Hai, Pak Dokter!!!

Hai, Pak Dokter!!!
Harun Arrasyid


__ADS_3

lelaki yang dipanggil Aa' oleh dokter Qais pun hanya tersenyum, karena laki-laki itu pun sama terkejutnya, laki-laki itu tidak tau bahwa dokter Qais bisa mengenal keluarga abah Umar.


Keluarga abah Umar pun tersenyum saat melihat menantu cantiknya, walaupun putra sulung mereka telah tiada, namun abah Umar dan umi Nisa selalu menganggap teh Zahra sebagai menantunya, apalagi melihat ketulusan cinta teh Zahra kepada almarhum A' Zhafran, itu yang menyebabkan mereka lebih sayang lagi. Bahkan seandainya putra sulungnya masih hidup, putra sulungnya akan sangat bahagia karena memiliki istri seperti teh Zahra, namun apa yang bisa dikata, takdir menentukan bahwa putra sulung mereka harus menghembuskan nafas terakhirnya saat acara akad pernikahannya.


Umi Nisa berjalan menuju teh Zahran sambil tersenyum dan memeluknya.


"assalammualaikum umi,abi, Zahwa" sapa teh Zahra


"waalaikumsalam" . jawab mereka


"umi rindu sama kamu, nak, kamu sehat sayang? ". tanya umi


"alhamdulillah sehat, umi dan yang lain juga sehat kan?". tanya teh Zahra dan diangguki oleh mereka


setelah teh Zahra, dokter Qais dan Lea dipersilakan duduk, mereka pun mulai berbincang-bincang.


"kamu habis dari makam Aa' ya , nak?". tanya abah Umar


" iya abah, aku abis temu kangen sama Aa' dan nganterin Qais dan Lea untuk ijin menikah dalam dua minggu lagi". terang teh Zahra


"abah, umi, Zahwa dan A' Harun datang ya kepernikahan Qais?". ucap dokter Qais


"insyaa alloh ya nak, masyaa alloh sebentar lagi kamu akan menikah, terus jaga kesetan ya kamu nak". ucap lemah lembut umi Nisa dan diangguki oleh dokter Qais

__ADS_1


" oya, nak Qais ko bisa kenal dengan Harun?" tanya abah Umar


" ya abah, kebetulan dokter Qais adalah rekan kerja saya di klinik yang ada disamping rumah abi dan umi". terang dokter Qais


"memang A' Harun ada hubungan apa dengan keluarga abah?" lanjut dokter Qais


" Owalah, dunia memang sempit ya, Harun ini keponakan sekaligus anak angkat abah dan umi, abinya Harun adalah adik abah, namanya Usman, namun kedua orang tua Harun sudah meninggal sejak Harun masih kelas 2 sekolah dasar, jadi Harun itu tumbuh besar bersama dengan Zhafran, sampai saat mondok pun dulu mereka bersama, namun saat kuliah mereka berpisah, Zhafran memutuskan untuk kuliah di Turki sedangkan Harun melanjutkan kuliah di Dubai, mereka bahkan sering komunikasi karena mereka seperti anak kembar, kebetulan tanggal lahir mereka sama, dan hari ini dia sedang berkunjung kemari". ucap abah Umar


"oh satu pondok dengan A' Zhafran, tapi Zahra nggak engeh maaf ya, dan tapi ko Zahra baru liat ya bah? saat A' Zhafran tidak ada saya tidak melihatnya?" tanya teh Zahra


" iya karena saya masih ada kontrak kerja di Dubai untuk pulang tidak bisa karena akan didenda, namun kalau saya pulang juga pasti Zhafran sudah dikebumikan. Jadi, saya memutuskan untuk menghabiskan masa kontrak kerja saya dulu yang hanya tersisa tiga bulan lagi. Habis masa kontrak selesai saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan mengunjungi abah dan keluarga serta ke makam Zhafran, dan mungkin itulah yang menyebabkan kamu tidak tau kalau saya sodaranya Zhafran". terang dokter Harun


"oh ya saya ingat, A' Zhafran pernah bilang kalau punya saudara laki-laki yang kuliah di Dubai". ucap teh Zahra setelah mengingat bahwa Zhafran pernah menceritakan tentang dokter Harun.


