Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Mengawal nafsu


__ADS_3

Fatih termenung di balkon rumahnya dia menatap langit malam yang bertaburan bintang, pikirannya jauh menerawang mengingat masa-masa indah saat bersama Nina.


Kemarin begitu menyenangkan saat berbincang dengan Nina, tapi setelah hadirnya Ronald semua terasa begitu menyakitkan, dia cemburu melihat pria itu memeluk Nina di depan matanya, walaupun dia sudah tidak berhak mempunyai rasa cemburu pada Nina.


Dian menyaksikan Fatih yang sedang kalut dari dalam kamarnya, dia pun mendatangi Fatih yang duduk sendirian di balkon rumahnya.


"Hidup ini aneh ya Fat?" ucap Dian sambil duduk di sofa di sebelah Fatih.


"Hmm hah ... apa?" Fatih yang melamun tak mendengar ucapan Dian.


"Gue bilang hidup itu aneh," Dian agak kesal karena Fatih ternyata orangnya lemot.


"Aneh gimana?" tanya Fatih memandang Dian dengan tatapan mata heran.


"Ya gue lihat aja dari lo, duit ada, tampang keren tapi tetep aja lo gak bisa nyari pengganti Nina," ucap Dian.


"Kalau cuma nyari pengganti gampang Dian, nah urusan hati ini ribet, lo gak pernah ngarasain sih makanya bisa ngomong kayak gitu," ucap Fatih sambil mendesah, Fatih mengeluarkan rokok dari kantong bajunya dan menyulut serta menghisapnya perlahan, mengepulkan asapnya ke udara.


"Lo ngrokok sekarang?" tanya Dian heran, baru kali ini dia melihat Fatih merokok.


"Hmm cuma ini yang bisa menghibur hati gue saat ini," ucap Fatih sambil memainkan asap rokoknya.


"Apa enaknya barang itu, sini gue nyobain," Dian mengambil satu puntung rokok milik Fatih.


"Eits ... jangan macam-macam, cewek gak bagus merokok kesannya seperti cewek gak bener," Fatih mengambil rokok di tangan Dian.


"Ternyata lo masih waras ya hi hi," ucap Dian sambil terkekeh.


"Lo kira gua gila ya, si*lan," Fatih mengumpat kesal.


"Ya di rumah ini semua berfikir kamu udah gila, kamu gak sadar ya," Dian menatap Fatih dengan lekat.


Fatih menatap mata Dian, dia kesal di bilang gila oleh saudara tirinya sendiri.


"Apa lihat-lihat gue kayak gitu?!" tanya Fatih sewot.


"Ternyata kamu ada manis-manisnya juga ya hi hi," Dian kembali terkekeh.


"Lo aja gak nyadar aku tuh ganteng dari lahir," Fatih kembali mengepulkan asap rokoknya.


"Eleehhh ... gantengmu itu pas tanjakan aja Bro, kalau udah nyampe turunan ...," belum selesai ngomong Fatih udah menggelitiki Dian.


"Aww ... Fatih geli tau, udah ... udah ...," Dian berusaha menghindari gelitikan Fatih.


"Bilang lagi gue jelek gue bikin lo mati ketawa," Fatih mengejar Dian yang berlari ke kamarnya sambil terus menggelitiki tubuh Dian.


"Iya ... iya ... ampun Bro, sudah ... sudah ... gue gak tahan di gelitikin," Dian terengah-engah kegelian.


"Jadi apa kamu masih berani bilang gue jelek!!" Fatih mendekatkan wajahnya pada wajah Dian.


"Kamu ganteng kog, cup ...," Dian mengecup bibir Fatih, membuat Fatih terkejut, Dian juga sama-sama terkejut karna berani mengecup saudara tirinya.


"Oh maaf Fatih," Dian langsung menutup wajahnya karna malu.


Fatih terdiam dan pergi meninggalkan kamar Dian, dia langsung mengambil kunci mobil dan meninggalkan rumahnya begitu saja.

__ADS_1


'Si*l ... si*l ... apa-apaan sih gue, kenapa nyosor sama Fatih, ya ampun,' Dian memaki dirinya sendiri dalam hati.


'Fatih pasti menganggapku cewek murahan, ya ampun malunya aku si*lan bod*... bod* kamu bod* Dian,' Dian mengutuki dirinya sendiri.


Fatih memacu mobilnya dengan pikiran tak karuan dia pergi ke klub malam untuk menenangkan pikirannya dan mulai memesan minuman memabukkan, stres mikirin Nina membuatnya tergoda menikmati minuman penghilang kesadaran.


