
Bagaikan tersambar petir di siang hari, keluarga abi Fajri sangat terkejut mendapatkan kabar dari teh Zahra bahwa Azalea kini tengah di bawa ke rumah sakit. Dokter Qais yang membaca pesan itu pun tak kalah panik dengan keluarga abi Fajri yang lainnya bahkan saat setelah membaca pesan dari teh Zahra, dokter Qais langsung mencoba menghubungi ke nomer handphone teh Zahra untuk memastikan tentang info tersebut.
Sedangkan di dalam mobil milik keluarga abi Fajri yang tengah terjadi kepanikan karena Lea yang tengah kesakitan dengan darah yang masih mengalir disisi kedua pahanya, membuat teh Zahra sekuat tenaga untuk tidak menangis kencang demi bisa menguatkan Lea.
"teh, sakit banget". ucap Lea sambil menahan sakit yang luar biasa Lea rasakan saat ini dan air matanya juga tak henti mengalir dari kedua matanya.
"ayo Lea, kamu kuat, kamu pasti bisa, sabar ya sebentar lagi kita sampai di rumah sakit". ucap teh Zahra sambil mengelus perut Lea penuh kelembutan berharap agar dapat menghilangkan sedikit rasa sakit yang Lea alami saat ini
"teh, Lea mohon selamatkan anak-anak Lea sebisa mungkin ya teh, Lea nggak apa-apa kalau harus kehilangan nyawa Lea demi anak Lea, Lea ikhlas teh". mohon Lea kepada teh Zahra.
"kalian pasti bisa selamat semuanya Lea, kamu dan anak-anak kamu pasti selamat, teteh yakin itu". teh Zahra mencoba meyakinkan Lea bahwa Lea serta anak-anaknya akan selamat namun di dalam hati teh Zahra sungguh teh Zahra ingin menangis meraung-raung karena setiap kondisi pendarahan pada ibu hamil bahkan pendarahan itu terjadi saat usia kandungan belum cukup bulannya maka akan ada kemungkinan bahwa dokter akan memberikan pilihan kepada pihak keluarga untuk memilih prioritas utama yang akan diselamatkan oleh pihak dokter.
"teh, tolong bantu lindungi Fahira dan Firman ya teh, jangan sampai bu Dewi membawa mereka hanya untuk menolong anaknya bu Dewi yang lainnya, aku nggak tega sama mereka kalau harus berkorban sedangkan mereka dulu begitu saja dicampakkan oleh bu Dewi, Lea mohon teh". mohon Lea ditengah rasa sakitnya masih memikirkan Fahira dan Firman
__ADS_1
"teh, tolong nanti suruh A' Harun buat sekalian jemput anak-anak ya". sambung Lea kembali.
"ya Lea, teteh janji sama kamu, kamu dan seluruh keluarga akan melindungi Fahira dan Firman ya, makanya kamu harus kuat ya". ucap teh Zahra.
Saat Lea mengucapkan bahwa jangan lupa jemput anak-anak membuat teh Zahra teringat kembali dengan ponselnya, karena saking panik dan fokus hanya kepada Lea, teh Zahra sampai tak menyadari teleponnya berdering.
Dan terlihat banyak sekali panggilan dari seluruh keluarganya. Tapi teh Zahra berniat akan menghubungi dokter Qais terlebih dahulu untuk meminta disiapkan ruangan tindakan untuk Lea.
Saat akan menghubungi ke nomer ponsel dokter Qais ternyata dokter Qais sudah menghubungi teh Zahra terlebih dahulu.Dan teh Zahra langsung mengangkat telepon itu.
"waalaikumsalam Is, kejadiannya panjang jadi nggak bisa teteh ceritain sekarang intinya Lea terjatuh dari tangga depan rumah karena didorong oleh ibu kandung Fahira dan Firman dan sekarang kondisinya Lea masih pendarahan, dan yang sekarang teteh mohon sama kamu tolong siapkan ruangan tindakan ya untuk menangani Lea, karena kami akan segara sampai, udah dulu ya, teteh juga mau hubungi A' Harun untuk jemput Fahira dan Firman di sekolah, assalammualaikum". ucap teh Zahra lalu mematikan sambungan telepon tersebut dan langsung menghubungi suaminya untuk menjemput Fahira dan Firman.
Setelah selesai menghubungi suaminya, teh Zahra kembali fokus ke kondisi Lea saat ini.
__ADS_1
"Lea". panggil teh Zahra sambil menepuk pelan pipi Lea karena melihat Lea seperti tak sadarkan diri.
Sedangkan Lea yang hampir tak sadarkan diri, kembali tersadar karena panggilan teh Zahra yang berulang kali.
"iya teh"saut Lea lirih
"kamu harus sadar ya, ini kita sudah sampai didepan rumah sakit, sebentar lagi kamu akan ditangani oleh dokter, kamu harus kuat ya demi anak-anak kamu, mereka butuh kamu, mereka aja kuat, coba kamu rasakan mereka masih gerakkan di dalam perut kamu". ucap teh Zahra sambil mengelus perut Lea dan Lea hanya mengangguk sebagai jawaban
Saat ini mobil sudah berada di depan pintu lobby rumah sakit dan ternyata sudah ada dokter Qais beserta perawat yang sudah menunggu sambil membawa sebuah brangkar untuk membawa Lea ke ruang tindakan.
Dengan wajah panik dokter Qais langsung mengangkat Lea dari dalam mobil dan dibaringkan di atas brangkar.
"sayang, kamu kuat ya, ayo semangat berjuang demi anak-anak dan aku". mohon dokter Qais
__ADS_1
Tapi tak ada jawaban dari Lea karena Lea sudah tak sadarkan diri.