
Pernikahan itu ibarat menyatukan dua hati menjadi satu, menyatukan dua pemikiran menjadi satu, menyatukan keluarga agar menjadi satu.
Pernikahan pula memberikan berbagai rasa kepada setiap insan yang menjalani pernikahan itu, ada rasa bahagia, sedih, kecewa, kesal dan sebagainya. Dari semua rasa yang dirasakan oleh setiap pasangan akan membuat mereka saling berusaha untuk melakukan yang terbaik pada hubungan mereka agar selalu menghasilkan kebahagian yang penuh dengan cinta dan kasih sayang dalam biduk rumah tangga.
Jika mulai merasakan jenuh terhadap pasangan kita, INGATLAH saat kalian awal mulai jatuh cinta kepadanya, sehingga hal itu dapat memberi kekuatan kepada kalian untuk memperbaiki diri masing-masing agar bisa menjalani hubungan kalian dengan lebih baik dan mampu memperbaiki setiap kekurangan yang kalian miliki.
Karena sejatinya sebuah pernikahan itu bukan hanya adanya sepasang orang yang jatuh cinta. Namun, pernikahan juga menuntut setiap pasangan agar terus belajar saling menerima segala kekurangan yang dimiliki oleh pasangannya, dan dalam pernikahan juga menuntut agar setiap pasangan jika memiliki kesalahan atau kekurangan yang sekiranya bisa diperbaiki atau dihilanhkan, sebaiknya lakukan saja tapi jika tidak bisa maka jangan terlalu menuntut.
Pasangan baru itu setelah menempuh waktu beberapa menit, akhirnya mereka sampai dikediaman keluarga bapak Fajri Hizbullah yaitu orang tua dari dokter Qais.
Saat sudah turun dari mobilnya dan membawa dua buah koper yang berisikan barang-barang Lea, lalu dokter Qais membukakan pintu rumahnya untuk mempersilakan sang istri lebih dulu masuk.
"assalammualaikum" ucapan salam dari kedua orang itu
"waalaikumsalam eh den Qais udah pulang, sini neng Lea barangnya bibi bawa ke kamar den Qais". ucap asisten rumah tangga itu
" makasih ya bi, abi sama umma dimana bi? tanya dokter Qais
" oh bapak dan ibu ada di taman belakang den, ya sudah saya naruh barang-barang neng Lea dulu ya". ucap bibi
"makasih ya bi, maaf ngerepotin". ujar Lea
"nggak ko neng" balas bibi
Setelah itu mereka berdua berjalan menuju tempat dimana abi dan ummanya berada.
"assalammualaikum" ujar dokter Qais dan Lea bersamaan.
__ADS_1
"waalaikusalam " jawab abi dan umma.
"eh anak umma sudah pulang, ayo duduk sini, mau minum apa, pasti cape dan haus ya"Ucap umma Hana.
" nggak usah umma yang ambil, boleh nggak biar Lea aja yang ambil" ijin Lea
"boleh donk sayang, kan ini sekarang rumah kamu jadi kamu nggak usah sungkan gitu loh, mau kamu ngapain aja dan mau keruangan mana saja yang ada dirumah ini ya silakan nak, jangan sungkan". ucap umma Hana
"iya umma, sekarang Lea ambil minum dulu ya umma untuk kita semua". ucap Lea dan diangguki oleh umma Hana
"ati- ati sayang, mau Aa' temenin nggak?" tanya dokter Qais
" nggak usah A', kamu disini aja temenin abi dan umma" ucap Lea
Setelah kepergian Lea menuju dapur, ketiga orang yang masih berada di taman pun melanjutkan percakapannya.
"iya umma jadi nggak sabar nih pengen punya cucu, semoga segera dipermudah oleh Nya untuk kita cepat memiliki cucu dari Qais dan Lea ya, bi". ucap umma Hana kepada abi Fajri.
" ya doain aja ya abi, umma, Qais akan selalu berusaha kok agar cepat mewujudkan keinginan kalian". ucap dokter Qais
"ya nak, sekarang kamu nikmati saja dulu, kan kamu juga baru saja menikah, nanti kalau memang cepat diberi ya alhamdulillah tapi kalau belum jangan terlalu menekan Lea, kasian dia, jalani saja dengan ikhlas insyaa alloh , Alloh akan memberikan yang terbaik". ucap abi Fajri.
