
Waktu terus berganti saat ini di kediaman keluarga abi Fajri saat ini sedang mengadakan acara syukuran empat bulanan kehamilan teh Zahra. Banyak tamu yang hadir mulai dari tetangga, beberapa rekan kerja dan saudara-saudara dari pihak teh Zahra atau dokter Harun.
Pengajian berjalan dengan lancar dan khitmad, dan setelah pengajian telah usai para tamu satu persatu berpamitan dan tak lupa para tamu yang datang silih berganti mengucapkan selamat dan do'a kepada teh Zahra dan dokter Harun atas kehamilan dan mendo'akan agar nanti diberi kelancaran saat lahiran.
"selamat ya mba Zahra dan pak dokter, semoga kehamilan dan persalinan mba Zahra diberikan kelancaran ya".
"ya semoga anaknya nanti lahir dengan selamat,udah nggak sabar pengen liat anak kalian pasti bakal cantik atau tampan seperti orang tuanya".
"pak dokter beruntung ya bisa punya istri cantik dan bisa langsung ngasih keturunan lagi'.
"he'eh jeng, beruntung banget y pak dokter Harun, nggak kaya dokter Qais dapat istri yang belum bisa ngasih keturunan".
"iya betul tuh, istrinya dokter Qais nggak subur kaya mba Zahra, atau emang jangan-jangan istri dokter Qais mandul kali".
Itulah ucapan-ucapan dari beberapa para tamu undangan yang mengucapkan selamat kepada teh Zahra namun sekaligus menyindir Lea yang posisinya tidak jauh dari teh Zahra dan dokter Harun.
Saat itu pula datang suster Kiara yang mulai mengompori kembali ibu-ibu itu agar lebih menyindir Lea.
"iya ibu-ibu, saya juga sebagai rekan kerjanya dokter Qais, meresa kasian kepada dokter Qais harusnya dia mendapatkan istri yang sehat kandungannya agar bisa memiliki keturunan dengan cepat, dan kalau memang istrinya mandul harusnya mengijinkan dokter Qais buat nikah lagi agar cepat memiliki keturunan. Pasti diluar sana banyak yang menginginkan jadi istrinya dokter Qais walaupun cuma istri kedua". ketus suster Kiara
"iya ya mba, saya juga pengen banget anak perempuan saya nikah sama dokter Qais, nggak apa-apa deh jadi istri kedua, toh walaupun nanti jadi yang kedua tapi bisa hamil pasti jadi yang paling disayang".timpal ibu-ibu mendengar ucapan suster Kiara
__ADS_1
"iya masa mba Lea malah angkat anak sih, bukan usaha supaya cepat hamil".
"betul tuh, lagian anak yang diangkatnya belum tentu dari keturunan yang baik-baik".
"duh kasian bener dah ah nasib dokter Qais"
"hah emang enak, disindir sama ibu-ibu, makanya jangan suka ngerebut apa yang seorang Kiara miliki, aku bakal bikin kamu nggak betah jadi istri dokter Qais dan akhirnya pisah sama dokter Qais biar nanti aku yang gantiin posisi kamu". batin suster Kiara
"maaf ibu-ibu dari pada ibu-ibu menjelekan adik ipar saya, lebih baik ibu-ibu silakan pulang dan beristirahat di rumah masing-masing ya, sekali lagi terima kasih atas kehadirannya dan do'a nya untuk istri dan calon anak kami". usir dokter Harun secara halus
Lalu ibu-ibu itu pamit untuk pulang ke rumah masing-masing. Saat suster Kiara mau ikut pamit namun terhenti saat dokter Harun menegurnya.
