
Ronald masih mendiamkan Nina, dia hanya bicara seperlunya saja dan saat tidur dia juga lebih sering membelakangi Nina, Nina hanya diam melihat suaminya yang sudah berubah, dia hanya mendoakan suaminya disetiap sujudnya.
"Aku mau beli mobil, sekarang setiap hari ke kantor sayang kalau naik taksi terus-terusan," ucap Nina saat suaminya selesai mandi.
"Hmm ok nggak apa-apa," balas Ronald.
"Apa aku salah padamu, hingga kamu mendiamkan ku seperti ini?" Nina mencoba menyelesaikan masalah dengan suaminya.
"Hmm ya pikir saja sendiri," balas Ronald dengan nada ketus.
"Astagfirullah, kalau memang aku salah katakan jadi aku bisa memperbaiki diriku," ucap Nina sendu.
"Aku tidak pernah berubah, tapi kamu yang berubah," balas Ronald ketus.
"Aku berubah bagaimana, apa karna aku sekarang melakukan ibadah kamu jadi tidak suka?" tanya Nina.
"Kamu ngerasa nggak kalau kita semakin jauh," Ronald memandang Nina dengan tajam.
"Jauh bagaimana?" tanya Nina bingung.
"Kamu sangat berbeda dengan yang dulu, apa lagi saat melayaniku sepertinya kamu malas tidak bergairah," ucap Ronald ketus.
Nina menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, dia mencoba bersabar menghadapi Ronald yang terlihat sangat emosi.
"Kadang dalam sebuah rumah tangga ada fase naik dan turun, mungkin kita sedang di posisi turun, bukankah kewajiban sebagai pasangan untuk saling memahami satu dengan lainnya," ucap Nina lirih.
"Ah aku bosan, aku mau keluar jangan di tunggu aku pulang, aku bawa kunci sendiri," Ronald berlalu pergi meninggalkan Nina yang termangu.
'Astaghfirullah, ya Allah cobaan apa lagi ini,' bisik Nina dalam hati, air matanya langsung berlinangan membasahi pipinya.
Ronald meninggalkan rumah dan pergi ke klub malam menghabiskan malamnya dengan minuman yang memabukkan, tanpa setahu Ronald di sana ada Fatih yang memperhatikan gerak-gerik Ronald.
Fatih meninggalkan klub itu dan pulang ke rumahnya dia tak mau terlalu mabok dan hilang kesadaran, sepanjang jalan Fatih memikirkan Nina, dia merasa ada yang tidak beres dengan rumah tangga mantan istrinya itu.
Fatih memutuskan untuk menghubungi Nina, dua kali panggilan Nina tidak menjawab telponnya, apa Nina tidak mau bicara denganku, Fatih membathin dan mencoba sekali lagi.
"Assalamualaikum," sapa Nina menjawab telpon dari Fatih.
"Hai Nin, kamu udah tidur?" Fatih memarkirkan mobilnya yang sudah tiba di depan rumahnya, dia tetap di dalam mobil dan berbincang dengan Nina.
"Aku baru shalat, ada apa Fat?" tanya Nina heran, tidak biasanya pria itu menelponnya malam-malam.
"Kamu baik-baik saja kan Nin?" suara Fatih terdengar cemas.
"Aku baik kog, ada apa kog kamu nanya gitu?" Nina balik bertanya.
"Kalian nggak sedang ribut kan?" tanya Fatih.
"Nggak, ada apa sih kog kamu nanya itu?" Nina jadi curiga.
"Suamimu suka pergi mabok ya Nin?" tanya Fatih.
"Setahuku sih tidak," ucap Nina.
"Aku tadi melihatnya di klub tempat aku biasa main," ucap Fatih.
"Kamu ketemu Ronald di klub?" Nina semakin heran.
"Iya, aku lihat dia, tapi dia nggak lihat aku," ucap Fatih.
"Kamu juga masih sering mabok Fat?" Nina terdengar kesal.
"Mmm sesekali saja, kalau aku stres Nin," ucap Fatih.
"Kalau lagi stres harus mabok ya, bukannya kalau kamu mabok kamu suka gila," Nina semakin kesal.
"Aku memang brengsek Nin," ucap Fatih mengutuki dirinya sendiri.
"Fat ... kita ini bukan anak SMA yang masih labil, masa iya kamu mau menghancurkan hidupmu terus menerus, kamu gak kasihan sama om Tomi," Nina menasehati Fatih.
"Nin ..., aku mau jujur sama kamu," Fatih menghela nafasnya.
"Ada apa Fatih?" Nina mendengarkan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu mau bicara sama siapa soal ini," Fatih ragu-ragu.
"Ya sudah kamu cerita sama aku sekarang," ucap Nina.