" ngomong-ngomong kalian mau menginap disini atau tidak?" . tanya umi Nisa


" boleh dong, masa anak umi yang cantik ini tidak boleh menginap, nanti umi siapkan kamar tamu ya?" ucap umi Nisa dengan bahagia


" umi Zahra boleh nggak tidur di kamar Aa' saja?" tanya teh Zahra sambil memohon


"boleh nak, nanti abah suruh bibi buat ganti spreinya dulu ya". timpal abah Umar


"Zahra juga minta parfum Aa' ya, mau zahra semprotkan di kamar Aa'". ucap teh Zahra dan diperbolehkan oleh abah dan umi karena mereka tau, bahwa teh Zahra setiap menginap disini akan melakukan hal itu

__ADS_1


Umi meminta kepada asisten rumah tangganya untuk menyiapkan kamar yang akan ditempati oleh teh Zahra, Lea dan dokter Qais.


Setelah kamar yang akan mereka tempati telah selesai dirapihkan, mereka langsung menuju kamar masing-masing. Saat teh Zahra sedang menyemprotkan parfum favorit almarhum A' Zhafran, tiba- tiba Zahwa mengetuk pintu kamar tersebut.


" teteh, Zahwa boleh tidur bareng teteh nggak?". tanya Zahwa


"boleh dong de, sini masuk". ajak teh Zahra


" teh, Zahwa lagi kangen banget sama Aa' , biasanya kalau apa-apa Zahwa selalu cerita sama Aa' tapi sekarang Zahwa cuma sendirian, A' Harun sebenarnya juga memiliki sifat seperti A' Zhafran tapi kan A' Harun tinggalnya juga di Jakarta dan A' Harun juga lebih sibuk sekarang jadi Zahwa benar-benar merasa kesepian teh". ujar Zahwa sambil menangis


"Zahwa kenapa nggak hubungi teteh aja, teteh sebenarnya mau sering hubungi kamu tapi kan takut kamu sibuk kuliah, lain kali kamu ya yang hubungi teteh duluan, kan teteh ini adalah kakak kamu juga, karena bagaimana pun teteh akan selalu jadi bagian dikeluarga ini walaupun Aa' udah nggak ada tapi teteh tetap sayang sama kalian, jadi Zahwa jangan sungkan ya". ucap teh Zahra


"iya teh, emm nanti saat A' Qais menikah Zahwa, abah dan umi boleh nginap di rumah teteh kan?" tanya Zahwa


"tentu saja boleh, abi dan umi pasti senang kedatangan kalian". ucap teh Zahra.


"emm teh, teteh nggak berniat segera mencari pengganti Aa'?".tanya Zahwa ragu-ragu.


"hah" teh Zahra menghela nafas panjang


"teteh bukan nggak mau cari pengganti Aa', tapi apa ada laki-laki yang mau dengan status teteh yang janda ini, dan mau nerima bahwa hati teteh mencintai laki-laki itu tidak bisa seratus persen, karena akan selalu ada nama Aa' di dalam hati teteh, karena kisah cinta ini dipisahkan oleh maut bukan perselingkuhan, mungkin kalau perselingkuhan, teteh bisa membuang semua perasaan teteh, tapi ini kan karena kematian jadi susah buat teteh buat ngelupain Aa' kamu, apalagi selama ini terlalu banyak hal yang membuat teteh bahagia menjalani hubungan dengan Aa' walaupun dengan jarak jauh, tapi teteh senang dengan cara Aa' yang mencintai teteh selama ini. Jadi, kalau ada lelaki yang mau menerima teteh dan berusaha membuat teteh menaru hati padanya, maka ya teteh akan menjalaninya dengan sebaik mungkin". ujar teh zahra.


"dan juga apa keluarga laki-laki itu akan nerima teteh karena banyak yang bilang teteh pembawa sial lah makanya baru selesai mengucapkan qobul nikah, eh pengantin prianya tidak lama menikah, teteh hanya ingin menikah dengan laki-laki yang baik dari dirinya pribadi atau keluarganya bisa menerima segala kekurangan teteh ini, kalau ada yang seperti itu sok lah langsung halalin teteh" ucap teh Zahra sambil agak bergurau kepada Zahwa

__ADS_1


Diluar kamar tersebut tidak sengaja ada seorang pria yang tidak sengaja mendengar percakapan kedua wanita beda usia itu.


"aku berjanji akan membuat kamu bahagia dan belajar mencintai aku, seperti aku mencintai kamu selama ini, aku akan terima kamu apa adanya walau hanya akan ada sisa setengah hati saja untuk aku tempati".janji pria tersebut.


__ADS_2