
Keesokan harinya dokter Qais menjemput Lea untuk mengajak Lea dan teh Zahra menuju Bandung, kebetulsn mereka sudah meminta cuti agar bisa ke Bandung. Sebenarnya dokter Qais mengajak Lea ke Bandung untuk meminta ijin melangkahi teh Zahra yang sampai saat ini masih sendiri karena setelah kematian A' Zhafran, teh Zahra belum bisa membuka hati dan belum menemukan sosok yang seperti Zhafran yang menerimanya apa adanya dengan setulus hati.
Sebelum dokter Qais mengajak Lea untuk berbicara dengan teh Zahra, dokter Qais lebih dulu mengajak teh Zahra dan Lea jalan-jalan di tempat wisata yang ada di daerah Bandung. Agar sebelum teh Zahra akan sedih karena mengingat mendiang A' Zhafran dan bahkan setelah dokter Qais dan Lea meminta ijin, kemungkinan teh Zahra akan meminta mengunjungi makam A' Zhafran dan mengunjungi orang tua A' Zhafran.
Setelah mereka bersenang-senang, dokter Qais mengajak kedua wanita yang spesial dalam hidupnya itu untuk makan siang terlebih dahulu di sebuah cafe dengan pemandangan yang indah.
Setelah selesai makan, dokter Qais memulai pembicaraan
" kalian senang nggak jalan-jalan hari ini?" dan diangguki oleh kedua wanita itu disertai dengan senyuman.
"makasih ya Is, udah ajak teteh ke cafe ini, ini adalah salah satu cafe yang pernah teteh sama A' Zhafran kunjungi, setidaknya dapat mengobati rindu teteh ke dia". ucap teh Zahra sendu, lalu dokter Qais dan Lea bergantian memeluk dan menguatkan teh Zahra.
"teteh nggak usah sedih karena masih ada Qais yang bersedia menjaga teteh dan menemani teteh kemana pun teteh mau kunjungi termasuk tempat-tempat teteh dan Aa' Zhafran dulu kunjungi". ucap dokter Qais sambil memeluk dan mengecup kening teh Zahra.
"Lea ngerti kok teh, sedihnya teteh kaya gimana, kalau Lea diposisi teteh juga mungkin susah move on, tapi ini semua sudah menjadi suratan takdir teh Zahra dan A' Zhafran, kita semua tidak bisa memilih takdir kita seperti apa kan teh, kita hanya bisa menjalani saja dengan penuh keikhlasan dan kesabaran dan berharap kelak mendapatkan seorang jodoh yang dapat benar-benar menerima kita dengan tulus. Teteh harus bangkit seperti keinginan A' Zhafran yang tidak suka melihat kalau teteh sedih, A' Zhafran juga sudah berusaha untuk memenuhi janjinya kan setelah mengkhitbah teteh, dan saat sudah berusia 23 tahun akan menikahi teteh walaupun ternyata ALLOH berkehendak lain setelah A' Zhafran mengucapkan kalimat qobul nikah tidak lama ALLOH mengambil nyawanya. jadi mari teteh bangkit ya ,Lea akan selalu membantu teteh untuk bangkit karena sudah cukup selama 3tahun teteh terpuruk. Teteh tidak perlu membuang A' Zhafran dari hati teteh, tempatkan A' Zhafran di satu sisi hati teteh, dan sisa satu sisinya untuk bisa teteh berikan kepada pria yang kelak menjadi jodoh teteh". ucap Lea dan hanya diangguki oleh teh Zahra, karena teh Zahra sudah menangis sesegukan dipelukan Lea.
__ADS_1
"maksih ya kalian memang ade dan ade ipar yang baik . semoga kalian selalu bahagia ya". ucap doa tulus dari teh Zahra
" teh, Qais ijin ya untuk menikah dengan Lea disaat teteh belum menikah dan mendapat pengganti A' Zhafran, mobon restui kami". ijin dokter Qais
" ya ,teteh ikhlas ko kalian mendahului teteh, do'akan teteh ya agar bisa mendapatkan sosok yang baik dan tulus seperti A' Zhafran kelak". ucap teh Zahra
"ya kami do'akan teteh akan segera menyusul kami" ucap Lea sambil tersenyum lalu memeluk teh Zahra
"Lea, teteh titip ade teteh yang satu ini ya, kalau dia berani nyakitin Lea jangan sungkan untuk ngasib tau teteh, biar nanti teteh sunat lagi". ujar teh Zahra kepada Lea dan diangguki oleh Lea
"baik teteh pegang kata-kata kamu, kalau kamu ingkari nanti Leanya teteh jodohin sama Almeer aja". ucap teh Zahra meledek dokter Qais
"ish jangan teh, Almeer kan lebih muda dari Lea mana mau Lea sama dia". jawab dokter Qais
"ih Aa' ,, aku mah ngeliat co bukan dari segi umur tapi dari segi keseriusannya, seberaoa serius laki-laki itu untuk mendekati seorang wanita, dan mau bertanggung jawab atas diri wanita itu. Lagian kalau Aa' berani nyakitin Lea yaudah teh nggak apa-apa aku sama Almeer lumayan dapat berondong' ledek Lea kepada dokter Qais.
__ADS_1
" NO, NO, and NO, kamu tidak akan dengan Almeer atau laki-laki mana pun, karena aku akan selalu berusaha tidak menyakiti kamu sampai sisa nafasku" ujar dokter Qais
" wow aku jadi terharu". ujar Lea
"semoga saja benar ya, kamu tidak akan menyakiti Lea, dan saling mencintai sampai ajal kalian nanti. teteh akan selalu mendoakan dan mendukung kalian". ucap teh Zahra
"ya sudah yuk, sudah kelar makannya kan, dan sudah jalan-jalannya. jadi sekarang sebelum kita pulang ke Jakarta, tolong anterin teteh ke makam A' Zhafran dulu abis itu menengok abah, umi dan Zahwa ya". ujar teh Zahra lagi.
" oce deh, Qais mau bayar makanan dulu ya, kalian duluan aja ke mobil".ujar dokter Qais
"aku mau ke toilet dulu A' ". ujar Lea
"ya sudah Qais bayaram dulu aja makanannya dan teteh tunggu Lea yang mau ke kamar mandi, teteh tunggu disini ya". ujar teh Zahra dan disetujui olejmh Lea dan dokter Qais.
Setelah selesai, mereka pun berjalan bersama menuju parkiran mobil, dan akan mengunjungi makam A' Zhafran terlebih dahulu yang lokasinya tidak terlaku jauh dari kediaman abah dan uminya A' Zhafran.
__ADS_1
Dokter Qais mengemudikan mobil yang sedang berada dijalan dengan serius, Lea yang sedang menikmati pemandangan kota Bandung dan teh Zahra yang sedang teringat dengan semua hal yang pernah dilalui oleh teh Zahra bersama mendiang A' Zhafran, bahkan mas kawin yang dulu sempat diberikan oleh A' zhafran selalu dipakai teh Zahra dan teh Zahra tidak akan melepaskannya sampai ajal menjemputnya, walaupun kelak dia akan menikah, tapi dia akan meminta ijin kepada calon suaminya kelak untuk tetap memakai mas kawin pemberian almarhum A' Zhafran. Karena hanya itu yang bisa membuat teh Zahra merasa kalau A' Zhafran berada dekat disisinya.