Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Balas Dendam


__ADS_3

Tasyakuran rumah baru Nina diadakan dengan mengundang tetangga kanan kiri dan juga kerabat Nina yang ada di Semarang, atas permintaan Ronald, Erick tinggal bersama mereka dengan menempati kamar depan, Eka juga tinggal di rumah Nina atas permintaan Nina, dengan dibantu dua asisten rumah tangga, rumah besar Nina tidak lagi terasa sepi.


Sesekali Dayat berkunjung untuk menemui Eka, mereka kini semakin dekat dan berniat akan melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius lagi. Ronald senang karna Erick selalu menemaninya bermain catur tiap malam, bahkan mereka sering menghabiskan waktu berdua tanpa Nina.


"Rick, bagaimana usaha bimbelmu?" tanya Ronald saat mereka sedang berdua di teras.


"Ya cukup buat bayar sewa ruko dan makan," jawab Erick.


Nina tiba-tiba sudah berada di belakang mereka tanpa mereka sadari, Nina mendekati Ronald dan mengingatkan kalau hari ini waktunya periksa ke dokter kandungan, sejak di Semarang Nina belum menemui dokter memeriksakan kandungannya.


"Rick tolong antarkan Nina ya, bisa kan?" tanya Ronald.


"Bisa, sebentar aku ganti baju dulu," Erick bergegas mengganti bajunya sebelum pergi.


Nina masuk ke dalam kamar mengambil tas dan dompetnya, dia pun kembali menemui Ronald dengan membawa jaket untuk Ronald pakai.


"Pergilah bersama Erick, aku di rumah saja," ucap Ronald.


"Loh kog kamu gak ikut, apa kamu nggak kepingin lihat anak kita?" tanya Nina heran.


"Aku yakin anakku baik-baik saja, Rick tolong antarin Nina ya, temani dia aku nggak ikut," ucap Ronald saat melihat Erick keluar.


Erick mengangguk dan membukakan pintu buat Nina, Ronald tersenyum memandang kepergian Nina bersama Erick. Dia pergi ke kamar dan menulis sebuah surat yang kelak akan menjadi wasiatnya untuk Nina.


Sepanjang jalan Nina hanya diam memikirkan sikap Ronald, sesekali Erick melirik ke arah Nina tanpa sepengetahuan Nina.


"Mmm kira-kira sudah berapa bulan kehamilanmu Nin?" Erick mencoba memecahkan keheningan di antara mereka.


"Kalau tidak salah ini sudah masuk enam bulan," jawab Nina. "Rick, kamu merasa nggak ada yang lain dari Ronald?" tanya Nina.


"Lain bagaimana? menurutku dia biasa saja," balas Erick.


"Entahlah, aku merasa ada yang dia sembunyikan dariku," desah Nina.


Erick menemani Nina masuk ke ruangan dokter kandungan, dokter menyangka kalau Erick adalah suami Nina mengajak Erick untuk ikut saat Nina mau di USG perutnya, Nina merasa canggung tapi sudah terlanjur, tak mungkin juga dia bilang kalau Erick bukanlah suaminya.


"Selamat ya Pak, Bu jenis kelaminnya laki-laki, bayinya juga sehat kog tidak ada yang perlu dicemaskan," ucap sang dokter.


Selesai USG dokter meresepkan vitamin, Erick mengurus pembayaran dan juga menebus vitamin, sedangkan Nina langsung menunggu Erick di dalam mobil, meski tidak ada yang mengenalinya di sana rasanya tidak nyaman kalau dilihat orang berduaan bersama Erick.


Tiba di rumah, Ronald masih menunggu di teras, Nina turun dan menyapa suaminya mengabarkan berita tentang jenis kelamin anaknya. Ronald tertawa senang mendengarkan cerita dari Nina, dia juga tersenyum menatap mata Erick, ada pesan tersirat dibalik tatapan matanya.


********


Di tempat lain Rebeca sedang menelpon seseorang, terlihat raut kesal di wajahnya, dia sedang marah pada orang yang sedang berbicara padanya melalui telpon.

