Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Nina sudah memesan tiket untuk kembali ke Jakarta, dia mau melihat cabang restoran barunya yang akan segera dibuka. Malam ini dia mulai mengemasi beberapa bajunya, di Jakarta dia juga tidak lama karna kuliahnya belum selesai dia masih harus menyusun tesis untuk menghadapi ujian akhir S2 nya.


"Mah Nina besok pulang," Nina berbicara dengan mamanya melalui sambungan telpon.


"Kamu pulang, wah Mama senang sekali mendengarnya Sayang, sudah lama sekali kita gak bertemu," mama Nina bahagia mendengar kabar dari Nina.


"Nina nggak lama Mah, habis opening resto Nina balik lagi kesini, Nina lagi nyusun tesis," balas Nina.


"Apa kamu berencana tinggal disana selamanya Nin?" tanya mama Nina.


"Nina pasti pulang Mah, Nina akan tinggal di Jakarta setelah semuanya selesai,"


Tiba-tiba ada yang memeluk Nina dari belakang, tangan kekar berbulu halus melingkar diperutnya dan pria itu mencium tengkuk Nina membuat Nina merasa geli.


"Mama senang mendengarnya Nak," balas mama Nina.


"Udah dulu ya Mah, daah...!" Nina mengakhiri telponnya dan berbalik menghadap pria yang memeluknya.


"Kamu nakal sekali sih, orang lagi nelpon di gangguin," Nina mencubit pipi Rekso.


"Aku rindu Sayang,"


Tanpa basa-basi Rekso mengangkat tubuh Nina dan membaringkan di ranjang, mereka saling melepaskan rindu dan mendaki puncak hasrat yang menggelora.


"Kamu mau pulang?" tanya Rekso sambil memeluk tubuh Nina yang bersandar didadanya.


"Iya, aku mau melihat cabang restoran yang baru disana," jawab Nina.


"Nanti kamu ketemu cowok lagi, terus menikah lagi," Rekso terlihat tidak suka dengan rencana Nina pulang ke Jakarta.


"Kamu cemburu ya?" Nina mencubit tangan Rekso.


"Ya pasti aku cemburu, aku selalu jadi nomor dua di hatimu," Rekso langsung cemberut.


"Hmmm entahlah aku sendiri pusing dengan jalan hidupku, orang mengira hidupku sempurna tapi kenyataannya aku tidak beruntung sama sekali," Nina mendesah pelan.


"Apa aku tidak membuatmu bahagia Nina?" tanya Rekso.


Nina terdiam tak menjawab, dia memejamkan matanya dan tertidur dalam pelukan hangat Rekso. Rekso membiarkan kekasih pujaannya tidur dengan tenang.


Seandainya dia bisa memiliki Nina seutuhnya Rekso sangat senang, sayangnya dia tidak pernah bisa memiliki Nina, satu-satunya jalan adalah dengan membuat hubungan cinta Nina selalu kandas agar Nina tidak menjadi milik orang lain.


************


Nina sudah berada di dalam pesawat menuju Jakarta, dia duduk bersebelahan dengan laki-laki yang usianya tak jauh dari dirinya, mereka saling tersenyum saat bertatapan.


"Pulang ke Jakarta?" tanya pria itu pada Nina.


"Iya, kamu?" tanya Nina pada pria di sebelahnya.


"Sama, aku udah tiga hari disini urusan bisnis. Ronald," pria itu mengulurkan tangannya mengajak Nina bersalaman.


"Nina, Karenina," jawab Nina sambil membalas uluran tangan Ronald.


Mereka saling bercerita sepanjang perjalanan, membuat waktu terasa begitu cepat dan menyenangkan, hingga tak terasa pesawat mereka tiba di Jakarta.


"Aku bawa mobil, kamu dijemput atau pulang naik taksi?" tanya Ronald.

__ADS_1


"Mmm aku naik taksi saja," jawab Nina, sambil berjalan beriringan turun dari pesawat.


"Kalau gitu pulang sama aku aja," tawar Ronald pada Nina.


"Ah thanks Ron, aku nggak mau ngrepotin kamu," tolak Nina halus.


"Serius, yuk ku anterin dari pada kamu naik taksi," Ronald menunggu jawaban Nina.


