
Rebeca menemui Bastian di kantornya, dia ingin mencari informasi tentang Ronald yang sudah meninggalkannya setelah menidurinya tanpa kata maaf dan ucapan apapun.
"Di mana Ronald tinggal dan kantornya Bas?" tanya Rebeca saat bertemu dengan Bastian.
"Ada apa ini, kamu naksir sama dia ya?" Bastian mengerling menggoda Rebeca.
"Waktu pulang malam itu dia nidurin gue Bas!!" ucap Rebeca dengan nada kesal.
"Nidurin gimana, bukannya itu hal biasa," ucap Bastian sambil terkekeh.
"Biasa kamu bilang, aku memang suka klubing tapi bukan berarti aku terbiasa tidur sama laki-laki, aku masih menjaganya Bas!!" Rebeca menggebrak meja di depannya.
Bastian memandang tak percaya pada Rebeca, dia tidak yakin perempuan itu masih perawan, Rebeca membalas pandangan Bastian dengan tatapan penuh amarah.
"Jadi dia sudah ...," Bastian tak melanjutkan ucapannya.
"Ya ..., dia mengambil milikku dan pergi begitu saja tanpa kata-kata, dia kira aku wanita murahan, kasih aku alamatnya aku mau buat perhitingan dengannya dia tidak tahu siapa aku, jangan main-main dengan Rebeca Antoni!!" Rebeca mendengus kesal.
Bastian mengernyitkan keningnya, nama Antoni nama yang tidak asing di telinganya, orang-orang yang bergelut di dunia mafia sangat mengenal nama itu, Bastian bergidik ngeri mendengar nama belakang Rebeca dia baru tahu kalau Rebeca anak pentolan mafia yang terkenal sangat kejam.
Bastian memberikan kartu nama milik Ronald, dia tidak berani menutupi keberadaan Ronald atau nyawanya bisa terancam dan akan mati konyol di tangan anak buah Antoni.
"Bagus, kamu tahu siapa papaku kan Bas!!" ucap Rebeca sambil berlalu meninggalkan Bastian yang terlihat mulai cemas.
Bastian dengan cepat menghubungi Ronald saat Rebeca keluar dari kantornya, namun beberapa kali panggilan Ronald tidak meresponnya, Bastian akhirnya mengirimkan pesan singkat agar Ronald berhati-hati.
'Ron, Rebeca mencarimu aku harap kamu berhati-hati, dia sedang marah padamu, jaga dirimu, dia adalah anak mafia terkenal di kota ini,' pesan singkat dikirim oleh Bastian.
Ronald yang sedang bercengkrama dengan Nina menerima pesan dari Bastian dan langsung menghapusnya, dia tak menghiraukan peringatan dari Bastian, saat ini dia sedang berbahagia bersama Nina.
******
Rebeca mendatangi kantor Ronald bersama kedua pengawalnya, namun dia tak menemui Ronald di kantornya, Rebeca semakin kesal dia menyuruh anak buahnya untuk merusak kantor Ronald.
Malam hari saat kantor tidak ada orang, anak buah Rebeca melakukan perusakan dengan memecahkan rolling door dan kaca depan kantor sebagai peringatan awal buat Ronald.
Kabar perusakan kantor milik Ronald sampai di telinga Ronald dan juga Wijaya Kesuma. Wijaya Kesuma langsung menghubungi Ronald yang tidak berada di rumahnya dan juga di kantornya.
"Ronald, kamu di mana, apa kamu punya musuh sampai ada yang merusak kantormu?" Wijaya Kesuma terdengar sangat emosi saat berbicara dengan Ronald di sambungab telepon.
"Ronald sedang di Semarang Pa, ada urusan keluarga bersama Nina, mungkin selama seminggu kami di sini, aku sudah menyuruh anak buahku untuk membuat laporan polisi," Ronald mengira pelaku perusakan kantornya hanyalah ulah orang mabok atau iseng saja, dia tidak berfikir kalau itu adalah perbuatan Rebeca.
"Kamu hati-hati ya, Papa kuatir itu ulah musuh kamu!" Wijaya Kesuma memperingatkan Ronald agar berhati-hati.
