Hai, Pak Dokter!!!

Hai, Pak Dokter!!!
belum saatnya


__ADS_3

Memang benar lidah tidak bertulang sehingga dengan mudahnya dan lincahnya orang-orang mengeluarkan kata-kata tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Apa yang diucapkan nanti akan menyakiti orang lain atau tidak. Karena lebih baik diam dari pada ikut mengomentari kehidupan orang lain. Setiap manusia tidak ada yang sempurna jadi jangan pernah membicarakan orang lain karena merasa dirinya paling sempurna.


Lebih baik sebagai manusia kita harus terus berusaha memperbaiki diri kita sendiri dari pada mengurusi orang lain. Tak perlu terlalu banyak berkomentar tentang hidup orang lain jika orang lain itu tak minta pendapat kita. Karena jika posisi kalian berada pada posisi orang yang sedang digunjingkan itu pasti kalian juga akan merasa sakit hati.


Setiap manusia ingin selalu sempurna dari segiapa pun, dari segi fisiknya maupun dari lingkungannya yang ingin kaya, cantik atau tampan, pintar, putih, tinggi dan lain sebagainya. Namun tentu saja tidak ada orang yang benar-benar sempurna karena mereka pasti memiliki kekurangan. Jadi, mulai lah belajar untuk tidak berkomentar tentang hidup orang lain.


Seperti kejadian yang dialami oleh Lea tadi pagi yang disindir oleh para tetangganya karena Lea belum hamil sedangkan teh Zahra sudah hamil padahal duluan Lea dan dokter Qais yang menikah dibandingkan dokter Harun dan teh Zahra. Mereka tanpa malu berkomentar bahwa Lea tidak subur kandungannya dan sebagainya. Padahal urusan belum hamil Lea tidak bisa memaksakan kehendaknya walaupun Lea sangat ingin memiliki anak karena semuanya tergantung dengan kehendak Alloh.


Omongan ibu-ibu itu masih terngiyang-ngiyang dipikiran Lea namun sebisa mungkin Lea tetap profesional dan tetap selalu tersenyum untuk menutupi luka hatinya.


Mengajar anak-anak di PAUD, bisa mengalihkan sedikit beban pikirannya. Terkadang Lea berharap akan selalu menjadi anak-anak yang tidak terlalu memiliki beban atau jika memiliki beban dalam kehidupan maka anak-anak akan tetap ceria.


Hari semakin siang saatnya Lea dan rekan mengajarnya untuk pulang ke rumah masing-masing. Sesuai niat awal Lea saat di rumah tadi, kalau sepulang mengajar dia akan mampir ke rumah ayah Amar. Tapi sebelum mampir ke rumah ayahnya, Lea akan ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mengecek kondisi rahimnya apa benar rahimnya bermasalah atau memang sebenarnya belum waktunya Lea diberi kepercayaan untuk memiliki keturunan.


Saat berada di parkiran ada dokter Harun yang sudah datang untuk menjemput teh Zahra. Dokter Harun lalu mengajak Lea untuk ikut pulang bersama seperti biasanya. Namun Lea menolaknya karena Lea akan ke rumah ayah Amar terlebih dahulu.


"ayo Lea ikut bareng sama Aa' dan teteh". ajak dokter Harun


"nggak A' , hari ini aku mau ke rumah ayah dan bunda, soalnya udah kangen sama mereka dan tadi juga udah ijin sama A' Qais kok, jadi Lea naek ojol aja lagian udah mesen kok tadi ojolnya dikit lagi juga sampai kok". terang Lea.

__ADS_1


"ya padahal kamu tadi nggak usah mesen ojol Lea, biar teteh dan A' Harun yang nganterin kamu, kan kasian kamu harus panas-panasan". ucap teh Zahra.


"nggak apa-apa kok teh, kali-kali naek ojol lagi kan udah lama nggak naek motor, semenjak nikah kan aku selalu berangkat dianter sama A' Qais dan kalo pulang kalo nggak sama A' Qais pasti aku nebeng sama kalian jadi ya sekarang aku mau kangen-kangenan dulu dengan sensasi naek motor". ucap Lea sambil nyengir memperlihatkan giginya


"dasar kamu ada-ada aja, bener nih nggak mau bareng aja terus dicancel aja ojolnya". ucap teh Zahra lagi.