Puas minum Fatih pulang dengan menggunakan taksi online, matanya yang sudah kabur membuatnya meninggalkan mobilnya di tempat itu.


Malam sudah menunjukkan pukul 02.30 WIB. Dian terbangun melihat dari jendela kamarnya, sebuah mobil taksi berhenti di depan rumah dan Fatih keluar dengan jalan sempoyongan


'Kenapa lagi sih anak ini, mobilnya di kemanain lagi?' gerutu Dian dalam hati, dia dengan cepat keluar untuk membukakan pintu buat Fatih, Dian yakin Fatih sedang mabok.


Klek ...


Pelan-pelan Dian membuka pintu rumah agar yang lain tidak terbangun, Fatih yang akan membuka pintu terkejut karna pintu rumah tiba-tiba terbuka sendiri.


"Hmm kamu belum tidur Sayang, nungguin aku pulang ya," bisik Fatih pada Dian, aroma alkohol menyeruak dari mulut Fatih


"Kamu mabok ya, bener-bener udah gila kamu Fatih," ucap Dian sambil menyongsong tubuh Fatih yang sempoyongan dan hampir terjatuh.


Setelah mengunci pintu Dian membantu Fatih masuk ke kamarnya, dan menghempaskan tubuh Fatih yang berat ke ranjangnya. Tangan Fatih memegang tangan Dian saat Dian akan keluar dari kamarnya.


"Mau kemana kamu Nina," ucap Fatih sambil menarik tangan Dian membuat Dian terjatuh ke dalam pelukannya.


"Eh breng*ek gue Dian bukan Nina, dasar tukang mabok kamu gak bisa bedain orang, kambing pun kamu anggap Nina kalau lagi mabok!!" Dian mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Fatih.


Fatih membalikkan tubuhnya dan menindih tubuh Dian, Dian berdebar-debar saat tubuh Fatih berada di atas tubuhnya, dia tidak pernah seperti ini bahkan dengan pacarnya yang dulu.


"Fat ... sadar lo, gue Dian breng*ek lo Fat!!" Dian mencoba meronta, tubuh Fatih yang berat membuatnya tidak bisa bergerak.


Fatih menciuminya dengan panas, membuat Dian gelagapan dan meronta namun Fatih tak membiarkan gadis itu lepas dari cengkramannya.


Dian memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan dari Fatih, pria itu sudah tak mampu mengawal hawa nafsunya membuat Dian kewalahan dan terhanyut dalam cumbuan saudara tirinya, dia membiarkan pria itu menguasai dirinya merenggut keperawanannya memuaskan hasratnya liarnya.


"Sayang aku merindukanmu," bisik Fatih disela-sela cumbuannya, dia memeluk Dian dan tertidur dengan senyum bahagia di bibirnya.


Dian merapikan baju tidurnya dan berpindah ke kamarnya dia tak mau Fatih melihatnya berada di kamarnya, dia berdiri di depan kaca memandangi tanda merah di tubuhnya, Dian tidak menangis atau pun sedih bahkan dia juga tidak marah pada Fatih, dia hanya bingung dengan perasaannya sendiri.


Dian membaringkan tubuhnya, malam masih panjang dia butuh tidur agar besok bisa bekerja, Dian memeluk guling aroma tubuh Fatih masih tercium di tubuhnya, dia pun terlelap karna kelelahan menghadapi keliaran Fatih.


*******


Pagi hari Fatih terbangun dari tidurnya, dia mendapati celananya melorot dan bekas cairan membekas di spreinya, dia bangun dan segera mandi membersihkan dirinya bersiap ke kantor.


'Hmm Nina ... Nina ... kamu sudah membuatku hampir gila,' Fatih mengumpat sendiri dalam hati.


Fatih turun ke bawah untuk sarapan bersama keluarganya, Dian juga sudah berada di sana, dia sengaja menghindari tatapan Fatih dan berpura-pura tidak melihatnya.


"Fatih, nanti berangkat sama Dian ya, Papa ada perlu di luar kantor," ucap Tomi sambil sarapan.


"Tapi mobil Fatih tertinggal di klub Pah," ucap Fatih.


"Kamu mabok lagi, Fatih kamu bisa nggak sih kalau stres gak pakai acara mabok gitu, kamu kalau udah mulai mabok bentar lagi kambuh penyakit lamamu!!" Tomi terlihat kesal pada Fatih.


"Dian naik taksi aja Om," ucap Dian sambil menunduk.

