Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Opening cabang baru


__ADS_3

Nina bersiap-siap menuju ke pembukaan cabang restoran barunya, dia juga sudah mengabari Ronald tiga hari sebelum acara itu diadakan.


Ratih dan Adit juga sudah bersiap-siap, mereka menyediakan meja khusus tamu undangan, tidak banyak hanya teman-teman Adit dan juga teman dari orang tua Nina, Nina hanya mengundang Ronald dan Tomi ayahnya Fatih, tak lupa Dian dan keluarganya.


Nina memacu mobilnya ke mall tempat restoran barunya di buka, acara akan di mulai pukul 10.00, orang tua Nina juga sudah datang lebih dulu, merekapun duduk di ruang yang sudah Adit siapkan, keluarga Adit dan orang tua Ratih juga datang, hari itu seperti acara reuni keluarga.


Nina turun dari mobilnya, dan tak sengaja melihat karangan bunga bertuliskan nama Ronald Kesuma dengan ucapan selamat dan sukses untuk pembukaan resto baru Nina.


Nina tersenyum dan melangkahkan kakinya memasuki mall menuju tempat restorannya berada, melihat Nina datang Adit menyiapkan ceremoni pemotongan pita dan di sambut tepuk tangan para tamu yang datang, Nina menyalami Adit dan Ratih juga tamu yang lainnya.


"Dit trimakasih, berkat kamu acara ini sukses semoga rejeki kita bagus disini, kamu pegang cabang ini ya, semua ku percayakan padamu," ucap Nina saat bersama Adit dan Ratih.


"Aku yang trimakasih Nin, kamu sudah membantuku dan Ratih dengan memberi kami kepercayaan sebesar ini," ucap Adit.


Nina menepuk pundak Adit dan menyapa keluarga Adit dan Ratih, kemudian dia bergabung dengan papa dan mamanya, sesaat kemudian Tomi datang bersama Dian dan mamanya, mereka menyalami Nina dan keluarga Nina.


Nina mengerling pada Dian saat melihat Tomi bersama dengan mereka. Dian hanya tersenyum membuat Nina semakin penasaran, Nina dengan cepat menarik tangan Dian dan membawa ke tempat lain.


"Kalian sama om Tomi ya?" tanya Nina penasaran.


"Hi hi nyokap lagi PDKT sama mertuamu, biarinlah om Tomi kan duda mamahku janda klop deh," jawab Dian cengingisan.


"Oh gitu, jadi mereka jadian?" tanya Nina.


Dian mengedipkan matanya dan mengajak Nina kembali duduk bersama keluarganya. Tomi langsung berdiri dan memberi ucapan selamat pada Nina.


"Nin selamat ya Om ikut bahagia dengan kesuksesan mu," ucap Tomi.


"Trimakasih Om, Om jangan lama-lama?" ucap Nina sambil memberi isyarat ke mama Dian.


"Ah kamu bandel ya," Tomi mencubit pipi Nina karna gemas digodain oleh Nina.


Mereka tertawa bersama dan menikmati hidangan yang sudah di sajikan. Hand phone Nina berdering, Nina melihat hand phonenya dan nama Ronald tertera di layar hpnya.


"Hai Ron," sapa Nina.


"Aku sudah di depan," jawab Ronald, Nina celingukan dan melihat Ronald sudah di pintu masuk restorannya.


Nina melambaikan tangannya dan mendatangi Ronald, Ronald tersenyum kepadanya lalu Nina mengajak duduk di tempat lain. Teman dan keluarga Nina menoleh dan melihat ke arah Ronald yang sedang bersama Nina.


"Trimakasih kamu udah datang Ron, pasti kamu sibuk banget ya," tanya Nina pada Ronald.


"Ah kebetulan jadwalku lagi kosong jadi aku kesini, selamat ya semoga sukses restorannya," Ronald memperhatikan sekeliling, mata yang tadi melihatnya langsung mengalihkan pandangan saat Ronald tak sengaja menatap mereka.


