
Nina mendiamkan Fatih berhari-hari saat tidurpun Fatih memilih tidur di lantai beralaskan selimut karna saat menyentuh tubuh Nina dia akan marah kepadanya, Nina benar-benar sakit hati dia masih belum bisa berfikir jernih dan mau dibawa kemana hubungannya dengan Fatih.
Orang tua Nina juga sudah mulai curiga melihat anaknya seperti sedang punya masalah, namun mereka tidak berani bertanya karna itu urusan rumah tangga anaknya. Nina hanya berbicara dengan Fatih kalau sedang ada orang tuanya dan kembali mendiamkan saat mereka tinggal berdua.
Teman-teman Nina bersuka cita saat menerima surat kelulusan mereka, tinggal satu langkah lagi yaitu wisuda mereka resmi menyandang gelar sarjana. Mereka merencanakan merayakan kelulusan mereka bersama Nina. Nina yang sedang bermasalah dengan Fatih tidak semangat sama sekali dengan berita kelulusannya, bahkan dia tidak membagi kabar bahagia ini dengan suaminya.
"Nin kita ngumpul di rumahmu ajalah malam minggu ini, kita makan-makan nanti aku nyumbang rendangnya yah," ucap Ratih saat mereka sedang berkumpul di kampus.
"Iya nih udah lama kita tidak makan-makan di rumah Nina, sejak merid lo gak ada waktu lagi sama kami asik honey moon aja sama Fatih. Habis wisuda pasti deh kita makin susah ketemuan lagi." Eka ikutan angkat bicara.
"Ya udah kalau gitu malam minggu kita makan-makan di rumahku."
Nina tidak tega menolak keinginan temannya walau sebenarnya dia malas karna nanti harus berakting baik-baik saja dengan Fatih di depan teman-temannya dan juga keluarganya.
***********
Malam hari Nina berbaring di ranjangnya, dia sedang menonton drama korea yang lagi digilai para pecinta drakor. Fatih baru saja pulang dari kuliah, dia langsung mandi dan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana dalam saja. Nina melihat tubuh Fatih yang begitu sempurna segera memalingkan wajahnya.
Fatih melirik istrinya yang tidur membelakanginya, ada rindu di hati Fatih dengan tubuh istrinya itu, sudah sebulan Nina mengacuhkannya bahkan tidurpun sudah tidak seranjang lagi walau mereka masih berada satu kamar.
"Besok temen-temen mau makan disini, buat ngerayain kelulusan kita," Nina tiba-tiba membuka suaranya.
Fatih yang tidak menyangka istrinya akan berbicara dengannya merasa kaget dan tak percaya, walaupun Nina berbicara dengan nada yang ketus kepadanya.
"Kamu udah lulus Sayang?" Fatih mencari bahan agar bisa berbicara dengan istrinya, padahal dia sudah tahu soal kelulusan Nina karena mereka satu kampus.
"Hmm." jawaban Nina hanya sebatas gumaman.
Fatih mendekati Nina dia duduk ditepi ranjangnya. Nina yang sedari tadi membelakangi Fatih sebenarnya tidak tahan dengan aroma tubuh Fatih yang segar sehabis mandi sangat menggodanya, dia sebenarnya sudah rindu dengan lelakinya itu, tapi hatinya masih sangat sakit mengingat tentang Fatan.
"Jadi besok mau masak apa, biar aku belanjain?" tanya Fatih lagi.
"Beli aja ikan nanti biar mereka bakar-bakar ikan, mereka paling suka makan ikan bakar, nanti Ratih juga mau bawa rendang buatan mamanya."
Nina bangun dari tidurnya hendak ke kamar mandi, tubuhnya bersenggolan dengan tubuh Fatih yang hanya memakai celana dalam. Fatih langsung memeluknya dan mencium tengkuk Nina, dia sudah gemas dan tak tahan melihat istrinya yang selalu marah kepadanya.
"Lepasin ah..."
Nina memukuli badan Fatih namun Fatih tetap tidak melepaskannya, bahkan saat Nina mau bicara lagi dia langsung membungkam mulut Nina dengan ******* di bibirnya. Nina meronta tapi tak berani berteriak takut orang tuanya mendengar dan malah membuat mereka cemas.
Fatih menindih Nina yang masih meronta, hingga Nina akhirnya pasrah dan memilih untuk memejamkan matanya, dia sebenarnya sudah sangat rindu dengan sentuhan Fatih yang sudah lama tidak dia rasakan. Fatih juga sudah tak tahan memendam hasratnya yang sekian lama tertahan akibat kemarahan Nina kepadanya.
