
Kini Lea dan teh Zahra telah turun terlebih dahulu setelah membantu Zahwa untuk melepas gaun pengantin yang Zahwa kenakan karena Zahwa masih malu jika meminta tolong kepada Almeer suaminya.
Lea dan teh Zahra langsung menghampiri keluarganya yang tengah duduk di ruang tamu kediaman abah Umar. Dokter Qais yang melihat Lea berjalan kearahnya langsung berdiri untuk menghampiri istrinya, kandungan Lea memang batu tiga bulan namun karena tengah hamil anak kembar tiga sehingga perutnya sudah terlihat buncit dan dokter Qais selalu memperlakukan Lea dengan sangat perhatian padahal Lea sudah meminta agar suaminya tidak usah terlalu berlebihan dalam menjaganya karena Lea merasa tidak enak jika terlalu diperhatikan, Lea merasa akan menjadi merepotkan dan menjadi beban untuk dokter Qais.
"kamu lelah nggak de?". tanya dokter Qais
"ya lumayan A' ". jawab Lea sambil tersenyum
"mau balik ke hotel nggak? biar bisa istirahat duluan". ucap dokter Qais
"nggak usah A' nanti aja abis sholat magrib aja A' , kalo sekarang nanggung, lagian biar bisa bareng sama yang lain lebih enak". ucap Lea
"ya udah kalo itu mau kamu, tapi kalo udah lelah dan mau balik ke hotel bilang ke aku ya". ucap dokter Qais kembali
"dek, kamu dari tadi Aa' perhatiin kamu senyum terus emang ada yang lucu?". penasaran dokter Harun yang terus menatap ke arah teh Zahra
"sebenernya sih gtw menurut Aa' lucu apa nggak tapi buat aku dan Lea ini itu lucu". ucap teh Zahra masih ambigu
"emang ada apaan sih? kasih tau dong". tanya dokter Harun kembali
"yakin mau tau, kalo menurut kalian nggak lucu gimana?". ucap teh Zahra
"ya yang jelas kamu kasih tau aku aja dulu, jangan buat Aa' jadi penasaran deh". gemas dokter Harun sambil mencubit pelan hidung teh Zahra
"ya udah sini aku bisikin ya". ucap teh Zahra sambil mulai membisikan sesuatu tak lama kemudian dokter Harun langsung tertawa karena merasa akan ada bahan untuk meledek seseorang
Melihat dokter Harun tertawa membuat dokter Qais dan Almeer ikut menjadi penasaran.
"ada apa sih sayang?". tanya dokter Qais kepada Lea
"Aa' yakin mau tau?". tanya Lea dan diangguki oleh dokter Qais
"em kasih tau nggak y". ucap Lea kembali sambil pura-pura berpikir
"ya kasih tau lah sayang". ucap dokter Qais
"kalo aku kasih tau, aku bakal di kasih apa?". ucap Lea
__ADS_1
"ya ampun, kamu tinggal kasih tau ada apa pake minta imbalan segala". ucap dokter Qais
"ya dong A' , sambil menyelam minum air". cengir Lea
"kalo kamu kasih tau, besok kamu sama anak-anak aku ajak jalan-jalan ke Bandung Zoological Garden". ucap dokter Qais
"wah beneran A'? anak-anak pasti seneng deh, oce sini aku bisikin". ucap Lea dengan semangat lalu membisikan sesuatu ke dokter Qais, dan respon dokter Qais tidak jauh beda dengan dokter Harun dan itu membuat Almeer menjadi lebih penasaran
"apaan sih Lea? kasih tau apa, kenapa sih harus bisik-bisik". kesel Almeer
"anak kecil nggak boleh tau". timpal dokter Harun meledek Almeer
"ish , Aa' lupa ya kalo aku sekarang udah jadi suami jadi aku udah dewasa loh bukan anak kecil lagi". sungut Almeer
"tapi bagi teteh kamu tetap adik kecil teteh yang manja". ledek teh Zahra
"ya aku kan manjanya nanti udah ganti, nggak manja ke teteh lagi tapi ke istri aku tercinta, tapi ngomong-ngomong mana ya istri tercinta aku kok belum nongol juga ya". ucap Almeer sambil melihat ke arah atas tempat kamar Zahwa berada
"oh jadi kamu udah nggak mau manja sama teteh nih? terus jadi udah nggak sayang nih sama teteh" . ucap teh Zahra tiba-tiba menjadi sedih efek kehamilan yang membuat perasaan teh Zahra menjadi sensitif.
