Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Tentang Nabila


__ADS_3

Nina berada di rumah mamanya, namun tetap saja dia tidak bisa tenang, kadang Nina tiba-tiba histeris di kamarnya saat Rekso datang mengunjunginya, mama dan papanya sangat resah dan bingung, dokter menyarankan agar Nina dirawat di rumah sakit.


Sementara Ronald dia mencoba mencari tahu apa penyebab Nina bisa berubah seperti itu. Ronald mengingat kejadian pertama saat Nina mulai berubah. Ronald teringat terakhir Nina pergi reuni teman SMA-nya dan malamnya Nina bermimpi buruk.


"Adit, kamu inget nggak ada kejadian apa saja saat Nina ikut reuni?" Ronald menemui Adit di kantornya.


"Tidak ada apa-apa, Nina juga biasa-biasa saja waktu itu, kenapa ya Ron?" tanya Adit penasaran.


Adit tidak tahu kondisi Nina saat ini karna tidak ada yang membicarakan tentang Nina. Demikian juga dengan keluarga Ronald, Ronald tidak menceritakan masalah Nina pada keluarganya.


"Hmm aku cuma pingin tahu aja, dia berubah semenjak pulang dari reuni," Ronald menutupi kondisi Nina yang sebenarnya.


"Berubah gimana Ron?" Adit semakin penasaran.


"Nggak ada dia cuma mendiamkanku saja. Apa ada cctv di restoran ini Dit?" Ronald masih mencari informasi.


"Ada, kamu mau lihat?" Adit mengajak Ronald ke ruangan rekaman cctv untuk melihat Nina ngapain aja pada hari itu.


Adit memutar kembali rekaman hari di mana mereka sedang mengadakan reuni, semua tampak biasa saja tidak ada yang mencurigakan.


"Ini siapa Dit?" Ronald menunjuk wanita yang sedang berbincang dengan Nina terakhir.


"Itu Nabila," terang Adit.


"Kamu ada nomor contack nya?" Ronald tiba-tiba penasaran dengan Nabila.


"Ada, nanti aku kasih ya," ucap Adit.


Adit dan Ronald memperhatikan rekaman saat Nina bersama Nabila, bahkan saat Nabila memakaikan kalung pada Nina.


"Ok, Dit thanks ya kurasa sudah cukup, aku cuma butuh contack Nabila," Ronald meminta nomor ponsel milik Nabila, dan Adit memberikan nomor Nabila pada Ronald.


Ronald meninggalkan kantor Adit, dia akan mencari dan menjumpai Nabila untuk bertanya tentang Nina, cuma Nabila harapan terakhir Ronald saat ini.


Ronald mencoba menghubungi Nabila, tiga kali panggilan Nabila tidak juga menjawab panggilan dari Ronald.


Ronald mencoba mengirimkan pesan singkat pada Nabila, berharap wanita itu mau membalasnya dan bersedia bertemu dengannya.


'Selamat siang, saya Ronald bisakah kita bertemu karna ada sesuatu yang penting akan saya bicarakan dengan Anda," Ronald mengirimkan pesan pada Nabila.


Ronald memacu mobilnya tanpa arah, sejak tidak bertemu dengan Nina hidupnya terasa sangat hampa, dia bahkan tidak bersemangat lagi untuk pergi ke kantornya, apalagi saat pulang ke rumah dan tidak mendapati istrinya di rumah hidupnya seperti tak punya tujuan.


'Halo Ronald, ada perlu apa ya. Saya ada di tempat praktik saya, silahkan datang sebelum jam 16.00 di Ruko Raflesia blok B32 Daan Mogot,' tiba-tiba pesan masuk di ponsel Ronald dari Nabila.


'Trimakasih Nabila, saya akan langsung kesana,' balas Ronald.


Tanpa membuang waktu lagi dengan cepat Ronald memutar mobilnya menuju arah Tangerang untuk menemui Nabila, dia sangat berharap pertemuannya dengan Nabila membawa titik terang perubahan yang terjadi pada Nina.