"Iya Pa, Ronald gak merasa punya musuh kog," ucap Ronald santai.
__ADS_1
Wijaya Kesuma mengakhiri panggilan telponnya, Ronald kembali menemui Nina yang sedang berbincang dengan Dayat di teras rumah.
"Dari siapa Sayang?" tanya Nina, dia melihat raut wajah Ronald berubah tegang.
"Mmm ini dari papa, tadi malam ada yang merusak kantorku, aku sudah suruh karyawan untuk melapor ke polisi," ucap Ronald, dia tak mau Nina merasa cemas.
"Apa kamu mau kembali ke Jakarta secepatnya?" tanya Nina.
"Ah nggak apa-apa Sayang, kita liburan dulu aku ingin menikmati suasana tenang di sini, kamu benar Sayang ternyata pergi ke sini sangat menyenangkan," sambung Ronald sambil duduk di sebalah Nina.
"Beneran gak apa-apa? aku nggak masalah kog kalau kita pulang lebih cepat ke Jakarta," kata Nina meyakinkan suaminya.
"Oh ya kenapa kamu nggak buka cabang di sini, ada Dayat yang bisa kamu percaya untuk mengawasi restomu, ada siapa yang kemarin itu Erick ya?" Ronald mengalihkan pembicaraan agar Nina tak membahas masalah kantornya.
"Mmm tadinya aku juga mikir begitu, tapi kalau di sini konsepnya harus yang ramah kantong, buat nongkrong anak-anak muda," Nina mulai bersemangat melebarkan bisnisnya ke kota kelahiran mamanya.
"Aku, kalau aku yang pegang gimana caranya Nin, kan aku gak pengalaman soal ini?" Dayat ikut menimpali.
"Kamu tenang saja, semuanya pakai sistem kog, kamu nanti hanya bagian pengawas saja, jadi kamu masih bisa bekerja di pekerjaanmu yang sekarang," ucap Nina.
"Oh gitu ya, wah mau kalau gitu, aku ajak Erick ya," Dayat bersemangat dia juga ingin mengikuti jejak Nina sebagai pengusaha.
"Mungkin nanti kalau Eka mau dia ku pindahin ke sini, biar Eka yang handle cabang di sini, sekalian Dayat bisa sambil belajar dari dia," ucap Nina.
"Wah cantik ya si Eka itu?" tanya Dayat sambil senyum malu-malu.
"Orang kota mana mau sama cowok ndeso kayak aku, pasti dia memilih cowok keren dari kota," ucap Dayat, tiba-tiba dia merasa minder.
"Kalau jodoh nggak mandang status juga kali Yat," Nina menepuk pundak Dayat, memberinya semangat.
********
Nina membicarakan rencananya dengan Adit, selama ini Aditlah yang paham proses untuk pembukaan cabang restoran, setelah berbincang dengan Adit, Nina memutuskan untuk mencari tempat yang cocok buat restoran mereka.
Erick yang mendengar Nina mau membuka restoran menawarkan ruko yang berada di dekat usaha bimbel miliknya, lokasinya lumayan strategis untuk nongkrong pelajar dan mahasiswa.
"Di dekat usaha bimbelku ada ruko disewakan mungkin kamu berminat, kalau mau aku bisa antarkan kamu untuk melihat lokasinya, kebetulan yang punya sama dengan pemilik ruko yang aku sewa," ucap Erick saat bertemu dengan Nina di rumah mbah Darmi.
"Wah bagus tu Sayang, ayo kita lihat sekarang!" ajak Ronald bersemangat.
"Ya sudah mungkin ini jalannya, ayok kita kesana sekarang," ujar Nina.
Erick mengantar Nina dan Ronald melihat ruko, Dayat juga ikut serta bersama mereka, setibanya di ruko yang dimaksud Ronald langsung merasa cocok dengan lokasinya.
"Ya sudah kita jadikan saja ini, kamu bisa menghubungi orangnya kan Rick?" tanya Ronald.
__ADS_1
"Bisa, sebentar ya rumahnya dekat sini saja kog," ucap Erick, Erick langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi pemilik ruko.
