Hai, Pak Dokter!!!

Hai, Pak Dokter!!!
hancur


__ADS_3

Cinta itu tidak hanya indah dan bahagia, tapi cinta juga bisa memberikan kita rasa sedih kecewa, dan patah hati.


Seperti yang dialami teh Zahra, awal mula hatinya berdesir itu saat menatap mata berwarna coklat yang indah namun tajam saat menatap orang lain tapi terkadang juga bisa menjadi lembut.


Dari salah mengira pemilik mata itu, yang awalnya teh Zahra mengira bahwa yang mempunyai mata itu adalah A' Zhafran karena memang sudah takdir Alloh bahwa warna mata yang dimiliki pria bermasker yang ternyata adalah dokter Harun dengan mata milik A' Zhafran memiliki warna yang sama dan pada saat itu postur tubuh mereka pun sama.


Sehingga membuat teh Zahra salah mengira orang, karena salah mengira itu membuatnya menerima lamaran dari A' Zhafran bahkan seiring berjalannya waktu teh Zahra semakin mencintai A' Zhafran karena sifat lemah lembutnya dan cinta tulus dari A' Zhafran mampu membuat teh Zahra juga begitu besar cintanya kepada A' Zhafran, bahkan sampai saat ini rasa cintanya masih bersemayam dihatinya walau raga A' Zhafran sudah tidak ada di dunia ini.


Setelah mengetahui bahwa pemilik mata nan indah yang mampu membuat hatinya berdesir saat pertama kali melihatnya ternyata adalah dokter Harun, membuat teh Zahra bahagia karena memang setiap berpapasan dengan dokter Harun membuat hatinya mampu berdesir kembali. Namun teh Zahra selalu memungkiri rasa yang tertanam dihatinya itu merupakan rasa cinta, teh Zahra selalu menganggap bahwa desiran yang terjadi pada hatinya itu karena mata yang dimiliki dokter Harun sama dengan milik A' Zhafran jadi teh Zahra terus saja membentengi hatinya bahkan saat itu, setiap melihat dokter Harun teh Zahra tidak menyapanya.


Karena teh Zahra tidak ingin terobsesi harus bisa bersama dengan dokter Harun hanya karena warna matanya sama dengan milik A' Zhafran.


Teh Zahra ingin merasakan dicintai dan mencintai, dan ternyata yang melamarnya itu adalah lelaki pertama yang berhasil membuat jantungnya berdesir.


Namun, nasi sudah menjadi bubur, teh Zahra mendengar bahwa dokter Harun akan dijodohkan.


Membuat hati teh Zahra benar-benar hancur. Dia merasa bahwa dia memang tak patut untuk dicintai.


Setelah mendengar yang diucapkan oleh Nyai kepada dokter Harun, teh Zahra memutuskan untuk segera pergi dari pondok pesantren itu. Teh Zahra terus berlari ke arah asramanya untuk mengambil barang-barangnya, dan tanpa pamit teh Zahra langsung berlari kembali kearah gerbang pondok pesantren dan akan menyebrang jalan untuk menaiki kendaraan yang akan membawa dia ke terminal bis untuk kembali pulang ke Jakarta.


Namun, saat menyebrang jalan, teh Zahra tidak fokus karena sambil berlari dan menangis sehingga tanpa sadar bahwa ada kendaraan yang melaju lumayan kencang kearahnya. Dan seketika terdengar suara.


bruk, bruk

__ADS_1


Motor yang menabrak teh Zahra langsung membanting setir kearah trotoar jalan sehingga pengguna motor itu terjatuh. Namun, teh Zahra jadi tidak terlalu parah tertabrak motornya.


Namun, teh Zahra sempat terguling dan membuat badannya ada yang memar dan berdarah, kejadian itu membuat teh Zahra terkejut dan pingsan ditempat saat terguling.


Para warna dan penghuni pesantren yang berada tidak jauh dari tempat teh Zahra pun menjadi terkejut, dan sambil menunggu ambulans datang beberapa santriwati mencoba menghentikan darah yang keluar dari tangan dan kaki teh Zahra karena membuat kaki dan tangannya ada yang sobek.