__ADS_1


Ronald memilih jalan lewat tol agar lebih cepat sampai, dia juga menggunakan aplikasi google map untuk mencari alamat yang di berikan oleh Nabila, tiga puluh menit berlalu akhirnya Ronald menemukan alamat Nabila.


Ronald memarkirkan mobilnya tepat di depan ruko sesuai alamat yang Nabila kirimkan, dia keluar dari mobil dan membaca spanduk di depan ruko yang bertuliskan 'Konsultasi Spiritual'.


Ronald memasuki ruko dan bertemu dengan resepsionis, dia menanyakan tentang Nabila.


"Sebentar ya Pak, masih ada pasien satu lagi, Bapak sudah membuat janji dengan Ibu?" tanya pegawai resepsionis itu pada Ronald.


"Sudah, tadi sebelum ke sini saya sudah menelpon Ibu Nabila," ucap Ronald.


"Baik Pak silahkan duduk dulu ya, nanti setelah tamu keluar Bapak bisa langsung masuk," ucap pegawai itu sambil mengantar Ronald duduk di kursi tunggu.


Ronald melihat sekeliling dan mulai berfikir, kerja apa sih Nabila ini, apa dia dokter atau seorang teraphis kejiwaan. Ronald mengernyitkan keningnya.


Seorang wanita berdandan hebring ala Syah Ri*i keluar dari ruangan, setelah wanita itu keluar pegawai resepsionis mempersilahkan Ronald agar masuk ke ruangan Nabila.


Ronald masuk ke ruangan Nabila, dia tersenyum dan menyapa Nabila dengan ragu-ragu.


"Ehmm ..., apa anda Nabila?" tanya Ronald ragu-ragu.


"Ya, saya Nabila silahkan duduk. Ada yang bisa saya bantu, sepertinya hubungan asmara anda sedang bermasalah," Nabila langsung mengeluarkan kartunya.


Ronald bengong melihat Nabila mengocok kartu di tangannya, ternyata Nabila ini seperti seorang peramal atau apalah Ronald juga merasa bingung sendiri.


"Nama anda?" tanya Nabila.


"Saya ..., ehm Ronald," Ronald menjawab walaupun masih bingung.


Nabila membaca dan menggelengkan kepalanya sambil menatap wajah Ronald yang terlihat bingung.


"Ck ... ck ... ck ... berat!!" ucap Nabila.


"Apanya?" Ronald jadi penasaran.


"Cintamu, kamu akan kehilangan dia," ucap Nabila lagi.


"Hah ..., maksudnya apa?" Ronald tidak mengerti ucapan Nabila.


"Kamu tidak bisa memperbaiki hubunganmu dengan kekasihmu lagi, sepertinya masalah kalian sangat berat, tapi ada juga yang mengejar kamu tapi anehnya dia pria, apa kamu?" Nabila mengernyitkan keningnya dan mulai curiga pada Ronald.


"Ops ..., sudah-sudah anda salah sangka, Nabila saya kesini bukan mau meramal hidup saya, tapi mau menanyakan tentang Nina," Ronald mengakhiri acara ramal meramal tentang dirinya.


"Hah ..., Nina, Nina siapa?" Nabila meletakkan kartunya.


"Nina, Karenina teman SMA kamu, beberapa hari lalu kalian berjumpa kan?" Ronald mengingatkan Nabila tentang reuni mereka.


"Oh ..., Nina iya ada apa dengan Nina, kamu siapa?" Nabila balik bertanya dia curiga pada Ronald.

__ADS_1


"Aku suaminya Nina, apa yang sudah kalian bicarakan waktu Reuni?" Ronald mulai menginterogasi Nabila.


"Tidak ada hanya pertemuan biasa, bercerita mengingat masa-masa sekolah, semuanya sungguh menyenangkan," Nabila tersenyum membayangkan saat bertemu dengan Nina beberapa hari yang lalu.


