Hai, Pak Dokter!!!

Hai, Pak Dokter!!!
akhirnya nikah


__ADS_3

Setelah seminggu berlalu sekarang waktu yang ditunggu- tunggu oleh dokter Qais dan Lea setalah selama seminggu ini mereka melakukan proses pingitan, pengajian dan siraman sebelum menuju acara akad nikah yang akan dilakukan hari ini.


Lea sudah sangat cantik dengan gaun pengantinnya dan wajah Lea yang cantik alami hanya diberi sedikit sentuhan makeup karena Lea tidak ingin menggunakan makeup yang terlalu mencolok.


Keluarga Lea juga sudah rapih, kini mereka hanya menunggu kedatangan keluarga dokter Qais yang sedang dalam perjalanan.


Sebelum dokter Qais dan keluarganya datang, kedua orang tua Lea beserta kak Salwa dan suaminya, mereka menghampiri Lea terlebih dahulu sebelum menyambut kedatangan pengantin pria dan keluarganya.


"masyaa alloh yah, anak bungsu kita cantik sekali, bunda nggak nyangka perasaan baru kemarin ngebesarin si kakak dan ade, ngurusin mereka berdua yang kadang akur dan kadang berebutan mainan, eh sekarang liat yah, si kakak udah nikah dan akan segera menjadi ibu , eh sekarang si ade yang akan menikah bahkan akan dibawa oleh suaminya nanti, bakal sepi deh rumah" ucap bunda Hawa sambil menangis dipelukan ayah Amar


" sudah bun, kita beruntung dapat melihat anak-anak kita bertumbuh besar dan bahkan sampai mereka menikah, kita sudah melakukan yang terbaik buat membesarkan mereka. Sekarang waktunya kita hanya mendoakan agar mereka selalu bahagia dengan pasangan mereka masing-masing". ujar ayah Amar sambil membelai kepala bunda Hawa.


"bunda jangan sedih dong, masa sudah cantik kaya gini nangis, nanti makeupnya luntur loh, bukannya cantik nanti malah kaya zombie,, ntar ayah jadi nggak cinta lagi loh". ledek Lea kepada bunda Hawa.


" ya bunda jangan sedih ya kan ada kakak yang masih nemenin bunda dirumah, abang juga nggak bakal keberatan kan tinggal dirumah bunda?" tanya kak Salwa kepada suaminya yaitu abang Adnan.


" ya bun, abang nggak keberatan ko tinggal sama bunda selamanya, bunda dan ayah kan orang tuanya Adnan juga apalagi bunda kan tau Adnan sudah nggak punya orang tua lagi, jadi sampai kapan pun kami akan bersama bunda, jadi jangan sedih lagi ya bun, kan si ade juga pindahnya nggak jauh cm jarak 10-15 menitan doank, jadi kalau bunda rindu sama ade,, bunda bisa kesana atau ade yang nemuin bunda, ya kan de?" tanya abang Adnan kepada Lea


" ya bener kata abang, pokoknya kami akan berusaha selalu ada untuk ayah dan bunda,, sini sini kita berpelukan dulu biar kaya teletubies". ucap Lea sambil tersenyum dan mereka berlima saling berpelukan.


Tak berapa lama dokter Qais dan rombongan telah sampai, dan bunda,ayah dan abang Adnan menyambut mereka, sedangkan kak Salwa menemani Lea, karena tidak diijinkan oleh suaminya yang tak lain yaitu abang Adnan, agar tak boleh terlalu lelah karena ada di baby didalam perutnya.

__ADS_1


Begitulah abang Adnan saat ada di rumah kalau sedang tidak dikirim dinas yang jauh, maka sifat protektifnya akan keluar, tapi abang Adnan merupakan laki-laki yang baik, sangat sayang kepada mertuanya yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri, dan sangat nyambung dengan Lea, bahkan dapat mengimbangi Lea yang petakilan karena karakter mereka berdua memang hampir sama, makanya banyakan orang mengira bahwa abang Adnan dan Lea adalah kakak beradik kandung bukan kakak iparan.


Setelah mereka menyambut dokter Qais dan keluarga, mereka langsung bersiap-siap duduk ditemlat yang sudah tersedia untuk memulai proses akad nikah, karena pak penghulu juga sudah hadir.


Saat ini penghulu sedang menuntun dokter Qais untuk menjabat tangan ayah Amar.


"saya nikah dan kawinkan engkau Qais Asayauqi bin Fajri Hizbullah dengan anak kandung saya yang bernama Azalea Khairunnisa binti Muhammad Amar dengan mas kawin satu set perhiasan dibayar, tuuunnnnai". ucap ayah Amar


"saya terima nikah dan kawinnya Azalea Khairunnisa binti Muhammad Amar dengan mas kawin tersebut dibayar, tunai". ucap dokter Qais.


"bagaimana saksi?" tanya pak penghulu


"sah"


Setelah dinyatakan SAH baru lah Lea dibawa menuju dokter Qais yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya.


Lalu penghulu menyuruh Lea untuk salim dengan dokter Qais dan dokter Qais mengecup kening Lea, setelahnya meletakan tangannya di atas ubun-ubun Lea dan membacakan do'a.


Dokter Qais dan Lea menandatangani surat-surat nikah nya.