"Makan dulu ya, aku sengaja makannya nunggu kamu datang," Nina memberi kode pada pelayan agar menyiapkan makan untuk tamunya.


"Ada keluargamu Nin disini?" tanya Ronald sambil mengedarkan pandangannya, dia merasa seperti sedang diawasi dari tadi.

__ADS_1


"Itu disana ada mama papaku, nanti ku kenalin kalau mau pulang, yuk makan dulu keburu dingin," Nina mengajak Ronald menikmati makanan yang sudah tersaji buat mereka berdua.


Mereka makan sambil berbincang sesekali Nina tertawa karena Ronald orangnya sangat lucu dan berwawasan, dia selalu punya bahan untuk membuat Nina tertawa.


Mama Nina yang memperhatikan Nina tertawa riang merasa bahagia, sejak kejadian dengan Fatih hampir tak pernah dia melihat Nina tertawa lepas seperti ini.


Papa Nina berdiri menyambut tamunya yang datang di pintu restoran, seorang pria seusia dengan papa Nina datang atas undangan papa Nina.


"Selamat datang Pak Wijaya Kesuma," sapa papa Nina, merekapun bersalaman dan tertawa bersama.


"Selamat Pak Hendra, semoga sukses restorannya ya," balas pria yang bernama Wijaya Kesuma.


"Ini punya Nina anak saya Pak, sebentar saya panggilin. Nin sini dulu ini ada temen papa Pak Wijaya," panggil Hendra pada Nina.


Nina dan Ronald menoleh bersamaan, Wijaya tersenyum melihat ke arah Nina dan terkejut saat melihat ke arah Ronald.


"Ronald, kamu disini juga?" tanya Wijaya pada Ronald.


Nina berdiri menyambut Wijaya Kesuma demikian juga Ronald ikut mendatangi orang itu dengan berjalan di belakang Nina.


"Selamat datang Om," Nina menyalami Wijaya Kesuma.


"Kamu kenal dengan Ronald anak Om?" Pria itu menyambut tangan Nina sambil tersenyum ramah pada Nina.


"Ronald?" Nina menoleh ke arah Ronald, dia bingung maksud Wijaya Kesuma. Ronald hanya tersenyum tak memberi penjelasan.


"Iya Ronald ini anak Om, Om gak nyangka kalian sudah saling kenal. Wah Hendra sepertinya ini sudah tanda-tanda kita mau jadi besanan," Wijaya Kesuma menepuk pundak Hendra yang masih termangu tak percaya.


"Ah Papa mulai deh," Ronald langsung melotot pada papanya.


Hendra tertawa dan menyalami Ronald, karena memang mereka belum berkenalan dari tadi. Ronald dengan gugup menyalami papanya Nina.


"Saya Ronald Om, maaf tadi belum sempat kenalan," sapa Ronald malu-malu.


"Wah jadi kamu udah bawa anaknya tapi belum kenal sama bapaknya? gak sopan kamu Ronald!" Wijaya Kesuma menatap tajam pada Ronald.


"Tadi rencananya baru mau Nina kenalin Om, eh ternyata keburu ketemu dengan Om," Nina mencoba menengahi ketegangan antara ayah dan anak di sampingnya.


"Ayok kita gabung disana Pak Wijaya, biarkan Nina sama Ronald," Hendra mengajak Wijaya duduk bersama dengan keluarganya.


"Ok, heh Ronald pulang dari sini kita ngobrol serius soal ini ya," Wijaya Kesuma kembali memandang tajam pada anaknya.


"Apaan sih Pah, Papa nggak tahu tempat deh," Ronald menggerutu dia tak enak hati dengan Nina dan papanya.


Wijaya Kesuma ikut bergabung bersama keluarga Nina, Nina dan Ronald kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan makannya.


"Sorry ya Nin atas sikap bokap gue, bikin lo illfell pastinya," Ronald jadi tak enak dengan sikap papanya.