Disisi lain ada dokter Harun yang terus berlari menuju pintu pagar pondok pesantren untuk mengejar teh Zahra. Karena tadi ada santriwati yang memberitahukan bahwa teh Zahra pergi mengambil tasnya secara terburu-buru sambil menangis.


Namun, saat dokter Harun sampai di depan gerbang, dokter Harun melihat banyak orang yang sedang mengelilingi tubuh seseorang sambil kasak kusuk terdengar mereka menanti ambulans datang.


Saat dokter Harun menghampiri kumpulan orang-orang itu. Dokter Harun sangat terkejut saat melihat teh Zahra dalam kondisi pingsan dan kening, tangan serta dengkulnya berdarah.


Dokter Harun langsung mendekati tubuh teh Zahra dan mengeceknya.


Tak lama kemudian ambulan pun datang untuk membawa teh Zahra dan korban yang mengendarai motor.


Dokter Harun ikut naik ke dalam ambulan untuk menemani teh Zahra.


Beberapa menit kemudian ambulan sampai di rumah sakit, teh Zahra dan pengguna motor itu langsung di tangani di ruang IGD.


Dokter Harun sangat khawatir dengan kondisi teh Zahra. dokter Harun merasa ini merupakan kesalahannya yang menyebabkan teh Zahra sampai bisa kecelakaaan.


Sambil menunggu dokter yang menangani teh Zahra keluar, dokter Harun menghubungi ustad Zein, bahwa dokter Harun tidak akan kembali lagi ke pesantren karena harus menjaga teh Zahra yang habis kecelakaan.

__ADS_1


Ustad Zein yang mendengar kabar teh Zahra kecelakaan, langsung memberitahukan kepada istri dan kedua orang tuanya.


Dan mereka akan segera ke rumah sakit untuk melihat kondisi teh Zahra.


Beberapa saat kemudian dokter yang menangani teh Zahra pun keluar dari ruang IGD, dan memberitahukan bahwa kondisi teh Zahra pingsan karena syok, dan ada beberapa luka yang hanya perlu dikasih obat dan ada yang dijait pula karena robek.


Dan teh Zahra akan dipindahkan ke ruang rawat. Dokter Harun dengan setia menemani teh Zahra yang masih dalam kondisi pingsan.


"dek, cepet sadar ya jangan kaya gini Aa' sedih liatnya. ayo bangun dong biar Aa' bisa jelasin semuanya. Aa' nggak terima perjodohan dari Nyai kok, karena Aa' dari dulu selalu sayangnya sama kamu". ucap dokter Harun yang duduk di samping bangkar teh Zahra.


Setelah satu jam teh Zahra tak sadarkan diri, kini teh Zahra mulai membuka kelopak matanya perlahan, sambil terdengar suara rintihan sakit pada luka-lukanya.


Ketika tersadar bahwa di dekatnya ada dokter Harun, teh Zahra langsung berbalik badan karena tak kuasa melihat wajah dokter Harun, pria yang selama ini tanpa sadar bahwa dokter Harun adalah cinta pertamanya.


Dokter Harun yang melihat teh Zahra membalikan badannya hanya merasa sedih dan kaget karena mendengar secara samar bahwa teh Zahra sedang menangis.


"dek, sudah ya jangan marah, Aku akan jelaskan semuanya kok, sini kamu menghadap Aa' de biar bisa Aa' jelasin dan kamu nggak salah lagi, ayo madep sini sayang". ucap dokter Harun namun teh Zahra masih menolak untuk.


" dek, aku nggak akan mau di jodohin kok, apalagi cinta aku sudah mentok sama kamu, ayo sini menghadap Aa" bujuk dokter Harun


Namun teh Zahra masih tidak mau membalikan badannya untuk menatap dokter Harun.


" dek, mau nggak kamu jadi istri aku? " tanya dokter Harun.

__ADS_1


Seketika teh Zahra langsung membalikan badannya ke arah dokter Harun.


__ADS_2