
waktu terus berjalan, tidak terasa seminggu lagi dokter Qais akan mempersunting Azalea, wanita yang mampu membuatnya berdebar untuk pertama kalinya, wanita yang selalu tampil cantik dengan gamis dan hijab yang menjuntai ke dadanya.
Hari ini dokter Qais dan Lea akan menyebarkan undangan ke rekan kerjanya, mumpung mereka hari ini sedang libur, jadi mereka berniat membagi undangan ke rekan kerja mereka secara lansung, karena undangan yang lain mereka serahkan kepada orang lain untuk menyebarkan undangan itu, pertemuan mereka hari ini sekaligus pertemuan terakhir sebelum nanti mereka akan bertemu saat acara pernikahan, karena mereka berdua akan melakukan proses pingitan,dan tanpa ponsel, jadi mereka tidak bisa bertemu bahkan berkomunikasi sama sekali.
Dokter Qais kini sudah berada di rumah Lea, sambil menunggu Lea bersiap-siap. Dokter Qais pun sedikit berbincang-bincang dengan calon mertua.
"setelah kalian mengantar undangan kalian berniat langsung pulang atau kemana dulu?" tanya ayah Amar
"palingan makan siang dulu yah, boleh kan?" tanya dokter Qais
" boleh tapi tidak boleh sampai sore ya" terang ayah Amar
"sehabis nikah kalian akan tinggal dimana nak" tanya bunda Hawa sambil meletakan kopi
"aku ijin ya yah, mau bawa Lea tinggal di rumah abi dan umi dulu sampai rumah yang aku persiapkan untuk kami selesai tahap renovasinya, boleh kan yah?". tanya dokter Qais
"boleh nak, karena saat Lea sudah menikah dengan kamu nanti, maka kamu lah yang akan bertanggung jawab atas Lea dan Lea harus patuh dengan perintah kamu selama tidak membawa pada hal yang tidak diperbolehkan dalam agama". ucap ayah Amar
" hai epribadeh, Lea yang cantik sudah selesai nih , gimana cantik kan? cantik dong masa nggak, orang ayah dan bundanya aja pada cakep pisan, masa anaknya buluk, kan nggak mungkin". ucap Lea sambil menuruni tangga tanpa melihat kalau ternyata dibawah sana sudah ada calon suaminya yang sedang tersenyum melihat tingkah Lea.
"husss,, nggak malu kamu ada calon suami kamu, malah teriak-teriakan kaya gitu". ucap bunda Hawa
"upss,, aku nggak tau kalau udah ada Aa' disini". ucap Lea sambil garuk-garuk kepala yang tertutup hijab itu.
"makanya nak, kamu jadi anak jangan hobby teriak, nanti nak Qais nggak jadi loh nikahin kamu gara-gara takut sakit kupingnya kalau tiap hari dengerin teriakan kamu". ucap ayah Amar
" ya jangan dong, nanti kalau nggak jadi nikah malah Aa' yang nyesel karena nggak bisa liat muka aku yang cantik ini" ucap Lea
"ya Aa' juga nggak bakal batalin pernikahan kita ko de, cuma gara-gara kamu hobby teriak, narsis dan bawel,, karena Aa' terima kamu apa adanya". ucap dokter Qais sambil tersenyum
"ish Aa' kok yang disebutin jeleknya semua sih nggak ada yang bagusnya". ucap Lea sambil memanyunkan bibirnya
"jangan dimanyun-manyun gitu bibirnya, jelek tau" ucap bunda Hawa sambil menarik pelan bibir Lea karena gemas
__ADS_1
" sudah-sudah, kalian mendingan berangkat sana, biar cepat kelar nyebar undangannya" ucap ayah Amar
" ya sudah kami jalan dulu ya ayah,bunda" . ucap dokter Qais
"assalammualaikum" ucap dokter Qais dan Lea sambil menyalimi tangan ayah dan bunda
"waalaikumsalam" jawab ayah Amar dan bunda Hawa
Setelah pamit, mereka terlebih dahulu menuju ke tempat Lea mengajar untuk menyerahkan undangan kepada rekan-rekannya .
Selanjutnya dokter Qais melanjutkan mobilnya menuju rumah sakit setelah ia dan Lea selesai membagikan undangan kepada rekan kerja Lea.
