Hai, Pak Dokter!!!

Hai, Pak Dokter!!!
hamil


__ADS_3

Jika memang belum berhasil maka terus lah berusaha, Jika memang sudah berusaha tapi belum berhasil maka berdo'alah. Jika sudah berusaha dan berdo'a maka belajar untuk bertawaqal dan mengikhlaskan segala yang terjadi dihidup ini.


Jangan pernah bersedih karena apa yang kita inginkan tidak langsung kita peroleh karena apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Alloh, dan apa yang buruk baik kita belum tentu buruk menurut Alloh.


Kita hanya manusia yang berperan sebagai pemeran dalam sebuah drama yang telah ditakdirkan dalam hidup kita dari sebelum kita dilahirkan dimuka bumi ini. Kita hanya dapat melakukan sedikit improvisasi dalam hidup kita. Belajar dengan giat menjadi pemeran yang protagonis dalam hidup ini, agar bila kita menjadi baik berharap orang lain akan menjadi baik pula kepada kita. Namun, jika orang lain tetap menjadi pemeran antagonis disaat kita sudah baik, maka diamkanlah orang itu. Karena tak akan ada habisnya jika meladeni orang berwatak antagonis.


Seperti yang dokter Qais dan Lea lakukan, mereka tak lelah berusaha untuk mencapai apa yang mereka harapkan. Segala cemoohan telah diterima oleh mereka terutama Lea. Namun, mereka tetap.n melewati semua rintangan itu berdua dan saling menguatkan.


Kesabaran dokter Qais dan Lea sekarang sudah menghasilkan, menghasilkan sesuatu yang belum tentu semua manusia mengalami terutama kaum wanita.


Sesampainya dokter Qais di tempat Lea mengajar, dokter Qais langsung berlari menuju ruang guru dimana tempat Lea berada. Begitu sampai didepan pintu ruangan itu, dokter Qais menarik nafas sejenak lalu mengetuk pintu.


tok


tok


tok


"assalammualaikum".salam dokter Qais sambil membuka pintu perlahan


"walaikumsalam" serempak dokter Harun dan teh Zahra menjawab salam dari dokter Qais.


Dokter Qais lalu menghampiri Lea yang masih keadaan pingsan. Dan mengelus kepala Lea.


"Aa' sudah cek kondisi Lea tadi". ucapan dokter Harun membuat dokter Qais menatap dokter Harun


"terus kondisinya gimana A'? kenapa sampai saat ini belum sadar?".tanya dokter Qais.


"kondisinya hanya kelelahan karena faktor hamil muda, ibu hamil apalagi hamil diusia kandungan yang masih muda sangat wajar mengalami hal ini. Dan kamu pasti sudah pahamkan karena kamu juga seorang dokter kandungan".terang dokter Harun sambil tersenyum


"oh karena hamil muda". ucap dokter Qais dan lalu melihat kearah Lea kembali


Namun, seperkian detik kemudian dokter Qais kembali menatap kearah dokter Harun dengan wajah yang sedikit linglung

__ADS_1


"maksud Aa' apa tadi? hamil? siapa yang hamil?". tanya dokter Qais masih sedikit bingung.


"iya yang hamil Lea lah, dia ternyata telah hamil muda usia kandungannya perkiraan sekitar dua bulan, mungkin kalian tidak sadar jika Lea sedang hamil sehingga Lea jadi lelah dan bikin dia pingsan". jelas dokter Harun kembali


Namun, dokter Qais masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Wajahnya masih menunjukan kebingungan.


"iya Is, alhamdulillah Lea juga sedang hamil saat ini, coba kamu cek sendiri kalau masih belum yakin". ucap teh Zahra sambil mengelus pundak dokter Qais


Secepat kilat, dokter Qais langsung mengecek kondisi Lea apa benar Lea telah mengandung buah cinta mereka berdua.


Dengan tangan yang gemetar dan air mata yang mulai menetes, dokter Qais sudah yakin jika istrinya memang sedang hamil. Dokter Qais langsung mengecup perut Lea tidak henti-henti.


"makasih nak, telah hadir diperut ibun, ibun pasti senang dengar kamu sudah hadir di dalam sini, kamu sehat terus ya nak jangan membuat ibun repot, ayo kita berjuang bersama ya nak". lihir dokter Qais sambil mengelus dan mengecup perut Lea


Lalu dokter Qais menegakkan tubuhnya dan memandang ke arah Lea dan mengecup kening Lea.