Tidak lama kemudian Lea datang dengan membawa empat gelas minuman dan cemilan untuk mereka semua.
"ini Lea buatkan jus untuk kalian biar ngadem di tamannya tambah adem dengan jus dingin dan segar ini". ucap Lea sambil tersenyum
"makasih nak" ucap abi dan umma bergantian
__ADS_1
"terima kasih istriku, sini duduk sebelah Aa' ". ucap dokter Qais sambil memegang tangan Lea agar duduk disampingnya
"oya abi tumben tidak berangkat kerja?". tanya dokter Qais, tidak nak, karena sebentar lagi kata nak Harun mau mampir kesini, karena ada yang ingin dibicarakan sebelum teh Zahra pulang ngajar". ucap abi Fajri.
"oh begitu, kok aku jadi penasaran ya bi, si A' Harun mau ngomong apaan ya kok kayanya penting banget". ucap dokter Qais
"ya sama abi juga belum tau makanya sekarang tunggu saja dulu". ucap abi
" bapak, ibu maaf saya ganggu, saya cuma mau bilang didepan sudah ada dokter Harun yang sedang menunggu diruang tamu". ucap bibi
" baik bi, terima kasih ya, oya tolong sediakan air minum dan cemilan ya buat dokter Harun, serta makan siang untuk kami, maaf ya bi, kali ini saya tidak bisa bantu masak dulu karena ada tamu" ucap umma Hana kepada asisten rumah tangganya.
Kedua pasangan beda usia itu pun berjalan menuju ruang tamu.
"assalammualaikum , om tante, maaf ya kalau saya sudah mengganggu waktunya". ucap dokter Harun sambil menyalimi tangan abi Fajri dan umma Hana.
"waalaikumsalam nggak apa-apa kok nak Harun, kami kebetulan hanya sedang berbincang saja, ngomong-ngomong ada perlu apa ya, tumben kamu ada perlu dengan saya biasanya hanya dengan Qais saja perlunya". ucap abi Fajri
Dengan menarik nafas yang dalam untuk mengurangi rasa tegangnya dokter Harun pun memberanikan diri untuk berbicara.
"bismillahirrahmanirrahim, saya disini berniat untuk meminta ijin kepada om dan tante untuk mewujudkan niat baik saya yaitu ingin melamar Zahra Tusyitta putri sulung kalian untuk menjadi istri saya, saya tau mungkin perkataan saya ini membuat kalian terkejut karena kalian merasa heran karena selama saya bekerja sama dengan Qais di klinik, saya tidak pernah terlihat dekat atau mendekati Zahra, namun sebenarnya saya sudah mempunyai rasa ini terhadap Zahra sangat lama semenjak saya dan Zahra masih kelas 11 di pondok pesantren". ucap dokter Qais
"HAH" semua orang terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa seorang Harun bisa menyukai teh Zahra selama itu, selama 9 tahun dokter Harun menyukai teh Zahra. tanpa ada yang mengetahui hal itu, karena sebelumnya selama dokter Harun praktek di klinik yang berada di samping kediaman abi Fajri, selama itu pula mereka tidak pernah melihat dokter Harun menunjukan rasa sukanya terhadap teh Zahra , bahkan hanya beberapa kali saja mereka tidak sengaja berpapasan dan mereka hanya sekedar saling tersenyum untuk ungkapan saling menegurnya.
"bagaimana bisa nak, kamu menyukai anak umma selama itu?". tanya umma penasaran
pertanyaan umma Hana membuat dokter Harun teringat kembali saat pertama kali dia melihat teh Zahra pertama kali, saat dokter Harun harus menemani ustadnya untuk mengunjungi pesantren putri yang ditempati oleh teh Zahra.
__ADS_1
Dan dokter Harun pun mulai menceritakan awal mula kisahnya saat melihat teh Zahra, dan merasakan cinta pertama kali terhadap lawan jenis.