__ADS_1


"Dasar bod*h nyari satu orang saja nggak ketemu, diakan lumpuh, aku tak mau tau pokoknya cari Ronald sampai ketemu di mana pun dia berada!!" Rebeca menutup panggilan telponnya dan menghempaskan ponselnya di meja.


'Di mana kamu Ronald, jangan harap kamu selamat setelah mencelakaiku, aku akan mencarimu sampai ke lubang semutpun,' Rebeca mengumpat di dalam hati.


Dia berdiri di depan kaca, menyaksikan bekas luka di tubuhnya akibat ulah Ronald, luka itu memang bisa dihilangkan dengan operasi plastik, namun dendam dan sakit hatinya tidak akan hilang begitu saja sebelum Ronald mati di tangannya.


********


Ronald terlihat bahagia melihat perkembangan kehamilan Nina, kian hari perut Nina semakin membesar. Setiap hari Ronald selalu berbicara dengan anaknya yang masih di dalam perut Nina, merasakan setiap tendangan dan pergerakan dari malaikat kecil yang ada di dalam sana, rasanya sudah tak sabar menunggu hari itu tiba.


"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya Ronald pada Nina.


"Belum, kamu mau memberi nama siapa?" Nina balik bertanya.


"Terserah kamu saja, yang penting ada namaku di belakangnya," sambung Ronald.


Nina memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang, kebahagiaan mereka akan semakin lengkap saat anak mereka lahir, walaupun keadaan suaminya seperti ini namun dia sangat bahagia, Ronald selalu bersikap lembut kepadanya, dia juga semakin mencintainya.


"Berapa lama lagi Sayang?" tanya Ronald pada Nina, sambil mengelus perut Nina yang membuncit.


"Sebulan lagi Sayang, kamu sudah tidak sabar pingin melihat jagoan kita ya?" tanya Nina.


"Maafkan keadaanku, jika nanti tidak bisa membantumu merawat anakku," mata Ronald berkaca-kaca.


"Jangan sedih begitu, ada suster yang akan membantuku, jangan khawatirkan aku Sayang," ucap Nina dia mencoba menghibur suaminya.


*******


Setelah sekian lama melakukan pencarian, akhirnya anak buahnya menemukan keberadaan Ronald, Rebeca tak sabar ingin segera menemui orang yang sangat dia benci, dia ingin secepatnya menghabisi nyawa Ronald.


Rebeca langsung memesan tiket dan terbang menuju semarang, dia menginap di hotel dan mulai mengintai kediaman Ronald, mencari saat yang tepat untuk menemui Ronald dan membuat perhitungan dengannya.


'Sudah terlalu lama kamu bersenang-senang Ronald, kini saatnya aku yang bersenang-senang,' ucap Rebeca di dalam hati.


Beberapa hari mengintai rumah Ronald, rumah Ronald tak pernah sepi selalu ada saja yang bersama dengan Ronald, Rebeca tidak ingin ada saksi mata saat dia melancarkan balas dendamnya.


Sore itu Ronald sedang berdua di teras bersama Nina, Erick dan Eka belum pulang sedangkan para asisten berada di dapur mempersiapkan makan malam.


Nina membuatkan kopi untuk suaminya dan membawakan ubi kukus kesukaan Ronald, mereka berbincang dan sesekali tertawa bahagia. Sebuah mobil terparkir di sebrang rumah, di dalam mobil Rebeca sudah bersiap dengan pistol di tangannya, dia memasang peredam suara pada pistolnya agar tidak ada yang mendengar saat ia melancarkan aksinya.


Dengan mengenakan kaca mata hitam dan topi serta menggunakan jaket kulit hitam, dia turun dari mobil seorang diri, menyembunyikan senjata api di balik jaket kulitnya, dengan santai dia memasuki rumah Ronald yang luas tanpa pagar pelindung.


Ronald dan Nina menatap heran dengan sosok yang memasuki halamannya, mereka berdua tidak mengenali siapa yang sedang mendatangi rumahnya, Nina berdiri dan menyongsong kedatangan tamunya.


"Selamat sore, cari siapa Mbak?" sapa Nina ramah tanpa rasa curiga.

__ADS_1


"Halo Ronald, kamu sudah melupakanku?" Rebeca membuka kacamatanya.


