
keesokan harinya, pasangan yang sedang menikmati indahnya pacaran secara halal, mereka memutuskan untuk berkunjung ke berbagai tempat wisata yang ada di Bandung.
Senyum dari kedua orang itu tidak pernah luntur, tangan mereka selalu saling bertautan, perjalanan mereka diisi dengan canda tawa, membuat siapa saja menjadi iri.
Bukan hanya membuat orang lain iri, tapi mereka berdua juga sama-sama cemburu karena pasangannya dilihati oleh lawan jenisnya dengan tatapan memuja. Oleh karena itu mereka tidak akan melepaskan gandengan tangan mereka satu sama lain agar semua melihat bahwa mereka itu adalah sepasang kekasih.
Dokter Qais memberikan perhatiannya kepada istrinya, dari menyakan lapar atau tidak, lelah atau tidak, dan ketika Lea lelah maka dokter Qais akan menyuruh Lea beristirahat dan akan memijat kaki Lea dengan lembut.
Bagaimana tidak lelah jika semalam mereka berolah raga sampai hampir menjelang subuh dan saat ini mereka sedang berjalan-jalan menikmati indahnya ciptaan Sang Maha Kuasa.
Padahal dokter Qais sudah meminta kalau istrinya untuk beristirahat saja hari ini di kamar, baru besok akan jalan-jalannya. Namun, Lea tidak mau seharian dikamar, karena selain akan bosan, dia juga akan tetap tambah lelah karena akan berolah raga dengan suaminya.
Suaminya itu tidak pernah bosan untuk berolah raga, katanya kalau olah raganya sering kali saja akan mendapatkan mendali emas berupa seorang buah hati dalam rumah tangganya.
Dilain tempat ada dokter tampan yang sedang menelusuri pondok santri putri dengan menggunakan masker untuk menutupi wajah tampannya agar tidak bisa dilihat oleh para santriwati.
Dokter tampan itu berjalan dengan santai sambil berbicara sendiri.
"Duh, banyak wanita disini tapi tidak ada yang membuat jantungku ini berdetak kencang seperti musik disco"
"Bahkan hati ini serasa sudah tidak tertarik lagi dengan wanita, hati Aa' udah berhasil dek Zahra ambil semua, pokoknya cinta ini udah mentok di dek Zahra nggak bisa buat belok kanan kiri deh"
"tapi sayang ditolak, coba kalo diterima pasti Aa' langsung jingkrak-jingkrakan deh saking senengnya".
" apa aku kurang tampan ya sampe ditolak, wah harus ke dokter kulit nih buat operasi plastik biar glowing kaya si oppa oppa itu".
" tapi kalo udah operasi plastik tetap di tolak juga gimana ya?? emm kalo ditolak lagi lama-lama nanti aku operasi plastik lagi deh, tapi pake plastik ember atau baskom deh"
"ema-ema aja kalo ada tukang ember atau baskom plastik lewat aja langsung rebutan, ya kali aja aku operasi pake ember atau baskom bisa langsung jadi rebutan,, hehehhehe"
" Duh, pengen banget kaya Qais dan teman-teman yang lain yang udah nemuin jodohnya, apa aku terima aja ya dijodohin Nyai sama ustadzah disini"
"tapi hati ini masih milik dek Zahra walau udah ditolak juga"
"arghh bingung sendiri deh, ayah bunda anakmu hayang kawin tapi cintanya ditolak, hiks hiks sedihnya aku".
"ini juga kalo ketemu sama Nyai pasti dibilang "nak, kapan mau nikah, nikah itu dapat pahala loh, apa-apa ada istri yang nemenin, nggak bakal kesepian lagi, udah terima aja ya Nyai jodohin dengan ustadzah Hilda, dia masih muda loh usia 23tahun, agama bagus, wajah juga cantik cocok buat kamu". Nah, pasti itu tuh yang Nyai ucapin nanti".
__ADS_1
"apalagi ini nanti si Nyai pasti tau kalo aku udah ditolak sama dek Zahra pasti tambah ngebet deh Nyai mau jodohin aku, nasib, nasib".
"arghh dek Zahra aku maunya kamu cuma kamu dari dulu sampe sekarang".
itulah ucapan-ucapan tidak jelas dokter Harun sepanjang jalan ke rumah Nyai tanpa dokter Harun sadari bahwa ada beberapa pasang kuping yang mendengar ucapan dokter Harun itu, ada yang merasa lucu dan panas serta cemburu saat mendengar nama ustadzah yang akan dijodohkan oleh Nyai untuk dokter Harun.
Beberapa pasang mata dan telinga itu adalah milik, ustad Zein, ustadzah Humai, Zidan dan teh Zahra.
Sampai saat sudah sampai didepan rumah Kyai dan Nyai, dokter Harun pun tidak sadar bahwa dibelakangnya ada yang mengikuti, dokter Harun langsung masuk ke dalam rumah saat Kyai membukakan pintu namun dia terkejut saat melihat anak,menantu, cucu serta mantan anak didiknya dulu ,yang sedang ada dibelakang Harun.
Namun, kyai berusaha untuk tidak ketara kalau kyai terkejut, karena ustad Zein sudah memberikan kode agar dokter Harun jangan sampai tau.
