
Mendengar pertanyaan dokter Harun yang meminta teh Zahra menjadi istri dari seorang dokter muda nan tampan membuat teh Zahra membalikan badannya dan menatap kearah dokter Harun sambil menelisik wajah dokter Harun apa ada kebohongan atau memang suatu kejujuran.
Namun, setelah melihat bahwa hanya ada kejujuran dari setiap kata yang dokter Harun ucapkan, membuat teh Zahra menangis kembali.
Hal itu membuat dokter Harun bingung, apa teh Zahra menolaknya kembali tapi kenapa pakai menangis.
" dek, kamu kenapa? kalau memang nggak bisa nerima lamaran aku, nggak apa-apa kok tapi jangan nangis ya , Aa' nggak kuat liat kamu nangis kaya gini, maaf kalau Aa' ada salah". ucap dokter Harun
Tapi teh Zahra masih saja menangis, sehingga membuat dokter Harun bingung dan dia memutuskan sesuatu yang akan sangat sulit buatnya.
"ya sudah kalau kamu memang tidak menyukai keberadaan Aa' didekat kamu, nanti setelah kamu pulang dari rumah sakit kamu tidak akan lagi terganggu oleh keberadaan Aa', jadi untuk saat ini ijinin Aa' untuk menemani kamu sampai sembuh ya" ucap dokter Harun lalu menundukan wajahnya setelah mengucapkan hal itu.
"hiks, hiks, hiks, bu kan i tu mak sud a ku". ucap teh Zahra sambil sesegukan.
Dan dokter Harun memberanikan diri untuk mengelus kepala teh Zahra yang tertutup hijab.
"aku mencintai Aa' tapi aku nggak enak kalau Aa' bikin Nyai kecewa karena menolak dijodohkan". ucap teh Zahra sambil memejamkan matanya
"Nyai nggak akan kecewa kok dek, karena selama ini Nyai hanya ingin melihat aku menikah, dan aku cuma mau nikah sama kamu, hanya kamu yang mampu membuat hati aku berdebar. sekali lagi aku tanya sama kamu Zahra Tusyitta binti Fajri Hizbullah mau tidak kamu menjadi istriku? melewati suka duka bersama, menjadi pelabuhan hatiku, menjadi ibu dari anak-anakku kelak?" tanya dokter Harun dan diangguki oleh teh Zahra
Air mata kebahagian mengalir dikedua mata mereka, penantian yang selama bertahun-tahun akhirnya terbalas juga.
"besok kita menikah ya dek, ijinkan aku untuk merawat kamu, gimana mau nggak?".ucap dokter Harun
"tapi kan abi dan umma belum tau, kamu juga belum kabari abah dan umi kan?". ucap teh Zahra
"ya sudah Aa' akan kabari abah dan umi, terus Aa' mau telepon Qais dulu ya buat ngasih tau ke abi dan umma kamu, Aa' juga mau ngabarin ustad Zein dulu dan ngurus berkas pernikahan kita ya, kita akan menikah dirumah sakit, nggak apa-apa kan? nanti kalo kamu sudah sembuh baru kita ada kan resepsi sesuai keinginan kamu".ucap dokter Harun
__ADS_1
"iya A' , aku ikut saja dengan keputusan Aa' ". ucap teh Zahra sambil tersenyum
Akhirnya dokter Harun menghubungi dokter Qais memberitahu bahwa geh Zahra sedang dirawat di rumah sakit tidak terlalu jauh dari pondok pesantren dan memberitahu dokter Qais untuk menghubungi abi dan umma untuk datang ke Bandung membawa semua persyaratan untuk pernikahan dokter Harun dengan teh Zahra.
Sungguh sangat terkejut dokter Qais mendengar teh Zahra kecelakaan dan lebih terkejut bahwa dokter Harun dan teh Zahra akan menikah besok di rumah sakit.
Tak lupa dokter Harun juga memberitahu kepada abah, umi dan Zahwa dan tanggapan mereka sama semua, mereka terkejut bahwa dokter Qais akan menikah dengan teh Zahra. Dan keluarga abah Umar memutus kan untuk datang langsung ke rumah sakit menanyakan semua ini secara langsung.
Keluarga abi Fajri pun tak kalah terkejut setelah di kabari oleh dokter Qais, akhirnya mereka memutuskan langsung ke Bandung dan membawa segala persyaratan pernikahan serta umma Hana membawa kebaya pengantin untuk teh Zahra besok kenakan saat akad nikah.
Ditempat lain setelah dokter Harun mengabari dokter Qais tentang teh Zahra kecelakaan. dokter Qais dan Lea memutuskan menyudahi acara jalan-jalannya dan akan melihat keadaan teh Zahra di rumah sakit.
