
Sudah sebulan Erick terbaring koma di rumah sakit, ibu Erick ingin memindahkan anaknya ke kampung agar bisa dirawat di rumah sakit yang dekat rumah keluarga Erick. Meskipun dengan berat hati Nina terpaksa melepaskan Erick, bagaimanapun keluarga Erick lebih berhak atas tubuh Erick.
Setelah berkoordinasi dengan rumah sakit di kampung Erick, hari ini Erick akan di pindahkan. Papa Nina membantu kepulangan Erick dengan membiayai mobil ambulance yang akan membawa Erick pulang.
"Nina Ibu harap kamu bisa mengerti keputusan ibu ya Nak." ibu Erick mendekati Nina sebelum berangkat.
"Nina ngerti kog Bu, Nina tidak apa-apa. Semoga Erick cepat sadar lagi setelah berada disana."
"Ibu tidak bisa merepotkan keluargamu terus menerus, inilah jalan terbaik buat Erick dan keluarga. Nanti kalau Erick sudah pulih seperti semula kalian pasti akan bertemu lagi." ucap ibu Erick.
Nina menghela nafas dia sudah tidak lagi bisa menangis, air matanya juga sudah kering kepergian Erick kali ini juga bukan hal yang membuatnya bisa menangis lagi. Hatinya terasa beku sejak Erick tidak membuka matanya lagi kala itu.
Mama dan papa Nina menemani Nina saat melepas kepergian Erick, mereka takut anaknya pingsan seperti dulu. Sebelum Erick berangkat Nina melihat Erick untuk terakhir kalinya.
"Selamat tinggal Erick, aku berharap kamu akan menemuiku lagi saat kamu sudah sehat seperti dulu lagi. Aku akan mendoakanmu dari sini." Nina berbisik di telinga Erick, dia meremas tangan Erick sebelum melepaskannya.
Erick dibawa masuk ke dalam mobil ambulance, ibu Erick dan Nina berpelukan, dan menyalami kedua orang tua Nina.
"Trimakasih sudah merawat Erick selama disini, saya tidak tahu bagaimana cara membalas pada keluarga kalian," ucap ibu Erick pada orang tua Nina.
"Tidak apa-apa sudah kewajiban kami merawat anak kami, Erick sudah kami anggap seperti keluarga," mama Nina membelai pundak ibu Erick.
Ibu Erick dan Ehsan ikut masuk ke dalam mobil ambulance menemani Erick. Mobil ambulance melaju pergi, membawa pergi separuh hati nina bersama Erick.
Mama dan Papa Nina mendampingi Nina yang termangu memandang kepergian Erick. Mama Nina merangkul pundak anaknya, Nina merasa kakinya kehilangan tenaga, segera mama Nina membawa Nina masuk ke dalam mobil dan membawa Nina pulang.
Sepanjang jalan Nina hanya terdiam, matanya kosong memandang jalanan jiwa Nina seolah melayang, sedih perih berbaur menjadi satu. Diapun memejamkan matanya yang terasa begitu sangat lelah.
"Nina...," suara yang sudah lama tidak Nina dengar lagi.
"Errr... hiks..." Nina tidak bisa berkata-kata lagi.
Tangis Nina pecah saat itu dia butuh bahu buat bersandar, Rekso membiarkan Nina menangis di dadanya. Sudah lama sekali dia tidak menemui Nina, Rekso membelai lembut rambut kekasihnya, hatinya pilu melihat kesedihan yang Nina rasakan.
"Jangan menangis, aku sedih melihatmu seperti ini. Aku rindu Ninaku yang dulu, yang selalu ceria saat bersamaku."
Rekso menghapus air mata Nina mencoba menghibur kekasihnya yang sedang lara. Sebegitu berhargakah manusia yang bernama Erick itu hingga Nina benar-benar terguncang jiwanya. Rekso bahkan tidak bisa membujuk Nina untuk melupakan tentang Erick.
"Nin... bangun kita udah sampai di rumah, yuk turun Sayang," mama Nina membangunkan Nina yang tertidur di mobil.
Nina membuka matanya, mamanya tersenyum dan membimbing Nina turun dari mobil. Nina masuk ke rumah dan meringkuk di sofa ruang tamu. Mama Nina menemani duduk di sisinya.
"Mama panggilin Dian dan teman-temanmu ya,"
__ADS_1
Nina menggelengkan kepalanya tak setuju. Mama Nina pergi ke dapur membuatkan Nina susu dan sandwich dia sangat cemas melihat keadaan Nina yang seperti ini.
"Minumlah Sayang, nanti kamu sakit. Nin... mama tahu kamu sedih tapi jangan menyiksa dirimu sendiri. Erick pasti sedih kalau tahu kamu seperti ini. Kamu harus sehat supaya bisa bertemu dengan Erick lagi. Erick juga tidak mau melihat kamu rapuh seperti ini."
