
"Hai Nin...!!" Maya memanggil Nina yang sudah di ruang tunggu keberangkatan di bandara.
"Hai..." Nina langsung menghampiri Maya, dan menggendong Fatan anaknya Maya.
Fatih heran melihat istrinya sudah sangat akrab dengan Maya, dan melihat Maya ternyata sudah punya anak juga. Fatih tersenyum pada Maya demikian juga Maya dia tersenyum pada Fatih.
"Kamu mau ke Singapur juga May?" tanya Fatih pada Maya.
"Iya, kalian nginep di hotel mana nanti barengan aja aku belum booking hotel soalnya."
Fatih enggan menjawab dia sebenarnya malas kalau harus bersama-sama dengan Maya, pandangan mata Maya kepadanya terasa begitu aneh.
"Ya udah nanti kita barengan saja kalau gitu." Nina menengahi.
Nina mendekatkan Fatan pada Fatih agar Fatih melihat anak Maya yang lucu dan menggemaskan, namun Fatih tak mau melihat dia memilih untuk membaca koran membiarkan Nina dan Maya ngobrol berdua. Sesekali Fatih melirik melihat Nina yang begitu akrab dengan Maya mereka tertawa seperti sudah kenal lama.
Maya kadang melirik ke arah Fatih dan tak sengaja pandangan mereka saling bertemu dengan cepat Fatih membuang muka. Maya tersenyum melihat tingkah Fatih yang acuh padanya.
Fatih sekarang lebih rapi dan dewasa, dulu saat Maya mengenalnya Fatih masih sangat acak-acakan, emosian dan yang paling berkesan di ingatan Maya adalah kenangan mereka bercinta itu sangat membekas di ingatannya, Fatih sangat pintar dan juga tahan lama sanggup memuaskan Maya yang memang hiper kalau untuk urusan ranjang.
Sedangkan Fatih dia begitu acuh, dia juga tak begitu menghiraukan Maya, buatnya Maya adalah masa lalu yang tidak pantas untuk di kenang, malahan dia merasa malu kalau mengingat masa mudanya yang tidak patut untuk dibanggakan. Kenapa wanita ini tiba-tiba hadir dalam hidupnya, Fatih mendengus kesal.
Pesawat merekapun berangkat, untungnya tempat duduk mereka berjauhan, Fatih merasa lega karna dia tidak perlu sungkan saat akan bermesraan dengan Nina. Kalau ada Maya pastinya dia tidak bisa bermesraan dengan bebas.
************
Di Singapura Nina mengajak Maya ikut bersama dengannya akhirnya mereka tinggal di hotel yang sama. Sesampainya di hotel mereka makan bersama dan beristirahat di kamar mereka masing-masing.
"Kita jalan-jalannya besok aja ya Sayang, malam ini kita honeymooan dulu," Fatih memeluk Nina dan mulai melancarkan aksinya.
Sedang asik-asiknya bercinta hand phone Nina berdering, Nina berusaha mengambil hand phonenya tapi Fatih tidak memberinya kesempatan bergerak, karna sedang menungganginya dengan berbagai gaya.
"Biarin aja sih, nggak tahu orang lagi asik." bisik Fatih mencengkeram erat tubuh Nina.
Setelah permainan mereka berakhir Nina mengambil hand phonenya, dia mulai mengatur nafasnya yang masih tak beraturan. Nina menelpon balik Maya yang tadi menelponnya.
"Ada apa May?" tanya Nina agak terengah.
"Kalian jalan nggak malam ini?" tanya Maya.
"Kami besok baru jalan, May malam ini kita istirahat dulu."
"Ayolah Sayang jangan telponan terus," suara Fatih menyela, dia tidak membiarkan istrinya mengabaikannya walau cuma sebentar.
Nina hampir memekik saat Fatih merabanya, suara nafas Nina yang tak karuan terdengar oleh Maya.
"Ok deh Nin sampai ketemu besok, sory udah ganggu malam kalian."
Maya mengakhiri panggilan telpon dari Nina dadanya tiba-tiba terasa sangat nyeri mendengar suara Nina sedang bermesraan disana. Bayang-bayang masa lalu bersama Fatih kembali terbayang di matanya. Maya menggendong anaknya dan membelai kepalanya sambil memandang gemerlapnya kota Singapur dari balkon kamar hotelnya.
