
Sudah seminggu kondisi dokter Qais masih sama dengan sebelumnya, dokter Qais akan muntah-muntah saat sebelum waktu sholat subuh, namun jika sudah waktunya sarapan dokter Qais akan sehat kembali, mualnya akan hilang entah kemana. Dokter Qais merasa aneh dengan kondisi badannya yang seperti gejala orang yang telah hamil, sebenarnya dokter Qais ingin memastikan apa benar maulnya ini berkaitan dengan istrinya yang hamil atau tidak, tapi dokter Qais takut jika Lea akan tersinggung dan nantinya akan sedih jika ternyata sakitnya dokter Qais tidak berhubungan dengan Lea, dokter Qais takut jika memang sang istri belum hamil.
Jadi, dokter Qais hanya menikmati saja rasa mualnya ini dan berharap jika memang benar bahwa mualnya ini karena Lea sedang hamil. Lea juga sebenarnya ingin suaminya diperiksa oleh dokter agar tau sebenarnya kondisi suaminya itu kenapa, karena hanya pagi hari dokter Qais akan mual dan selanjutnya akan terlihat seperti biasa saja. Namun, dokter Qais selalu berkata bahwa dia tidak apa-apa hanya mual sebentar saja setelah mengkonsumsi obat mual maka hilang sudah rasa mualnya.
Akhirnya, Lea mengalah dan mengikuti kemauan suaminya yang tidak mau dibawa berobat ke dokter. Saat ini Lea dan anak-anak sudah rapih akan berangkat untuk mengajar dan sekolah. Seperti biasanya dokter Qais akan mengantarkan istri dan anaknya terlebih dahulu sebelum dokter Qais berangkat ke rumah sakit untuk dinas.
Setelah mengantar Firman menuju sekolahnya terlebih dahulu, saat ini sepasang suami istri dan satu anak perempuan itu melanjutkan perjalanan kembali menuju tempat Lea mengajar, dan disana pula Fahira menimba ilmu di PAUD tempat Lea dan teh Zahra mengajar.
Sampailah ditujuan mereka, setelah Fahira berpamitan kepada dokter Qais dan Fahira turun lebih dulu menuju halaman sekolahan untuk bermain bersama teman-temannya yang telah sampai di sekolah. Lea seperti biasa akan berpamitan dengan dokter Qais ala mereka berdua.
"kamu beneran sudah nggak mual kan A'?". tanya Lea memastikan kondisi dokter Qais
"udah nggak kok sayang". jawab dokter Qais
" alhamdulillah kalo memang udah nggak mual, ingat jangan makan dan minum sembarangan ya A', aku nggak mau kamu sakit tambah parah". peringatan Lea untuk suaminya
"iya sayang, sini kasih aku obat dulu biar kuat jalanin hari ini". ucap dokter Qais sambil menunjuk bibirnya
__ADS_1
"haish tak pernah berubah ya, selalu saja minta padahal saat di rumah sudah dikasih kok". ucap Lea tapi tetap menurut dan tetap mencium bibir suaminya.
"ya kalo urusan ini nggak boleh berubah sayang, kita harus selalu seperti ini, selain jadi vitamin untuk mengisi tenaga kita biar selalu semangat, tapi hal ini juga bisa mempererat hubungan kita sayang". jelas dokter Qais lalu mengecup Lea sekilas
"ya sayang, aku nurut sama kamu deh, aku akan ngasih kamu hal seperti ini sampai akhir hayat aku, bahkan lebih dari ini juga aku kasih, ya nggak A'?". ledek Lea sambil tersenyum
"ish ish istri ku ini ingin menggoda aku ya, ya sudah nggak usah ngajar ya hari ini, kita mampir ke hotel aja yuk, gemes aku sama kamu pengen ngurung kamu seharian di kamar dan di bawah selimut yang selalu menghangatkan tubuh kita berdua". ucap dokter Qais
"ya ampun, suami aku kok jadi me sum begini sih, kayanya salah makan nih ya". heran Lea melihat tingkah suaminya.
