
Sepulang dari rumah sakit tempat kak Salwa melahirkan, kini Lea sudah berada di dalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah terasa lelah akibat perjalanan dari Bandung ke Jakarta dan setiba dari Jakarta langsung menemani kak Salwa lahiran.
Saat ini Lea tengah berbaring di kasurnya, untuk membuka jilbabnya saja Lea sudah tak punya tenaga karena yang Lea butuhkan adalah istirahat, karena kehamilan kembar ini membuat Lea mudah lelah, namun sebisa mungkin Lea bersikap seperti biasanya agar suaminya tak cemas.
ceklek
"de, kamu cape banget y? sampe nggak ganti baju dan lepas jilbabnya". ucap dokter Qais saat masuk kamar dan melihat Lea sedang berbaring dikasurnya.
"y A' sedikit cape aku". akui Lea
"ya sudah sini Aa' bantu lepas jilbabnya ya". ucap dokter Qais lalu melepas jilbab Lea
"makasih A', terus anak-anak gimana A' udah pada ganti baju?". tanya Lea karena tadi dokter Qais yang menemani anak-anak menuju kamar anaknya.
"ya mereka udah ganti baju dan mereka katanya mau bobo duluan, nggak mau makan malam cuma minum susu doang". jelas dokter Qais
"maaf ya A' jadi kamu yang ngurusin anak-anak". tak enak Lea kepada suaminya
"iya nggak apa-apa dong sayang, karena tugas menjaga dan merawat anak bukan hanya tugas istri tapi suami juga harus bantuin, suami itu jangan cuma mau enaknya saja tapi mengurusnya tidak mau, lagian kamu sekarang juga sedang hamil bayi triple kan, masa iya aku tega biarin kamu lakuin semua sendirian". ucap dokter Qais sambil mulai memijat kaki Lea
"ish A' jangan ah, nggak enak aku masa kamu pijitin aku sih". ucap Lea
"nggak apa-apa sayang, biar pegalnya cepet ilang jadi aku pijitin, besok kalo masih cape nggak usah ngajar dulu ya, biarin nanti anak-anak aku titip ke A' Harun aja dulu". ucap dokter Qais
__ADS_1
"ya udah kalo Aa' mau pijitin, enak banget pijitan Aa', sering-sering ya A' ". ucap Lea sambil nyengir memperlihatkan giginya.
"oce nanti Aa' pijitin kamu tiap hari tapi setelah aku pijitin kamu, kamu harus bayar ya pake olahraga malam". ledek dokter Qais sambil menaik turunkan alisnya
"ish dasar nggak mau rugi banget sih nih dokter dan resiko punya suami dokter kandungan ya gini nih, nggak perlu tanya ke dokter lagi boleh apa nggak olahraga malam, karena tanpa tanya kamu juga udah tau ya". cibir Lea
"iya dong, enak kan jadi tau puasa olahraga malam apa nggak, nah karena kondisi kandungan kamu sehat-sehat aja jadi aku boleh olahraga malam yang penting harus hati-hati, ritme olahraganya harus dikurangin dari biasanya".terang dokter Qais sambil tersenyum menggoda Lea
"ah iya, berarti kamu juga tau dong A' kalo bumil lagi cape nggak boleh di ajak olahraga malam". Lea tersenyum penuh kemenangan.
"iya tenang aja sayang, aku bebasin kamu untuk malam ini, tapi malam besok jangan harap bebas ya dan harus double combo". ucap dokter Qais
"ish nyebelin nggak mau rugi banget sih, udah ah napa jadi bahas ginian sih". sebal Lea dengan bibir manyunnya membuat dokter Qais tertawa
"aku laper tapi aku males banget bangun dari kasur A' ". rengek Lea dengan wajah imutnya
"ya udah Aa' ambilin makanan dulu ya buat kita berdua, malam ini kita makan malam di kamar aja, sekalian aku bilang sama abi dan umma kalo nggak bisa makan malam bersama mereka". ucap dokter Qais lalu beranjak dari duduknya menuju ke ruang makan.
