
Bagi seorang anak, sosok seorang ibu itu merupakan malaikat tak bersayap karena rela mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan anaknya itu dan rela membesarkan anaknya tanpa rasa lelah.
Namun, bagi seorang anak seperti Firman dia menganggap ibunya hanya sebagai wanita yang memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan kebahagian dan keadaan anak kandungnya sendiri.
Bahkan, rasa sayang Firman kepada ibunya sudah hilang hanya tinggal rasa hormat saja, karena bagaimana pun bu Dewi lah yang mengandung dan melahirkan Firman dan Fahira.
Bagaimana Firman mau sayang kepada ibunya? jika sosok ibunya itu merupakan wanita yang egois hanya memikirkan dirinya sendiri dan hanya peduli dengan anak dari suaminya yang baru.
Sedangkan, bu Dewi tidak peduli kepada Firman dan Fahira yang mana, kedua anak itu juga merupakan darah dagingnya dengan suami yang terdahulu.
Bu Dewi hanya mementingkan anaknya yang baru, apapun caranya bu Dewi akan berusaha membuat kondisi anaknya itu sembuh walaupun harus mengorbankan anak-anaknya dari suami terdahulu yang tak lain yaitu Firman dan Fahira.
Bu Dewi tak peduli Firman dan Fahira hidup atau tidak setelah dikorbankan untuk menolong saudara tiri mereka itu.
Bu Dewi tidak mau kehilangan anak dari suami yang baru karena anaknya itu dia jadikan pengikat yang kuat untuk dia dan suami barunya. Karena bu Dewi sudah dipastikan tak dapat mengandung kembali setelah melahirkan anaknya yang ketiga itu karena ada masalah di rahim bu Dewi.
Rasa takut akan kemiskinan membuat bu Dewi gelap mata rela melakukan apapun untuk menyelamatkan anaknya itu agar ia dan suami barunya akan selalu terikat dalam pernikahan dan suaminya tak akan berpaling ke lain hati.
Namun, keserakahan itu membuat ia akan kehilangan segalanya terutama akan kehilangan rasa sayang dari seorang anak seperti Firman dan Fahira.
Kini, Firman sudah cukup tenang setelah puasa menangis dipelukan dokter Harun. Firman sungguh kecewa dengan ibu kandungnya sendiri.
Ibu kandung yang begitu kejam, sedangkan ibun Lea yang tak memiliki ikatan darah dengan Firman dan Fahira, Ibun Lea begitu melindungi dan menyayangi Firman dan Fahira setulus hati.
__ADS_1
Rasa sayang Firman tambah besar untuk Lea, sosok ibu angkat yang begitu teguh dalam mempertahankan Firman dan Fahira agar tak kan ada yang membawa Firman dan Fahira yang hanya dijadikan sebagai korban untuk menyelamatkan nyawa yang lain.
Bahkan, demi mempertahankan Firman dan Fahira agar tak di bawa pergi oleh ibu kandung mereka, Lea sampai harus rela dicelakai oleh bu Dewi dan harus melahirkan di saat belum waktunya.
"sudah tenang kan, bang?". tanya dokter Harun memastikan kondisi Firman sambil mengelus puncak kepala Firman penuh kasih sayang.
"sudah, ayah Harun". jawab Firman sambil berusaha tersenyum
"kalau sudah ayo kita liat kondisi ibun Lea, kamu harus kuat buat bantuin ayah Qais ngerawat ibun Lea dan adik-adik kamu yang lain". jelas dokter Harun.
"iya, ayah Harun". saut Firman kembali
"kakak Fafa, mau liat ade bayi tidak? kalau mau liat ayo kita ke sana tapi ingat ya sekarang kakak Fafa kan sudah besar dan adik-adiknya udah lahir jadi kakak Fafa harus sayang ya sama adik-adiknya". dokter Harun memberikan pengertian kepada Fahira, karena memang Fahira masih seperti anak-anak sesuai usianya yang masih polos dan kurang mengerti masalah orang dewasa sedangkan Firman dia sudah bersikap dewasa melebihi anak-anak diusianya.
"tapi adiknya masih kecil Fafa jadi belum bisa Fafa ajak main". timpal Firman memberikan pengertian kepada adik kandungnya itu
"yah, belum bisa main bareng ya". kecewa Fahira
"untuk sekarang belum bisa tapi nanti lama-lama mereka jadi besar dan bisa main bareng abang Firman dan kakak Fafa kok". ucap dokter Harun agar Fahira tidak kecewa lagi.
Setelah adegan Firman sedih karena kelakuan ibu kandungnya dan Fahira yang sempat kecewa karena tak bisa langsung mengajak adik-adiknya bermain bersama akhirnya mereka bertiga sekarang berjalan menuju ke ruangan rawat Lea berada.
Sampai di depan pintu ruangan rawat tersebut, Firman mencoba kembali menguatkan dirinya agar tak menangis melihat kondisi Lea, karena jika Firman menangis maka akan membuat dokter Qais ikut bersedih, sedangkan Firman ingin menjadi anak yang kuat, anaknya ikut menguatkan dokter Qais agar kuat menghadapi semua ini sama-sama.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"assalammualaikum". ucap serempak mereka bertiga saat memasuki ruang rawat Lea
"waalaikumsalam". jawab mereka yang berada di dalam ruangan itu.
"loh anak-anak kok dibawa kesini sih, Run?". tanya umma Hana saat dokter Harun, Firman dan Fahira menyalimi takzim mereka yang berada di dalam ruangan itu satu persatu.
"iya umma, tadi Fahira merengek minta kesini, jadi aku bawa kesini deh". jelas dokter Harun
"ayah, kok ibun bobo sih? kan aku kangen mau becanda sama ibun". ucap polos Fahira
"ibunnya sedang lelah sayang karena abis melahirkan adik-adik bayi, jadi sekarang sedang istirahat". ucap dokter Qais sambil tersenyum tulus dan Fahira hanya menganggukan kepalanya tanda dia paham
"ibun maaf karena kami ibun jadi seperti ini, dan makasih udah sayang sama abang dan Fafa, abang sayang sekali sama ibun, cepat sadar ya ibun". lirih Firman ditelinga Lea yang masih tak sadarkan diri, lalu Firman mencium pipi Lea dengan penuh kasih sayang dan ternyata Lea meresponnya dengan jari yang berada digenggaman dokter Qais bergerak.
"masyaa alloh sayang, kamu sudah ada kemajuan ya, cepat sadar sayang disini aku dan yang lain menunggu kamu, ayo berjuang untuk kembali ke kami". ucap dokter Qais sambil mengecup punggung tangan Lea.
Mendengar ucapan dokter Qais membuat semua orang yang berada di ruangan itu ikut senang akan kondisi Lea yang mulai merespon.
__ADS_1