__ADS_1


"Ya sudah kita barengan aja sekalian nanti ambil mobilku dulu," ucap Fatih menatap Dian yang menunduk tak mau melihat wajahnya.


Dian sudah menunggu taksi di depan rumah, Fatih datang mendekatinya Dian beringsut menjaga jarak dari Fatih, Fatih berfikir pasti Dian masih malu karna semalam dia mencium Fatih.


"Yuk jalan," ajak Fatih saat taksi pesanannya sudah datang.


Dian mengikuti Fatih dari belakang dan memasuki mobil taksi, dia duduk di kursi penumpang bersama Fatih, sepanjang jalan Dian diam dia hanya memainkan ponsel di tangannya, sesampainya di klub tempat Fatih meninggalkan mobilnya mereka turun dari mobil taksi dan berpindah ke mobil milik Fatih melanjutkan perjalanan ke kantor.


"Berasa kayak bawa jin gue," ucap Fatih nyindir Dian yang hanya diam selama di perjalanan.


"Jadi gue harus ketawa-ketiwi gitu," ucap Dian kesal.


"Ya ngomong kek biar gak sepi gitu, jalan macet bawa teman tapi nggak bersuara kan aneh," ucap Fatih sembari memperhatikan jalan.


"Ngomong apa, ngomong gini Fatih enak banget goyangan kamu tadi malam gitu!!!" ucap Dian kesal.


Ciiiitttt ...!!!


Fatih hampir menabrak mobil di depannya dia mengerem mendadak, membuat Dian ketakutan dan wajahnya seketika pucat.


"Kamu mau ngajak gue mati ya, dasar breng*ek kamu Fatih!!!" Dian membentak Fatih.


Fatih mencoba mencerna ucapan Dian, dan itu membuatnya hampir menabrak mobil di depannya, Fatih diam sampai mereka tiba di parkiran kantor Fatih.


Dian dengan cepat membuka seat belt dan mau keluar dari mobil Fatih, dia kesal kalau berlama-lama dengan Fatih. Fatih menahan tangan Dian dan mengunci mobilnya agar Dian tidak keluar.


"Buka kuncinya!!" bentak Dian pada Fatih.


"Dian, apa yang terjadi tadi malam?" tanya Fatih lirih.


"Apa kamu lupa?!" Dian kembali membentak Fatih.


"Maksudmu?" Fatih masih bertanya-tanya.


Dian membuka kancing bajunya, membuat Fatih memalingkan mukanya dari tubuh Dian.


"Kamu ngapain buka baju di sini?" ucap Fatih sambil melengos.


"Kenapa, bukannya semalam kamu dengan rakusnya menikmati tubuh ini, lihat Fatih jangan kau palingkan wajahmu," Dian menarik wajah Fatih agar melihat bagian tubuh atasnya yang sudah terbuka.


Fatih memejamkan matanya dia tak mau melihat kenekatan adik tirinya.


Plakk!!!


Dian menampar Fatih, membuat Fatih membelalakkan matanya, mau tidak mau dia melihat bagian depan tubuh Dian, banyak tanda merah terpampang di sana, Fatih langsung menutup baju Dian yang sengaja dia buka.


"Kamu?" Fatih mencoba mengingat kejadian semalam, dia pikir itu hanyalah mimpi indahnya bersama Nina.


Dian menarik nafasnya dan memasang kembali kancing bajunya, Fatih tidak berani memandang Dian mulutnya terkatup rapat tak tahu harus bicara apa pada Dian.


"Buka pintu aku mau keluar!!" Dian kembali membentak Fatih, Fatih membuka kunci dan Dian langsung keluar dari mobil memasuki kantor.


Fatih memandangi kepergian Dian dari dalam mobil, dia menampari mukanya sendiri. 'Dasar ceroboh kamu Fatih ..., sampai Dian kamu embat juga, si*l ... si*l ...!!" umpat Fatih dalam hati sambil menampar wajahnya sendiri.


Fatih menenangkan dirinya dan keluar dari mobil memasuki kantornya, saat melewati ruangan Dian dia menoleh dan Dian melengos membuang mukanya.

__ADS_1


Berhari-hari Dian mendiamkan Fatih, sedangkan Fatih sendiri begitu menyesal dengan kelakuan bejatnya pada Dian, bagaimana kalau Dian sampai hamil gara-gara kelakuannya, Fatih pusing tujuh keliling ditambah lagi sikap Dian yang tidak lagi ramah kepadanya.


*********


__ADS_2