Hai, Pak Dokter!!!

Hai, Pak Dokter!!!
cinta dalam diam


__ADS_3

Flashback


Ada seorang anak yang mulai tumbuh menjadi remaja, dia adalah anak laki-laki yang sudah merasakan kehilangan orang tua sejak kelas 2 SD , dan akhirnya dia di angkat anak oleh kakak dari ayah kandunganya itu, sejak orang tua kandungnya meninggal, anak laki-laki itu yang tidak lain adalah dokter Harun, tinggalkan dan biayai untuk sekolah oleh orang tua angkatnya itu.


Dokter Harun tinggal dan besar di Bandung, dia sangat dekat dengan saudara angkatnya yang tidak lain adalah sepupunya. Dokter Harun selalu bersama dengan Zhafran sepupu yang seusianya, mereka terlihat seperti anak kembar karena dimana pun mereka menuntut ilmu selalu di tempat yang sama, namun hanya saat kuliah lah yang berbeda.


Dokter Harun sangat menyayangi orang tua angkat dan saudara-saudara angkatnya, karena mereka sudah mau menerima dokter Harun untuk tinggal bersama mereka. Dan dokter Harun juga selalu mengalah apabila ada pertengkaran kecil antara dia dan saudara-saudarnya. Dokter Harun selalu belajar dengan giat agar bisa selalu mendapatkan beasiswa agar dia tidak merasa terlalu membebani keluarga angkatnya.


Sampai sewaktu dokter Harun dan Zhafran memilih menuntut ilmu di pondok pesantren. Mereka berdua merupakan anak-anak pintar sehingga sangat mudah diingat oleh para ustad yang mengajar mereka, bahkan saat lomba cerdas cermat mereka selalu di ikut sertakan.


Dokter Harun dan Zhafran memang mereka tidur dalam satu kamar yang sama namun mereka berbeda kelas saja.


Dokter Harun disana sangat dekat dengan seorang ustad muda yang usianya hanya terpaut 8tahun dari usia dokter Harun. Ustad itu bernama ustad Zein Ibrahim, yang merupakan wali kelas Harun saat itu.


Ustad Zein sering mengajak dokter Harun untuk menemaninya ke pondok pesantren santri putri yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pondok santri putra.


Ustad Zein merupakan anak dari pendiri pondok pesantren itu. Jadi, wajar kalau ustad Zein sering berkunjung ke pondok santri putri , sekaligus di pondok itu terdapat istri dan anaknya yang ketika waktu itu usianya baru 1 tahun.


Suatu hari ketika seperti biasanya, dokter Harun diajak oleh ustad Zein untuk menemaninya ke pondok santri putri. untuk mengecek kondisi disana dan sekaligus menemui anak dan istrinya.


Saat itu ustad Zein melihat anaknya yang bernama Zidan sedang menemani uminya yang sedang mendengarkan para santri putri menyetor hafalan al-qur'an.


"assalammualaikum anak sholeh abi, lagi nemenin umi ngajar ya" ucap ustad Zein kepada Zidan anaknya


" yayaya". celotehan Zidan yang belum bisa berbicara namun sudah pandai berjalan sejak usia 10bulan.


"yaudah sini abi gendong, sambil nunggu umi ya nak, dede sudah mamam belum" ucap ustad Zein.


"ma ma mam"ucap Zidan sambil mengangguk.

__ADS_1


Saat sedang melihat keakraban ustad Zein dengan sang anak. Tiba-tiba dokter Harun yang ketika masih remaja itu mendengar suara mengaji seorang gadis, suaranya sungguh merdu dan membuat dokter Harun saat itu merasakan desiran dihatinya.


Setelah selesai mendengar suara ngaji itu, ternyata ustadzah Humairah yang tidak lain adalah istri dari ustad Zein, membacakan doa setelah menuntut ilmu.


Tidak lama kemudian ustadzah Humai keluar dari kelas dan para santri pun mulai berpamitan. Dan sampai saat terakhir sisa satu ornag santri putri yang sedang berpamitan dengan ustdzah Humai sambil sedikit berbincang dan berjalan ke arah ustad Zein, Zidan dan dokter Harun.


"assalammualaikum abi, sudah lama menunggu ya, maaf ya udah buat menunggu". ucap ustadzah Humai.


"waalaikumsalam ya tidak apa-apa umi, abj juga sambil bercanda dengan anak ganteng abi ini kok". ucap ustad Zein.


"abi kenalin ini muridku, namanya Zahra Tusyitta, dia sudah hafal 30juz, salah satu murid favorit umi". ucap ustadzah Humai sambil memperkenalkan Zahra kepada suaminya.


"assalammualaikum ustad, saya Zahra muridnya ustadzah Humai". ucap teh Zahra sambil mengangkat wajahnya yang sedang tersenyum sebentar sambil menangkupkan kedua tangan didepan dadanya.


deg, deg,deg , tiba-tiba jantung dokter Harun berdetak kencang saat melihat wajah teh Zahra.


"waalaikumsalam, ya Zahra terus kan hafalannya jangan sampai hilang ya, oya kenalkan ini santri putra saya, namanya Harun Arrasyid" ucap ustad Zein sambil memperkenalkan dokter harun kepada teh Zahra pada waktu itu.