__ADS_1
*************
Nina bersandar di dada Fatih nafasnya masih belum teratur dia kelelahan akibat digoyang Fatih berkali-kali, Fatih mengecup keningnya dan memeluknya. Mereka bercanda sambil bercerita.
"Mmm besok kita jalan kemana Sayang?" tanya Nina sambil memainkan bulu halus di dada Fatih.
"Kita datangi aja semua wisata disini Universal, patung Singa besok kita lihat aja di map. Apa Maya juga mau jalan bareng kita besok?" tanya Fatih.
"Ya iyalah kasihan kalau dia sendirian, lagian kan asik kalau rame-rame,"
"Diakan bawa asisten, lagian salah sendiri liburan gak ngajak suaminya sih," ucap Fatih agak kesal, dia merasa terganggu dengan adanya Maya di liburan mereka.
"Eeh kamu gak tahu ya, dia kan gak ada suami," ucap Nina lagi, Fatih memandang Nina tak percaya.
"Lah itu siapa, anak angkat?"
"Ya bukan itu anak dia, katanya papanya Fatan gak tahu kalau dia hamil dulunya." Nina semangat menceritakan tentang Maya.
"Kog bisa gak tahu gimana, banyak kali bapaknya jadi nggak tahu yang mana satu," ucap Fatih tanpa beban.
"Hushh... jangan ngomong gitu dong, kasihan tau dia hamil dan merawat anaknya sendirian tanpa suami disisinya."
"Bokap dia kaya kog, dia bisa bayar tiga suster sekaligus. Repot darimana?" Fatih sedikitpun tak peduli dengan kisah Maya.
"Bukan gitu Sayang, ya pastinya kalau Fatan besar nanti nanya bapaknya gimana?"
"Ya tinggal bilang aja siapa bapaknya sama anaknya, bereskan. Emang dia gak bilang sama bapaknya itu bayi?" ucap Fatih lagi.
"Ya derita dia lah itu, siapa suruh jadi perempuan gampang ngangkang sana-sini."
"Jangan ngomong gitu ah..., namanya masa lalu orang kita kan gak tahu masalah dia dulu kayak apa, janganlah kamu menghujat dia kayak gitu."
Nina langsung cemberut, dia tidak suka apa yang Fatih katakan tentang Maya. Dia merasa tidak pantas menghina wanita seberapapun parahnya pergaulan dia dulu.
"Karna aku tahu dulu Maya itu seperti apa makanya aku ngomong begitu, dia ratu pesta dan suka **** bebas sama siapapun. Memangnya dia tahu siapa bapak biologis anaknya, nah kalau ngeseks nya gak sama satu laki-laki mana yang benar-benar bapaknya. Aku sih nggak respect sama dia."
Nina melongo bengong tak percaya mendengar ucapan Fatih tentang masa lalu Maya. Nina jadi curiga bagaimana Maya dan Fatih bisa saling kenal.
"Kog kamu tahu sedetail itu soal Maya, jangan-jangan dulu kalian teman saat berpesta ya?" Nina mulai curiga pada Fatih.
"Hah... kog jadi bahas Maya sih, udah ah ngobrol yang lain aja." Fatih berkelit.
"Aku tanya apa kalian dulu pernah..." Nina tak melanjutkan ucapannya.
"Pernah apa? aku gak pernah pacaran sama dia, ya pernah sih pesta bareng sama dia."
"Termasuk ngeseks sama dia?" Nina menatap wajah Fatih penuh tanda tanya.
"Ah sudahlah masa lalu jangan diingat lagi."
__ADS_1
Fatih bangun dari duduknya dan ke kamar mandi pura-pura buang air kecil, walaupun dia sedang tidak ingin pipis. Nina memandang punggung suaminya yang berlalu meninggalkannya.
Tiba-tiba hati Nina terasa nyeri, rasa cemburu hadir menyeruak di dalam hatinya. Tapi itu memang masa lalu Fatih, dan Fatih juga sudah jujur kepadanya bagaimana nakalnya dia dulu.