Dokter Qais berjalan menuju ruang makan ternyata disana sudah pada kumpul semua tinggal keluarga kecil dokter Qais yang belum kumpul.
"Is, mana istri dan anak-anak kamu? kok kamu sendirian". tanya umma Hana
"iya umma, anak-anak tadi lelah banget dan cuma mau minum susu abis itu mereka tidur, kalo Lea dia juga lelah banget, itu aja suruh ganti baju nggak mau katanya belum kuat bangun masih lemas, soalnya kan kecapean banget Lea, baru sampai Jakarta langsung nemenin kakaknya lahiran, dan baru sampai rumah tadi saat kalian sedang sholat isya". jelas dokter Qais
__ADS_1
"tapi mantu umma nggak kenapa-napa kan?".khawatir umma Hana
"nggak kok umma , Lea memang cuma kelelahan aja tadi udah aku cek, ini makanya aku ijin ya mau makan di kamar aja ya nemenin Lea, dia katanya laper banget cuma udah nggak kuat buat bangun dari kasur". ucap dokter Qais
"iya sudah nggak apa-apa kok kamu makan temenin istri kamu aja di kamar, apalagi Lea kan hamil kembar pasti lebih berat dibanding hamil cuma satu anak, udah sini umma aja yang nyendokin makanan buat mantu umma". ucap Umma Hana lalu menyendok nasi dan lauknya ke dalam piring untuk dokter Qais dan Lea sedangkan dokter Qais membuat susu hamil untuk istri tercinta.
"oya gimana keadaan Salwa dan bayinya?". tanya teh Zahra
"alhamdulillah mereka sehat, dan anak kak Salwa itu laki-laki namanya Salman". jawab dokter Qais
"wah kalo gitu kita kunjungannya pas dirumah mertua kamu aja ya Is, kalo kakak ipar mu itu sudah balik dari rumah sakit baru kita jenguk, soalnya biar lebih lama silaturahminya". timpal Abi Fajri dan di setujui semuanya
"ya udah ya aku ke kamar dulu, selamat makan dan beristirahat abi, umma, teteh dan Aa' , Qais sayang abi dan umma". ucap dokter Qais, memang semua anak-anak abi Fajri walau sudah dewasa dan berumah tangga namun mereka tak malu untuk bilang sayang kepada kedua orang tua mereka karena bagi mereka buat apa malu untuk ungkapin rasa sayang kepada orang tua mumpung orang tua masih hidup, karena nanti jika orang tua sudah meninggal pasti akan menyesali karena belum pernah ungkapin rasa sayang seorang anak kepada orang tuanya dan itu akan membuat sang anak merasa menyesal.
Dokter Qais masuk kedalam kamarnya dengan membawa nampan berisikan makanan dan susu ibu hamil untuk istri tercintanya.
Saat sampai kamar ternyata sang istri sudah tertidur,. namun dengan terpaksa dokter Qais harus membangunkan Lea karena tadi Lea bilang sangat lapar, dokter Qais tidak mau istrinya tidur sampai pagi dengan menahan rasa lapar apalagi ada tiga makhluk kecil yang berada di dalam perut Lea yang butuh nutrisi untuk tumbuh kembang sang bayi.
Akhirnya Lea bangun dan makan disuapi oleh dokter Qais, mereka makan sepiring berdua dan setelah kenyang, dokter Qais menyarankan Lea untuk duduk bersandar terlebih dahulu karena tidak baik habis makan langsung tidur.
Setelah beberapa menit kemudian Lea yang sudah tak sanggup menahan ngantuk akhirnya tertidur duluan, dokter Qais hanya tersenyum dan mengubah posisi tidur Lea agar lebih nyaman.
Malam ini dokter Qais tertidur dengan memeluk Lea dari belakang sambil sesekali mengelus perut Lea yang mulai membuncit.
__ADS_1