"Ok nanti semua pakai nama Dayat saja untuk sewa menyewa biar lebih mudah urusannya, kan sama-sama orang sini," sambung Ronald.
"Aku sih iyes," kata Dayat sambil senyum-senyum.
Beberapa saat menunggu pemilik ruko datang menemui mereka, setelah berbincang sebentar mereka langsung deal dan akan menyewa selama dua tahun sebagai masa percobaan lebih dulu.
Urusan ruko selesai tinggal urusan desain ruangan, Adit sudah mengirim gambar desain ruangan pada Nina melalui email, dan Erick yang mencarikan pemborong untuk menyelesaikan urusan merenovasi ruangan.
Nina sudah tidak canggung lagi berbicara dengan Erick, sedangkan Erick masih memendam rasa sukanya pada Nina. Kini mereka menjadi partner dalam urusan bisnis.
Seminggu berlalu saatnya Ronald kembali ke Jakarta, Ronald meminta Nina tetap tinggal di Semarang mengawasi proses pembangunan resto barunya, sedangkan Ronald ingin menyelesaikan masalah yang sudah menunggunya.
Berkali-kali Bastian mengabarinya, Ronald akhirnya merasa kalau apa yang dikatakan Bastian tidaklah main-main. Dia harus menahan Nina di Semarang agar tak mendengar tentang Rebeca dan membuat rumah tangganya kembali bermasalah.
"Aku sudah di bandara mau pulang ke Jakarta, temui aku di bandara Jakarta," Ronald menghubungi Bastian sesaat sebelum masuk ke dalam pesawat.
******
Bastian sudah menunggu kedatangan Ronald di bandara, dia tak mau Ronald celaka dia yakin Rebeca masih mengincar Ronald. Bastian menjemput Ronald di pintu kedatangan dengan hati cemas, sesekali dia melihat ke sekitarnya takut kalau ada yang mengikutinya.
Ronald melihat Bastian sedang menunggunya saat keluar dari pintu kedatangan, dia menyapa dan langsung mengikuti Bastian menuju mobilnya, Bastian dengan cepat membawa Ronald keluar dari bandara.
"Duh Ronald, kamu ke mana saja sih?!" Bastian terlihat gusar.
"Ada apa ini, kenapa kamu cemas begitu?" Ronald masih tidak mengerti.
"Nyawamu teramcam Bro, Rebeca itu anak mafia, Lu sih main nyosor aja gila Lu!!" Bastian merepet melihat Ronald yang masih terlihat santai.
"Aku ..., jadi aku harus gimana dong?" tanya Ronald.
"Ya gimana, Lu minta maaf kek sama Rebeca," ucap Bastian kesal.
"Ya malam itu gue mabok, dan gue gak sadar hal itu terjadi," Ronald membela diri.
Bastian terkejut saat mobil di depannya berhenti mendadak, untungnya dia sigap dan ikut mengerem seketika mobil berhenti, Ronald dan Bastian membuka kaca mobil dan melongok keluar.
Dari belakang empat orang laki-laki turun dan mendekati mobil Bastian, salah satu pria itu menggedor pintu mobil dan memaksa membukanya, Ronald keluar dan langsung di sergap oleh ketiga pria berbadan tegap, sedangkan yang satu menodongkan pistol ke arah Bastian.
Bastian ketakutan dan menutup matanya, sedangkan Ronald dibawa masuk ke dalam mobil yang ada di belakang mobil Bastian, dan dia dibawa pergi entah kemana, sedangkan Bastian masih menutup matanya karena takut di tembak.
Perlahan Bastian membuka matanya, mobil yang tadi di depannya sudah tidak ada, demikian juga mobil yang di belakangnya juga sudah menghilang, dengan cepat Bastian menghidupkan mobilnya dia sadar kalau Ronald sudah diculik dan itu tadi pasti anak buah Rebeca.
Bastian bingung bagaimana mau mengabari keluarga Ronald, dia menepikan mobilnya di tempat pengisian minyak, dia mencoba untuk menenangkan dirinya, seumur hidup baru kali ini dia menghadapi masalah serius seperti ini. Jantung Bastian masih berdebar karna shock dengan kejadian tadi.
__ADS_1
********