
Setelah berbulan madu di Jakarta saatnya Nina kembali ke Singapura untuk menyelesaikan tesisnya, Ronald juga sudah harus kembali bekerja.
"Mah, Pah Nina berangkat dulu ya, doain cepet selesai tesis Nina biar Nina cepat pulang ke Jakarta dan kita bisa berkumpul lagi," pamit Nina pada kedua orang tuanya sebelum berangkat ke bandara.
"Iya Sayang hati-hati di sana ya jaga dirimu, Ronald Mama titip Nina ya," pesan mama pada kedua anak dan juga menantunya.
"Iya Mah, Ronald akan jagain Nina," ucap Ronald.
Nina dan Ronald diantar oleh Adit ke bandara, kali ini rasanya sangat berbeda dari saat pertama Nina berangkat ke Singapura, dulu dia ke Singapura karna lari dari luka hatinya akibat kegagalan pernikahannya dengan Fatih, kali ini dia kembali ke Singapur sebagai nyonya Ronald.
"Trimakasih ya Dit, hati-hati di jalan kalau pulang," ucap Nina sebelum turun dari Mobil.
"Siap Bos, eh Nin aku lupa mau bilang, temen-temen SMA kita mau ngadain reuni tahun ini, kira-kira boleh nggak kalau aku bikin acara di restoran kita?" Adit meminta ijin pada Nina.
"Kapan? boleh dong aku juga pingin ketemu teman-teman lama kita, tapi kalau bisa pas aku siap sidang Dit," Nina sangat senang mendengar kabar akan diadakan reuni dengan teman SMA.
"Ya paling lebaran Nin, kamu masih lama sidangnya?" tanya Adit.
"Nggak juga sih empat sampai lima bulan gitulah," jawab Nina.
"Nah pas itu, masih lama lagi kog acaranya, yang penting aku sudah dapat ijinmu dulu, tempat udah dapat tinggal ngumpulin orangnya ini bisa apa nggak mereka datang," ucap Adit lagi.
"Kamu atur ajalah aku pokoknya terima beres, nanti konsumsi diskon aja 50 persen," ucap Nina.
"Ok thanks ya Nin, selamat bersenang-senang di Singapura," Adit meninggalkan Nina bersama Ronald di bandara.
******
Sesampainya di Singapura, Nina mengemasi barangnya dan membawa pindah ke apartemen Ronald. Mereka menjalani hidup seperti pasangan lainnya, suami bekerja dan istri kuliah.
Selama menunggu kepulangan Ronald dari tempat kerja Nina menghabiskan waktu dengan belajar menu-menu masakan baru, tubuh Ronald sekarang semakin berisi karna selalu dimanjakan dengan makanan oleh Nina.
Ronald pria yang gila kerja selain pekerjaannya yang di Singapura dia juga harus menghandel pekerjaannya yang di Jakarta, dia lebih sering begadang menghabiskan malamnya di depan laptop dan akan tidur saat larut.
"Aku ngantuk Sayang," ucap Nina sambil menguap.
"Ya sudah kamu tidur dulu, aku masih ada kerjaan," Ronald mengecup bibir Nina sebelum tidur, dan dia melanjutkan pekerjaannya.
Saat Nina mau terlelap Ronald sudah menyusulnya ke tempat tidur, namun yang datang bukan Ronald suaminya melainkan Rekso yang menyamar menjadi Ronald, tanpa banyak bicara Ronald palsu akan langsung mencumbui Nina.
Nina tidak menyadari kehadiran Rekso, dia pun menjalankan kewajiban seorang istri pada suaminya, setelah puas Ronald palsu akan pergi meninggalkannya.
Ronald asli memasuki kamarnya saat pekerjaannya sudah selesai, kadang dia mendapati tubuh Nina tidur tanpa busana, dia pikir Nina sengaja begitu karna menunggunya, maklum saja mereka masih pengantin baru.
"Kog gak bilang sih Sayang kalau mau, kan aku bisa berhenti dulu buat ngerjain kamu," Ronald mengecup kening Nina yang sudah terlelap, dia menyelimuti tubuh Nina dan berbaring tidur di sampingnya Ronald yang asli bukan tipikal pria yang bernafsu tinggi.
__ADS_1
******
Pulang dari kantor Ronald memasuki apartemennya suasana begitu sepi, Ronald mencari-cari Nina, kakinya terhenti saat mendekati pintu kamarnya dia mendengar suara desahan Nina di dalam kamar.
Hati Ronald berdetak kencang, dia tak percaya dengan apa yang di dengarnya saat itu namun suara Nina semakin jelas terdengar, Nina sedang bercinta dengan pria lain di dalam kamar apartemennya.
Hati Ronald terbakar api cemburu dengan cepat dia membuka pintu kamarnya dan mendapati Nina sedang asik masyuk bersama pria lain.
Braaakk!!!! pintu kamar ditendang oleh Ronald, matanya melotot menyaksikan adegan mesum di dalam kamarnya.
"Ninaa ...!! apa-apaan ini!!" Ronald benar-benar terbakar emosi.
Nina dan pria itu bahkan tidak mempedulikan kedatangan Ronald, Ronald semakin marah dan mendekati mereka berdua, dia berusaha memukul pria yang sedang menggauli Nina.
"Kurang ajar kamu!!" Ronald mengayunkan tinjunya.
Brukk!!!
Ronald terjatuh dari ranjang, saat bangun dari lantai dia mendapati Nina sedang tertidur dengan pulas. Rupanya itu tadi hanya mimpi, mimpi yang terasa sangat nyata, Ronald memandang lekat wajah Nina yang tidur dengan tenang.
