
"Nin kamu kan sudah wisuda, kapan kalian akan merencanakan pesta dan meresmikan pernikahan kaliam?" tanya mama Nina saat bersama dengan Nina.
"Mah Nina sepertinya ragu-ragu mau melanjutkan semua ini," Nina menunduk menyembunyikan perasaannya.
"Kalian sedang bermasalah?" tanya mama Nina lagi, dia mulai khawatir kepada anaknya.
Nina sebenarnya tidak mau membuka hal ini pada keluarganya, tapi cepat atau lambat semua orang pasti akan tahu tentang ini, tak mungkin bisa menyembunyikan keberadaan Fatan dari keluarga.
"Ceritalah pada Mama Nin, jangan di pendam sendiri. Mana tahu mama bisa memberimu solusi," bujuk mama Nina.
Nina menghela nafas dan mulai menceritakan prahara dalam rumah tangganya, mama Nina terkejut mendengar cerita Nina tentang Fatan dia tidak mengira anaknya memendam masalah seperti ini.
"Kenapa kamu pendam sendiri masalah serius seperti ini Nin," mama Nina merasa kecolongan.
"Nina pikir, tidak akan begini Mah," Nina terisak meneteskan air matanya.
"Kita harus rapat keluarga, mama gak mau masalah ini berlarut-larut," mama Nina geram melihat anak satu-satunya bersedih seperti ini.
Mama Nina mengabari suaminya dan menceritakan soal Nina, Hendra juga terkejut mendengar masalah anaknya, dan mereka sepakat untuk mengadakan rapat keluarga. Hendra menghubungi Tomi papanya Fatih agar nanti malam datang ke rumahnya untuk menyelesaikan masalah anak-anak mereka.
"Ada apa sebenarnya Hen sama Nina dan Fatih, ku pikir mereka baik-baik saja selama ini," tanya Tomi saat menelpon Hendra.
Hendra menceritakan garis besar dari masalah Nina dan Fatih, Tomi merasa kesal gara-gara kecerobohan Fatih di masa mudanya berakibat seperti ini. Tomi langsung mendatangi Fatih di kantornya.
"Fatih!! kenapa kamu diam saja punya masalah sebesar ini?" Tomi langsung memberondong Fatih dengan pertanyaan.
"A-ada apa Pa?" Fatih bingung dengan apa yang papanya maksud.
"Papa bahas anak haram kamu sama perempuan j*lang tak tahu malu itu!!" Tomi mulai emosi.
"Papah, jangan bilang seperti itu,"
"Jadi apa namanya kalau gak anak haram," Tomi memandang nanar wajah Fatih.
"Pah itu Fatih yang salah Pah," Fatih menunduk.
"Kenapa kamu selalu bikin masalah Fatih, papa sudah bahagia melihat kamu sama Nina sekarang muncul lagi seperti ini. Nanti malam keluarga Nina minta kita bertemu untuk membahas kelakuan konyolmu ini. Papa malu Fatih papa Malu," Tomi menepuk dadanya dengan keras.
"Maafkan Fatih Pah, jadi keluarga Nina sudah tahu hal ini?" tanya Fatih.
"Papa juga tahunya dari Hendra, tadi dia nelpon papa bicara soal ini. Bagaimana sih Fatih, kenapa kamu dulu berbuat seperti itu. Kalau mamamu masih hidup, dia pasti sedih dan kecewa dengan kelakuanmu," Tomi terus mengomeli Fatih.
Fatih hanya menunduk mendengarkan omelan papanya, dia juga tidak bisa membela dirinya sendiri. Bagaimanapun dia memang merasa sangat bersalah.
***********
__ADS_1
Malam hari Nina sudah berkumpul bersama keluarganya di ruang keluarga, Fatih baru saja datang bersama dengan ayahnya. Mama Nina berusaha untuk tidak membenci dan marah pada Fatih walau sebenarnya dia juga kecewa.
"Jadi bagaimana rencana kalian setelah ini, kami sebagai orang tua ingin menjadi penengah buat masalah kalian, soal keputusan itu kembali pada kalian berdua." papa Nina membuka suara.
Fatih langsung mendekati Nina dan bersimpuh di depannya. Memohon agar Nina memaafkannya.
"Nin aku mohon maafkan aku, kita mulai lembaran baru lagi." ucap Fatih, Nina hanya terdiam.
"Jadi bagaimana dengan ibu anak itu Fatih, apa dia memintamu menikahinya?" tanya mama Nina penasaran.
"Tidak Mah, dia ingin aku menjadi bapak dari anak itu saja," Fatih mencoba menjelaskan.
"Maksudnya bagaimana, Papa nggak ngerti Fatih?" Tomi ikut bicara.
"Dia ingin aku seminggu sekali menemui anak itu Pah," jawab Fatih.
"Terus Nina bagaimana sekarang Nin?" papa Nina bertanya pada anaknya.
"Aku tak tahu Pah, aku takut setelah ini akan bermunculan yang lainnya mengingat dulu dia hah..." Nina menggeleng tak melanjutkan ceritanya.
"Jadi Nina mau pisah sama Fatih?" tanya mama Nina.
Nina menunduk tak menjawab pertanyaan mamanya, Fatih memegang tangan Nina.
"Nggak Nin aku gak mau pisah sama kamu, biarpun kita nikah siri aku tak mau menceraikanmu. Nina dengarkan aku beri aku kesempatan sekali ini saja." Fatih memohon.