Nina tak lagi meronta Fatih melepaskan cengkramannya dan melanjutkan aksinya menuntaskan hasratnya, Nina menggigit bibirnya agar tak keluar suara desahannya, dia terlalu gengsi mengakui rasa rindunya. Nina menarik bantal menutup wajahnya agar Fatih tak melihat ekspresinya yang juga sangat menikmati setiap hentakan dari Fatih.
Senyum Fatih mengembang dia tahu istrinya juga menikmati. Rindu yang sudah lama membuncah membuat gelombang hasrat asmara begitu menggebu, Fatih memeluk Nina dan membuka bantal yang menutupi wajahnya, dia mencium lembut istrinya penuh cinta, wajah Nina memerah menahan gairah.
"Trimakasih Sayang," bisik Fatih di telinga Nina dan mengakhiri gelora asmaranya.
__ADS_1
Nina bangun dan mengambil bantal serta selimut yang Fatih gunakan alas tidur setiap hari lalu melemparnya ke lantai. Fatih bingung dengan sikap Nina padahal tadi sudah begitu bergairah sekarang sudah berubah lagi, akhirnya dia mengalah dan menata selimut serta bantal untuk tidur di lantai seperti hari-hari biasanya.
Nina menutupi tubuhnya dengan selimut dan kembali tidur membelakangi Fatih. Fatih memandang punggung istrinya dari bawah sambil tiduran di lantai, dia mendesah walaupun Nina masih marah setidaknya Nina sudah mau melayaninya. Mungkin besok dia akan mengulang lagi sampai istrinya benar-benar memaafkannya.
"Sayang katakanlah apa yang harus kulakukan agar kamu tidak seperti ini padaku. Aku tak tahan kamu diamkan terus seperti ini," Fatih mencoba mengajak Nina menyelesaikan masalah diantara mereka.
"Kamu selesaikan masalahmu dulu dengan Maya," jawab Nina ketus.
"Aku harus bagaimana lagi, aku gak merasa menghamili dia." Fatih mencoba membela diri.
"Kamu yakin itu bukan anak kamu?"
Fatih bangkit dan kembali duduk di ranjang Nina. Nina beringsut menghindari bersentuhan dengan tubuh Fatih, membuat Fatih mendapat ruang dia malah berbaring disisi Nina.
"Bagaimana mungkin itu anak aku, sementara dia tidak hanya tidur denganku saja." ucap Fatih.
"Sudah-sudah jangan bahas soal tidur meniduri, aku mau muntah membayangkan kalian bercinta rame-rame gitu, kalian sudah kayak binat*ng saja." Nina mendengus kesal.
Fatih memeluknya dari belakang, Nina ingin menolak tapi pelukan itu sungguh menenangkan hatinya diapun memilih untuk diam saja. Tiba-tiba terasa ada yang basah mengalir di tengkuknya, Fatih meneteskan air matanya dan membasahi tengkuk Nina.
"Maafkan kecerobohanku dimasa lalu Sayang, andai waktu bisa kuputar aku tentu tidak melakukan hal itu." Fatih menahan sesak di dadanya.
Nina tidak tega melihat lelakinya menangis, baru kali ini Fatih terlihat begitu sedih di depannya. Nina membalikkan tubuhnya menghadap Fatih. Wajah Fatih memerah mencoba menahan air matanya, Nina tak bisa berkata-kata bahkan saat ingin menyentuh wajah suaminya tangannya terasa begitu kaku. Dia bimbang dan ragu dengan semua ini.
"Kamu wanita yang sangat kucintai selain mamaku, hadirmu merubah seluruh duniaku. Aku tidak bisa hidup tanpamu Sayang." bisik Fatih.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini Sayang. Tolong jangan tinggalkan aku," Fatih memohon pada Nina.
Nina tetap menangis tergugu, dia juga tak tahu harus berkata apa pada Fatih. Hatinya hancur melihat kenyataan, tapi dia juga masih menyayangi Fatih sepenuh hatinya.
"Selesaikan dengan Maya, buktikan kalau kamu bukan ayahnya Fatih. Aku akan memaafkanmu jika dia bukan anakmu." ucap Nina.
"Benarkah Sayang, kamu akan memaafkanku. Kita akan kembali seperti dulu lagi?"
Fatih langsung merasa senang, Nina mengangguk Fatih menciumi wajah istrinya. Malam itu Nina mengijinkan Fatih tidur di sampingnya. Sepanjang malam Fatih memeluk tubuh Nina, dia tak mau sedikitpun melepaskan tubuh istrinya.