Nina bangkit lalu duduk dan meraih susu di meja lalu meminumnya, dan melanjutkan memakan sandwich buatan mamanya, dia seperti robot yang hanya mengikuti perintah mamanya. Mama Nina menahan air matanya, hatinya perih melihat anak semata wayangnya bersikap seperti ini.
"Dian kamu bisa tidur di rumah tante temani Nina?" mama Nina menghubungi Dian.
"Baik Tante, Dian akan kesana sekarang."
"Tolong Tante temanilah Nina sampai dia pulih, Tante sedih melihat dia seperti ini hiks...," mama Nina terisak dan menangis.
"Tante sabar ya, kami akan selalu ada untuk Nina. Ya udah Tante Dian akan berangkat sekarang."
Dian bergegas ke rumah Nina untuk menemani Nina. Dian juga mengabari teman-temannya yang lain untuk ikut datang menghibur Nina di rumahnya.
***************
"Hai, kalian udah datang," sapa mama Nina melihat Dian dan kawan-kawan Nina datang.
"Maaf kami gak sempat ke rumah sakit Tante, Dian ngajar les." kata Dian.
"Nggak apa-apa Tante ngerti kog, sekarang temanin Nina ya Tante ada meeting biar Nina nggak sendirian."
"Hai Nina...!!!" Ratih mencoba menyapa Nina.
Nina menoleh kearah suara, dia kegetmelihat ketiga temannya sudah datang Nina bangun dan duduk di sofa.
"Kog kalian gak bilang mau kesini?" suara Nina lemah.
"Nggak boleh kami datang kesini?" kata Eka.
"Kami rindu, karna beberapa hari ini sobat bawel kami hilang dari kampus," saut Dian.
Nina tersenyum ketiga temannya inilah yang bisa membuat Nina tersenyum dan sedikit melupakan beban dihatinya.
"Jadi, kalian bolos juga hari ini?" tanya Nina.
"Pokoknya kalau ketua geng kita gak masuk kami akan bolos juga, kalau ada apa-apa ketua yang tanggung jawab," ucap Ratih.
"Hah sejak kapan aku jadi ketua geng, perasaan gak ada ketua di geng kita deh!" balas Nina.
Ratih, Eka dan Dian saling tatap, mereka sudah berhasil membuat Nina berbicara lagi, merekapun tertawa senang.
__ADS_1
"Nah gitu dong..., kami jadi senang kalau kebawelanmu sudah kembali lagi," kata Dian.
"Trimakasih udah bikin aku kesel lagi!" Nina mulai sewot.
"Eh by the way bibik masak apa hari ini, kami lapar?" Eka celingukan ke meja makan.
"Coba lihat aja, kalau nggak ada minta bibik buatin apa gitu," ucap Nina.
Eka bergegas ke dapur, teman-teman Nina sudah terbiasa masuk ke dapur kalau berkunjung ke rumah Nina sudah seperti di rumah sendiri.
"Biikkk!" panggil Eka.
"Iya Non?" bibik yang berada di belakang langsung datang ke dapur.
"Bibik masak apa hari ini?" tanya Eka.
"Bibik gak masak Non, tadi ibu makan di luar bapak juga gak ada. Non mau makan, bihun goreng mau biar bibi buatin?"
"Boleh Bik, makasih ya Bik formasi lengkap ya Bik." ucap Eka artinya masak yang banyak karna semua teman Nina datang.
Eka membuka kulkas dan membuat sirup dingin untuk di minum bersama yang lain. Dia kembali ke ruang keluarga membawa minuman untuk teman-temannya.
"Bibik bikin bihun goren, nih kubuatin minuman biar seger. Nin putar dulu drakornya, biar mata seger lihat Lee min ho,"
"Lee min ho dan bosen gue ganti yang lain aja," Nina mengambil remote tvnya dan mencari chanel khusus tv korea.
"Gak ada yang dikunyah ini Ka?" tanya Ratih.
"Nah itu!" Eka nunjuk minuman sirup di meja.
"Ini mah air doang Ka, kagak ada gitu di kulkas yang bisa dikunyah?" tanya Ratih lagi.
"Yee udah syukur ku buatin minum lo, bawel juga lo!"
"Udah-udah bising aja kalian, gue keluar bentar nyari kunyahan."
Dian mengambil kunci motor dan pergi keluar mencari makanan ringan. Bibik udah menyiapkan bihun goreng di meja makan, aromanya tercium sampai ke ruang keluarga yang jaraknya tidak jauh dari ruang makan.
"Non bihun gorengnya udah siap," bibik datang untuk memberitahu Nina dan kawan-kawannya.
"Trimakasih Bik," ucap Nina.
Dian sudah datang dengan sekantung kresek jajanan, setelah Dian datang mereka bersama-sama menikmati bihun goreng buatan bibik. Dan lanjut menonton drama korea di tv.
__ADS_1
******************