Setelah dokter Harun masuk dan mulai berbincang dengan kyai dan nyai, tidak lama kemudian ustad Zein masuk kedalam rumah orang tuanya sedangkan ustadzah Humai dan teh Zahra masih menunggu diluar, dan Zidan sudah pergi kerumah sepupunya yang tidak jauh dari rumah kyai.
"assalammualaikum". ucap ustad Zein
"waalaikumsalam"jawab mereka membalas salam ustad Zein.
"eh dek sudah datang, Aa' kira kamu belum datang, kemana saja kamu beberapa hari ini? dihubungi susah sekali tidak tau apa Aa' khawatir"omel ustad Zein
" biasa A' aku abis betapa buat menenangkan hati dan pikiran" ucap dokter Harun
"em nggak apa-apa kok Nyai, jadi nggak usah khawatir ya, aku masih sehat dan utuh kok sampe sekarang" ucap dokter Harun
"iya badan utuh tapi hati dan pikiran retak-retak kaya telapak kaki kena kutu air". ucap dokter Harun dalam hati
"kamu udah nggak mau cerita lagi sama Nyai ya, udah nggak sayang Nyai ya? " ucap Nyai dengan muka sedihnya
" duh jangan sedih dong Nyai hilang cantiknya loh, liat noh Kyai udh natap aku , tatapannya setajam silet, gara-gara Nyai sedih". ucap dokter Harun
" iya makanya kamu cerita dong". ucap Nyai dengan tatapan memohon.
Dan dokter Harun pun mulai menceritakan bahwa dia telah melamar teh Zahra namun ditolak, karena teh Zahra tidak percaya kalau dokter Harun memang benar-benar mencintainya bukan karena hanya sekedar kasian akibat ditinggal meninggal oleh A' Zhafran.
Setelah mendengar cerita dokter Harun, membuat Nyai langsung ikutan sedih.
"kasian sekali kamu nak, semoga kamu cepat mendapatkan jodoh yang benar-benar mencintai kamu ya". ucap Nyai
__ADS_1
"berarti kalau kamu sudah ditolak mau dong Nyai jodohin, kebetulan Nyai sudah bilang sama ustadzah Hilda apa dia mau dijodohkan oleh Nyai dengan seorang pria yang sudah Nyai anggap seperti anak sendiri,dan ustadzah Hilda setuju saja dengan permintaan Nyai". terang Nyai.
Hal itu membuat dokter Harun tambah galau karena dokter Harun masih mencintai teh Zahra sedangkan dilain sisi dokter Harun tidak tega menerima permintaan Nyai.
Melihat kegalauan dokter Harun membuat ustad Zein angkat suara.
"Nyai, maaf sebelumnya kalau Zein ikut campur, Zein ingin menyampaikan bahwa ada seseorang yang ingin berbicara dengan dek Harun, bahkan dia sudah menunggu kesempatan untuk bertemu dengan dek Harun dari kemarin".ucap ustad Zein
"siapa A' yang mau ketemu aku?"tanya dokter Harun yang penasaran
"silakan kamu bisa temui di depan"ucap ustad Zein
Dokter Harun lalu bergegas keluar karena penasaran akan siapa orang yang mencarinya.
Namun saat keluar rumah terlihat ada dua orang wanita yang membelakanginya. Terlihat yang satu wanita tengah menenangkan wanita disebelahnya sambil mengelus pundak wanita itu.
"assalammualaikum, maaf apa kalian mencari saya". ucap dokter Harun
deg, deg,deg, salah satu dari mereka membalikan badan namun satu lagi langsung lari, karena tak sanggup melihat wajah dokter Harun, apalagi tadi dia sempat mendengar dokter Harun akan dijodohkan bahkan pihak wanita yang akan dijodohkan sudah setuju tinggal saat menunggu jawaban dari dokter Harun, wanita itu langsung menjauh dari rumah itu karena tak sanggup mendengar jawaban yang akan diberikan dokter Harun.
"teh Humai, itu siapa yang lari?apa yang mau ketemu aku adalah gadis itu? tapi kenapa dia kabur?" tanya dokter Harun
"itu Zahra Tusyitta , alumni pondok ini". ucap ustadzah Humai
" oh,, namanya kaya kenal teh". ucap dokter Harun sambil merasa ada yang aneh.
setelah sekian detik dokter Harun mencerna tentang nama itu, akhirnya dokter Harun tersadar.
"tunggu, tunggu dulu teh maksud teh Humai itu Zahra Tusyitta anak murid teteh yang bikin aku jatuh cinta pada pandangan pertama". ucap dokter Harun dan diangguki ustadzah Humai.
"astagfirullah, terus kenapa dia malah lari teh?" tanya dokter Harun
"ya karena dengar percakapan kamu dengan Nyai yang mau jodohin kamu, udah sana kejar ngapain pake nanya-nanya, keburu tambah jauh, kaya dia mau ambil barangnya yang ada diasrama soalnya dia semalam nginap disini cuma buat mau ketemu kamu". ucap ustadzah Humai.
" astagfirullah, yaudah teh aku pamit ya, assalammualaikum" ucap dokter Harun sambil berlari.
"waalaikumsalam" ucap ustadzah Humai
__ADS_1
Dokter Harun terus berlari untuk mengerjar teh Zahra berharap teh Zahra belum pergi dari pondok pesantren ini.