"Jadi kamu dan Nina tidak membicarakan sesuatu yang aneh," Ronald kecewa, kedatangannya ke tempat ini ternyata hanya sia-sia.


"Apa kabar Nina, kenapa dia tidak ikut ke sini?" Nabila mulai penasaran.


"Sejak hari itu dia berubah, aku hampir tak mengenalinya lagi," ucap Ronald lirih.


"Apa yang terjadi dengan Nina?" Nabila semakin penasaran.


Ronald menatap tajam pada Nabila, dia ragu mau menceritakan tentang keadaan Nina saat ini.


"Mungkin aku bisa membantu Ron," Nabila menunggu jawaban dari Ronald.


Ronald menarik nafasnya dan mulai menceritakan perubahan dari sikap Nina dan bagaimana Nina ketakutan saat bertemu dengan dirinya. Kini mereka harus berpisah karena Nina tak bisa melihatnya dia akan langsung histeris.


Nabila menghela nafasnya, dia juga mulai bercerita apa yang dia lihat tentang Nina, bagaimana Nina selalu di ikuti oleh mahluk astral sudah sejak lama.


"Aku memberi dia kalung agar Nina terbuka matanya dan dia bisa melihat wujud asli dari mahluk yang mengikutinya," ucap Nabila.


"Jadi benar, sejak memakai kalung itu Nina histeris dan ketakutan setiap saat, jadi aku harus membuang kalung itu," ucap Ronald.


"Kamu membuang kalung itu juga percuma, kamu harus memisahkan mahluk itu dari istrimu Ronald," ucap Nabila.


"Jadi bagaimana caraku mengusirnya, tolonglah aku selamatkanlah istriku, tolong Nabila," Ronald memohon pada Nabila.


"Aku tidak bisa mengusirnya, Nina sudah terlalu lama terikat dengan mahluk itu dari sebelum Nina menikah, carilah ustad atau orang yang ahli mengusir jin, aku hanya bisa berkomunikasi saja dengan mahluk itu, tapi kalau mengusir itu bukan keahlianku. Ronald terimalah takdirmu kalian tidak akan bersatu kembali," ucap Nabila serius.


"Apa maksud kamu Nabila?" Ronald mendengus kesal.


"Kamu dan Nina tidak bisa bersatu, aku cuma mengingatkanmu agar kamu tidak semakin terpuruk, bersiaplah menerimanya," Nabila menatap tajam pada Ronald.


"Jangan ngaco kamu, aku mau pulang trimakasih atas informasi darimu, berapa aku harus membayar biaya konsultasi ini?" Ronald mulai gusar mendengar ucapan Nabila.


Ronald tak mau berlama-lama di tempat itu, dia bisa gila kalau terus mendengar omongan Nabila yang kadang tidak masuk di akal sehatnya.


"Gratis, tapi kalau kamu mau ngasih aku tidak menolak," Nabila tersenyum pada Ronald.


Ronald mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu lalu meletakkan di atas meja Nabila.


"Trimakasih, Ronald ramalanku tidak pernah meleset, jadi saranku kuatkan hatimu," Nabila mengambil uang pemberian Ronald dan menimangnya.


Ronald meninggalkan ruangan Nabila dengan hati yang dongkol, dia menggerutu sepanjang jalan. Ronald masih belum bisa mencerna apa yang sudah Nabila terangkan.


Mahluk astral di jaman modern gini, dan mahluk itu datang dari mana, Nina bertemu di mana, ah ... si*lan, ketemu Nabila malah nambahin gue pusing. Ronald mengumpat dalam hatinya, dia terus memacu mobilnya pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Dia butuh waktu untuk berfikir jernih sebelum mengambil tindakan apa yang akan dia lakukan untuk membuat Nina kembali normal seperti dulu lagi.


******


__ADS_2