"sayang jangan sedih, kan ada Aa' bakal terus manja sama kamu". hibur dokter Harun sambil merangkul pundak teh Zahra
"ehem". deheman dokter Harun membuat teh Zahra dan Almeer melepaskan pelukannya.
"tuh teh ada yang cemburu tuh teteh dipeluk sama cowok ganteng kaya aku, takut kalah saing kayanya si A' Harun". ledek Almeer lalu mencium pipi teh Zahra
"wah bener-bener nih anak tengil banget ya, hari ini aja Aa' belum cium pipi istri Aa', eh malah kamu enak banget maen cium-cium pipi istri Aa' ". gerutu dokter Harun membuat yang lain ikut tertawa karena melihat dokter Harun kesal
"Aa' jangan cemburu, masa sama adik aku sendiri kamu cemburu sih, lucu banget deh". ucap teh Zahra sambil mencubit pelan pipi dokter Harun
"sebenernya nih ya, kalo aku bukan adenya teh Zahra , aku yakin nih pasti teteh bakal jatuh cinta sama aku, secara aku tuh, udah ganteng, pinter, perhatian,setia lagi". ucap Almeer dengan gaya narsisnya
"wah wah ini anak bener-bener ya narsis banget, suami Lea aja yang lebih ganteng dari kamu, dia diem-diem aja". ucap Lea
"aku tuh sama Aa' sebelas dua belas gantengnya, orang-orangnya aja banyak yang bilang kalo aku sama A' Qais mirip, weee". ucap Almeer
"tapi bagi aku A' Qais yang paling tampan"kekeh Lea
__ADS_1
"udah stop, kamu ngalah dong de sama ibu hamil". timpal dokter Qais menghentikan debat Almeer dan Lea
Akhirnya mereka berhenti berdebat, dan terlihat Zahwa sedang berjalan menuju kearah mereka dengan tampilan sudah menggunakan baju gamis sehari-harinya.
"maaf ya lama, tadi sempat ketiduran". ucap Zahwa tak enak
"nggak apa-apa kok sayang, aku ngerti pasti kamu lelah kan, sini duduk disamping aku". ajak Almeer
"iya Zahwa nggak apa-apa kok, kami paham dan aku juga pernah berada diposisi kamu"timpal Lea
"ayah, ibun". ucap Fahira yang menghampiri dokter Qais dan Lea
"eh anak ayah udah puas sayang mainnya sini duduk deket ayah dan ibun". ajak dokter Qais kepada Fahira dan Firman
"abang Firman sama kakak Fafa seneng nggak main disini?". tanya Lea
"seneng bunda".serempak Firman dan Fahira
"kalo besok kita jalan-jalan mau?". timpal dokter Qais
"mau"
"ya udah besok kita jalan-jalan ya, nah sekarang udah mau magrib, ayo abang sama kakak siap-siap wudhu terus kita sholat berjamaah ya". ucap Lea dan diangguki oleh Firman dan Fahira
Firman dan Fahira menuntun tangan Lea untuk menuju tempat wudhu dan di ikuti oleh dokter Qais yang berjalan dibelakang Lea. Sambil sesekali Firman dan Fahira bergantian mengelus perut buncit Lea.
"bahagia banget ya jadi teh Lea, udah punya anak seperti Firman dan Fahira yang benar-benar tulus sayang sama teh Lea dan sekarang juga hamil anak kembar tiga lagi". ucap Zahwa
"kamu salah de, sebelum Lea ada diposisi sekarang, Lea setiap hari penuh hujatan dan cibiran dari para tetangga, banyak air mata yang Lea keluarkan hanya karena Lea belum langsung hamil saat menikah, padahal anak itu adalah rejeki dari Alloh. Jadi hamil atau belum hamil, kita sebagai manusia nggak bisa sembarangan menghujat, apalagi sesama wanita seharusnya saling menghargai jangan menghujat". ucap Teh Zahra saat ingat kejadian waktu Lea dihujat.
"kasian ya teh Lea ternyata melewati hari-hari yang seperti itu, semoga nanti kalo aku belum hamil, semoga nggak akan ada yang menghujat". ucap Zahwa.
"makanya kita harus rajin duel diatas kasur biar cepet jadi dede bayinya". goda Almeer dan mendapatkan cubitan dari Zahwa
"ish ngomongnya, malu tau ada teh Zahra dan A' Harun". ucap Zahwa dengan menunduk menahan malu dan dokter Harun dan teh Zahra hanya tersenyum saja melihat pengantin baru itu.
"ya udah yuk sholat magrib udah adzan tuh". ajak dokter Harun.
__ADS_1
dan mereka berjalan ke arah tempat keluarganya akan melakukan sholat berjamaah.