"Nin, begini saja biar Fatih pulang kerumah Papa, supaya kamu bisa berfikir jernih dan bisa mengambil keputusan." Tomi mencoba menengahi.
"Nggak mau Pah, Fatih nggak mau pulang sendiri. Fatih mau bersama Nina," Fatih meremas tangan Nina, namun Nina tetap tak bergeming
"Fatih dewasalah, beri Nina waktu untuk berfikir dengan jernih. Pulanglah ke rumah papa, toh kalian juga tinggal satu komplek."
Fatih merasa lemas dan tak berdaya, dia mengikuti saran papanya walau sangat berat harus berpisah dengan Nina.
"Ndra aku bawa Fatih pulang dulu ya, mungkin Nina bisa lebih tenang. Aku minta maaf sama kamu soal ini, aku malu sama kamu, istrimu dan juga Nina mantuku. Aku sudah gagal mendidik anakku." mata Tomi berkaca-kaca.
"Sudah Tom, kita masih keluarga kog, anak-anak kita sudah dewasa biarkan mereka memutuskan masalah mereka sendiri."
Tomi membawa Fatih pulang kerumahnya, Fatih diam mematung sepanjang jalan. Tomi juga diam tak berkata apapun, karna dia juga bingung dengan semua ini.
****************
Malam ini Nina tidur sendiri di kamarnya, kamar itu terasa sepi dan suram Nina merasa tidak betah tinggal di kamar itu, terlalu banyak kenangan yang terukir disana bersama Fatih.
Nin berencana akan mencari apartemen untuk dia tinggali sendiri, dia ingin fokus dengan usaha restoran yang baru dirintisnya, dia harus mencari kesibukan agar tidak stres karna terlalu memikirkan masalah rumah tangganya.
__ADS_1
"Hai Sayang,"
"Hmm kamu kemana saja Err...?"
"Aku ada di hatimu kog, kamunya aja gak ngerasa." Rekso duduk di samping Nina.
"Err... apa aku tidak pantas bahagia, atau aku tidak boleh punya pasangan dalam hidupku?" Nina mencoba berbagi rasa gundahnya dengan Rekso.
"Sayang kog ngomong begitu, aku bisa buat kamu bahagia. Kita kan pasangan sejati, buktinya aku gak pernah ninggalin kamu. Aku selalu ada disaat kamu sedih, kesepian butuh teman, aku selalu hadir saat kamu memerlukanku. Apa itu tidak berarti buatmu?" Rekso meraih pundak Nina agar bersandar di dadanya yang bidang.
"Hmm seandainya wujudmu nyata, mungkin semua yang kamu katakan ada benarnya."
"Aku nyata Nina, hanya saja cuma kamu yang merasakan hadirku. Sinilah kalau kamu pikir ini cuma hayalan."
Rekso menarik tangan Nina ke mulutnya dan menghisap telunjuk Nina, membuat Nina merasa geli.
"Ahh.. sudah sudah orang lagi sedih kamu mesum, aww... sakit kog digigit sih?" Nina menarik jarinya yang digigit Rekso dan meniupnya.
"Habis ngegemesin jadi pingin makan jari kamu deh," Rekso tersenyum dan mengambil tangan Nina dan meniup jari yang tadi dia gigit.
"Jadi aku tidak sedang bermimpi saat ini?" Nina masih tidak percaya.
"Jadi mau pakai apa supaya kamu percaya kalau aku nyata, apa sih yang belum aku lakukan sama kamu?"
"Kalau kau bisa baca isi hatiku, apakah kamu bisa melihat masa depanku dengan Fatih?" tanya Nina.
"Mmm soal itu, kamu masih berat sama dia ya? Ya sudah panggil aja Fatihmu itu kalau kamu masih butuh dia. Aku pergi saja kalau gitu." Rekso berdiri hendak pergi.
"Pergi kemana?" cegah Nina.
"Ya pergi sajalah disini aku tak dihiraukan, padahal aku datang mau menyenangkan hatimu. Aku tidak suka melihatmu bersedih terus." Rekso pura-pura ngambek.
"Kamu bisa ngambek juga ya Err..., ya sudah disini saja aku juga takut sendirian." ucap Nina.
"Tidurlah aku akan menjagamu," Rekso membaringkan Nina di pangkuannya.
Nina lama-lama tertidur dalam pangkuan Rekso, belaian tangan Rekso di kepala Nina membuat hatinya merasa tenang.
***********
Fatih di kamarnya tidak bisa tidur, dia sudah terbiasa bersama Nina disisinya walaupun Nina mendiamkannya dia masih bisa mencium aroma tubuh Nina, sekarang dia harus tidur terpisah dan ini sangat menyiksanya.
Lelah memikirkan Nina diapun terlelap dalam tidurnya dan bermimpi, Nina berjalan dengan pria lain dan berjalan semakin jauh, Fatih berusaha mengejar dan memanggil namanya namun Nina tak mendengar suaranya, Nina terlihat sangat bahagia bersama pria itu.
"Nin... Ninaaa... Ninaa... tunggu aku Nin, jangan pergi jangan tinggalkan aku. Ninaaa!!!"
__ADS_1
Fatih terus berteriak tapi Nina sama sekali tak mendengarnya, dia pergi meninggalkannya. Fatih tersadar dari mimpinya. Firasat apa ini apakah Nina akan benar-benar meninggalkannya dan tidak memaafkannya lagi. Fatih memegang kepalanya yang terasa berdenyut memikirkan masalah ini.
***********