"iya aku salah makan nih, setelah pertama kali aku mulai makan kamu, itu membuat aku ingin terus melahap kamu hingga habis, karena makan kamu itu sangat nikmat dan bikin ketagihan". ucap dokter Qais dan membuat Lea bergedik
'aku dengan senang hati menghajar kamu sayang, menghajar di atas ranjang yang membawa kita menelusuri nirwana". ucap dokter Qais membuat Lea merona
"udah ah, aku pamit, assalammualaikum Aa' sayang, love you, hati-hati di jalan ya". pamit Lea sambil mencium punggung tangan dokter Qais
"walaikumsalam, aduh gemesnya liat pipi kamu yang merona ini, ya sudah hati-hati ya ngajarnya jangan lari-larian dan menggendong anak murid kamu, aku takut kamu kenapa-kenapa". ucapan dokter Qais diangguki oleh Lea, sebenarnya dokter Qais takut jika kalau memang sebenarnya istrinya itu telah mengandung jadi dokter Qais tidak mau Lea kenapa-kenapa.
__ADS_1
Setelah dokter Qais mengantar istrinya, dokter Qais melajukan kembali mobilnya menuju tempat kerjanya. Namun, saat di jalan dokter Qais melihat adanya penjual asinan, entah kenapa dokter Qais sangat ingin memakan asinan saat melihat tukang asinan tersebut. Dan dokter Qais turun dari mobilnya dan membeli asinan tersebut.
Di sekolahan tempat Lea mengajar saat ini sudah memasuki sesi mengajar yang kedua karena waktu sudah menunjukan pukul sebelas, Lea dengan gembira mengajar para anak muridnya. Namun, saat mengajar Lea merasakan kepalanya tiba-tiba pusing tak tertahankan, dan Lea berusaha untuk berbicara kepada rekan kerjanya untuk mengawasi anak didiknya sendirian terlebih dahulu karena Lea ingin mengambil obat sakit kepala di ruang guru. Namun,saat baru sampai disamping rekan kerjanya bahkan belum sempat mengatakan apa-apa tiba-tiba Lea sudah tak sadarkan diri.
Hal itu membuat rekan kerjanya dan anak didiknya terkejut karena mendapati Lea yang tengah tak sadarkan diri. Dan beruntungnya saat Lea pingsan temannya sempat menahan tubuh Lea sehingga Lea tidak sampai jatuh dilantai, namun dipangkuan rekan kerjanya.
Rekan kerjanya akhirnya meletakan Lea di ubin, dan rekannya itu langsung keluar ruangan menuju ruang guru untuk mengambil minyak angin untuk membangunkan Lea agar segera sadar. Saat rekan kerjanya mengambil minyak angin dan ingin membuatkan teh hangat untuk Lea, rekan kerjanya itu berpapasan dengan teh Zahra yang ingin mengambil minum juga.
"hai Hilwa kamu ngapain?". tanya teh Zahra
"ini, saya lagi habis ngambil minyak angin dan mau buat teh nih untuk Lea karena Lea pingsan". ucap Hilwa
"astagfirullah, kenapa Lea bisa pingsan? sini minyak anginnya biar aku yang nyoba buat Lea sadar". ucap teh Zahra
Lalu teh Zahra berjalan menuju ruang kelas Lea mengajar, sambil menghubungi dokter Qais namun tidak diangkat, akhirnya teh Zahra menghubungi dokter Harun untuk datang ke tempat mengajarnya agar dapat mengecek kondisi Lea. Dan dokter Harun langsung menuju ke tempat teh Zahra untuk membantu mengecek kondisi adik iparnya itu.
Teh Zahra terus saja menghubungi dokter Qais untuk memberitahukan kondisi Lea yang sampai saat ini masih pingsan. Setelah beberapa menit akhirnya dokter Qais dapat mengangkat teleponnya dan begitu terkejut saat mengetauhui istrinya pingsan,a akhirnya dokter Qais menemui dokter Aqila untuk menggantikannya kebetulan dokter Aqila telah selesai melakukan operasi. Dokter Qais ijin kepada pihak rumah sakit untuk pulang dan menemui istrinya.
__ADS_1
Dilain tempat, saat ini Lea sedang diperiksa oleh dokter Harun, dan dokter Harun sangat senang saat mengetahui apa penyebab Lea pingsan, dokter Harun menjelaskan kepada teh Zahra penyebab Lea pingsan dan teh Zahra langsung menangis haru, karena Lea tidak akan dicemooh kembali oleh para ibu-ibu itu. Saat ini teh Zahra dan dokter Harun sedang menunggu Lea sadar dari pingsannya. Dan saat ini Lea sudah berada di ruang guru agar tidak mengganggu kegiatan ngajar mengajar.
Sambil menunggu Lea sadar dan dokter Qais datang, teh Zahra terus menerus mengoleskan minyak angin di hidung Lea.