Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Pengalaman Pertama Merawat Bayi


__ADS_3

Hati Nina berbunga-bunga dia sudah tak sabar ingin segera menggendong putranya, ia mengambil penerbangan lebih awal ke Semarang ditemani Nunik asistennya.


Erick sudah menunggu kedatangan Nina di bandara, setelah turun dari pesawat dan bertemu dengan Erick, Nina dan Nunik bergegas masuk ke dalam mobil.


"Kita langsung ke rumah sakit Rick?" tanya Nina dengan penuh semangat.


"Pulang dulu, mandi dan ganti bajumu," ucap Erick.


"Lah kog gitu, aku udah nggak sabar pingin nggendong anakku," rengek Nina.


"Kamu baru naik pesawat, kamu gak tahu kan ada virus apa aja yang nempel di bajumu, kamu mau anakmu kena virus?" ucap Erick.


"Oh gitu ok, untung kamu ngingetin aku," ucap Nina sambil nyengir.


Erick mengantar Nina pulang ke rumah untuk mandi dan berganti baju, demikian juga Nunik dan Erick, setelah itu mereka kembali berangkat ke rumah sakit.


Erick mengurus administrasi, sedangkan Nina menunggu di ruang bayi, setelah semua selesai Erick mendatangi Nina di ruang bayi.


Suster yang sedang bertugas menyerahkan bayi Nina pada Nina, tak lupa dia menjelaskan perawatan yang harus dilakukan, mulai pemberian susu dan jadwal imunisasi, Nina mendengarkan dengan seksama.


Rasa haru menyeruak di hati Nina saat pertama kali menggendong putranya, bahagia yang tak dapat dia lukiskan, hilang sudah rasa duka di hatinya ketika melihat wajah putranya yang sedang terlelap dalam tidurnya.


"Sini saya gendong Mbak," ucap Nunik menawarkan diri.


"Jangan Mbak, sejak dia lahir baru ini aku bisa menggendongnya, nanti saja kalau di rumah mbak Nunik yang jagain," ucap Nina.


Erick memegang pundak Nina dan mengajak Nina pulang, mereka seperti suami istri yang sedang berbahagia menimang anaknya, sesekali Nina menatap Erick sambil tersenyum.


Sesampainya di rumah, Erick mengeluarkan belanjaannya, dia sudah menyiapkan segala perlengkapan untuk bayi Nina.


"Kapan kamu belanja ini semua?" tanya Nina heran.


"Waktu kamu di Jakarta, aku ke rumah sakit nanya sama suster apa saja yang harus ku beli buat bayi, jadi mereka ngasih aku catatan ya sudah aku belanjain deh," ucap Erick.


"Trimakasih, aku malah belum terpikir sama sekali," ucap Nina malu, dia terlalu berduka hingga tak terpikir tentang membeli kebutuhan sang bayi.


"Ya sudah biar ku cuci dulu baju-bajunya," ucap Erick.


"Saya saja Mas," Nunik mengambil baju bayi di tangan Erick dan mencucinya.


"Aku boleh menggendong Ronald junior?" pinta Erick.


"Hah ..., mmm ini gendonglah," Nina menyerahkan bayinya pada Erick.


Erick menimang bayi Nina dan tersenyum, Nina memandangi Erick hatinya tiba-tiba pilu andai saja itu Ronald, betapa senangnya dia menimang anaknya.


"Cepat besar ya Sayang, nanti main sama Papa," ucap Erick pada bayi Nina.

__ADS_1


"Ehem ..., Papa?" Nina tak rela Erick berkata seperti itu.


"Jadi manggil aku apa, Om?" tanya Erick dia melihat raut wajah Nina yang terlihat tidak suka.


"Entah," Nina menghindar dan meninggalkan Erick bersama bayinya, dia merasa canggung dengan sikap Erick.


******


Malam pertama bayi Nina tidur di rumah, sudah pukul 24.00 namun bayi itu masih terjaga, Nina sudah mulai mengantuk dan si bayi merengek kalau di letakkan di ranjang.


"Duh gimana ya cara nidurin bayi," Nina mulai cemas dan gusar.


Nina dan Nunik bergantian menggendong namun mereka belum berhasil menidurkan, bayi itu terus merengek, Erick yang mendengar suara tangisan bayi Nina keluar dari kamarnya.


"Kenapa nih anak Papa jam segini belum bobok?" Erick mengambil bayi dari gendongan Nunik.


Nunik tertegun melihat Erick menimang bayi seperti anaknya sendiri, demikian juga Nina dia masih belum bisa menerima saat Erick memanggil dirinya dengan sebutan papa untuk anaknya, namun dia tak mau berdebat di depan Nunik, dia hanya mendengus kesal.


"Mbak istirahat saja, pasti Mbaknya capek," pinta Erick pada Nunik.


Nunik menatap Nina menunggu persetujuan dari Nina, Nina mengangguk dan menyuruh Nunik istirahat, Nunik meninggalkan Nina dan Erick untuk beristirahat.


"Apa sudah dikasih susu?" tanya Erick pada Nina.


"Sudah, tapi tetap gak mau tidur," ucap Nina resah.


"Tapi kamu juga kan capek Rick, biar aku saja," Nina berusaha mengambil anaknya dari gendongan Erick.


Erick menepis tangan Nina dan menatap tajam mata Nina pertanda perintahnya tidak bisa ditolak, Nina mengurungkan Niatnya untuk mengambil anaknya, dia menuju ranjangnya dan berbaring.


