Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Teraphi


__ADS_3

Nina menceritakan pada Ronald tentang apa yang ustad Solihin katakan padanya, Nina juga menceritakan kalau ustad Solihin akan meruqiahnya untuk mengusir mahluk itu.


"Ya sudah Sayang, baiknya teraphinya dilakukan di rumah ini saja, sekalian ngusir dia dari rumah ini," ucap Ronald pada istrinya.


"Baiklah Sayang, nanti aku hubungi ustad Solihin lagi ya," Nina tersenyum lega.


"Semoga semua ini cepat berakhir Sayang, aku ingin melihatmu seperti dulu, selalu semangat dan ceria," Ronald mengecup kening Nina.


Nina mengabari ustad Solihin kalau dia siap melakukan teraphi ruqiah, dan sesuai persetujuan suaminya kalau ruqiahnya dilakukan di rumahnya saja.


"Baik Mbak Nina saya jadwal kosong hari jum'at, setelah shalat jum'at saya baru ke rumah mbak Nina ya," ustad Solihin membuat janji temu dengan Nina di rumahnya.


"Nanti biar dijemput pak Tomo ya Ustad, trimakasih sudah membantu saya," ucap Nina.


"Ingat pesan saya ya Mbak shalat dijaga, itulah penolong kita Mbak," pesan ustad Solihin sebelum mengakhiri percakapan di telpon bersama Nina.


Nina mulai rutin melakukan shalat lima waktu, perlahan Nina berubah lebih tenang meskipun dia masih mengonsumsi obat dari dokter.


Rekso datang hanya dalam mimpi Nina tidak datang di dunia nyata. Rekso terlihat murung di dalam mimpi Nina seolah dia sedang berduka, namun Nina hanya bisa memandangnya saja tak bisa mendekatinya.


**********


Hari jum'at sudah tiba saatnya Nina menjalani teraphi ruqiah pertamanya, Ronald tidak bisa menemani istrinya karna harus bekerja, dia meminta dua asisten di rumahnya untuk menemani Nina saat sedang di teraphi.


"Nanti temani istriku ya Mbak, kalau ada apa-apa langsung kabarin saya ya," pesan Ronald sebelum dia berangkat ke kantornya.


Ustad Solihin sudah datang ke rumah Nina di antar pak Tomo sopir keluarga Nina. Nina merasa deg-degan dia takut akan histeris seperti kejadian di rumah ustad Solihin.


"Mbak Nina ambil wudhu nanti pakai mukenanya ya," perintah ustad Solihin.


Nina mengambil wudhu dan memakai mukenanya, setelah memakai mukena Nina kembali ke ruang tamu ditemani Nunik dan Sri asisten rumahnya.


Ustad Solihin memakai sarung tangan, dan meminta tolong asisten Nina untuk menyiapkan air putih di botol dan juga tempat buat muntah, Sri dengan cepat menyiapkan apa yang di minta oleh ustad Solihin.


"Kita mulai ya Mbak, Bismillah," ustad Solihin mulai membacakan ayat-ayat ruqiah.


Nina dan yang lainnya mendengarkan dengan khidmat, pak Tomo menunggu di teras sembari menikmati rokok dan kopi buatan Nunik.


Beberapa saat berlalu, Nina tidak kuasa menahan rasa kantuk yang luar biasa, semakin mendengar lantunan ayat matanya semakin berat, berkali-kali dia menguap dan mengucek matanya agar tetap terjaga dan tidak tertidur, namun rasa kantuknya sangat luar biasa.

__ADS_1


"Mbak aku ngantuk sekali," bisik Nina pada Nunik yang duduk di sampingnya.


"Jangan tidur Mbak," bisik Nunik.


"Kalau aku tidur tepok aja ya biar aku bangun," bisik Nina.


"Iya Mbak," ucap Nunik.


Nina semakin tak kuasa menahan rasa kantuk di matanya dan dia mulai tertidur, Nunik yang melihat itu langsung menepuk paha Nina membuat Nina terbangun, Nina kembali mendengarkan lantunan ayat-ayat dari ustad Solihin.


Perlahan kepala Nina terasa sangat berat, seperti ada batu besar yang menindih kepalanya, Nina mulai mengeluh tidak tahan menahan beban.


Ustad Solihin terus membaca ayat-ayat ruqiah hingga berakhir, keringat Nina bercucuran wajahnya terlihat sangat pucat, ustad Solihin memberi Nina minum, setelah meminum air perutnya terasa mual, dia pun memuntahkan isi perutnya sampai lega.