Pagi-pagi sekali Fatih berangkat ke pasar belanja ikan untuk makan malam bersama teman-teman Nina, dia ingin membuat istrinya bahagia. Sepulang dari pasar dia meletakkan belanjaan di dapur agar bibik yang selanjutnya mengurus, diapun langsung ke kamarnya untuk mandi.
Nina masih terlelap dalam tidurnya, selesai mandi Fatih melihat selimut Nina yang tersingkap menampakkan tubuh Nina yang masih tak memakai baju sejak semalam.
Fatih kembali tergoda untuk melakukan olah raga urat di pagi hari, dia segera menyusup dan masuk keselimut Nina dan tak mau membuang waktu lagi karna dia juga harus berangkat ke kantor. Nina merasa tubuhnya bergoyang-goyang kemudian membuka matanya, Fatih sudah berada diatas tubuhnya dengan keringat yang mulai membasahi.
"Duh apa-apaan sih." Nina agak kesal tidurnya terganggu.
Fatih tak banyak bicara dia hanya ingin menuntaskan hasratnya dengan cepat, setelah selesai dia mengecup bibir istrinya dan kembali mandi lagi. Nina menghela nafas bisa-bisanya Fatih mencuri-curi kesempatan saat dia tertidur dan kondisi seperti ini.
"Aku berangkat ya Sayang, kamu tidur aja kalau masih capek. Aku tadi udah belanja ikan dan buah buat nanti malam." Fatih mengecup lembut kening istrinya dan berangkat bekerja, Nina hanya bengong melihat Fatih yang begitu bersemangat hari ini.
__ADS_1
Di bawah orang tua Nina yang sedang sarapan di ruang makan dan melihat menantunya turun sendirian tanpa Nina.
"Nina belum bangun Fat?" tanya mama Nina.
"Belum Mah dia lagi capek. Fatih berangkat dulu ya Mah, Pah." pamit Fatih pada mertuanya.
"Lo kamu gak sarapan dulu?" tanya papa Nina.
"Fatih ada meeting pagi Pah, nanti makan di kantor saja, udah kesiangan." Fatih meninggalkan kedua orang tua Nina dan bergegas berangkat ke kantor.
"Pah kamu merasa nggak kalau anak-anak lagi marahan?" tanya mama Nina pada suaminya.
"Mama tahu dari mana?" papa Nina balik bertanya.
"Ya mereka gak kayak biasanya Pah, udah sebulan ini mama perhatiin." mama Nina terlihat cemas.
"Mama coba tanya dong sama Nina, kalau memang ada masalah mama bisa nasehati mereka. Kita gak bisa juga ikut campur urusan rumah tangga mereka, sebagai orang tua cuma bisa menasehati saja."
"Ya sudah Pa, nanti mama coba tanyain Ninanya kalau lagi berdua sama mama."
"Papa jalan dulu ya Mah, mama berangkat jam berapa?" tanya papa Nina.
"Agak siang aja lagian ada mamanya Dian yang bisa handle juga kog disana. Nanti mama coba bicara sama Nina dulu kalau dia sudah turun."
Papa Nina mengambil tasnya dan berangkat setelah mencium kening istrinya terlebih dahulu.
Mama Nina ke kamar Nina mengecek anaknya yang masih tidur, ternyata Nina sudah mandi dan sedang merapikan tempat tidurnya.
"Nin mama boleh masuk?" mama Nina sudah di depan pintu kamarnya.
"Ada apa Mah?" Nina mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dryer.
"Kamu sama Fatih baik-baik saja kan Nin?"
Nina diam tak menjawab pertanyaan mamanya, dia juga bingung harus memulai cerita dari mana. Mama Nina duduk di kursi dan menyapukan pandangan pada seluruh kamar Nina.
"Setiap rumah tangga itu selalu ada masalah, apa lagi pasangan baru yang masih saling menyesuaikan. Mama harap jika kamu punya masalah segera selesaikan jangan biarkan berlarut-larut. Kunci dalam rumah tangga itu saling terbuka dan percaya, dan yang paling penting selesaikan tiap masalahmu di ranjang."
Nina mendengarkan nasehat mamanya dengan seksama, sebenarnya dia ingin menceritakan tentang Maya tapi Nina tak berani membuka aib suaminya.
"Trimakasih Mah, Nina akan selesaikan dengan baik-baik."
"Mama yakin kamu dan Fatih sudah sama-sama dewasa segala sesuatu bisa di pecahkan dengan kepala dingin. Ya sudah mama pergi ke kantor dulu ya, kamu sudah tidak ke kampus kan?"
"Tidak Ma, malam ini teman-temanku mau makan-makan disini, aku mau bantu bibik siapain makanan buat nanti malam." Nina memeluk mamanya sebelum mamanya pergi.
*************
__ADS_1