Hai, Pak Dokter!!!

Hai, Pak Dokter!!!
bagian terindah


__ADS_3

Keesokan harinya teh Zahra dan baby Z kembali kediaman abi Fajri. Saat memasuki kamarnya teh Zahra dibuat terkejut dan terharu karena diberikan kejutan oleh keluarganya.


Kamar teh Zahra dan dokter Harun kini sudah penuh dengan berbagai macam pernak pernik bernuansa biru dan putih, warna yang identik untuk menyambut baby boy yang merupakan cucu kandung pertama di kediaman abi Fajri.


Fahira dan Firman berjalan menuju ke arah teh Zahra dengan Fahira yang membawakan satu buah buket bunga dan Firman membawakan satu kotak cup cake dengan hiasan yang lucu.


"selamat ya bunda Zahra atas kelahiran baby Z nya, semoga baby Z menjadi anak sholeh dan berbakti pada bunda Zahra dan ayah Harun". doa tulus dari Firman lalu memberikan kotak cup cake


"makasih abang Firman, nanti bantuin bunda Zahra ya buat ajak main baby Z nya". ucap teh Zahra lalu mengelus kepala Firman dengan lembut


"ini Fafa juga mau ngasih bunga buat bunda Zahra, abang geser dong gantian sama Fafa". protes Fahira lalu Firman langsung bergeser tempat mempersilakan Fahira berada didepan teh Zahra


"aduh gemes banget kak Fafa, kak Fafa mau kasih bunda Zahra apa nih?". tanya teh Zahra sambil mencubit pelan pipi Fahira


"Fafa punya bunga buat bunda Zahra, soalnya bunda Zahra pulang bawa dede bayi jadi Fafa seneng yaudah Fafa kasih hadiah bunga aja nih, karena udah bikin Fafa seneng, Fafa jadi punya teman main deh, nanti Fafa ajak main boneka ya dede bayinya". seru Fahira dengan semangat

__ADS_1


"Fafa kan adik bayinya cowok masa Fafa ajak main boneka sih harusnya main mobil-mobilan dong". protes Firman


"ish kan dedenya masih kecil jadi main boneka aja kan seru bisa bercerita gitu nanti Fafa deh yang cerita pake boneka dede bayi cuma dengerin aja juga nggak apa-apa kok". ucap Fahira membuat yang lain gemas dengan ocehan Fahira


"pintarnya kak Fafa mau berdongeng ya untuk dede bayi". puji dokter Harun


"tapi sekarang dede bayinya biar bobo dulu ya, ayah Harun mau taro dulu di dalam box bayi dulu ya". sambung dokter Harun kembali


"yaudah kalian istirahat dulu, ayo kita semua keluar dari kamar dede bayi, biar dede dan bunda Zahranya bisa istirahat dulu". ujar umma Hana lalu semuanya berpamitan keluar kamar teh Zahra


"sini sayang, kamu istirahat ya pasti jaitanya masih agak sakit dan mumpung baby Z masih bobo jadi kamu bisa bobo juga". dokter Harun menuntun teh Zahra menuju kasur


Setelah diatas kasur, teh Zahra meminta dokter Harun untuk menemaninya karena teh Zahra tidak mau tidur hanya ingin tiduran saja diatas kasur sambil berpelukan dengan suaminya.


"makasih ya sayang, nggak bosen aku ucapin makasih ke kamu karena telah memberikan aku anak yang tampan dan gemesin kaya baby Zhafran, makasih atas perjuangan kamu dari masa kehamilan sampai melahirkan. Aku nggak tau gimana caranya buat berterima kasih ke kamu atas perjuangan kamu selama ini, karena sebanyak apa pun aku ngucapin makasih dan memberikan harta aku ke kamu itu nggak sebanding dengan pengorbanan dan perjuangan kamu". ujar dokter Qais sambil mencium kening teh Zahra dengan penuh kasih sayang tanpa terasa setetes air mata mulai jatuh dari mata dokter Qais karena rasa bahagianya saat ini

__ADS_1


"iya A' sama-sama, bantu aku ya buat mendidik dan membesarkan baby Zhafran sama-sama, karena aku juga butuh kamu dalam mendidik dan membesarkan baby Zhafran". ucap teh Zahra


"iya sayang kita sama-sama ya mendidik dan membesarkan anak kita, jangan pernah sungkan minta bantuan aku, dan bangunin aku buat nemenin kamu begadang saat baby Zhafran terbangun, karena aku nggak mau cuma ngerasain nanam benih saja tapi tak mau membantu mengurus anaknya saat sudah lahir, karena semua itu bukan hanya kewajiban dari seorang istri karena suami juga berkewajiban untuk mengurus anaknya". timpal dokter Harun lalu memiringkan badannya kearah teh Zahra dan mengecup bibirnya


"ish kamu ini A', inget jangan aneh-aneh ya kamu kan harus puasa selama empat puluh hari". ucap teh Zahra sambil tersenyum


"ah, ya ampun ,kuatkan hamba Mu ini, yang harus menjalani puasa empat puluh hari nggak boleh menyentuh istri ku yang cantik ini". frustasi dokter Harun membuat teh Zahra terkekeh pelan melihat tingkah suaminya yang sedang berguling-guling disampingnya


"ah, sudah lah aku mau ke bawah dulu mau ambil cemilan buat kamu, takut kamu kelaperan soalnya kalo menyusui itu kan bikin laper terus". ujar dokter Harun lalu bangkit dari kasur


Melihat dokter Harun yang sudah menghilang dari balik pintu kamarnya membuat teh Zahra cekikikan benar-benar lucu ngeliat suaminya yang frustasi karena tidak bisa menyentuh teh Zahra dengan lebih karena masih harus puasa empat puluh hari sampai masa nifasnya selesai.


"ayah kamu lucu nak, hay baby Zhafran kamu pulas banget sih nak". ujar teh Zahra yang melihat sang anak masih tertidur pulas


"nama kamu aku pakai ya A' buat nama anak aku dan A' Harun, walaupun kamu udah nggak ada di dunia ini tapi kamu akan tetap selalu ada di ingatan dan di setiap doa ku, karena bagaimana pun kamu pernah menjadi orang tersayang yang mengisi hati dan hari-hari ku, semoga kamu selalu tenang di kubur, di jauhkan dari siksa kubur dan dilapangkan kubur mu, dan kelak kamu bisa mendapatkan bidadari surga mu yang belum kamu dapatkan di dunia ini dan maaf sejak aku menikah dengan A' Harun hati aku benar-benar sudah aku beri untuk suamiku karena dia sekarang sudah sangat halal memiliki jiwa dan raga ku, dan kamu akan selalu menjadi bagian kenangan terindah dalam hidupku ". doa tulus teh Zahra untuk almarhum A' Zhafran

__ADS_1


sedangkan di depan pintu kamar ada dokter Harun yang mengaminkan doa teh Zahra, dokter Harun tak pernah mempermasalahkan jika almarhum Zhafran memiliki arti yang istimewa dalam kehidupan teh Zahra karena memang almarhum Zhafran pernah mengisi hari-hari teh Zahra, dan sekarang dokter Harun yakin bahwa Zahra memang mencintai dokter Harun dengan tulus.


__ADS_2