"Tolong jangan benci aku ya, kalau aku cerita soal ini sama kamu," ucap Fatih pelan.
"Kamu bikin ulah apa lagi, apa kamu terlibat narkoba lagi?" tanya Nina, dia mulai mencemaskan mantan suaminya.
"Aku ... meniduri Dian waktu sedang mabok," ucap Fatih terbata.
"Apa!! maksud kamu, kamu perkosa Dian adik tirimu," Nina terkejut mendengar pengakuan dari Fatih.
"Bukan seperti itu, saat aku pulang mabok Dian membantuku ke kamar, aku pikir itu kamu dan terjadilah hal itu," ucap Fatih.
"Apa hubungannya sama aku Fatih, kamu jangan gila ya," Nina terdengar kesal.
"Waktu itu aku stres banget karna aku masih mengingat kamu, jadi aku pergi minum-minum dan pulangnya itu terjadi," ucap Fatih.
"Ya ampun Fatih, di mana akal sehatmu, Dian itu ... ah pusing aku Fat!!" Nina mulai gusar.
"Please jangan menghakimiku aku butuh solusi Nin, bukan dihujat," ucap Fatih.
"Kamu gak tanggung jawab? bagaimana kalau Dian hamil, kalaupun dia tidak hamil kamu udah ... aduh Fatih gue heran dengan kelakuan gilamu," Nina mendengus kesal.
"Apa aku harus menikahinya Nin?" tanya Fatih.
"Kamu jangan permainkan wanita Fatih, Dian anak ibu tirimu apa kamu menikahinya cuma main-main, Dian juga sahabatku Fat, kalau kamu sakitin dia sama juga kamu menyakiti ku!!" Nina semakin kesal.
"Aku ingin berubah Nina," ucap Fatih lirih.
"Buktikan jangan cuma ngomong aja, dan nanti kamu ulang lagi," ucap Nina geram.
"Ok Nin, aku akan buktikan sama kamu kalau aku bisa berubah," ucap Fatih.
"Bukan untukku tapi untuk dirimu sendiri," ucap Nina.
Klek...!!!
Pintu kamar Nina terbuka, Ronald pulang dengan sempoyongan, Nina terkejut melihat Ronald yang tiba-tiba datang memasuki kamarnya.
Nina belum mematikan sambungan telponnya, dia meletakkan ponselnya begitu saja melihat suaminya yang sedang mabok, Fatih mendengarkan pembicaraan Nina bersama Ronald.
"Kenapa, nggak boleh?" suara Ronald terdengar kesal.
"Sejak kapan kamu jadi tukang mabok begini," suara Nina meninggi.
Ronald langsung mendekap tubuh Nina dan menindihnya dengan kasar.
"Lepaskaann ...!!" Nina berteriak, Fatih yang mendengar di ujung sana merasa kesal mendengar Nina dikasari oleh suaminya.
Ronald memaksa Nina untuk melayaninya, Nina menolak dia tak sudi disentuh suaminya dalam kondisi mabok, namun tenaga Nina tidak ada artinya, Ronald berhasil meniduri Nina dengan paksa.
Nina terisak hatinya hancur merasa tak di hargai sebagai seorang istri, Ronald terlelap setelah memperkosa Nina, Nina menatap suaminya dengan tatapan penuh kebencian.
Fatih di ujung sana meratapi penderitaan Nina, ingin rasanya dia pergi ke rumah Nina dan membawa wanita itu pergi jauh dari suaminya tapi dia tak berdaya saat ini, perlahan dia matikan sambungan telponnya karna tak tahan mendengar suara isak tangisan Nina.
Fatih keluar dari mobil dan bergegas memasuki rumahnya, dia melihat Dian sedang duduk di balkon sendirian saat sedang berjalan meninggalkan mobilnya, Dian juga menatapnya dari atas balkon.
Rumah terlihat sepi tidak ada orang, hanya Dian sendirian, Fatih memutuskan untuk mendekati Dian dan mengajaknya bicara berdua.
"Papa sama mama ke mana?" tanya Fatih sambil duduk di sebelah Dian.
"Pergi nengokin adikku dari tadi sore, kamu bicara sama siapa tadi?" tanya Dian, dia melihat Fatih sedang menelpon di dalam mobil sebelum turun.
"Teman," ucap Fatih datar.
"Kamu mabok lagi ya? baunya kecium tau!!" Dian memandang Fatih dengan tatapan heran.
"Aku minum tapi nggak sampai mabok kog, kamu nggak usah takut aku ngapa-ngapain kamu," ucap Fatih.
"Apa sih enaknya minum alkohol itu?" tanya Dian.
"Ya kalau mabok kamu akan lupa segalanya," ucap Fatih.
