
Kebahagian terletak bukan hanya dari segi banyaknya materi yang di punya, dan bukan pula dari seberapa banyak teman yang kita punya. Namun, kebahagian terletak dari seberapa tulusnya kasih sayang yang diberikan oleh orang disekitar kita.
Memiliki harta yang melimpah dan teman yang banyak namun tidak tulus itu semua tidak akan memberikan kita kebahagian melainkan hanya kesedihan saja nantinya, karena harta bisa habis dan teman yang tidak tulus akan menjauh bila kita sedang ditimpa musibah.
Tapi memiliki orang yang benar-benar tulus kepada kita itu semua sudah lebih dari cukup karena kita akan selalu diterima baik buruknya, diterima suka dukanya.
Lea bahagia karena dikelilingi orang-orang yang benar-benar tulus kepadanya.
"nak, kamu jadi habis pulang dari sini, langsung siap-siap ke Bandung?" tanya abi Fajri.
"iya bi, mumpung cutinya masih ada 2 hari lagi jadi aku mutusin buat liburan ke Bandung aja, kalian ada yang mau ikut?". ucap dokter Qais
"teteh boleh ikut nggak, nebeng mau ke pondok pesantren abis itu mau ke rumah abah dan umi, teteh mau nginap disana, nanti kalau kalian mau pulang ke Jakarta, kalian jemput teteh lagi di rumah abah dan umi". ucap teh Zahra
"boleh teh, abis pulang dari sini kita siap-siap ya, nanti biar kalo sudah rapih langsung jalan". ucap dokter Qais
Setelah selesai acara memberi kejutan kepada Lea. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Sekarang dokter Qais, Lea dan teh Zahra sudah ada didalam mobil. sepanjang jalan teh Zahra hanya termenung, teh Zahra memikirkan apakah benar dokter Harun adalah anak remaja laki-laki bermasker yang awal pertama melihat tatapan matanya saat berkenalan di pondok pesantren membuat hati teh Zahra berdesir, mata yang indah nan tajam namun beberapa kali juga sempat terlihat teduh, karena teh Zahra sewaktu dulu di pondok pernah beberapa kali berpapasan dengan lelaki bermasker itu.
Teh Zahra juga ingin memastikan apa benar dokter Harun mencintainya dari dulu. Karena entah mengapa setelah dokter Harun berniat melamarnya beberapa hari lalu dan teh Zahra tolak membuat teh Zahra merasa bersalah dan merasa bersedih saat melihat sekilas reaksi dokter Harun saat teh Zahra menolaknya.
Apalagi setelah mengetahui bahwa dokter Harun mengajukan cuti untuk menenangkan diri dan nomor ponselnya tidak bisa dihubungi. Membuat teh Zahra mengambil keputusan untuk mencari tau semuanya.
Beberapa jam setalah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Tibalah mobil yang dikendarai oleh dokter Qais di perkarangan parkir pondok pesantren tempat dulu teh Zahra menimba ilmu.
Dokter Qais dan Lea memutuskan untuk menemani teh Zahra menemui ustadzah Humairah, untuk mulai mencari tau sebuah kebenaran dan berharap bahwa ustdzah Humai mengetahui apa yang sedang teh Zahra cari tau.
Mereka bertiga berjalan menuju kediaman ustadzah Humai, karena waktu sudah menujukan hampir magrib sehingga ustadzah Humai sudah pulang dari mengajar.
Setelah sampai di depan kediaman ustadzah Humai, merekapun mengetuk pintu rumah ustadzah Humai.
__ADS_1
tok
tok
tok
"assalammualaikum" ucap mereka bertiga
tidak lama kemudian pintu rumah ustdzah Humai terbuka.
"waalaikumsalam, masyaa alloh Zahra ya, silakan masuk dulu". ucap ustadzah Humai
Mereka pun dipersilakan duduk di ruang tamu, sedangkan ustadzah Humai menyiapkan minuman dan cemilan untuk para tamunya itu.
Ustadzah Humai menghampiri mereka dengan membawa minuman dan beberapa cemilan.Dan mempersilakan mereka untuk minum dan mencicipi makanan yang sudah disediakan.
"maaf ustadzah tidak perlu repot-repot, jadi tidak enak saya jadi merepotkan, oya ustadzah ini ada sedikit makanan untuk Zidan".ucap teh Zahra
" tidak merepotkan kok ustadzah, justru saya senang apalagi kalau lagi melihat Zidan makan, makannya lahap sekali jadi bikin saya makin gemas dengan Zidan". ucap teh Zahra.
"iya memang anak itu tidak pernah bosan dan lupa kalau soal makanan, ngomong-ngomong ada apa tumben kamu main ke rumah saya, biasanya kamu main hanya di lingkunhan asrama pondok pesantren". ucap ustadzah Humai
"ya saya memang ingin mengunjungi ustadzah, oya perkenalkan ini adik saya Qais dan ini istrinya namanya Lea". ucap teh Zahra dan mereka saling berkenalan
"emm begini ustadzah ada yang saya mau tanya kan, apa ustadzah kenal dengan murid yang bernama Harun Arrasyid? dia seangkatan dengan saya".lanjut tanya teh Zahra
" oh dek Harun, ya saya kenal baik dengan dia, karena dia sudah dianggap seperti adik oleh suami saya, dan bahkan Kyai dan Nyai juga sangat menyayangi dek Harun, bahkan mereka ingin mengangkat sebagai anak, namun dek Harun sudah di angkat anak terlebih dahulu oleh pamannya, ada apa ya Zahra menanyai dek Harun, soalnya sudah beberapa hari ini juga suami saya kelimpungan menghubungi dek Harun". terang ustadzah Humai.
