
Keluarga adalah tempat berkumpul paling nyaman, bersama keluarga kita dapat saling berbagi suka dan duka, bersama keluarga kita mampu menjadi diri kita yang sesungguhnya.
Begitu pula yang diterapkan oleh keluarga abi Fajri dan ayah Amar, yang selalu menjadikan keluarga sebagai prioritas utama dalam segala hal. Lebih mengutamakan berkumpul bersama keluarga dibanding bersama teman, selalu menjadikan keluarga sebagai tempat bercerita dan meminta pendapat, dan jangan pernah tersinggung dengan candaan satu sama lain karena mereka sama-sama tau bahwa itu hanya sekedar candaan saja namun mereka juga sama-sama tau bahwa mereka itu saling menyayangi.
Saat ini teh Zahra terlihat bahagia memiliki keluarga yang selalu ada untuknya saat teh Zahra sedang terpuruk kehilangan calon suaminya yaitu almarhum Zhafran, tapi keluarga selalu ada disisinya untuk menguatkannya sampai akhirnya teh Zahra mampu bangkit dan menemukan sosok pengganti yang sama baiknya dengan Zhafran bahkan cinta suaminya saat ini benar-benar sangat dalam dan tulus pada teh Zahra.
Teh Zahra beruntung bisa menjadi istri dari seorang Harun Ar-Rasyid, lelaki yang sangat tampan, lemah lembut kepada istrinya, perhatian dan selalu berusaha membuat istrinya tersenyum dengan tingkah konyolnya.
Sambil mengelus perut buncitnya yang kini usia kandungannya sudah memasuki sembilan bulan, dimana teh Zahra hanya sedang menunggu kapan anaknya akan lahir ke dunia ini karena perkiraan suaminya yang berprofesi sebagai dokter kandungan, teh Zahra akan melahirkan sekitar kurang lebih seminggu lagi.
"teh, kira-kira kapan lahirannya?". tanya Zahwa saat melihat teh Zahra yang sedang mengelus perut buncitnya
"kata A' Harun kurang lebih seminggu lagi, do'ain ya de semoga lahiran teteh nanti lancar". ucap teh Zahra
"aaaminn". serempak seluruh keluarga yang berada disana mendoakan semoga diberi kelancaran proses persalinannya
"ya aku doain teh, semoga hari ini juga teteh lahiran". celetuk Almeer sambil cengengesan
"wah iya seru kali ya kalo teh Zahra sampai lahiran hari ini, ah jadi nggak sabar pengen liat bayinya teh Zahra". timpal Lea sambil tersenyum
"sabar sayang, nanti kalo udah saatnya juga kamu bisa liat anaknya teh Zahra". dokter Qais sambil mengelus kepala Lea dengan penuh kasih sayang
Disaat mereka sedang mengharapkan teh Zahra lahiran saat ini juga, tiba-tiba teh Zahra merasakan mulas yang lumayan hebat.
"aww, Aa' kok perut aku tiba-tiba sakit ya". ringis teh Zahra sambil mencengkram tangan dokter Harun
"kamu kenapa sayang? sakit perut? kamu beneran mau lahiran hari ini?".ucap dokter Harun agak sedikit panik sedangkan teh Zahra hanya mampu menganggukkan kepalanya
__ADS_1
"waduh, baru aku ngomong eh ternyata teteh beneran mau lahiran sekarang juga".ucap Almeer
"ya udah A' Harun, bawa teteh ke klinik aja, kita cek sudah pembukaan berapa". saran dokter Qais
Lalu dokter Qais, dan Almeer membantu dokter Qais untuk menggendong teh Zahra ke klinik milik dokter Qais yang berada di samping rumah abi Fajri.
Lea, abi Fajri, umma Hana, dan Zahwa ikut ke klinik. Sedangkan, ayah Amar, bunda Hawa abang Adnan dan kak Salwa menunggu di rumah abi Fajri karena mereka diminta untuk menjaga Firman dan Fahira.