__ADS_1
"Ya tapi kamu merugikan orang lain," ucap Dian.
"Aku ingin menebus kesalahanku padamu Dian," ucap Fatih lirih.
"Menebus pakai apa, emang perawanku bisa kamu kembalikan!!" Dian mulai tersinggung.
"Kita menikah," ucap Fatih lirih.
"Apaaa!! kamu kalau mabok suka ngelantur Fatih," ucap Dian, kalau saja Fatih bilang begitu dalam keadaan sadar, Dian membathin.
"Aku sadar Dian, aku tidak sedang mabok, aku sadar mengucapkan itu padamu," ucap Fatih.
Dian berdiri dan meninggalkan Fatih, dia memasuki kamarnya Fatih mengejarnya, dia memegang tangan Dian membuat jantung Dian berdebar tak karuan.
"Maaf kan aku Dian," ucap Fatih memohon.
"Kamu masih mencintai Nina, aku hanya pelarianmu saja, gak sudi enak aja ... kamu hanya mau menghancurkan hatiku saja Fatih," ucap Dian sambil mendorong Fatih agar keluar dari kamarnya.
Fatih memeluk Dian wajah mereka saling berdekatan, nafas Fatih menyapu hangat ke wajah Dian, jantung Dian serasa mau copot dari tempatnya berada.
"Fat ...," Dian tak kuasa dengan pesona pria yang sedang memeluknya, dia melekatkan bibir mungilnya pada bibir Fatih.
Sesaat keduanya hanyut dan saling berbalas ciuman, hingga sesuatu mengagetkan mereka.
"Fatih!!! Dian!!! apa-apaan kalian di rumah ini," mama Dian sudah berdiri di depan pintu menyaksikan Dian dan Fatih sedang berpelukan dan berciuman.
Dian dan Fatih langsung melepaskan ciuman, keduanya terlihat salah tingkah.
Plakk!!
Plakk!!
Tamparan mendarat di pipi Fatih dan Dian, Fatih terdiam, Dian langsung menangis baru kali ini mamanya menamparnya.
"DIAN TURUN!!" bentak mamanya sambil berjalan meninggalkan kedua orang yang sedang shock.
Dian mengikuti mamanya sambil menangis, dan Fatih mengikuti di belakangnya, mama Dian menemui suaminya di ruang keluarga.
"Mas!! anakmu ...," mama Dian menangis tersedu, membuat Tomi yang sedang santai terkejut dengan sikap istrinya.
"Ada apa ini kog kamu tiba-tiba menangis, Dian, Fatih kenapa mama kalian?" Tomi menatap Dian dan Fatih bergantian.
Dian semakin tersedu dan memeluk mamanya, namun mamanya menepis tangan Dian.
"Kalian kayak bin*tang gak punya ot*k!!" mama Dian terlihat sangat kesal.
"Tunggu-tunggu tolong pelan-pelan ceritakan padaku," Tomi meminta penjelasan.
"Aku memergoki mereka berdua berciuman di kamar, entah apa yang sudah mereka lakukan selama kita tidak ada di rumah," mama Dian menatap tajam pada Fatih.
"Fatih!! apa benar itu?!" Tomi mulai tersulut emosi.
"Fatih mau menikahi Dian Pah," ucap Fatih.
"Apaa!!!" Tomi terkejut dan terduduk lemas di kursi.
"Apa kalian saling menyukai?" tanya Tomi sambil memandangi kedua anaknya.
Dian menoleh pada Fatih dia ingin melihat jawaban Fatih, dan Fatih mengangguk Dian menunduk tak berani bicara.
"Dian apa kamu juga menyukai Fatih?" tanya Tomi.
"Dian ..., Dian ...," Dian tak melanjutkan ucapannya, dia hanya mengangguk.
"Ya Tuhan, Fatih papa tidak mau kamu main-main lagi, Dian adik tirimu kalau kamu cuma mempermainkannya sama halnya kamu menghancurkan papa dan mama Fatih," Tomi mengelus dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri.
Tomi menyandarkan tubuhnya di kursi, melihat papanya kesakitan Fatih dengan cepat mendekati papanya.
"Pah, papa kenapa?" Fatih membaringkan papanya yang meringis menahan sakit di dadanya.
"Dian, panggil ambulance papa sakit!!" bentak Fatih.
Mama Dian tersentak dan langsung mendekati suaminya, seketika kepanikan melanda di rumah itu, Dian menelpon ambulance sambil menangis ketakutan.
__ADS_1
Beberapa saat menunggu akhirnya ambulance datang dan segera membawa Tomi ke rumah sakit, Dian dan mamanya ikut di dalam mobil ambulance sedangkan Fatih membawa mobil sendiri mengikuti di belakang ambulance yang membawa tubuh papanya.
******