
Mataharipun telah menampakkan suryanya, memberikan kehangatan untuk setiap umat manusia.
Pengantin baru itu pun telah bangun dari mimpinya, walupun mereka hanya tidur sekitar dua jam sebelum akhirnya bangun untuk menunaikan kewajibanny sebagai seorang muslim, karena semalam sangat menikmati kegiatan baru mereka berdua.
Kegiatan yang dapat dilakukan siapa saja namun akan lebih nikmat bila dilakukan oleh pasangan halalnya.
Pengantin baru itu walaupun badan masih merasakan lelah setelah aktifitas malamnya, namun mereka tetap memutuskan untuk keluar kamar, karena mereka ingin sarapan di restoran hotel bersama keluarganya. Sebelum semua keluarganya akan check out dari hotel dan akan kembali lebih awal ke rumah masing-masing.
Dan akan hanya meninggalkan pengantin baru itu, yang akan menginap hingga hari esok.
Setelah sampai di meja yang ditempati oleh keluarganya, pengantin baru itu disambut dengan senyuman oleh semuanya.
"widihhh, pengantin baru kirain nggak ikut sarapan bareng gara-gara masih bobo cantik". ledek Almeer
"ya kan kami juga lapar tau, masa nggak sarapan". ucap Lea
"iya pasti laper banget ya kalian, kan banyak tenaga yang terkuras".timpal dokter Harun
Dan membuat Lea merona. Karena memang benar mereka mengeluarkan tenaga banyak hingga menjelang pagi, sehingga mereka merasa sangat lapar.
"sudah ah kalian jangan ledekin menantu cantik umma, sini kita makan bareng nak". ucap umma Hana.
"ya umma, Aa' mau makan apa?". ucap Lea
"makan apa saja yang istri Aa' sediakan, akan Aa' makan" ucap dokter Qais membuat Lea kembali merona
"susah suit ,susah suit,. beuh jiwa jomblo Harun meronta-ronta nih umi, abah,. hayang kawin win win, hayang kawin" ucap dokter Harun
" umma, abah lamarin Zahra ya buat aku, duh de Zahra kapan kita bisa kaya gitu". lanjut dokter Harun
" abah mah, mau aja atuh nikahin kamu sama Zahra, masalahnya Zahra mah nggak sama kamu yang tengil ini". ledek abah Umar
"mau lah ya de, kan Aa' Harun ganteng, baik pokoknya pas deh kalau jadi suami de Zahra". ucap dokter Harun sambil mengedipkan matanya ke arah teh Zahra.
__ADS_1
" idih kenapa A' sama matanya, itu matanya kelilipan ya. Lagian kaya berani aja lamar aku ke abi dan umma". jawab teh Zahra.
"kalau aku berani lamar kamu, berarti kamu mau ya jadi istri aku".jawab dokter Harun sambil menatap mata teh Zahra.
deg, deg, deg
Tiba-tiba teh Zahra merasakan jantungnya berdetak kencang, setelah bertatapan dengan mata dokter Harun yang berbicara dengan penuh kesungguhan.
Setelah sekian lama teh Zahra tidak mengalami jantung yang berdetak kencang dan ada desiran aneh, yang menjalar ketubuhnya. Tanpa sadar teh Zahra menganggukan kepalanya.
Dan hal itu membuat dokter Harun senang bukan kepalang.
"umi, abah sebentar lagi aku nggak jomblo lagi, yes yes yes". teriak dokter Harun.
"hus, diem jangan berisik, malu tuh diliat yang lain, dasar bocah tengil" ucap umi Nisa.
Dan membuat yang lain tertawa, sedangkan Zahra hanya menunduk malu, dan dokter Harun hanya mampu garuk-garuk kepala yang tidak gatal sambil ketawa.
Dokter Qais dan Lea pun menemani keluarga mereka yang akan check out terlebih dahulu.
" jangan lupa pakai terus ya baju linge rie nya biar kakak dan abang cepet dapet ponakan". bisik kak Salwa dan membuat Lea mencubit pelan tangan sang kakak.
