
Saat berusia memasuki sekolah mengengah atas, seorang gadis cantik bernama Zahra Tusyitta memutuskan untuk sekolah mondok di salah satu pesantren ternama yang ada di daerah Bandung tempat kelahiran orang tuanya sebelum merantau ke Jakarta.
Setelah mondok di pesantren tersebut, hari-hari Zahra lalui dengan penuh suka cita, gadis itu berharap bisa menimba ilmu agama yang lebih baik lagi. Dan saat memasuki kelas 12 , Zahra mengikut lomba cerdas cermat lawannya yaitu para santri dari pondok pesantren yang sama namun berbeda gedung, karena di pondok pesantren itu santri dan santriwati terpisah, bahkan memerlukan waktu 20 menit saat dari pondok santri ke pondok santriwati. Saat itu lomba di adakan di pondok santri, dan Zahra pun bersama beberapa temanannya yang mengikuti lomba tanding cerdas cermat melawan para santri.
Saat para santriwati tiba di latar pesantren satri putra, kedatangan Zahra dengan para teman-temannya menjadi pusat perhatian santri putra yang Zahra dan temannya lalui. Sampai di dekat aula tempat cerdas cermat itu dilakukan, ada seorang santri yang tampan rupawan yang memperhatikan Zahra dari jauh sambil memegangi dadanya yang berdebar hebat.
Setelah itu tidak beberapa lama para santri yang ikut lomba dan para suporternya telah menempati tempat yang telah disediakan oleh panitia. Dan disaat lomba itu pula tanpa sengaja tatapan mata Zahra berpapasan dengan tatapan mata pria itu yang tidak lain adalah pria yang bernama Zhafran Al-giffary, saat itu pula Zahra terpesona dengan senyum yang Zhafran berikan kepada Zahra, namun setelah tersadar Zahra langsung menundukan pandangannya dengan pipi yang sudah merona. Hal itu membuat Zhafran juga menundukan pandangannya dan tersenyum melihat tingkah Zahra.
Setelah acara cerdas dilakukan beberapa hari dan dilakukan selama beberapa kali selama Zahra dan Zhafran duduk di bangku kelas 12, membuat mereka sering berpapasan dan selalu membuat jantung mereka berdebar dengan kencang. Hingga saat kelulusan pesantren Zhafran akan melanjutkan kuliahnya di Turki sedangkan Zahra akan kuliah di Jakarta. Sebelum Zhafran berangkat ke Turki, Zhafran memohon kepada orang tuanya untuk mengkhitbah Zahra, awalnya orang tua Zhafran terkejut bagaimana Zhafran bisa meminta mengkhitbah seorang wanita, dan apa selama ini Zhafran di pesantren tetap pacaran, namun ternyata setelah mengetahui cerita Zhafran yang awal mula bertemu dengan Zahra sampai Zhafran akhirnya memutuskan untuk mengkhitbah Zahra dan akan menikahinya setelah usia 23 tahun.
Selanjutnya setelah orang tua Zhafran mengiyakan keputusan Zhafran, setelah seminggu kelulusan dari pondok pesantren, Zhafran beserta keluarganya bertamu ke rumah orang tua Zahra.
Saat Zahra membukakan pintu rumahnya karena mendengar suara ketukan pintu yang menandakan bahwa ada tamu, maka Zahra menbukakan pintu itu lebar-lebar, dan alangkah terkejutnya Zahra ketika melihat wajah Zhafran yang terakhir kali Zahra liat saat waktu wisuda di pondok pesantrennya. Zhafran pun tersenyum saat melihat wajah keterkejutan yang Zahra perlihatkan. Dan orang tua Zhafran pun saat melihat wajah Zahra langsung mengetahui kenapa Zhafran bisa menyukai Zahra dengan mudah, karena wajah Zahra sangat cantik, dengan tatapan mata yang penuh kelembutan serta senyum yang menawan. Orang tua Zhafran pun memulai bicara kepada Zahra yang masih dalam posisi terkejut.
__ADS_1
"assalmmualaikum nak, boleh saya bertemu dengan orang tua kamu?". ucap abah Zhafran yang bernama abah Umar
"eh iya, maaf, waalaikum salam, iya abi saya ada di dalam silakan masuk terlebih dahulu pak,bu, nanti Zahra panggilkan abi". ucap Zahra gugup
setelah Zhafran dan keluarganya duduk di ruang tamu, Zahra pun menyuruh mereka menunggu sebentar karena Zahra akan memanggilkan keluarganya. Setelah Zahra memanggil orang tuanya serta kedua adiknya, bahwa di ruang tamu sedang ada tamu yang menunggu, Zahra tidak langsung mengikuti keluarganya ke ruang tamu melaikan Zahra membuatkan minuman terlebih dahulu untuk para tamunya. Setelah minuman yang Zahra buat sudah jadi, Zahra langsung menuju ruang tamu dengan membawa minuman dan beberapa cemilan.