"bener teh, tuh abang ojolnya udah sampai". ucap Lea sambil menunjuk ke arah tukang ojol yang sedang menghampiri Lea.


"ya udah y A', teh, Lea jalan duluan ya, kalian hati-hati dijalan ya, tolong bilangin sama umma kalo aku ke rumah ayah nanti pulang bareng A' Qais". ucap Lea dan diangguki oleh dokter Harun dan teh Zahra.


Setelah menatap kendaraan yang Lea tumpangi teh Zahra langsung menghela nafasnya. Karena teh Zahra masih merasa tak enak dengan Lea karena kejadian tadi pagi.


Dokter Harun yang tahu bahwa teh Zahra merasa tidak enak dengan Lea, karena teh Zahra telah hamil sedangkan Lea belum, akhirnya dokter Harun merangkul pundak teh Zahra sambil mengusap-ngusapnya.


"ya A' makasih ya udah selalu nenangin aku, ya udah yuk pulang tapi boleh nggak mampir dulu aku mau makan ayam bakar bumbu rujak, boleh kan A' ?". mohon teh Zahra dengan wajah memelas.


"boleh dong sayang masa buat istri dan anak nggak mau aku turutin sih, apa lagi masih gampang dicarinya, yuk kita cus cari yang umi dan dede utun mau". ucap dokter Harun.


Dokter Harun dan Teh Zahra akhirnya memutuskan untuk mencari makanan yang diinginkan oleh teh Zahra terlebih dahulu.

__ADS_1


Sedangkan setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya ojol yang ditumpangi oleh Lea telah sampai di rumah sakit. Dan setelah membayar ongkos ojol, Lea langsung menuju ke poli kandungan karena sudah mendaftar antrian pemeriksaan melalui telepon tadi pagi.


Saat ini Lea sedang menunggu antrian terlebih dahulu, karena di dalam ruangan dokter itu ada pasien juga yang sedang diperiksa.


Lea menunggu dengan keadaan sedikit khawatir karena takut jika memang keadaan rahimnya yang bermasalah. Lea takut mengecewakan semua keluarganya terutama suaminya, karena takut tidak dapat memberikan keturunan seperti ucapan para tetangga julid itu.


Beberapa menit berlalu saat ini namanya Lea sudah dipanggil, dengan perasaan khawatir Lea memasuki ruangan dokter tersebut.


"assalammualaikum,permisi dok"sapa Lea


"waalaikumsalam, silakan duduk bu, dengan bu Lea ya, ibu pasien baru saya ya, silakan ada yang bisa saya bantu". ucap dokter yang bernama Jihan


"begini dok, saya ingin mengetahui kondisi rahim saya saja, karena saya berkeinginan segera memiliki momongan, memang saya baru sebulan menikah, jadi harusnya saya bersabar tapi saya penasaran dok dengan kondisi saya apa benar bisa memiliki anak atau tidak". terang Lea


"baik kalau begitu, mari naik ke atas bangkar, dan silakan tiduran". ucap dokter Jihan sambil mulai memeriksa kondisi rahim Lea


Dokter Jihan menjelaskan bahwa kondisi rahim Lea sehat tidak terjadi masalah, mungkin memang belum dikasih kepercayaan saja untuk memiliki anak. Tapi dokter Jihan memberikan obat penyubur kandungan yang harus Lea konsumsi selama beberapa hari, dan berharap dengan obat itu dapat mempercepat Lea memiliki momongan.


Setelah keluar dari ruangan dokter Jihan, Lea mengurus administrasi dan sambil memesan ojol untuk pulang ke rumah ayah Amar. Kini perasaan Lea telah tenang karena kondisi rahimnya sehat jadi hanya butuh berusaha, berdo'a dan bertawakal saja.

__ADS_1


Lea sudah bisa menanggapi orang-orang yang kelak menggunjing Lea karena belum hamil juga, orang-orang yang seakan menyalahkan Lea karena belum hamil juga. Sekarang Lea bisa percaya diri menghadapi mereka.


Dengan senyum dan perasaan lega Lea berjalan menuju ojol yang telah menunggu di depan area rumah sakit.


__ADS_2