"Is, kasih vitamin tuh si Lea biar nggak lemes banget kalau pas kamu ajak begadang". ucap dokter Harun.
"oce A' , maksih sarannya". ucap dokter Qais.
"titip anak ayah ya nak, jaga dia selalu". ucap ayah Amar sambil menepuk pundak Qais.
" Nak, kalau si Aa' nakal nanti kamu jewer aja ya kalau nggak bilang aja sama umma, biar nanti umma yang hukum". ucap umma Hana sambil memeluk Lea.
"jaga kesehatan ya sayang, nanti kalau kamu nggak sibuk sering mampir ke rumah ya, pasti bunda rindu banget sama kamu". ucap Bunda Hawa sambil memeluk dan mencium pipi Lea.
"nak, jangan lupa tetap jaga komunikasi ya sama ayah dan bunda, kalau ada apa-apa langsung kabari ayah, ayah akan selalu ada buat kamu kapan pun kamu butuh". ucap ayah Amar sambil mengecup kening Lea.
__ADS_1
"de, jangan nakal ya, udah jadi istri, kalau abang udah dipindahin dinas kesini lagi, jadi kamu kalau butuh bantuan sama abang jangan sungkan ya" ucap bang Adnan
"siap bang, bang Adnan memang kakak ipar terbaik deh, jagain kak salwa, dede bayi, bunda dan ayah ya bang". ucap Lea sambil tersenyum.
" Lea teteh tunggu di rumah ya, aish jadi nggak sabar deh kamu pulang ke rumah umma biar aku ada temannya". ucap teh Zahra
"de, inget jaga Lea loh, jangan sakitin ade teteh yang cantik ini". ucap teh Zahra kepada dokter Qais dan diangguki oleh dokter Qais.
Setelah mereka pamit dan memberikan beberapa wejangan, akhirnya dokter Qais mengajak Lea kembali ke kamar untuk beristirahat karena masih mengantuk.
Setibanya mereka di kamar hotel, Lea langsung membuka hijabnya, sedangkan dokter Qais sudah merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"A' ini seprainya sudah diganti ya?, kan yang semalam ada bercak darahnya gimana donk A' , aku kan jadi malu". ucap Lea saat sadar bahwa seprainya berbeda dari yang semalam.
"ya de sudah diganti, tadi pas kita mengantar keluarga kita check out, ya kan memang kalau kita menginapnya lebih dari sehari seprainya boleh diganti, ya sudah sekalian aja tadi Aa' minta sama room boynya untuk dibersihkan kamar dan ganti seprainya". ucap A' Qais.
" tapi kan ade malu A' ". ucap Lea
" udah nggak apa-apa kok mereka juga pasti paham, tadi juga sudah Aa' kasih uang tip, udah sini tidur disebelah Aa', emangnya kamu nggak ngantuk?". ucap dokter Qais
"ngantuk A', ya udah tidur yuk, tapi peluk ya". ucap Lea
" oce tuan putri sini Aa' peluk, lebih dari peluk juga boleh kok, mau kaya semalam juga hayuk, Aa' masih sanggup kok". ledek dokter Qais sambil menurun naikan alisnya
"ish tidur dulu A' biar seger, aku masih cape dibuat begadang sama Aa' semalam, jadi sekarang biarin ade tidur dulu ya". mohon Lea kepada dokter Qais
" ya de, Aa' ngerti ko, ya udah yuk tidur biar nanti ada tenaga lagi biar bisa Aa' macem-macemin". ucap dokter Qais dan dihadiahkan cubitan di perut six pack nya.
" udah ah tidur A' , kalau melek Aa' rese juga, selamat tidur suami ku sayang". ucap Lea sambil mencium pipi dokter Qais
" ya sayang, selamat tidur juga ya, sini Aa' cium dulu biar bisa bobo pules dan mimpi indah". ucap dokter Qais sambil mencium bibir Lea dengan lembut.
Tidak lama kemudian mereka pun tertidur kembali sambil berpelukan. karena badan mereka masih pegal dan mata mengantuk efek begadang di malam pengantin mereka.
__ADS_1