__ADS_1


"Santai saja, papa kamu gokil kog, sama kayak kamu," Nina dan Ronald kembali tertawa dan melanjutkan perbincangannya.


"Hend kog kamu gak bilang punya anak cewek sih, tau gitu udah lama kita jadi besanan," di tempat Hendra, Wijaya Kesuma tak henti membahas tentang Nina dan anaknya.


"Ah kan kita kalau ketemu bahasnya bisnis bukan bahas keluarga," jawab Hendra sambil terkekeh.


"Kamu tahu nggak, aku tuh seneng banget lihat Ronald sama cewek, dia udah hampir tiga puluh tahun belum pernah kenalin ceweknya ke bapaknya. Baru kali ini lihat dia sama cewek eh ternyata malah anak kamu," Wijaya Kesuma begitu bersemangat.


"Sepertinya mereka juga baru kenal, karna aku juga baru lihat sekarang Nina sama Ronald, sebelumnya Nina di Singapur ngambil study S2nya," terang Hendra.


"Ah pokoknya gue suka kalau memang Ronald deket sama anak kamu, udah cantik pinter bisnis lagi. Nanti kusuruh Ronald melamar anakmu ya," ucap Wijaya lagi.


"Soal itu biar mereka yang putuskan Pak, kita ini orang tua nggak bisa maksain kehendak anak," ucap Hendra.


Mereka bercerita sambil menikmati makanan yang terhidang, satu persatu tamu undangan berpamitan pulang termasuk Tomi, Dian dan keluarga Adit dan Ratih. Tinggal orang tua Nina dan Wijaya Kesuma serta Ronald.


"Nin aku pulang dulu ya, trimakasih udah ngundang gue kesini, kamu kapan balik ke Singapur?" tanya Ronald.


"Paling empat hari lagi Ron," jawab Nina.


"Nanti kabarin ya," Ronald berdiri dan mendekati keluarga Nina untuk berpamitan.


"Om Ronald pamit dulu ada kerjaan, Pah Ronald duluan ya," pamit Ronald sambil menyalami papa dan mama Nina.


"Trimakasih sudah datang ya," ucap papa Nina.


"Ya udah kalau gitu kita barengan aja, kamu mau kemana habis ini?" tanya Wijaya Kesuma pada Ronald.


"Kembali ke kantor lah Pah, kan masih jam kerja," jawab Ronald.


"Ya udah Papa nanti nyusul ke kantormu kalau gitu," ucap Wijaya Kesuma.


Ronald berjalan lebih dulu karena papanya masih melanjutkan perbincangannya bersama keluarga Nina.


*************


"Ronald kamu sudah lama kenal sama anak Hendra?" Wijaya Kesuma sudah berada di ruangan kantor Ronald.


"Baru Pah, kenapa sih Papa ngurusin siapa temen Ronald, sikap papa udah bikin malu Ronald saja disana," Ronald sewot pada papanya.


"Bukan gitu Ronald, kamu sadar nggak umur kamu berapa adikmu saja sudah menikah, kamu anteng saja nggak nggak ada niat menikah heran Papa, pokoknya Papa suka sama Nina, bagaimana caranya kalian harus semakin dekat!" ucap Wijaya sambil melotot pada Ronald.


"Nina masih kuliah Pa, Ronald juga baru kenal masak langsung disuruh jadian, Papa ini kayak gak pernah muda saja," sungut Ronald.


"Ah Papa nggak mau tahu, pokoknya Papa mau kamu cepat menikah titik, gak pakai tapi-tapi!" Wijaya Kesuma kesal dan meninggalkan ruangan Ronald. Ronald hanya menghela nafasnya melihat sikap papanya yang seperti itu.


Ronald memang belum pernah mempunyai pacar, selama ini dia sibuk dengan bisnisnya, dia juga sudah mempunyai perusahaan sendiri yang bergerak di bidang eksport import alat berat. Hal ini membuat papanya merasa gusar dan ingin menyuruh Ronald agar cepat-cepat menikah.

__ADS_1


************


__ADS_2