Sejak saat pertemuan itulah dokter Harun setiap ikut dengan ustad Zein selalu memperhatikan teh Zahra. Bahkan sampai ustad Zein mengetahui bahwa Harun menyukai gadis yang bernama Zahra itu.


Dan saat ketika teh Zahra dan para santri putri itu menyambangi pondok santri putra untuk tanding cerdas cermat. Membuat dokter Harun bahagia karena bisa melihat Zahra kembali.


Namun tidak di sangka bahwa saudara sepupu sekaligus saudara angkatnya yang tidak lain adalah Zhafran Al-Giffary, mulai bercerita bahwa Zhafran menyukai santri putri yang bernama Zahra Tusyitta.


" masyaa alloh run, aku ngeliat bidadari datang kesini bikin hati aku deg-degan loh, semoga kelak dia akan menjadi jodoh ku, sudah cantik, pintar dan suaranya lembut banget" ucap A' Zhafran saat itu.


Deg, deg ,deg, dokter Harun sangat terkejut saat mengetahui saudaranya juga menyukai gadis yang sama. Dan mau nggak mau dokter Harun harus terus memendam cinta dalam diamnya terhadap teh Zahra.


Karena dokter Harun tidak mau menyakiti A' Zhafran kalau sampai tau kalau dokter Harun juga menyukai teh Zahra bahkan lebih dulu menyukai gadis itu.

__ADS_1


Dan selama lomba cerdas cermat itu, dokter Harun selalu melihat bahwa A' Zhafran dan teh Zahra saling bertukar senyuman. Hal itu membuat hati dokter Harun menjadi lebih kecewa karena selain harus mengalah dari saudaranya tetapi juga mengetahui bahwa teh Zahra juga memiliki rasa kepada A ' Zhafran.


Ustad Zein yang sangat dekat dengan dokter Harun pun mengetahui hal itu, karena selalu memperhatikan dokter Harun yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri, bahkan kedua orang tua ustad Zein sangat sayang dengan dokter Harun yang merupakan anak yatim piatu, seandainya dokter Harun belum diangkat anak oleh abah Umar ayahnya A' Zhafran, orang tua ustad Zein bersedia menjadikan dokter Harun sebagai anaknya.


Namun ustad Zein masih menunggu sampai dokter Harun akan cerita kepadanya.


Suatu saat ketika sudah mendekati waktu ujian kelulusan mereka dari pondok pesantren itu. Dokter Harun menemui ustad Zein.


"assalammualaikum ustad, saya mau berbicara bisa". ucap dokter Harun ketika berpapasan dengan ustad Zein.


"waalaikumsalam dek, ada apa? apa mau curhat? sini duduk dekat Aa" ucap ustad Zein yang memang memanggil dokter Harun dengan sebutan "Dek", jika sedang berdua karena memang sudah menganggap dokter Harun sebagai adiknya sendiri.


" A' Zein, apa Aa' ada info beasiswa kuliah diluar negeri tapi jangan di Turki, aku nggak mau bareng Zhafran, Zhafran bilang dy habis lulus dari pondok nanti langsung ingin melamar Zahra A' ". ucap dokter Harun saat remaja, sambil menunduk.


"kamu benar ikhlas, membiarkan Zhafran melamar Zahra tanpa kamu menyatakan dulu perasaan kamu?". tanya ustad Zein.


"yakin A' karena kan cinta tak harus memiliki dan tak harus orang itu juga tau kan, apalagi orang tua Zhafran yang sudah membesarkan aku, mana tega aku A' ngebuat mereka kecewa karena aku nyakitin hati Zhafran nantinya jika tau aku lebih dulu menyukai Zahra, apalagi Zahra memang tidak menyukaiku dan terlihat sekali kalau dia mengagumi Zhafran, jadi biarlah aku yang pergi dari mereka aku belum sanggup untuk melihat mereka bersama". ucap dokter Harun


" Aa' ada info beasiswa di Dubai apa kamu mau?"ucap ustad Zein.


"mau Aa' , apa ada jurusan kedokteran? aku mau jadi dokter A' ". ucap dokter Harun.


"masyaa alloh adek Aa' ini mau jadi dokter, semoga segera tercapai ya dek" ucap ustad Zein.


Setelah berbincang dengan ustad Zein, dokter Harun menyampaikan kepada keluarga abah Umar bahwa dia akan mengambil kuliah di Dubai dan akan pergi setelah acara wisuda selesai.


Semua yang mendengar keputusan dokter Harun yang mau mengambil beasiswa di Dubai sempat terkejut terutama A' Zhafran, karena dia kira mereka berdua akan selalu bersama hingga kuliah nanti, tapi ternyata dokter Harun tiba-tiba ingin kuliah di Dubai.


Namun, mereka harus tetap menghormati keinginan dokter Harun itu.

__ADS_1


Dan dari selesai ujian kelulusan pondok, dokter Harun sudah menyiapkan semua yang dia akan bawa, dan saat wisuda dia hanya ikut wisuda dan setelah wisuda kelar dia pun langsung ijin terbang ke Dubai.


__ADS_2