Para keluarga dan sahabat mereka yang hadir pada acara akad nikah pun mengucapkan selamat kepada pengantin baru.

__ADS_1


"selamat ya sayang, akhirnya kamu jadi menantu umma juga, umma senang, semoga kalian selalu diberi kelimpahan kebahagiaan ya, selalu jadi keluarga sakinnah, mawaddah ,warrahmah. Dan cepat diberi momongan yang tampan dan cantik". ucap umma Hana


"selamat ya nak, bunda berdoa untuk kebahagiaan kalian, jadilah istri yang berbakhti pada suami, senangkan lah suami selalu agar suami tidak akan tergoda oleh wanita lain, jadilah penawar lelah, ketika suami lelah setelah bekerja, jagalah penampilan agar suami melihatnya selalu menarik, jangan sampai setelah menikah dan punya anak nanti seorang istri menjadi kucel dan kusut, jangan berikan alasan untuk suami dapat mendua karena kesalahan yang tanpa disadari oleh istri, karena walaupun laki-laki berkata terima kamu apa adanya, tapi semua laki-laki juga senang melihat yang cantik-cantik, jadi tetaplah mempercantik diri kamu hanya untuk suamimu". nasehat bunda Hawa


" selamat ya A' , kamu sudah besar, abi nggak nyangka kamu sekarang udah jadi suami, sayangilah istrimu, jangan kau sakiti dia karena kamu memiliki ibu dan kakak perempuan, maka sayangilah istri kamu sebagaimana kamu menyayangi ibu dan kakak kamu. Jangan sakiti istrimu karena orang tuanya membesarkan istrimu itu dengan penuh kasih sayang bukan untuk kau sakiti". ucap abi Fajri kepada dokter Qais dan diangguki oleh dokter Qais.


" selamat ya nak, ayah titipkan dan berikan tanggung jawab atas diri Lea yang selama ini ayah besarkan hingga kini kau bisa meminangnya. Bila Lea berbuat salah maka tegurlah tapi jangan dengan kekerasan, karena kekerasan bukan menyelesaikan masalah, jika kau suatu saat nanti sudah tidak sanggup membimbing Lea dan bahkan sudah tidak mencintainya maka serahkan lah kembali Lea kepada ayah dengan cara yang baik. ingat tolong bahagiakan Lea dengan baik, ayah percaya sama kamu". ucap ayah Amar kepada Qais.


Ayah Amar langsung mengusap air matanya, kali ini anak-anaknya sudah bukan tanggung jawab ayah Amar karena mereka telah menjadi suaminya yang akan menjadi prioritas anak-anaknya.


"Qais janji akan selalu berusaha membahagiakan Lea, Qais mohon bimbingan dari kalian para orang tua agar Qais bisa menjadi suami dan imam yang layak untuk Lea". ucap dokter Qais


"selamat ya Lea kamu dan Qais sudah menikah, semoga jadi keluarga sakinnah, mawaddah, warrahmah .untuk Lea jadilah istri yang baik, untuk Qais , kak Salwa titip Lea yang bawel ini ya, nanti kalau di mulai kumat bawelnya kamu jejelin bakso aja pasti langsung anteng". ucap kak Salwa dan membuat Lea mencebikkan bibirnya karena di ledek oleh kak Salwa dan dokter Qais hanya tersenyum dan mengangguk


"selamat ya de, ade abang sekarang udah menjadi istri, padahal rasanya baru kemarin abang punya adik ipar yang manja banget, tapi ternyata sekarang udah besar ya, nanti abang bakal kangen banget deh sama kamu de, udah nggak ada lagi deh ade yang selalu setiap abang pulang dinas minta oleh-olehnya bejibun, bukan seneng abangnya pulang eh ini malah ngarepin oleh-olehnya doank, dan nggak ada lagi yang ngajakin abang kulineran bakso ya, tapi abang bahagia kok kamu udah dapat suami yang baik dan tampan walau masih tampanan abang iparmu ini". ucap abang Adnan dan membuat yang lain tertawa


karena abang Adnan memang sayang dengan Lea seperti adiknya sendiri karena semenjak orang tuanya meninggal, abang Adnan dititipkan kepada ayah Amar, karena almarhum orang tua abang Adnan dan ayah Amar mereka sahabatan dari awal mula masuk menjadi tentara.


". selamat ya Lea , kita akhirnya jadi adik kakakan loh, teh Zahra senang banget punya adik cewek soalnya kan kedua adik teteh cowok jadi sekarang teteh seneng ada temen curhat di rumah, teman berangkat ngajar bareng, pokoknya kalau Qais nakal lapor aja ya ke teteh, biar nanti teteh jewer dan kalau berani macam-macam biar teteh sunatin lagi" ucap teh Zahra sambil melirik dokter Qais.


"emang aku anak kecil teh pake dijewer segala, nggak sekalian aja suruh diri dipojokan sambil jewer kuping sendiri sambil kakinya diangkat satu". ucap dokter Qais

__ADS_1


" nah boleh juga tuh kaya gitu" timpal Almeer


"eh bocah semprul kamu malah setuju lagi bukan belain Aa' nya". ucap doktee Qais sambil menjitak kepala Almeer yang berada disebelah teh Zahra.


__ADS_2