Ketika mobil yang dikendarai oleh dokter Qais sudah sampai di rumah sakit, lalu dokter Qais dan Lea berjalan menuju ruang rawat teh Zahra yang sudah diberitahukan oleh dokter Harun.
Saat sampai didepan pintu ruang rawat teh Zahra.
tok tok tok
"waalaikumsalam, sudah sampai Is, sini duduk dulu kalian, teteh kamu baru banget tidur habis minum obat soalnya tadi sempat demam". ucap dokter Harun
"ini gimana ceritanya sih A'? kok bisa kecelakaan dan besok nikah?" tanya dokter Qais
Dan dokter Harun menjelaskan secara detail apa yang terjadi.
"si teteh pake lari segala , alhamdulillahnya kecelakaannya nggak parah, ih kalo sampe kenapa-kenapa sama teh Zahra aku nggak bisa bayangin gimana sedihnya abi dan umma". ucap dokter Qais
"udah A' yang pentingkan teh Zahra baik-baik aja hanya luka kecil dan untuk A' Harun selamat ya akhirnya cinta kalian akan segera bersatu". ucap Lea sambil mengelus lengan dokter Qais
__ADS_1
"iya makasih ya Lea, aku juga nggak nyangka nih kalau semua ini adalah nyata, penantian yang panjang ini akan segera berakhir dan cinta aku akan berlabuh pada orang yang selama ini aku inginkan". ucap dokter Harun
"iya A' seneng sih boleh tapi kenapa ini harus nikah besok kenapa nggak nunggu teh Zahra sembuh dulu?". ucap dokter Qais
"karena Aa' ingin merawat Zahra secara langsung, jadi kalau sudah nikah tidak dosa kan kalau menyentuh dia". ucap dokter Harun
" iya sih, titip teh Zahra ya A' terus sayangi dia, cukup 3 tahun dia menangis karena kehilangan A' Zhafran, semoga kalian selalu bahagia". ucap dokter Qais.
" iya tenang Is, Aa' nggak bakal sia-siain kesempatan yang sudah datang kepada Aa' ini, bertahun-tahun Aa' mencintai teteh kamu, masa Aa' sia-siain sih". ucap dokter Harun
"ah pokoknya hari ini Aa' seneng banget deh, ayah bunda , besok Harun bakal nikah, nggak jomblo lagi, syik asyik"ucap dokter Harun
Dokter Qais dan Lea hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dokter Harun yang memang terlihat jelas aura kebahagiaannya.
Tidak lama kemudian keluarga ustad Zein dan keluarga abah Umar datang. Mereka dipersilakan masuk oleh dokter Harun.
Beruntung ruang rawat teh Zahra VIP jadi cukup menampung tamu yang ingin menjenguk teh Zahra.
"nak, maafin Nyai ya, karena niat Nyai yang mau jodohin kamu dengan wanita lain, malah membuat Zahra kecelakaan"ucap Nyai dengan wajah sedih
"nggak kok Nyai, ini bukan salah Nyai tapi ini takdir. Tapi kan dengan kejadian ini ada hikmahnya, aku jadi bisa nikah dengan Zahra, kan Nyai tau sendiri kalau aku sayang Zahra dari dulu, jadi dengan kejadian ini ya aku cuma ambil hikmahnya aja, jadi Nyai jangan nyalahin diri Nyai sendiri ya". ucap dokter Harun sambil mengelus pundak Nyai
Perkataan dokter Harun tanpa sadar membuat keluarga abah Umar terkejut dan hal itu dapat diketahui oleh ustad Zein sehingga ustad Zein mengajak keluarga abah Umar untuk berbincang di taman rumah sakit.
Setelah ustad Zein berserta Kyai menceritakan tentang dokter Harun yang sejak remaja sudah mencintai teh Zahra namun rela mengubur cintanya hanya untuk kebahagian A' Zhafran.
Mendengar hal itu, membuat abah Umar sungguh telah menjadi abah yang gagal bagi ponakannya itu karena ponakan sekaligus anak angkatnya itu rela berkorban segalanya untuk almarhum anak kandungnya.
__ADS_1
Bahkan Umi Nisa sudah menangis, dia merasa gagal menjadi umi yang baik karena ternyata dokter Harun tidak terbuka dengannya selama ini padahal umi berpikir bahwa dokter Harun selalu terbuka karena selalu menceritakan kegiatannya namun ternyata dokter Harun menyimpan rapat-rapat luka di hatinya.
Keluarga abah Umar berjanji akan lebih peduli lagi dengan dokter Harun, agar dokter Harun dapat menceritakan semua hal kepada keluarganya sendiri.