
Sudah sebulan lebih sejak kepulangan Erick ke kampung, keluarga Erick tidak pernah memberinya kabar, hari ini Nina ingin mendengar kabar tentang Erick. Nina mengambil hand phonenya dan menghubungi nomor Erick, biasanya hand phone Erick di pegang sama Ehsan.
Berkali-kali Nina mencoba menghubungi nomor Erick tapi tak diangkat, Nina merasa gusar apa yang terjadi dengan Erick disana, Nina hanya ingin tahu kabarnya saja.
Sementara Erick di rumahnya dia termangu saat hand phonenya berdering dan muncul nama Nina di layar hand phonenya. Nina yang kata Ehsan adalah pacarnya, gadis itu menelpon apa yang akan dia katakan saat dia mengangkatnya. Erick membiarkan hand phonenya berdering berkali-kali hingga berhenti sendiri, dia yakin Nina akan bosan jika dia tidak pernah menerima panggilannya.
"Siapa yang nelpon kamu Rick?" tanya ibu Erick.
"Erick gak kenal Bu,"
"Kalau gak kenal kog sampai berkali-kali, siapa tahu itu penting," ujar ibu Erick.
"Biar sajalah, Erick ingin ganti nomor saja lagian Erick juga gak ingat siapa-siapa yang tersimpan disini."
Ibu Erick menghela nafas melihat Erick yang tidak mau mencari tahu tentang masa lalunya, dia seolah pasrah dengan keadaannya yang sekarang.
Nina mencoba menghubungi Adit, siapa tahu Adit mendengar kabar tentang Erick selama ini. Diakan lebih dekat dengan Erick selama ini pikir Nina.
"Dit, aku berusaha menghubungi Erick tapi nggak diangkat, kamu pernah menghubungi keluarga Erick nggak selama ini?" tanya Nina.
"Hmm aku ada nomor Ehsan Nin, kalau nomor Erick memang aku juga coba nelpon dia gak ada jawaban walaupun masuk. Aku kirim nomor Ehsan saja ya, mana tahu kamu butuh menghubungi dia untuk bertanya soal Erick padanya."
Adit mengirim nomor contack Ehsan pada Nina, Nina menerima lalu menyimpan di hand phonenya. Diapun mengetik pesan untuk Ehsan.
"Hai Ehsan apa kabar? ini dengan Nina." isi pesan Nina pada Ehsan.
"Kak Nina, kami baik Kak bagaimana dengan Kakak disana?" balas Ehsan.
"Baik juga apa kabar Erick sekarang, sudah ada perkembangan?" tanya Nina.
Ehsan bingung mau menjawab apa pada Nina, apakah dia harus menjawab jujur kalau kakaknya sudah sadar dari koma dan sudah pulang ke rumah atau harus berbohong pada Nina.
"Kak Erick sudah sadar dari koma Kak, tapi saat ini dia mengalami amnesia dan sama sekali tidak ingat tentang masa kuliahnya," dengan berat hati Ehsan akhirnya bicara jujur pada Nina.
Nina terhenyak membaca kabar itu, hatinya antara bahagia dan juga sedih. Dia bahagia Erick sudah sadar tapi juga sedih karna Erick tidak mengingat tentang dirinya.
"Apakah Erick tidak mau bicara padaku lagi?" tanya Nina.
"Kak Erick butuh waktu Kak, bersabarlah mungkin nanti dia akan kembali ingat dengan Kakak lagi." jawab Ehsan.
"Apakah hanya aku yang tidak dia ingat atau semua teman-temannya dia tidak ingat sama sekali," Nina masih penasaran.
"Iya Kak semuanya masa dia kuliah, teman-temannya semua dia tidak ingat. Maafkan Kak Erick ya Kak."
"Tidak apa-apa Ehsan, ini juga bukan kehendak dia. Aku bisa mengerti kog, jika kelak Erick mengingatku suruh dia menghubungiku walau cuma sekedar bilang hai padaku."
Nina menangis tergugu hatinya hancur saat itu, ternyata hanya sampai disini kisah dia bersama Erick. Nina sudah pasrah dan berhenti berharap, air matanya juga sudah kering menangisi Erick selama ini.
*******************
Nina tak mau terus terpuruk dalam kesedihan, dia mencoba untuk mengikhlaskan Erick. Dia harus bangkit dan melanjutkan kuliahnya yang sudah acak-acakan sejak bersedih memikirkan Erick.
Pagi ini Nina berangkat kuliah dengan senyum di wajahnya, kedua orang tua Nina heran melihat raut wajah anaknya sudah berubah ceria mereka merasa sedikit lega, meskipun mereka tidak berani bertanya pada Nina.
"Hai Rat...," sapa Nina pada Ratih saat di kampus.
"Hai... tumben cerah, habis dapat durian runtuh ya?" tanya Ratih penasaran.
__ADS_1
"Ah garing candaanmu,"
"Bukan garing, gue takut salah ngomong aja he he. Eh ada apa sih cerita dong sama aku, sudah lama kita nggak curhat-curhatan." Ratih semakin penasaran.
"Nggak ada apa-apa gue lagi pingin bahagia saja, emang gak boleh gue kelihatan bahagia."
Ratih langsung berkaca-kaca dia rindu Nina yang dulu, beberapa bulan ini dia seperti kehilangan seorang Nina sahabatnya, sepertinya sekarang Nina yang dulu sudah kembali. Ratih bahagia melihat sahabatnya itu sudah bisa tersenyum lagi.
"Oh sohibku akhirnya kamu sudah kembali lagi..." Ratih memeluk Nina, membuat Nina jadi salah tingkah.