"makasih sayang, atas semua ini, perjuangan kamu selama ini telah terwujud, ayo bangun sayang, kamu memang tidak mau mendengar berita menyenangkan ini". ucap dokter Qais


Tidak lama kemudian mata Lea mulai terbuka secara perlahan, saat sudah mulai tersadar Lea lalu memegang kepalanya yang masih terasa sedikit sakit.


"masih pusing sayang? kalo masih pusing tiduran aja ya". ucap dokter Qais


"nggak apa-apa kok A' , aku mau duduk aja, kuat kok, tapi aku kenapa ya bisa disini?". heran Lea


"kamu tadi pingsan sayang". ucap dokter Qais


Lea lalu mengingat-ngingat apa yang terjadi tadi, dan setelah ingat dia langsung paham dengan kondisi yang menyebabkan Lea berada di ruang guru.


"iya tadi kepala aku pusing banget dan gelap terus nggak tau lagi, apa yang terjadi sama aku ya, apa mungkin aku kelelahan ya makanya jadi pingsan seperti ini, atau aku sakit yang parah ya". ucap Lea dan mendapatkan sentilan pelan dari sang suami


"haish, kalo ngomong ngaco deh, kamu nggak sakit parah sayang, tapi disini ternyata sudah ada anak kita yang selama ini kita nanti". jelas dokter Qais sambil mengelus perut Lea dan membuat Lea membeku karena terkejut.


"hiks hiks hiks, beneran Aa' nggak bohong? beneran disini ada anak kita? beneran hasil olahraga kita yang setiap malam membuahkan hasil?". tanya Lea sambil menangis sesegukan

__ADS_1


" beneran Aa' nggak bohong". yakin dokter Qais


"haish ini bocah pake ngomong hasil olahraga malam segala lagi". geleng-geleng dokter Harun saat mendengar ucapan Lea dan teh Zahra sudah cekikikan, karena ucapan Lea tadi.


Setelah puas menangis, lalu Lea langsung memeluk dokter Qais tanpa menimpali ucapan dokter Harun.


"berarti aku mau jadi ibu lagi? berarti anak-anak kita bakal punya adik, ah aku seneng banget A' bisa mengandung hasil karya kamu, semoga Firman dan Fahira senang ya kalo mereka punya adik walau bukan adik kandung mereka". ucap Lea sambil mengusap air matanya


"oya, ngomong-ngomong Fafa mana?". sambung Lea saat sadar Fahira tidak ada.


"Fafa sedang dijaga sama Hilwa, kamu tenang saja ya". ucap teh Zahra


"ya udah, sekarang jam berapa ya? sudah waktu pulang belum, kalo sudah kita pulang yuk! ". ucap Lea


"aduh nih bocah bener-bener ya bangun dari pingsan malah tambah bawel banget". ledek dokter Harun.


"ih aku nggak bawel, ya kan A'? ucap Lea kepada dokter Qais


"iya kamu nggak bawel hanya cerewet saja". ledek dokter Qais sambil memencet pelan hidung Lea.


"ish ngeselin banget sih, bawel sama cerewet itu sama saja artinya". gerutu Lea sambil memanyunkan bibirnya


"jangan manyun nanti Aa' cium nih". ledek dokter Qais


"nggak mau". ucap Lea sambil menutup mulutnya dengan tangan dan ketiga orang yang melihat tingkah Lea hanya tertawa


"ya udah kita pulang yuk, kasian Lea biar istirahat di rumah dan kita beritahu ke umma dan abi, dan jangan lupa beritahu bunda dan ayah kamu ya Lea". ucap teh Zahra


"iya benar ayo kita pulang, kamu kuat jalan nggak sayang ,kalo nggak sini aku gendong". tawar dokter Qais


"kuat A' tapi pegangin ya, dan ayo pamit dengan guru yang lain dan jemput sekalian Fafa dan habis itu jemput Firman di sekolahannya". ucap Lea.


Dokter Qais dan Lea jalan terlebih dahulu, sedangkan teh Zahra dan dokter Harun berjalan dibelakangnya. Teh Zahra sangat senang, Lea memang benar-benar tulus menyayangi anak angkatnya karena walau kondisi habis pingsan, Lea tetap ingat dengan kedua anak angkatnya.

__ADS_1


Teh Zahra berharap jika Firman dan Fahira mampu menyayangi adik angkatnya kelak seperti Lea yang menyayangi mereka berdua.


__ADS_2