamu makan aja disini, yuk turun atau mau makan di restoran yang lain?"
"Oh nggak apa-apa disini juga ok kog."
Nina berjalan di belakang Fatih, Fatih mencarikan Nina tempat duduk dan dia pergi memesan makan buat mereka berdua. Setelah memesan makanan Fatih menemui Nina dia sengaja duduk di depan Nina, Nina berusaha untuk tak bertatapan mata dengan Fatih.
Fatih sengaja menatap lekat wajah Nina mencari apa yang Nina sembunyikan di balik wajah cantiknya, dia melihat ada kesedihan di mata Nina yang dia sembunyikan, benar-benar wanita misterius pikir Fatih.
"Jadi tidak ada yang marah kalau kita jalan berdua?" tanya Fatih membuka pembicaraan diantara mereka.
"Mungkin dari pihak situ ada yang ngambek?" Nina balik menuduh Fatih.
"Oh tidak, aku laki-laki bebas tanpa ikatan."
"Mmm berarti no problem kan?"
Setelah makan merekapun pulang, Fatih mengantarkan Nina ke rumahnya sebelum dia pulang kerumahnya sendiri di blok G. Nina tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum turun dari mobil Fatih.
Fatih pulang dengan hati bahagia dia berencana malam minggu ini akan berkunjung ke rumah Nina dan mengajaknya jalan-jalan menghabiskan malam berduaan.
***********
Malam minggu ternyata teman-teman Nina juga datang kerumah Nina, mereka sengaja tidak memberitahu Nina kalau mereka mau berkunjung ke rumah Nina malam itu.
Nina yang sedang asik menonton tv bersama mamanya terkejut saat Eka, Dian dan Ratih datang ke rumahnya.
"Kog gak bilang kalau mau kesini, tau gitu biar bibik kusuruh masak tadi." ucap Nina pada ke tiga temannya.
"Tenang kami udah bawa cemilan masing-masing kog," jawab Dian.
"Kami mau tidur disini boleh kan Nina?" tanya Ratih.
"Kalian semua mau tidur disini? boleh dong." Nina senang karena temannya akan tidur di rumahnya.
"Non ada tamu," bibik datang memberitahu Nina kalau ada yang mencarinya.
Nina bergegas ke depan dan terkejut ada Fatih datang ke rumahnya. Hari ini Nina seperti kena prank teman-temannya dan juga Fatih datang bersamaan, Fatih berdandan lebih rapi dari biasanya membuat Nina diam-diam mengagumi penampilan Fatih di dalam hati.
"Hai kog kamu kesini?" tanya Nina.
__ADS_1
"Dirumah suntuk, jadi aku kesini aja sekalian mau ngecek ada yang sedang ngapelin nggak selain aku," goda Fatih.
"Eh busyet orang mana lo main nylonong aja," tiba-tiba Ratih sudah di belakang Nina.
Fatih mengira Ratih saudara Nina, dia sedikit kikuk menghadapi Ratih. Nina segera mengenalkan Fatih pada Ratih.
"Hei, mmm ini teman gue Fatih dan ini Ratih sohib gue,"
Fatih mengulurkan tangan tapi Ratih tidak menanggapinya. Matanya penuh selidik memandang Fatih, Ratih sudah menganggap Nina seperti saudara makanya ketika ada cowok yang mendekati Nina dia akan menyelidikinya lebih dahulu, apa lagi Nina pernah mengalami luka hati karna kepergian Erick.
"Sejak kapan kenal Nina, wajahmu kayaknya gak asing deh?" tanya Ratih.
"Udah-udah Fatih ini satu kampus sama kita, dia baru semester satu," Nina menengahi mereka.
"Kog kamu gak cerita sih Nin?" Ratih balik mencurigai Nina.
"Ya elah masa aku harus laporan juga sama kamu, gue temenan sama siapa," Nina berkelit.
"Jadi kalian sudah jadian gitu?" Ratih semakin curiga.
Dian dan Eka ikut ke depan karna penasaran, melihat Ratih yang sewot akhirnya Dian ikutan bicara.
"Ada apa sih kalian?" Dian ikut memandangi Fatih demikian juga Eka.
Fatih merasa seperti sedang di sidang oleh ketiga teman Nina. Nina akhirnya membela Fatih dari teman-temannya.
"Sudah kalian ini heran deh, masak sama tamu gue kayak gitu sih. Fatih kenalin ini teman-teman gue semua, nasib lo lagi apes ketemu sama mereka, lain kali kalau mau kesini kabarin dulu biar lu gak salah masuk rumah terus ketemu mereka," Nina menahan tawa melihat Fatih yang kebingungan.
"Bentar-bentar jadi Nina sudah punya pengganti Erick?" Eka menutup mulutnya karna keceplosan menyebut nama Erick.
Seketika wajah Nina berubah lain, melihat raut wajah Nina berubah Dian menarik Eka dan Ratih ke dalam rumah.
"Ok kalian lanjut aja dulu, anggap aja kami tak ada. Ok," Dian mencengkeram tangan Eka dan Ratih agar mereka tidak mengganggu Nina.
Fatih menarik nafas lega saat ketiga teman Nina masuk ke dalam, Nina menjadi serba salah dan mempersilahkan Fatih duduk. Fatih menyadari Nina sedang terluka saat nama Erick disebut.
"Jadi apa Erick itu mantanmu?" Fatih membuka pembicaraan setelah beberapa saat mereka terdiam.
Fatih melirik pada Nina yang pandangan matanya jauh menerawang, Fatih ingin menyelami isi hati Nina, dia benar-benar ingin mengenal Nina lebih dekat.
"Itu hanya masa lalu yang ingin aku kubur dalam-dalam," jawab Nina lirih.
"Oh sory kalau itu membuatmu terluka, aku tak bermaksud membuatmu sedih," Fatih memandang lekat pada Nina.
"By the way angin apa yang membawamu kesini?" Nina mencoba merubah moodnya di depan Fatih.
"Ya aku pingin main saja, rupanya kamu banyak juga body guardnya he he,"
Nina tertawa demikian juga Fatih, mengingat kejadian yang barusan mereka alami. Ratih datang membawakan minuman buat Fatih dan ikutan nimbrung, meskipun Nina sudah memberi kode agar Ratih pergi tapi dia tetap menunggui mereka berdua.
Fatihpun mencoba mengakrabkan diri dengan Ratih, dia menceritakan bagaimana perkenalannya dengan Nina agar Ratih tidak mencurigainya. Setelah puas mendengar cerita Fatih akhirnya Ratih meninggalkan Nina dan Fatih.
Fatihpun berpamitan pulang pada Nina, karna Nina sedang bersama teman-temannya dia tidak ingin menggangu acara Nina bersama temannya dan berjanji akan datang di lain hari.
__ADS_1
Sepulangnya Fatih tentu saja ketiga teman Nina langsung menyidak Nina dengan berbagai pertanyaan. Malam itu mereka hanya membahas tentang Fatih sampai mereka tertidur.
********************