Pulang kuliah Nina dan Ratih pergi ngemall bersama yang lain kecuali Adit, mereka sudah lama tidak jalan bareng seperti ini. Hari ini mereka benar-benar ingin menikmati saat bersama.
"Kamu pulangnya gak di jemput Nin?" tanya Eka.
"Nggak, aku memang mau pulang sendiri," jawab Nina.
"Gimana kalau bareng aku aja naik motor," Dian menawari Nina untuk pulang bersama.
"Aku mau naik grab aja, gak apa-apa kog gak bakalan nyasar juga."
"Ok lah hati-hati ya," balas Ratih.
Nina sudah memesan taxi online melalui aplikasi di hand phonenya, beberapa saat kemudian driver menghubungi Nina dan mobil taxi pesanan Nina sudah datang.
"Ok bye sampai ketemu di kampus ya!" pamit Nina sama teman-temannya.
Merekapun akhirnya berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Nina langsung duduk di kursi penumpang, dan langsung memasang head set di telinganya mendengarkan musik. Tanpa dia sadari driver taxi mencuri pandang padanya melalui kaca spion dalam mobil.
"Maaf Mbak kuliah di kampus Gun*** ya?" tanya sopir taxi grab sama Nina.
Nina yang menyadari sopir taxi sedang mengajaknya bicara langsung melepas head set di telinganya.
"Mbak kuliah di Gun*** sepertinya pernah lihat?" tanya sopir itu lagi.
"Oh iya benar, pernah ketemu disana ya?" tanya Nina ramah.
"Iya saya mahasiswa disana juga Mbak, semester satu," terang sang sopir.
"Ough... kebetulan sekali, aku semester tiga namaku Nina," Nina memperkenalkan dirinya.
"Saya Fatih Mbak," sopir itu juga memperkenalkan dirinya.
"Jangan panggil aku Mbak, panggil aja Nina. Jadi kamu nyambi nge grab kalau sore?"
"Iya Mbak, eh Nin lumayan dari pada bengong."
"Bagus itu, kamu tinggal dimana?"
"Sepertinya kita satu komplek deh he he," jawab Fatih.
"Hah... masak sih, kog bisa gitu ya, jangan bilang jurusan kuliah kita juga sama?" tanya Nina.
"Managemen bisnis," jawab Fatih.
"Oh... gila ya mimpi apa aku semalam, kita satu jurusan satu komplek juga ha ha." tiba-tiba Nina merasa klik ngobrol sama Fatih.
"Kamu di blok apa rumahnya?"
__ADS_1
"Blok G paling belakang," jawab Fatih lagi.
"Wah bisa nebeng tiap hari kalau gitu,"
"Boleh saja, mulai besok ku jemput ya?"
"Hah... aku bercanda saja Fatih jangan dianggap serius."
"Ya nggak apa-apa aku senang kog, asal tidak ada yang nglempar batu aja kalau saya jemput kamu."
"Hmmm..."
Nina terdiam seketika bayangan Erick muncul di matanya, Fatih melihat raut muka Nina yang tiba-tiba berubah.
"Sory, kalau bikin kamu gak enak hati."
"Gak apa-apa Fatih, aku hanya teringat seseorang saja."
"Pacar?" tanya Fatih penasaran.
"Ya begitulah, tapi sudah berakhir."
"Baru putus ceritanya?"
"Hmm sangat rumit, baiknya kita gak usah bahas itu lagi."
Nina mengalihkan pembicaraan mereka ngobrol sepanjang jalan sampai akhirnya tiba di rumah Nina. Nina menyodorkan uang pada Fatih namun Fatih menolaknya.
"Loh kan aku bayar jasa antar mu," Nina heran.
"Anggap aja ini salam perkenalan dariku," Fatih memandang Nina.
"Hmm jadi gak enak kalau kayak gini."
"Gak apa-apa besok pagi ku jemput ya, duitnya buat beli minyak aja besok. Ok!"
"Oh boleh juga, sampai ketemu besok Fatih."
Nina keluar dari mobil Fatih dan masuk ke dalam rumahnya, Fatih mengawasi Nina sampai Nina menutup pintu pagar rumahnya. Kemudian dia pulang ke rumahnya yang juga tidak jauh dari rumah Nina.
Nina menyapa kedua orang tuanya yang sedang bercengkrama di ruang keluarga, mama dan papa Nina senang melihat anaknya tidak murung lagi.
"Dari mana Sayang?" tanya mama Nina.
"Ngemall sama temen-temen Mah. Mah tau nggak Mah Nina tadi naik grab eh sopirnya rumahnya di komplek ini juga di blok G, mana ternyata satu kampus lagi sama Nina," Nina bersemangat menceritakan pertemuannya dengan Fatih.
"Lah kog bisa gitu?"
"Ya nggak tahu, ah Nina mandi dulu Mah, dah...!"
Nina meninggalkan orang tuanya dan masuk ke dalam kamarnya. Orang tua Nina saling pandang melihat kepergian anaknya.
"Syukurlah Nina sudah pulih Pah."
"Iya Mah, biarlah dia bahagia jangan singgung tentang Erick lagi. Semoga dia bisa membuka hatinya lagi," papa Nina menggenggam tangan istrinya.
Sejak kejadian Erick orang tua Nina juga sedih melihat kondisi Nina yang sangat kacau, sekarang Nina sudah ceria lagi membuat mereka merasa lega, anaknya sudah melewati masa-masa sedihnya.
__ADS_1
**************
Hallo pembaca yang terkasih mohon maaf upnya agak lama, author lagi sibuk ngurus si kecil sakit. Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin. Semoga dimanapun kalian berada kita semua selalu dalam lindungan Nya. Aamiin.❤️