
Keesokan harinya berita kehamilan teh Zahra sudah menyebar sampai tetangga mengetahuinya. Saat umma Hana, teh Zahra dan Lea sedang belanja sayuran didepan kediaman abi Fajri. Para ibu-ibu yang sedang berbelanja sayuran langsung mengucapkan selamat kepada teh Zahra dan umma Hana.
"selamat ya nak Zahra sebentar lagi jadi ibu, dan untuk bu Hana selamat ya sebentar lagi bakal jadi nenek"
"iya selamat ya, wah subur banget ya Zahra dan suaminya, baru nikah belum lama sudah hamil".
"iya nih mba Zahra pasti anaknya nanti cantik atau ganteng banget deh, soalnya mba Zahranya kan cantik dan suaminya ganteng banget lagi".
"ngomong-ngomong nak Lea belum hamil nih?kan nikah duluan dibanding nak Zahra"
"iya berarti mba Lea kurang subur nih, nggak kaya mbak Zahra yang langsung cepat hamil".
"coba deh Lea kamu cek kandungan kamu kali aja ada masalah sampai belum hamil juga".
"iya mba Lea harus cek deh, soalnya nggak mungkin kan kalo dokter Qais yang nggak subur, soalnya kan dokter Qais itu dokter kandungan jadi nggak mungkin ngga subur".
"iya nak Lea coba cek, terus minum obat buat penyubur kandungan deh, kasian dokter Qais kalau sampe punya istri tapi istrinya nggak bisa hamil".
itulah omongan-omongan ibu-ibu yang menyindir Lea dan membuat Lea sedih, dan memutuskan untuk masuk kedalam rumah saja untuk bersiap berangkat mengajar.
Umma Hana dan teh Zahra yang melihat Lea langsung masuk ke dalam rumah, paham akan kondisi Lea yang merasakan sakit hati karena ucapan ibu-ibu itu. Karena tentunya ini bukan keinginan Lea untuk belum kunjung hamil juga.
"maaf ya ibu-ibu, anak itu rejeki dari Alloh, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdo'a saja, jadi bukan keinginan dari orang itu kalau belum diberikan keturunan, saya harap ibu-ibu bisa lebih bijak lagi, ya sudah saya permisa ya".ucap umma Hana setelah membayar sayurannya.
Umma Hana dan teh Zahra berjalan memasuki rumah. Dan mereka memutuskan untuk menuju kamar masing-masing biar bibi saja yang menyiapkan makanan. Karena mereka sedang tidak enak hati untuk memasak karena memikirkan keadaan Lea.
Sedangkan di kamar dokter Qais dan Lea, dokter Qais yang sedang fokus dengan laptopnya tidak sadar dengan keadaan Lea yang saat ini masih asyik di kamar mandi.
Padahal Lea sedang menangis karena telah mendengar ucapan para ibu-ibu tadi. Lea sampai berfikir apa mungkin Lea memang tidak bisa hamil, dan apa mungkin suaminya itu akan meninggalkannya jika Lea tak kunjung hamil juga. Lea memutuskan untuk mengunjungi dokter kandungan saja, untuk memastikan, Lea akan mencari dokter kandungan wanita dan rumah sakitnya bukan di tempat suaminya bekerja.
__ADS_1
Karena jika memang terjadi sesuatu dengan rahim Lea maka Lea akan berobat tanpa suami dan keluarganya tau. Lea tidak mau mengecewakan dokter Qais dan keluarganya jika memang benar rahimnya bermasalah.
Saat ini dokter Qais telah selesai dengan pekerjaannya lalu dokter Qais mematikan laptopnya dan menyimpannya. Dokter Qais menunggu Lea namun tak kunjung keluar akhirnya dokter Qais memutuskan untuk turun lebih dulu karena dokter Qais merasa haus sedangkan stok air minum di dalam kamar telah habis.
Saat dokter Qais turun, dokter Qais berpapasan dengan umma Hana. Lalu umma Hana menanyakan kondisi Lea.
"nak, dimana Lea kok kamu turun sendirian?gimana kondisi Lea dia tidak kenapa-kenapa kan?". tanya umma Hana
"iya umma aku sendiri karena Lea masih di kamar mandi aku aja heran tumben dia lama di kamar mandi, Lea baik, tidak sakit kok, kok umma nanya Lea kan tadi bukan umma sama Lea dan teh Zahra belanja sayur ya? soalnya tadi pagi Lea pamit ingin ikut belanja sayur". ucap dokter Qais agak heran karena umma menanyakan kondisi Lea
"bukan kesehatannya nak, tapi hatinya apa dia sedang menangis atau tidak, umma khawatir kalau Lea jadi kepikiran ucapan ibu-ibu tadi". ucap umma Hana
"memang ibu-ibu tadi ngomong apa umma sampai bisa Lea sedih?". tanya dokter Qais mulai khawatir.