Ronald menghela nafas, dia pergi mencuci wajahnya yang berkeringat dan kembali berbaring disisi Nina. Ronald tak pernah menceritakan mimpinya itu pada Nina, dia takut membuat Nina tersinggung dan memilih untuk memendam di hatinya.
Nina mulai sibuk dengan tesisnya, Ronald tak mau menganggu istrinya dia ingin istrinya fokus menyelesaikan tesisnya, kamar sebelah sengaja Ronald sulap menjadi ruang kerja yang bisa digunakan Nina atau dirinya bekerja dari rumah.
"Bagaimana tesismu Sayang?" tanya Ronald, saat melihat istrinya sibuk di depan laptopnya.
"Kamu fokus aja biar cepat selesai ya, aku juga tinggal sebulan lagi kerja di sini, ini juga aku harus bikin laporan sebelum kontrakku habis," Ronald membelai kepala istrinya.
"Kamu sudah nggak sabar pingin balik ke Jakarta ya Sayang?" Nina mencubit lengan Ronald.
"Ya karna aku mau kasih kejutan buat kamu saat kita pulang ke Jakarta," ucap Ronald dengan senyum manisnya.
"Kejutan apa?" Nina penasaran.
"Kalau dikasih tau sekarang namanya bukan kejutan dong," Ronald tertawa menggoda.
"Ih kamu nakal deh, main rahasia-rahasiaan sama istri," Nina merengut dan pura-pura marah.
"Udah ah nanti tesismu gak selesai loh, aku mau ngerjain laporan di luar aja ya," Ronald mengecup kening Nina sebelum keluar, dia membawa laptopnya ke balcony.
Nina kembali membuka laptopnya dan mengerjakan tesisnya, Ronald datang lagi dan menutup pintu ruang kerja dia memandang Nina dengan tatapan penuh nafsu.
"Hmm kamu tuh ya heran deh suka begitu kalau ada maunya suka aneh," ucap Nina.
Ronald tanpa bicara mulai menciumi Nina, Nina tak pernah bisa menolak ajakan Ronald. Sementara Ronald yang asli di balcony sedang mengerjakan laporan sambil menikmati musik dengan head set di telinganya.
__ADS_1
Nina memeluk tubuh Ronald palsu sambil mengatur nafasnya yang masih memburu, Ronald lebih banyak diam tak seperti biasanya suka bercanda dan bercerita.
"Sayang, kalau kita pulang ke Jakarta rencana kita nanti akan tinggal di mana?" tanya Nina.
Ronald bangun dan keluar dari ruang kerja membiarkan Nina terbengong tanpa jawaban, setelah menunggu lama Nina memutuskan untuk menemui Ronald.
Melihat Ronald sedang duduk santai di balcony dengan memakai head set Nina merasa jengkel, dia pun langsung mendekati Ronald.
"Diajakin ngobrol kog malah kabur sih," Nina langsung cemberut di depan Ronald.
Ronald yang merasa tidak terjadi apa-apa diantara mereka dia heran melihat sikap Nina datang dengan wajah masam, dia pun membuka head setnya dan bertanya pada istrinya.
"Ada apa Sayang, tiba-tiba kamu ngambek kayak gitu?" Ronald tak mengerti salah dia apa pada Nina.
"Ya kamu sih, diajak ngomong kog malah kabur sih, nyebelin!!" Nina meninggalkan Ronald dengan segala kebengongannya.
'Kesambet apa ya, heran gue salah gue apa coba' Ronald membathin.
Ronald mengemasi laptopnya dan menemui Nina yang sudah berbaring di kamar, melihat Ronald datang Nina langsung membalikkan badannya memunggungi Ronald.
"Ada apa sih, ngomong dong Sayang?" Ronald merayu istrinya.
"Males ah, kalau diajak ngomong suka menghindar, kamu tuh njengkelin!!" ucap Nina ketus.
"Astaga, kapan aku suka ninggalin kamu Sayang, ya sudah ayo sekarang kita ngomong lagi," Ronald membujuk Nina agar tidak marah lagi.
"Aku kan cuma nanya kalau kita kembali ke Jakarta kita nanti mau tinggal di mana?" ucap Nina ketus.
"Ya ampun cuma masalah itu aja marah, kapan nanyanya coba?"
Ronald juga bingung, perasaan Nina gak ada nanya apa-apa tadi, Ronald menghela nafasnya mencoba bersabar menghadapi Nina, mungkin istrinya lagi PMS jadi agak sensian.
"Tinggal di apartemenku untuk sementara Sayang, nanti kita cari rumah kalau sudah di Jakarta ya," Ronald membelai kepala Nina.
Nina membalikkan tubuhnya dan memeluk Ronald, dia kadang merasa heran dengan sikap suaminya kadang dia pendiam kadang dia banyak bicara, namun buat Nina tak jadi masalah toh selama ini Ronald selalu menyenangkan untuknya.
Melihat istrinya sudah tersenyum, hati Ronald kembali tenang, Ronald tidak bisa melihat Nina cemberut atau marah kepadanya, dia selalu berusaha agar dalam rumah tangganya tidak pernah terjadi pertengkaran, sebisa mungkin dia akan selesaikan masalah rumah tangganya dengan kepala dingin.
**********
Trimakasih buat para reader setia,
Sebentar lagi Nina kembali ke Jakarta detik-detik Nina akan berpisah dengan Rekso, apakah Nina akan tetap bersama Ronald atau akankah kisah rumah tangganya kandas lagi?
Masih penasaran kan?
__ADS_1
Salam hangat penuh cinta dari Authorππππ