Ronald terkejut melihat Rebeca, matanya terbelalak melihat wanita itu masih selamat, selama ini dia mengira Rebeca sudah mati akibat kecelakaan waktu itu.


"Re -- be -- ca?!" ucap Ronald terbata.


Rebeca tertawa mengejek melihat keadaan Ronald yang duduk di kursi roda. Nina bingung melihat ekspresi Ronald dan wanita itu.


"Aku kesini ingin mengakhiri pertikaian kita Ronald, kau atau aku yang akan mati hari ini!!" dengus Rebeca geram.


Rebeca mengeluarkan pistol dari balik jaketnya, dan menodongkan ke arah Ronald dari jarak dua meter, melihat wanita itu menodongkan pistol, Nina berlari mendekati Ronald, sebuah tembakan dilepaskan ke arah kepala Ronald namun mengenai pundak Nina sebelah kanan yang berusaha melindungi suaminya.


"Nina awaaass!!" teriak Ronald.


"Arghh ..., Ron" Nina terhuyung dan jatuh dalam pelukan Ronald, darah segar mengalir dari pundaknya.


"Ninaaa!!!, Sayang ..., Sayang, keparat kamu Rebeca aku akan membunuhmu!!!" jerit Ronald geram.


"Apa membunuhku, kamu yang akan mati di tanganku Ronald!!" Rebeca kembali menembakkan pistolnya ke arah Ronald, dan mengenai tangan kanan Ronald.


Asisten mereka berlari keluar saat mendengar suara keributan, Ronald menyuruh asistennya menolong Nina yang terluka, setelah Nina di tolong oleh asistennya, Ronald menjalankan kursi rodanya dengan cepat menabrak tubuh Rebeca, beberapa kali Rebeca menembakkan pistolnya ke dada Ronald, Rebeca terjengkang tertabrak kursi roda Ronald.


Dengan tenaga yang terisa Ronald berusaha merebut pistol Rebeca dengan tangan kirinya, saling rebutpun terjadi hingga akhirnya Ronald berhasil merebutnya dan menembakkan peluru terakhir di pelipis Rebeca, wanita itu tersungkur tak berdaya saat peluru dari pistolnya bersarang di kepalanya.


Ronals juga terkulai tak berdaya tiga tembakan bersarang ditubuhnya, Erick yang baru datang berteriak melihat Ronald bersimbah darah dan seorang wanita tak dia kenali tersungkur di dekat kursi roda milik Ronald.


"Astagfirullah, Ron ... Ronald ada apa ini," Erick mencoba menolong Ronald.


"Jaga Ni -- na ...," Ronald kehilangan kesadarannya.


"Ronaalld!!! Nina ... Ninaaaa!!" Erick berlarian seperti orang kesurupan masuk ke dalam rumah mencari Nina.


Darah berceceran di mana-mana memuat Erick semakin panik memikirkan keadaan Nina. Erick masuk ke dalam rumah melihat Nina bersama asistennya dia mengerang kesakitan.


Salah satu asisten Nina berlari ke tetangga meminta tolong, hingga beberapa orang tetangga mereka datang. Mobil yang mengantar Rebeca langsung pergi saat melihat ramai orang berdatangan.


Kegaduhanpun terjadi menyaksikan peristiwa berdarah di rumah Niba, Erick dengan cepat melarikan Nina ke rumah sakit, sedangkan Ronald di urus warga dengan mobil lain darah segar terus mengalir dari luka di pundak Nina.


"Nin ..., kuat ya Nin, please demi anakmu," ucap Erick dengan air mata bercucuran.


"Ronald di mana?" ucap Nina pelan sebelum dia pingsan.


Tiba di rumah sakit Nina langsung di larikan di UGD dan menjalani perawatan, sedangkan Ronald yang datang belakangan sudah tidak tertolong lagi, dia meninggal sebelum tubuhnya tiba di rumah sakit.


Erick menangis tersedu melihat jasad Ronald, selama ini mereka sudah seperti saudara, tertawa bersama bercerita hingga larut malam, dan sekarang Ronald terbujur tak bernyawa di depannya.

__ADS_1


*********


__ADS_2