Akhirnya umma lun menceritakan kejadian saat tadi sedang membeli sayur, dan meminta kepada dokter Qais untuk bersabar juga jika memang belum saatnya diberi keturunan jangan sampai ikut menekan Lea karena takut malah menambah beban Lea.
Setelah mendengar cerita dari umma Hana, dokter Qais memutuskan untuk kembali ke kamar untuk mengecek kondisi sang istri.
Saat telah sampai di kamarnya, dokter Qais melihat Lea sedang memakai jilbabnya. Lalu dokter Qais memeluk Lea dari belakang.
"kamu tidak apa-apa sayang?" tanya dokter Qais sambil memeluk dan mencium pucuk kepala Lea.
"aku baik, memang kenapa A'?". tanya Lea sambil berusaha terus tersenyum
"Aa' sudah tau semuanya dari umma, kenapa kamu tidak cerita dengan Aa'?". tanya dokter Qais
"nggak apa-apa A', cuma tadi kamu sedang fokus jadi aku nggak mau ganggu kamu". ucap Lea
"apa kamu sedih dengan ucapan mereka?". tanya dokter Qais sambil membalikan badan Lea agar menghadap ke arah dokter Qais.
__ADS_1
"nggak kok A' ". jawab Lea sambil tersenyum menahan nyesak didadanya karena mengingat kembali ucapan ibu-ibu tadi.
"jujur sayang sama Aa', jangan memendam kesedihan sendiri, ayo kalau mau nangis peluk Aa' ". terang dokter Qais sambil membawa Lea kedalam pelukannya.
Lea pun menangis, berharap kesedihannya dapat cepat hilang karena sudah menangis dipelukan suaminya.
Dokter Qais hanya mampu memeluk dan mengelus punggung Lea serta memberikan kecupan di kening Lea. Dokter Qais membiarkan Lea menangis sepuasnya untuk menghilangkan kesedihannya.
Dokter Qais sebenarnya sangat marah kepada ibu-ibu yang berbicara macam-macam tentang Lea, padahal Lea termasuk perempuan yang selalu menyapa para tetangganya dan selalu bersikap baik. Namun, ternyata mereka malah terang-terangan menyakiti perasaan Lea.
Dokter Qais lalu melepaskan pelukannya setelah Lea berhenti menangis. Dan dokter Qais memegang pipi Lea dengan kedua tangannya.
"sayang dengerin Aa' ya, jangan kamu pikirin omongan mereka, kita kan tau anak itu merupakan rejeki dari Alloh, kita hanya mampu berusaha dan berdo'a, selanjutnya kita serahkan kepada Alloh. Karena Alloh tau mana yang baik buat kita dan mana yang buruk buat kita, jangan sedih lagi ya sayang kan kita masih bisa nikmatin dulu indahnya pacaran dan kita bisa honeymoon lagi kan sebelum nanti diberikan rejeki berupa anak, jadi ya kita puas-puasin waktu kita berdua kalau udah punya anak kan kita nggak bisa pelukan kaya gini terus, dan nggak bisa bebas cium kamu karena malu takut diliat sama anak". ucap dokter Qais lalu melu mat bibir Lea dengan penuh kelembutan.
Setelah sekian detik meraka berciuman kini dokter Qais sedang mengelap bibir Lea yang basah menggunakan jari tangannya.
"ish me sum deh". ucap Lea sambil memukul pelan dada dokter Qais.
"nggak apa-apa orang udh halal ini, mau me sum juga bebas nggak bakal dosa". ucap dokter Qais sambil mengecup kembali bibir Lea
"udah nggak sedih kan? harus semangat ya jangan dengerin omongan orang ya, pokoknya Aa dan kamu bakal terus bersama sampai maut memisahkan, karena hanya kamu bidadari yang mampu membuat hati Aa' berdesir". ucap dokter Qais.
"iya A', em nanti pulang ngajar aku boleh mampir ke rumah ayah nggak A'? aku kangen sama ayah dan bunda". ijin Lea
"boleh sayang nanti pulang dari rumah sakit aku jemput ya di rumah ayah, jangan pulang sendiri ya". ucap dokter Qais.
"SIAP PAK SUAMI LAKSANAKAN". ucap Lea sambil memberi hormat kepada dokter Qais.
Lalu dokter Qais dan Lea berjalan menuju meja makan untuk sarapan terlebih dahulu baru berangkat bekerja.
__ADS_1
Semua keluarga telah berkumpul di meja makan dan mereka menunjukan wajah tersenyumnya untuk menyambut dokter Qais dan Lea. Mereka semua sudah tau kejadian yang dialami oleh Lea tadi. Sekarang mereka semua hanya memberikan dukungan kepada Lea agar tetap tersenyum dan berdoa semoga dokter Qais dan Lea segera diberikan momongan.