Nina berfikir sejenak kemudian mengiyakan ajakan Ronald, Ronald terlihat seperti orang baik membuat Nina percaya dan mau pulang bersamanya. Setelah mengambil kopernya di bagasi Nina mengikuti Ronald di belakangnya.


"Kamu tunggu sini ya, aku ambil mobilku dulu," Ronald meninggalkan Nina untuk mengambil mobilnya di parkiran bandara.


Beberapa saat menunggu sebuah mobil Toyota Alphard warna putih berhenti di depannya, Ronald turun dan memasukkan koper Nina, Nina langsung naik ke dalam mobil Ronald, dan mobil Ronald kembali melaju meninggalkan bandara.


Hand phone Ronald berdering, dia langsung mengangkatnya, dan berbicara dengan seorang laki-laki suara lawan bicaranya terdengar oleh Nina.


"Iya ini aku udah di Jakarta nanti malam aku kesana, udah dulu gue lagi nyetir," Ronald mengakhiri percakapannya, lalu meletakkan kembali hand phone ke dalam sakunya.


"Sorry ya Nin," Ronald memulai percakapan dengan Nina.


"Its ok, kamu belum merid?" tanya Nina, Nina takut Ronald sudah menikah dan ini bisa jadi masalah dikemudian hari.


"Belum, kamu?" Ronald ganti bertanya pada Nina.


"Divorce," jawab Nina singkat.


"Really?" Ronald tak percaya kalau Nina seorang janda.


"Ah rumit, gak usah dibahas lagi, gue masih menyimpan luka tentang itu," jawab Nina, Ronald manggut-manggut mencoba mengerti perasaan Nina.


"Ok, kita gak usah bahas masa lalu. Oh ya kapan opening restomu aku mau datang dan kirim bunga," Ronald mengalihkan pembicaraan mereka.


Mereka bercerita sepanjang jalan hingga sampai di rumah Nina, mobil Ronald berhenti tepat di depan rumah Nina, diapun ikut turun dan mengeluarkan koper milik Nina.


"Kamu nggak mampir dulu?" Nina mengajak Ronald singgah di rumahnya, namun Ronald menolak.


"Aku ada janji, oh ya ini kartu namaku jangan lupa undang aku diopening restomu ya," Ronald menyerahkan kartu namanya.


"Ok," Nina menerima kartu nama dari Ronald dan memasukkan kedalam tasnya.


"Bye Nin, aku jalan dulu ya," Ronald melambaikan tangannya dan kembali masuk ke dalam mobilnya.


Nina menunggu mobil Ronald menghilang kemudian dia masuk ke dalam rumahnya, rumahnya masih sepi mama dan papanya pasti masih berada di kantor. Diapun masuk ke dalam rumahnya dan disapa oleh bibik yang sedang membersihkan rumah.


"Eh Non, kog gak bilang mau pulang kan bibi bisa masakin makanan kesukaan non Nina," wanita tua itu membantu Nina membawakan kopernya ke kamar.


"Nggak apa-apa Bik, apa aja yang ada di dapur bibik masak, apa kabar bibik sehat kan?" tanya Nina pada asisten rumah tangganya.


"Baik Non, cuma rumah jadi sepi sejak Non gak ada, gak ada lagi yang main kesini, paling tuan Tomi malam minggu kesini main catur sama tuan Hendra," jawab bibik.


"Om Tomi masih sering kesini Bik?" Nina tak percaya mertuanya masih sering main kerumahnya.


"Iya Non, ya kalau gak tuan Tomi kesini papa Non yang ke rumah tuan Toni, Non gak tau kalau mas Fatih keluar negri?" dengan polosnya si bibik bercerita sambil menyusun baju dari koper Nina ke dalam lemari.


"Mmm nggak Bik, apa dia pernah kesini?" tanya Nina penasaran, Nina melihat ke meja riasnya foto pernikahan mereka sudah tidak ada disana, mungkin Fatih mengambilnya saat dia kesini.


"Sebelum pergi ke Australi mas Fatih kesini ambil barang-barangnya Non,"

__ADS_1


"Oh ya sudah kalau gitu," jawab Nina.


"Non lapar, biar bibik masakin?" tanya bibik pada Nina.


"Mie goreng sea food kalau ada Bik," balas Nina.