"begini saya ingin menanyakan apakah ustadzah mengetahui cerita tentang Harun bahwa dia menyukai seorang wanita?". tanya teh Zahra
"emmmm iya saya mengetahuinya, ada apa ya?". tanya ustadzah Humai
__ADS_1
"maaf sebelumnya, apa benar wanita yang disukai Harun itu adalah saya?"tanya teh Zahra
"iya betul, bagaimana kamu mengetahuinya?" tanya ustadzah Humai.
"karena Harun beberapa hari yang lalu melamar saya namun saya tolak karena saya kurang percaya bahwa Harun telah menyukai saya sejak dulu". ucap teh Zahra
Dan ustadzah Humai pun langsung terlihat sedih mengetahui bahwa orang yang sudah dianggap oleh suami dan keluarganya ditolak lamarannya. Padahal mereka semua tau gimana sayangnya dokter Harun dengan teh Zahra.
"kasian sekali, pantas saja dek Harun sulit dihubungi mungkin dia sedang menenangkan diri, tapi biasanya dia kesini untuk menenangkan diri, tapi ini kenapa dia tidak kesini, minta banget di nasehatin kali ya dek Harun sudah buat kami khawatir". ucap ustadzah Humai pelan, namun ternyata masih bisa didengar oleh teh Zahra.
"maaf ya ustadzah". ucap teh Zahra sambil menunduk.
tiba-tiba ada sosok laki-laki berusia 30tahunan lebih yang masih gagah nan tampan memasuki ruang tamu itu dan disambut oleh ustadzah Humai dengan menyalimi tangan laki-laki itu dan dibalas dengan kecupan dikeningnya.
Ustadzah Humai memperkenalkan suaminya itu kepada para tamunya. dan menjelaskan maksud kedatangan mereka kesini.
Setelah mengetahui tentang apa yang terjadi, ustad Zein langsung menceritakan tentang memang benar dokter Harun menyukai Zahra dari awal bertemu, namun karena dokter Harun tau ini pesantren dan mengetahui bahwa pacaran itu dosa selama belum Halal maka di pendam semuanya sampai diketahui tanpa sengaja oleh ustad Zein bahwa dokter Harun menyukai teh Zahra, dan akhirnya mulai memberanikan diri untuk bercerita dengan ustad Zein tentang rasa sukanya itu, bahkan A' Zhafran dan keluarganya tidak mengetahui hal itu. Sampai saat A' Zhafran bercerita ke dokter Harun, bahwa A' Zhafran menyukai teh Zahra , mulai saat itu lah dokter Harun patah hati dan mulai mengalah merelakan cinta pertamanya untuk saudaranya.
"iya begitulah cerita tentang dek Harun yang mencintai kamu sampai saat ini, bahkan ketika Nyai ingin menjodohkan dia dengan ustadzah disini dia selalu menolaknya, alasannya ingin melihat kamu bahagia terlebih dahulu baru dia akan mencari kebahagiaannya. Dan mungkin dia ingin mencoba membahagiakan kamu secara langsung dengan cara mengungkapkan isi hatinya selama ini dan melamar kamu, tapi mungkin memang kalian belum berjodoh sehingga kau menolak dek Harun". ucap ustad Zein.
Mendengarkan cerita dari ustad Zein bahwa dokter Harun memang benar tulus mencintainya membuat teh Zahra menangis dipelukan Lea, dan Lea terus berusaha menenangkan teh Zahra.
" kamu tidak usah terlalu bersedih dan menyalahkan diri mu, tadi pagi saya mendapatkan kabar bahwa dek Harun baik-baik saja, bahkan besok dia berniat mengunjungi kami disini. Jadi, tidak usah merasa bersalah ya, karena hati tidak ada yang bisa memaksakannya, kalau terpaksa pun jadinya tidak baik". ucap ustad Zein
"ustad boleh kah saya dipertemukan dengan Harun?". ucap teh Zahra pelan
" untuk apa? kalau untuk minta maaf, nanti saja nunggu benar-benar kondisi hatinya membaik, dia hanya perlu waktu saja untuk menerima semua ini kok". ucap ustad Zein
" bukan untuk minta maaf saja ustad, tapi saya yakin ingin menerima nya. Karena saya sebelumnya saat pertama kali bertemu dengan Harun saat beberapa tahun yang lalu, saya merasakan hati saya berdesir, dan saya juga mengira bahwa A' Zhafran itu adalah laki-laki bermasker yang sering ke pondok santri putri bersama ustad, karena postur tubuh dan tatapan mata yang mereka miliki hampir sama jadi saya salah mengenali orang. Dan kesalahan saya itu memang tidak bisa berbohong bahwa dengan berjalannya waktu dan kasih sayang yang almarhum A' Zhafran berikan kepada saya selama ini membuat saya juga mencintai ya. Jadi ijinkan saya dapat bertemu dengan Harun ya ustad?". ucap teh Zahra sambil menangkup kedua tangannya tanda memohon.
Dan ustad Zein mengangguki kepalanya pertanda menyetujui permintaan teh Zahra.
__ADS_1
Teh Zahra pun memutuskan untuk menginap di asrama pondok sedangkan dokter Qais dan Lea memutuskan menginap di hotel yang telah mereka pesan.