Saat kendaraan yang dikemudikan dokter Qais sudah sampai di parkiran rumah sakit, lalu dokter Qais keluar terlebih dahulu dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Lea keluar dari mobil.
"uluh - uluh , romantis banget deh Aa', maksih ya A' ". ucap Lea sambil tersenyum manis
"sama-sama sayang" ucap dokter Qais
"ayo kita bagiin dulu undangannya mulai dari recepsionis dulu baru ke ruangan direktur utama dan ke dokter-dokter lainnya". ucap dokter Qais dan diangguki oleh Lea.
Setelah mereka dari recepaionis dan menitipkan beberapa undangan untuk dibagikan. Saat ini Lea dan dokter Qais menuju ruangan direktur utama di rumah sakit tersebut.
"assalammualaikum pak" ucap dokter Qais setelah dipersilakan masuk oleh sang direktur yang berumur sekitar 50 tahunan itu
" waalaikumsalam , eh ternyata dokter Qais, ada perlu apa ya, apa ada yang bisa saya bantu,, oya silakan duduk dokter dan ibu" ucap direktur utama sambil mempersilakan dokter Qais dan Lea duduk
" begini pak saya ingin menyerahkan undangan pernikahan saya dengan calon istri saya yang berada disebelah saya ini, perkenalkan namanya Azalea dan saya juga ingin mengajukan cuti nikah pak". uca dokter Qais
"Wah, alhamdulillah, selamat ya dokter Qais dan ibu Azalea, semoga lancar acaranya ya dok"ucap direktur rumah sakit
"baik surat cuti dokter Qais saya terima, nanti biar dokter Syahreza dan dokter Aqila yang akan menghendel pasien dokter Qais selam dokter cuti". lanjut direktur rumah sakit
" maksih ya pak, semoga bapak berkenan untuk menghadiri undangan pernikahan saya dan calon istri saya ini" ucap dokter Qais
__ADS_1
"insyaa alloh saya dan istri nanti akan menghadiri pernikahan kalian, semoga acapalagi dokter Qais merupakan dokter kebanggaan rumah sakit ini". ucap sang direkgur
"ah bapak berlebihan saja, saya hanya mempraktekan ilmu yang saya punya untuk membantu sesama" ucap dokter Qais merendah.
" ya sudah pak saya pamit ya, sekali lagi ditunggu kehadirannya dan maaf saya telah mengganggu waktu pak direktur". ucap dokter Qais.
"assalammualaikum" ucap dokter Qais dan Lea
"waalaikumsalam". jawab direktur rumah sakit
Saat ini mereka berjalan berdua menyusuri lorong rumah sakit, menuju ruangan dokter Syahreza dan dokter Aqila.
Banyak para suster yang telah mendapatkan undangan dari dokter Qais sangat terkejut bahwa ternyata dokter Qais akan menikah, padahal selama ini dokter Qais tidak pernah terlihat dekat dengan seorang wanita bahkan dokter Qais sangat cuek dengan wanita.
Padahal di rumah sakit banyak suster dan dokter yang tertarik dengan dokter Qais bahkan secara terang-terangan menunjukan rasa sukanya namun dokter Qais hanya biasa saja.
Kabar akan menikahnya dokter Qais membuat patah hati banyak orang, namun banyak pula yang mendukung hubungan dokter Qais dengan calon istrinya, apalagi saat melihat dokter Qais berjalan dengan calon istrinya.
"wah calonnya dokter Qais cantik banget".
"iya pantesan dokter Qais cuek banget sama suster atau dokter yang pada deketin dokter Qais, lah wong calonnya itu sangat cantik".
" cocok banget sih mereka".
"dokter, patah hati nih kami".
"yah dokter yang ganteng mulai berkurang deh, karena sebentar lagi dokter Qaisnya sold".
"ganteng sama cantik, pasti anaknya juga bakal wow banget nih".
"calonnya dokter Qais mukanya adem banget diliatnya".
"ya udah cantik dandanannya pakai baju syar'i gitu tapi keliatan tetap anggun dan stylis banget, pantesan dokter Qais klepek-klepek".
__ADS_1
"iya kita mah apa atuh hanya remahan rengginang".
itulah beberapa omongan-omongan dari para suster yang melihat dokter Qais berjalan bersama calon istrinya.