"Ada kog, sebentar bibi masakin dulu ya, mau di kamar atau di ruang makan?" tanya bibik lagi sebelum dia pergi.


"Di bawah saja, Nina mandi dulu ya, trimakasih Bik,"


Nina membuka lemari bajunya, semua milik Fatih sudah tidak ada. Kamarnya sudah kembali seperti dulu lagi, Fatih benar-benar mengambil semua miliknya bahkan foto-foto mereka berdua satupun sudah tidak ada disana.


Nina mandi dan berganti pakaian kemudian turun ke ruang makan, menikmati mie goreng buatan bibik, sudah lama sekali dia tak merasakan nikmatnya masakan bibik semenjak dia pergi ke Singapura.


***********


"Ratih aku udah disini ya," Nina menghubungi Ratih lewat panggilan telepon.


"Serius Nin, duh aku kerumahmu ya udah kangen banget sama kamu. Nanti aku kesana sama Adit," Ratih mendengar sahabatnya datang langsung melonjak girang, sudah lama sekali mereka tidak bertemu dan bertatap muka langsung, selama ini hanya melalui video call saja.


"Ok," Nina mengakhiri telponnya, dan ganti menghubungi Dian.


Dianpun tak kalah bahagia seperti Ratih, dan dia juga akan kerumah Nina nanti malam, sekalian membicarakan usaha bimbel milik mereka.


Sore hari mama dan papa Nina pulang, Nina menyambut kedatangan kedua orang tuanya, mama Nina memeluk anaknya dengan berlinang air mata, haru sedih bahagia semua jadi satu, demikian juga papa Nina dia juga senang anaknya sudah pulang.


Mereka bercengkrama sambil bercerita, Nina menceritakan tentang kuliah dan juga restoran yang di kelola Ratih, dan rencana mereka membuka cabang restoran baru.


"Pah, om Tomi sering kesini ya?" tanya Nina tiba-tiba, membuat papanya terkejut.


"Mmm iya Nin, om Tomi kesepian di rumah jadi kalau week end dia main kesini. Kamu gak apa-apa kan?" tanya papa Nina.


"Nggak apa-apa kog Pah, santai aja Nina gak ada masalah sama om Tomi, sama Fatih juga Nina sudah memaafkan," jawab Nina.


Orang tua Nina merasa lega mendengar ucapan Nina, mereka sempat khawatir kalau anaknya tidak suka mantan mertuanya masih suka datang ke rumah ini.


Malam harinya Ratih datang bersama Adit, dan disusul Dian juga datang bersama mamanya. Nina senang sekali bertemu dengan sahabatnya, mereka berpelukan bahkan menangis bersama saking bahagianya.


Mereka berkumpul di ruang keluarga sambil bercerita, sedangkan mama Dian bergabung bersama orang tua Nina diruang tamu.


"Nin...!!" suara yang tidak asing menyapa Nina, membuat Nina yang sedang berbicara dengan teman-temannya menoleh kearah suara yang memanggilnya


"Om...!!" Nina berdiri menyambut Tomi, mereka bersalaman Tomi langsung memeluk Nina dengan mata berkaca-kaca.


Tomi sudah menganggap Nina seperti anaknya sendiri, walaupun saat ini sudah bukan menantunya lagi tapi rasa sayang Tomi pada Nina tidak berkurang.


"Kamu sehat kan Nin?" tanya Tomi.


"Nina baik-baik saja kog Om, bagaimana kabar Fatih?" Nina balik bertanya.


"Fatih di Australi, sepertinya dia sudah menemukan penggantimu," Tomi tersenyum dan membelai rambut Nina.


"Nina senang mendengarnya Om, semoga Fatih bahagia, salam dari Nina ya Om," ucap Nina.


Tomi kembali bergabung bersama orang tua Nina, dan Nina kembali bercengkrama dengan sahabat-sahabatnya membahas rencana opening restoran barunya.


Satu persatu mereka berpamitan pulang setelah malam semakin larut. Dian dan mamanya pulang diantar oleh Tomi sedang Adit bersama Ratih juga pulang dengan motornya. Nina kembali masuk ke dalam rumahnya setelah semua temannya pergi.

__ADS_1


************


__ADS_2