Erick kembali menimang bayinya sambil bersenandung shalawatan, perlahan bayi itu pun tertidur di dalam gendongan Erick.


Pelan-pelan Erick meletakkan bayi Nina di box bayi dan mendekatkan pada Nina yang sudah terlelap karna kecapekan, Erick memandangi wajah Nina dan bayinya yang pulas sebelum dia keluar dari kamar Nina.


Dia sengaja tidur di ruang keluarga yang letaknya berhadapan dengan kamar Nina, bersiaga kalau bayi Nina nanti menangis lagi.


Saat bayi Nina merengek minta susu, Erick dengan cepat membuatkan susu dan membangunkan Nina.


"Nin ..., anaknya haus," Erick membagunkan Nina dengan pelan.


Nina setengah sadar dia bangun dan merasa bingung, dia belum terbiasa dengan adanya bayi bersamanya.


Erick mengambil bayi Nina dari dalam box bayi dan menyerahkan pada Nina, kemudian dia menyodorkan botol susu buatannya pada Nina.


Nina memberi bayinya susu, ternyata begini rasanya mempunyai bayi, menjadi ibu tidaklah mudah, apa lagi saat ini dia jauh dari orang tuanya.


"Kamu ngantuk ya?" tanya Erick pada Nina, Nina mengangguk pelan.

__ADS_1


Erick segera mengambil bayi dari tangan Nina dan menggendongnya, tak lupa dia membuat bayi itu bersendawa setelah minum susu seperti pesan perawat tadi saat di rumah sakit.


Nina kembali tidur rasa kantuknya sungguh tak dapat dia tahan lagi, setelah menidurkan bayi Nina, Erick meletakkan kembali bayi itu di ranjangnya.


Dua jam sekali dia mengecek dan memberinya susu, dia tak lagi membangunkan Nina karna merasa kasihan melihat wajah Nina yang terlihat sangat lelah.


Adzan subuh berkumandang membangunkan Nina dari tidurnya, Nina terbangun dan tidak mendapati bayinya di kamarnya, dia pun mencari-cari rupanya Erick membawa bayi itu tidur di kamarnya.


Perlahan Nina membangunkan Erick agar shalat subuh, dan memindahkan bayinya ke kamarnya.


Pagi hari Erick membawa bayi Nina berjemur sebelum mandi, selesai berjemur Erick menyerahkan pada Nunik untuk dimandiin, dan dia pun bergegas mandi bersiap pergi ke tempat bimbel miliknya.


Selama tiga bulan setiap malam Erick menjaga anak Nina dengan sabar, dia tak tega membiarkan Nina bersusah payah sendirian mengurus anaknya, apa lagi kondisi Nina yang melahirkan secara cecar tak memungkinkan dia untuk banyak bergerak.


Nina beberapa kali mengikuti teraphi relaktasi agar bisa memberikan ASI pada anaknya, akhirnya Nina bisa memberikan ASI pada bayinya, walapun masih diselingi dengan bantuan susu formula.


*******


"Mana cucu Oma?" Pratiwi datang bersama mama Ronald tanpa sepengetahuan Nina.


Nina yang sedang menimang anaknya terkejut dan terharu saat melihat dua orang yang sangat dihormatinya datang dengan tiba-tiba.


"Kog Mama gak bilang sih kalau mau datang?" tanya Nina pada ke dua mamanya.


"Ya kami mau ngasih surprise, sini cucu Oma yang ganteng," pinta mertua Nina.


Nina menyerahkan bayinya pada mertuanya, wanita itu terharu saat menggendong cucunya dalam pelukannya.


"Ronald, wajah Ronald saat kecil, dia sangat mirip dengan Ronald," mata wanita itu berkaca-kaca, dia seperti menimang Ronald saat masih bayi.


Nina dan Pratiwi saling tatap mereka ikut terharu, wajah bayi Nina memang sangat mirip dengan papanya, hingga semua memanggilnya Ronald, Nina juga tak keberatan bayinya dipanggil Ronald karna itu juga keinginan terakhir dari mendiang suaminya.


Malam hari saat Erick duduk di teras sendirian, sedang bersantai memandangi bintang, hari ini dia bebas tugas menjaga bayi Nina karna mama dan mertua Nina sedang ada di sini.


Mama Ronald mendekati Erick, membuat Erick merasa tak enak hati dan merasa segan, dia takut mertua Nina salah sangka kepadanya dan berfikir yang tidak-tidak terhadap Nina dan juga dirinya.


"Kog Tante belum tidur jam segini?" tanya Erick.


"Sejak Ronald tiada, Tante susah tidur. Oh ya Erick, Ronald banyak bercerita tentang kamu pada Tante saat dia masih hidup, dia sudah menganggapmu seperti saudaranya sendiri," ucap mama Ronald.


"Benarkah Tante, apa Ronald tidak mempunyai saudara?" tanya Erick penasaran.


"Ada tapi adek Ronald cewek, dia dulu ingin mempunyai adik cowok, sayangnya Tante tidak bisa hamil lagi karna Tante punya anak juga sudah berumur takut beresiko," terangnya.


"Saya juga menganggap Ronald lebih dari seorang sahabat Tante, dia sangat menyenangkan dan juga baik hati, kehilangannya membuat saya sangat sedih," ucap Erick mengenang Ronald.


Mereka berdua bercerita hingga larut malam, membicarakan tentang Ronald di masa hidupnya, sesekali ke duanya tertawa saat mengingat momen lucu ketika bersama dengan Ronald.

__ADS_1


******


__ADS_2