"Hari ini sekian dulu mbak Nina, semoga mbak Nina merasa lebih baik dari biasanya, jangan lupa membaca ayat kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dan Al-Fathihah sebelum tidur, tiupkan pada tangan usapkan ke seluruh tubuh," pesan ustad Solihin.


"Baik Ustad, trimakasih sudah datang hari ini," ucap Nina, dia masih terlihat sangat lemas.


Ustad solihin berpamitan pulang diantar oleh pak Tomo, Nina dibawa ke kamarnya oleh Nunik agar beristirahat, karna terlihat sangat lemas. Nina memejamkan matanya, tidurnya terasa sangat tenang dan damai tidak gelisah seperti biasanya.


*******


Ronald pulang cepat dari kantornya, dia sangat mencemaskan keadaan istrinya di rumah, pulang dari kantor Nunik dan Sri terlihat sedang menyapu dan membersihkan halaman, Ronald menanyakan keadaan istrinya pada asistennya sebelum dia menemui Nina.


"Mbak Nina baik-baik saja kog Pak, sekarang sedang di kamar," ucap Sri.


"Syukurlah, aku sangat khawatir,"


Ronald memasuki rumahnya dan menemui istrinya di kamar, Ronald membuka kamar dengan pelan takut membangunkan istrinya yang sedang tidur, rupanya Nina sedang khusuk dalam shalatnya.


Ronald tertegun dia tak jadi masuk ke dalam kamar dia menunggu istrinya selesai shalat diluar. Selesai shalat Nina keluar dari kamar dan mendapati suaminya sedang di ruang keluarga memeriksa berkas.


"Sudah pulang Sayang?" sapa Nina.


"Hai ..., iya tadi mau ke kamar kamu lagi shalat," ucap Ronald, dia tersenyum menyambut istrinya dengan hati bahagia.


"Mmm nanti kita shalat bareng ya," ajak Nina pada suaminya.


"Mmm aku, aku nggak bisa," ucap Ronald datar.

__ADS_1


"Hmm sama sekali?" tanya Nina heran.


"Gerakannya tahu bacaannya aku nggak inget," balas Ronald.


"Ya sambil belajar ya," ajak Nina.


"Hmmm ntar aja deh, kamu aja yang shalat kan sama aja," Ronald mencubit hidung Nina dengan lembut, dan berlalu ke kamarnya.


Nina menghela nafasnya memandang punggung suaminya yang memasuki kamarnya, Nina teringat sama Erick pria itu dulu sering memaksanya untuk shalat, tapi sayangnya mereka tidak berjodoh.


Nina tertegun mengingat Erick, apa kabarnya laki-laki itu masihkan dia lupa dengan dirinya, ada sesal di hati Nina, mungkin jika dulu dia mendengar ucapan Erick, Rekso pasti tidak mengikutinya.


*******


Di tempat lain, Erick sedang menikati kopi saat akan meminumnya tangannya tiba-tiba hilang keseimbangan sehingga kopi yang akan diminum tumpah kebajunya.


"Astagfirullah," ucap Erick.


"Ada yang ngomongin tuh pasti he he," Dayat yang sedang bersama Erick meledek melihat Erick ketumpahan kopi.


"Ah palingan juga ibuku lagi rindu, sudah lama aku nggak nelpon ibu," ucap Erick sambil membersihkan bajunya.


Dayat tertawa menertawakan kecerobohan Erick, membuat Erick sedikit kesal karna ditertawakan.


"Ah ciyeeeee, pacarnya kali lagi kangen he he," Dayat tertawa ngeledek.


"Hmm pacar dari hongkong," balas Erick.


"Nanti kalau Mbakku yang di Jakarta datang kamu ku kenalin sama dia ya, kalian cocok deh," ucap Dayat.


"Emang kamu punya kakak, bukannya kamu anak pertama?" tanya Erick heran.


"Anak bu dhe ku, kakaknya bapak, cantik lo orangnya pintar lagi," ucap Dayat.


"Ah orang Jakarta mana mau sama orang kampung kayak aku Yat," Erick melengos.


"Ya mana tahu kalian jodoh he he, kakakku baik kog, cantik tidak sombong he he," Dayat terkekeh.


"Halah promosi aja lu," Erick ikut tertawa.

__ADS_1


Erick berpamitan pulang karna hari sudah mau magrib saatnya dia untuk menjalankan ibadah, Dayat juga kembali pulang ke rumahnya sebelum hari semakin gelap.


*********


__ADS_2