"maaf ya suster Kiara, sungguh saya sangat kecewa dengan suster Kiara kenapa anda malah membuat suasana tambah panas dengan ucapan anda, memiliki anak atau belum itu ya kehendak yang Maha Kuasa, kita sebagai manusia tidak bisa menolak takdir kita, kita hanya mampu berusaha dan berdoa jadi saya harap kamu tidak berbicara yang aneh-aneh lagi ya tentang Lea, kalau sampai saya dengar seperti ini lagi, maka saya tidak akan toleransi lagi ke anda, jangan pernah usik kehidupan rumah tangga adik ipar saya, MENGERTI". tegas dokter Harun
Ada hati yang ikut teriris melihat ibu angkatnya menangis, siapa lagi kalau bukan Firman, anak itu juga merasakan kesedihan ibu angkatnya itu, sosok ibu angkat yang benar-benar seperti ibu kandung sendiri, yang selama beberapa bulan mengurus dan memberikan kasih sayang kepada Firman beserta Fahira.
Firman melihat dan mendengar secara langsung bagaimana ibu-ibu itu menyindir Lea yang belum kunjung hamil, walaupun Firman masih usia enam tahun, namun Firman mengerti bahwa ucapan ibu-ibu itu tidak pantas untuk diucapkan dan yang akhirnya akan membuat hati orang lain terluka, Firman masih saja terus memperhatikan Lea dari balik pohon yang ada tidak jauh dari posisi Lea saat ini.
Saat Firman melihat Lea mulai tenang dan mencoba untuk tegar kembali, Firman langsung menghampiri Lea.
"ibun". panggil Firman dengan suara lembut
__ADS_1
Lea pun kaget karena mendengar suara anaknya memanggil, Lea berusaha untuk tersenyum manis kepada Firman.
" hai sayang, kok kamu kemari?ada apa abang ?". ucap Lea sambil menyuruh Firman duduk disampingnya.
"abang, nyariin ibun tau, abang kan nggak mau jauh dari ibun, eh ternyata ibun ada disini". ucap Firman dengan pura-pura cemberut.
Wajah cemberut Firman membuat Lea terkikik karena anak gantengnya yang satu ini memang tidak bisa jauh dari Lea, sedangkan Fahira tidak bisa jauh dari dokter Qais.
"maaf sayang, tadi ibun cuma pengen cari angin saja jadi ibun kesini deh, ayo kita masuk nak, kamu mau makan tidak kan banyak kue tuh didalam". ajak Lea sambil berdiri
Namun, saat Lea mulai melangkah tiba-tiba Firman menggenggam tangan Lea dan Lea langsung melihat kearah Firman.
"kenapa abang?". tanya Lea
Tapi Firman masih saja diam, dan menatap Lea sebentar lalu menunduk kembali. Dan setelah menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Firman mulai mengucapkan sesuatu yang tak pernah ia ungkapkan kepada Lea sebelumnya.
"abang, sayang sama ibun dan ayah, terus bahagia ya jangan sedih, abang nggak suka liat ibun sedih". lirih Firman sambil menunduk
"ibun juga sayang banget sama kalian, jadi anak baik ya nak, jadi semangat buat ibun terus ya". ucap Lea sambil memeluk Firman
Setelah mereka berpelukan, lalu Lea menuntun Firman untuk masuk kembali ke dalam rumah agar bisa berkumpul dengan keluarga yang lain.
__ADS_1
Dengan menunjukan senyum manis tanpa beban Lea terus berjalan untuk menemui keluarganya. Lea tidak mau terlihat lemah dimata keluarganya, apalagi saat ini ada ayah Amar, bunda Hawa, kak Salwa dan abang Adnan yang turut diundang oleh dokter Harun dan teh Zahra.
Jadi, Lea tidak ingin keluarganya mengetahui bahwa tetangga disini suka menyindir Lea yang belum kunjung hamil, Lea tak mau ayah dan bundanya ikutan sedih karena anaknya disakiti orang lain. Dan untung saja saat tadi ibu-ibu menyindir Lea, keluarga Lea tidak ada disana karena mereka sedang sibuk berkumpul di dalam bersama keluarga abi Fajri.