Saat ini teh Zahra sudah dibaringkan di atas ranjang yang berada di ruang bersalin. Lalu dokter Harun sendiri mengecek pembukaan yang terjadi pada teh Zahra sedangkan dokter Qais meminta bantuan kepada suster Kiara untuk menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam proses persalinan.
Umma Hana terus mendampingi teh Zahra sambil menggenggam tangannya. Setelah dokter Harun mengecek pembukaan, ternyata teh Zahra sudah pembukaan delapan.
Sambil menunggu dokter Qais dan suster Kiara mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan, dokter Harun saat ini berada di sebelah kanan teh Zahra ikut memberi semangat kepada istri tercintanya yang akan melakukan persalinan anak pertama mereka.
"sakit A' ". ringis teh Zahra
Dokter Qais telah selesai menyiapkan alat yang dibutuhkan saat proses persalinan.
"gimana A' sudah di cek lagi pembukaannya? alatnya sudah siap semua". ujar dokter Qais
"belum, Is, sayang aku cek lagi ya udah pembukaan berapa". ucap dokter Harun dan teh Zahra hanya mampu menganggukan kepalanya karena saat ini teh Zahra tengah merasakan mulas ya sung lebih dari tadi.
Saat dokter Harun cek ternyata pembukaan telah komplit.
"Aa' atau Qais nih yang nanganin teteh lahiran?". tanya dokter Qais
"biar Aa' aja, kamu tolong temenin Zahra y sambil bantuin dorong bayinya". ujar dokter Harun
__ADS_1
"sus, tolong bantu saya di sebelah saya". perintah dokter Harun kepada suster Kiara.
Proses persalinan berlangsung cukup lama karena teh Zahra hanya boleh mengejan saat mulas saja jika tidak mulas tidak diperbolehkan.
Dokter Harun terus mengarahkan teh Zahra untuk mengejan kembali saat melihat kepala anaknya sudah terlihat.
"ayo sayang semangat sekali lagi ya, dedenya akan keluar nih". dokter Harun memberi semangat kepada sang istri
Dan dengan sekuat tenaga teh Zahra kembali mengejan dan akhirnya perjuangannya membuahkan hasil, lahirnya seorang bayi laki-laki yang tampan.
Wajah bayi laki-laki itu mirip dengan dokter Harun selaku ayah dari bayi itu.
"alhamdulillah". ucap serempak mereka yang berada didalam ruang bersalin saat melihat dan mendengar tangis bayi laki-laki.
"alhamdulillah sayang, anak kita udah lahir, sus tolong urus anak saya dulu". ucap dokter Harun setelah mencium pipi anaknya lalu menyerahkannya kepada suster Kiara
"A' kok mules lagi ya". ucap teh Zahra saat merasakan kembali sedikit rasa mulas pada perutnya
"bagus sayang kalo kamu ngerasa mules lagi, ayo agak sedikit mengejan lagi ya biar plasentanya keluar". ucap dokter Harun memberi semangat kepada sang istri.
Setelah perjuangan yang melelahkan akhirnya teh Zahra resmi menjadi seorang ibu dari seorang bayi yang sangat tampan.
Dan bayi itu juga telah diadzankan oleh dokter Harun selaku ayahnya. Lalu bayi merah itu saat ini sedang melakukan inisiasi menyusui dini. Membuat semua yang berada di ruangan itu tersenyum karena merasa gemas melihat bayi itu mencari sumber kehidupannya.
Sedangkan dokter Qais sudah keluar ruangan untuk memberitahu keluarga yang lain bahwa anaknya teh Zahra dan dokter Harun telah lahir dengan selamat.
Semua anggota keluarga yang berada di depan ruang bersalin sangat bahagia mengetahui bahwa proses kelahiran anak teh Zahra dan dokter Harun berjalan lancar dan dokter Qais mengajak semua keluarganya untuk melihat kondisi teh Zahra serta bayinya.
__ADS_1