
"gimana kalian sudah memiliki nama untuk cucu-cucu abi yang tampan dan cantik ini?" tanya abi Fajri
"alhamdulillah sudah abi, untuk baby A namanya Aqeel Alfarizi , untuk baby B namanya Beryl Izyan, dan untuk si cantik baby C namanya Cahaya Hafidzah". jawab dokter Qais sambil mengelus pipi ketiga baby kembarnya.
"masyaa alloh nama-nama yang baik, semoga dari nama itu menjadi salah satu doa untuk ketiga cucu umma ya". ucap umma Hana dan diaminkan oleh semuanya
"ya udah Lea kamu mau istirahat di kamar tidak nak?" sambung umma Hana kembali
"nggak usah umma, Lea lebih suka disini ngumpul bareng kalian semua dan sambil nunggu Almeer bawa makanan apa aja buat kita semua". jawab Lea sambil tersenyum
"sayang, kalau kamu lapar makan yang ada aja ya, aku ambilkan di dapur". timpal dokter Qais
__ADS_1
"nggak kok A', aku nggak laper nasi tapi pengen ngemil aja gitu, apalagi kalau lagi ngumpul kaya gini, beuh tambah nikmat deh kalau sambil ngemil". tolak Lea
Lalu mereka lanjut berbincang kembali sambil menikmati kelucuan baby triples, baby Zhafran dan baby Salman.
Sungguh inilah yang diharapkan oleh semuanya, dimana setiap keluarga selalu rukun, antara menantu dan mertua saling menyayangi, dan antara besan dengan besan selalu saling menghargai dan tidak pernah iri dan ikut campur masalah sang anak.
Dokter Qais merasakan sangat bahagia apalagi saat ini kondisi sang istri dan ketiga buah hatinya sudah sehat kembali. Dokter Qais merasa sangat bersyukur karena disaat terpuruknya melihat kondisi sang istri dan ketiga buah hatinya selalu ada keluarga yang memberikan dukungan tanpa kenal lelah.
Dokter Qais bahagia bisa menikahi seorang gadis yang terlihat seperti gadis yang bar-bar dalam hal berucap karena dokter Qais ingat bagaimana insiden pertama kali dia berjumpa dengan istrinya, jika mengingat kejadian itu tentu saja membuat dokter Qais tersenyum sendiri.
Sedangkan Lea yang sadar saat melihat sang suami tersenyum terus bahkan sempat menggelengkan kepalanya itu, membuat Lea menjadi heran sendiri melihat tingkah sang suami.
__ADS_1
"A', aa' kenapa senyum-senyum sendiri?". bisik Lea kepada suaminya itu
"nggak apa-apa sayang, Aa' cuma lagi bahagia dan bersyukur punya istri kaya kamu, makasih ya udah mau jadi istri Aa' yang nerima segala kekurangan dan kelebihan Aa' dengan ikhlas dan makasih karena sudah berjuang demi melahirkan anak-anak kita". ucap dokter Qais sambil menggenggam tangan Lea lalu mengecup kening Lea dengan penuh kasih sayang.
"sama-sama A', jangan bosan untuk selalu jadi imam yang baik ya buat keluarga kita, dan jangan bosan akan istri mu ini, aku harap kita bisa hidup bersama dengan penuh kebahagian sampai tua nanti dan hanya ajal yang memisahkan kita". ucap Lea lalu memeluk dokter Qais dari posisi samping
"duh, duh, duh enak banget yang lagi pelukan sampe nggak peduli dengan sekitar, bikin abang iri aja deh jadi pengen ikutan peluk istri abang". ledek abang Adnan yang melihat dokter Qais dan Lea sedang berpelukan.
"yaudah peluk aja lah bang, tuh ada istri kamu, tinggal dipeluk aja, tenang ayah nggak akan iri kok, kalau kamu ikutan maen peluk-pelukan kaya ade kamu itu". timpal ayah Amar
"ya udah yuk de, kita pelukan". ucap abang Adnan kepada kak Salwa
__ADS_1
"ih apaan sih bang, malu tau". ucap kak Salwa sambil mencubit pelan paha sang suami
"nggak usah malu nak Salwa, kami mengerti kok gejolak pasangan muda seperti kalian yang selalu mau bermesraan terus, karena kami juga pernah muda, ya kan besan?". timpal abi Fajri sambil melirik ke arah ayah Amar dan dibenarkan oleh ayah Amar