Nina mencoba menekan perasaannya dan ingin menata masa depan dengan Fatih bukan mengungkit masa lalunya. Fatih selama ini bersikap baik kepadanya, dia cukup bertanggung jawab sebagai suami, dia juga tidak pernah jelalatan pada wanita lain.
Nina tak mau lagi membahas masa lalu Fatih, mereka kesini untuk bersenang-senang menikmati masa-masa pengantin baru mereka. Maya juga bersikap baik dengan dia dan Fatih jadi bukan alasan untuk cemburu dengan masa lalu mereka.
Tapi Fatan itu anak siapa, Nina juga merasa penasaran dengan ayah kandung Fatan mungkin suatu hari nanti Maya akan bercerita kepadanya siapa ayah kandung Fatan.
Fatih dan Nina menghabiskan malam romantis mereka, dia benar-benar di buat terbang melayang sama Fatih. Fatih selalu membuat kejutan-kejutan baru, membuat Nina semakin terbuai dalam balutan gairah yang semakin panas membara.
**************
Pagi itu Nina dan Fatih menikmati sarapan pagi di hotel. Beberapa saat kemudian Maya muncul bersama asisten dan anaknya. Maya duduk bergabung bersama Nina. Fatih segera berdiri meninggalkan mereka mengambil buah dan minuman, dia juga agak malas ngobrol sama Maya.
"Kamu udah sarapan?" Maya tiba-tiba sudah di belakang Fatih.
"Oh... udah ini tinggal makan buah aja yang belum." jawab Fatih sambil menghindari Maya, dia merasa risih kalau ngobrol berduaan sama Maya apa lagi ada Nina. Fatih takut Nina curiga atau berfikiran yang tidak-tidak dengannya.
Maya masih mengekori Fatih kemanapun dia melangkah, sedangkan Nina dia tidak begitu memperhatikan suaminya karna sedang bermain bersama Fatan.
"Mmm bapaknya Fatan kog gak ikut?" Fatih mencoba berbasa-basi dia tak tahu harus bicara apa dengan Maya.
"Pinginnya sih gitu, tapi papanya Fatan sudah punya istri." balas Maya.
"Siapa papanya apa aku kenal, Bobi, Rio, Herman, Marcel apa salah satu dari mereka?"
Fatih menyebutkan nama laki-laki yang dulu pernah berpesta dengan mereka waktu jaman muda. Wajah Maya seketika memerah mendengar Fatih menyebut nama laki-laki di masa lalunya. Dia diam tidak menjawab pertanyaan Fatih siapa ayah dari anaknya.
"Apa kamu hilang contack dengan mereka?" Fatih kembali bertanya.
"Ada satu yang belum kamu sebutkan namanya." ucap Maya.
Fatih memandang Maya, dia tahu siapa yang Maya maksud itu adalah dirinya.
"Bukannya kamu dulu yang paling sering menikmati tubuhku dari yang lain." Maya agak memelankan suaranya.
"Jaga bicaramu Maya, itu masa lalu yang tidak pantas kita ingat dan kenang." ucap Fatih wajahnya berubah gusar.
"Bukannya kamu sanggup bercinta seharian denganku waktu itu, kamu tidak lihat wajah Fatan dia mirip sama siapa."
Fatih membelalakkan matanya, dia merasa Maya menuduhnya sebagai ayah kandung anaknya.
"Jangan ngaco kamu!"
Fatih meninggalkan Maya dan kembali ke meja makan mendekati istrinya. Nina sedang menggendong Fatan agar asisten Maya bisa sarapan dengan tenang.
"Nggak mungkin Fatan anakku, dulu Maya tidak hanya bercinta denganku. Bahkan pernah dia digilir berlima sekali main. Dulu Maya sangat binal dan tidak mudah di puaskan." Fatih memandang wajah Fatan dan membathin.
__ADS_1
Maya kembali ke meja makan membawa sarapan yang baru dia ambil, dia tersenyum melihat Nina menggendong anaknya dengan begitu penuh kasih sayang, sedangkan Fatih sama sekali tak peduli dengan Fatan.
***************