Hai, Pak Dokter!!!

Hai, Pak Dokter!!!
tak bernafas


__ADS_3

Saat ini ruang tindakan, terasa sangat dingin dan mencekam bagi seorang dokter Qais, padahal ia biasa menangani persalinan di ruangan tersebut tanpa rasa yang sangat sulit dokter Qais utarakan saat ini.


Dokter yang lain menyarankan bahwa biar dokter Aqila saja yang menangani Lea sedangkan dokter Qais hanya dipersilakan mendampingi Lea yang saat ini tengah tak sadarkan diri.


"dokter Aqila, saya mohon selamatkan istri dan anak-anak saya, lakukan yang terbaik dok". mohon dokter Qais mengiba kepada dokter Aqila dan beberapa dokter spesialis lainnya yang ikut menangani kondisi Lea dan ketiga anak kembarnya.


Dokter yang lain hanya mampu menganggukan kepalanya, mereka akan berusaha yang terbaik untuk Lea dan anak-anaknya.


Proses pembedahan perut Lea berjalan dengan baik, dan dokter Aqila berhasil mengeluarkan bayi yang pertama berjenis kelamin laki-laki dan dokter Aqila langsung menyerahkan kepada dokter spesialis anak untuk menangani kondisi bayi yang terlihat agak lemah karena tangisannya tidak menggelegar seperti bayi yang lainnya dan dokter Aqila sudah memprediksi bahwa kemungkinan memang ketiga anak dokter Qais dalam kondisi lemah karena sebelum dilakukan tindakan dokter Aqila sudah mengecek terlebih dahulu bahwa pergerakan dan denyut nadi ketiga bayi itu memang lemah.


Dokter Aqila melanjutkan lagi usahanya untuk mengeluarkan bayi yang kedua, dan bayi yang kedua pun akhirnya berhasil dikeluarkan kali ini ternyata bayi yang kedua menangis lebih kencang dibanding saudara kembarnya yang pertama, dan dokter Aqila kembali memberikan bayi itu kepada rekan kerjanya.


Saat ini dokter Aqila sedang berusaha mengeluarkan bayi yang ketiga namun dokter Aqila dibuat panik oleh bayi tersebut, karena bayi yang ketiga ini tidak menangis sama sekali, dengan berbagai cara dokter Aqila berusaha membuat sang bayi menangis dan yang dilakukan dokter Aqila membuat dokter Qais menjadi tambah khawatir dan panik karena dokter Qais pun paham pasti anaknya tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup saat proses persalinan ini karena terjadinya penyumbatan saluran pernafasan.


Dokter Aqila menyerahkan anak ketiga dokter Qais itu kepada rekannya karena tiba-tiba kondisi Lea ngedrop karena kekurangan darah akibat pendarahan yang dialami Lea.

__ADS_1


Beruntungnya karena stok darah yang sesuai dengan golongan darah Lea, masih tersedia di rumah sakit ini.


Dokter Qais yang bingung memilih antara membantu menangani Lea istrinya atau menangani bayi itu yang tak lain adalah anaknya.


Dokter Aqila yang paham melihat kegusaran dokter Qais menyarankan dokter Qais untuk membantu menangani anaknya saja.


Dengan langkah cepat dan hati gundah gulana, dokter Qais akhirnya menghampiri putri kecilnya yang masih dalam kondisi tidak menangis dan masih dalam penanganan rekan kerjanya.


"dok, izinkan saya yang menanganinya".izin dokter Qais kepada rekannya dan disetujui oleh rekannya tersebut.


"de, ayah mohon bertahanlah buat ayah dan ibun, kami mohon nak". lirih dokter Qais ditelinga sang anak berharap akan ada keajaiban sang anak mendengar permohonannya.


Karena jika terjadi sesuatu terhadap anaknya maka dokter Qais akan sangat sedih dan tak sanggup bagaimana membayangkan tanggapan Lea saat tau jika anaknya tak selamat.


Dokter Qais terus berusaha untuk membuat anaknya menangis dan akhirnya usaha dokter Qais membuahkan hasil, walaupun tangisan yang sangat pelan yang keluar dari mulut sang anak tapi dokter Qais sangat bersyukur.

__ADS_1


Dan dengan segera sang putri ketiganya itu langsung dibawa keruangan NICU oleh para rekan kerjanya agar sang anak dapat penanganan lebih lanjut.


Begitu juga kedua bayi laki-lakinya yang harus masuk kedalam ruang inkubator terlebih dahulu karena terlahir dalam kondisi prematur dan hal tersebut membuat dokter Qais sedikit tenang kini dokter Qais bisa fokus kembali ke kondisi sang istri yang telah melewati masa kritis saat tadi sempat ngedrop karena kekurangan darah namun kini sudah kembali stabil walau masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius.


Setelah segala sesuatu selesai mengenai tindakan operasi persalinan Lea, dan beberapa jam melihat kondisi Lea yang tetap stabil, dokter akhirnya memutuskan untuk membawa Lea ke ruang perawatan.


Dokter Qais tak menjauh dari Lea sedikit pun sampai di dalam ruang perawatan, bahkan kini di ruang perawatan sudah ada seluruh keluarga Lea dan dokter Qais.


"bunda tenang ya, jangan nangis terus, Lea kan sudah melewati masa kritisnya sekarang kita berdoa semoga Lea cepat sadar ya". hibur ayah Amar berusaha tegar


"iya yah, bunda akan coba kuat asalkan ayah bisa hukum ibu-ibu itu yang telah mencelakakan Lea sampai seperti ini". kesal bunda Hawa


"iya bunda nggak usah khawatir, kan Adnan dan Almeer sedang mengurus ini di kantor polisi jadi sekarang bunda sabar ya, dan inget bunda nggak boleh kesal sama Firman dan Fahira ya hanya karena ibu kandung mereka mencelakai Lea sehingga kondisi Lea seperti saat ini". ucap ayah Amar yang tak sadar bahwa saat ini ada Firman dan Fahira yang baru saja tiba di depan ruangan itu setelah dijemput oleh dokter Harun dan dokter Harun terpaksa mengajak mereka ke rumah sakit karena Fahira merengek mau liat kondisi Lea.


Sedangkan saat ini Firman yang mendengar ucapan itu, bahwa ibu kandungnya lah yang telah membuat ibu angkatnya sampai masuk rumah sakit, tiba-tiba langsung menundukkan kepalanya menahan tangis, kenapa ibu kandungnya harus kembali menampakan diri dan bahkan sampai membuat ibun Lea terluka, apa salahnya ibun Lea yang bahkan dengan penuh kasih sayang telah merawatnya selama beberapa bulan ini, sedangkan ibunya itu telah terang-terangan memilih meninggalkan ia dan sang adik demi pria lain, dan itu lah yang saat ini tengah ada dibenak Firman, sedangkan Fahira memang belum mengerti apa-apa hanya cuek saja, Fahira hanya sedih sewajarnya, sedih dimana ibunnya harus masuk rumah sakit karena sakit. Sedangkan, dokter Harun langsung mengelus kepala dan pundak Firman untuk menenangkan Firman yang saat ini tengah kecewa dengan ibu kandungannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2