"silakan diminum dan dinikmati kuenya, maaf ya pak,bu ,hanya seadanya, karena saya tidak tau kalau akan ada tamu". ucap abi Fajri
"oh ya, saya Fajri, ini istri saya Hana dan kami alhamdulillah diberikan tiga putra dan putri, anak pertama saya namanya Zahra, dan yang kedua namanya Qais sedangkan yang bungsu itu namanya Almeer. Kalau boleh tau ada niatan apa ya pak, yang membawa bapak dan keluarga ke rumah saya, karena kita sepertinya belum pernah bertemu sebelumnya". ucap abi Fajri
" ya mohon maaf kalau niatan saya kesini yang sesungguhnya nanti akan membuat bapak dan keluarga terkejut. Saya selaku orang tua dari Zhafran Al-giffary diminta tolong oleh anak saya Zhafran untuk mengkhitbah putri cantik bapak dan ibu yang bernama Zahra Tusyitta. Namun bila khitbah yang dilakukan Zhafran terhadap nak Zahra di terima oleh nak Zahra, Zhafran meminta untuk menikahinya diumur 23tahun, karena Zhafran akan kuliah terlebih dahulu di Turki dan berniat setelah lulus kuliah Zhafran ingin bekerja dulu selama satu tahun di Turki untuk mengumpulkan uang buat menikahkan Zahra dan akan kembali lagi ke Indonesia untuk menikahi Zahra, itupun kalau khitbah ini di terima oleh nak Zahra dan setuju dengan menikah di usia 23 tahun, itulah niat keluarga kami pak,bu mengapa kami datang kesini". penjelasan dari abah Umar
" masyaa alloh kami tidak menyangka bahwa baru beberapa hari anak kami ini lulus dari pondok, eh sekarang sudah ada yang melamar, tapi saya selaku orang tua tidak bisa mengambil keputusan , biar Zahra saja yang mengambil keputusan, gimana nak jawaban kamu?". tanya abi Fajri kepada Zahra yang sedang sibuk memainkan ujung hijabnya pertanda bahwa Zahra sedang gugup
__ADS_1
" em sebelumnya saya mau tanya kenapa memilih saya untuk wanita yang akan kamu khitbah?". tanya Zahra dengan menatap Zhafran lalu menunduk kembali
Dengan membaca bismillah didalam hati dan menarik nafas yang panjang Zhafran langsung menjelaskan kepada Zahra.
" Sebelumnya saya mohon maaf karna jujur saat pertama kali melihat wajah kamu yang cantik dan penuh aura kelembutan, dari sana saya menyukai Zahra, namun saat beberapa kali melihat Zahra dan secara tidak langsung mengenal Zahra saat beberapa kali kita bertemu saat lomba cerdas cermat, dan hati saya sudah mulai berdebar. Jadi, saya tidak mau jatuh cinta kepada Zahra malah menjadikan dosa, oleh karena itu ijinkan saya yang belum punya apa-apa ini untuk mengkhitbah neng Zahra Tusyitta, dan saya berjanji kelak akan selalu berusaha untuk membahagiakan neng Zahra . Apakah neng Zahra bersedia menjadi pendamping hidup saya? jika bersedia untuk saya khitbah maka terima lah Kalung ini yang harganya tidak seberapa tapi itu murni dari uang yang saya kumpulkan sendiri". ucap Zhafran sambil meletakan kotak kalung emas berinisial ZZ (ZHAFRAN & ZAHRA)
"bismillahirrahmanirrahim, saya insyaa alloh bersedia menerima khitbah dari Aa' , dan bersedia menunggu Aa' sampai nanti Aa' menghalalkan Zahra". jawab Zahra dan membuat semua orang ngengucapkan alhamdulillah.
"ya sudah proses khitbahnya kan telah selasai bagaimana kalau selanjutnya kita semua makan bersama". ajak abi Fajri kepada keluarga Zhafran
" iya ayo mari pak, bu, nak Zhafran, nak Zahwa kita makan siang dulu abis itu kita sholat dzuhur berjamaah". ajak umma Hana
Dan sekarang semua sedang berjalan ke arah meja makan, untuk makan siang bersama. Dan Zhafran memberi tahu kan bahwa seminggu lagi dia akan pergi ke Turki.
__ADS_1